Senin, 30 Desember 2019

DAN TERJADI LAGI


Indonesia-Arab Saudi
[14:51, 10/22/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Hari ini, 12 purnama yang lalu. Sedang apa aku??😌🥺
[14:53, 10/22/2019] Muthowwif Ust. Affan: sedang ngantar jamaah ke bandara
[14:54, 10/22/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kok sudah pulang??? Bukannya baru datang . . .?
[14:54, 10/22/2019] Muthowwif Ust. Affan: selesai sudah 7 hari
[14:54, 10/22/2019] Muthowwif Ust. Affan: nanti mlm jemput lagi
[14:55, 10/22/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ouh . . . Saya kira . . . . 🤭
[15:00, 10/22/2019] Muthowwif Ust. Affan: kira kira 😁
[15:16, 10/22/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kira kira dalam perahu . . . .😝
----
[11:48, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: lagi sakit not
[11:48, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: nor
[11:49, 10/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Lah itu, saatnya disuntik. Seperti biasa, kecapekan . . .
[11:50, 10/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Harus banyak istirahat kalau sedang kosong jadwal
[12:22, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: kosong 2 hari
[12:22, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: ini masih belum sembuh
[14:37, 10/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Suip . . . . Istirahat dua hari. Semoga segera dipulihkan, 🙏
[18:30, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: Amiiin
[18:31, 10/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: apa saya mengganggu?
[18:32, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: ga
[18:32, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: baru bangun
[18:33, 10/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Segera mandi kalau gitu, Sholat Ashar
[18:35, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: belum sholat dhuhur
[18:36, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: badan aku panas semua
[18:36, 10/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sekitar setengah 3 sore kan disana?🙏
[18:37, 10/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kalau begitu jangan mandi, nanti malah semakin demam. . . .
[18:40, 10/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya juga sedikit meriang, padahal besok mau tugas luar kota. Sekarang malah belum sempat siap2 . . . .😅🤭 habis ini mau beli jamu dulu, minimal biar sakitnya tertunda. . . . 🤣 syukur2 kalau gak jadi, Aaamiiin . . .🙏
[18:54, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: udh jam 14:54
[18:55, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: iya
[18:55, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: enak kalau disini bisa buat jamu disini agak susah
[18:56, 10/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Bukan buat, saya beli di toko jamu. Buat sendiri mana sempat, ndak bisa juga . . .🤭
[21:16, 10/30/2019] Muthowwif Ust. Affan: ooo kirain mau buat sendiri
----
[12:56, 11/7/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: 🥺
[13:01, 11/7/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya punya juga . . . . 😅
[13:14, 11/7/2019] Muthowwif Ust. Affan: dpat dr mana
[13:28, 11/7/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Memfoto sendiri waktu umroh dulu . . . .
[19:25, 11/7/2019] Muthowwif Ust. Affan: masih ada
----
[09:05, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Tersimpan rapi seperti kenangan di hati . . . . . 🤭
[10:17, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Adik bungsu nenek juga sedang di Madinah sekarang. Nginap di hotel yang sama dengan saya dulu . . . .
[10:40, 11/8/2019] Muthowwif Ust. Affan: skrang ad disini??
[10:45, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: iya
[10:46, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sudah hampir seminggu
[10:46, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Berangkat Ahad kemarin,
[10:46, 11/8/2019] Muthowwif Ust. Affan: paket berapa hari?
[10:46, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Barusan di statusnya ada di Gunung Uhud . . .
[10:46, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: 15 hari InsyaAllah
[10:56, 11/8/2019] Muthowwif Ust. Affan: disini masih pagi masak udh di uhud
[10:57, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Mungkin kemarin, hanya statusnya yang baru terlihat . . .
[10:57, 11/8/2019] Muthowwif Ust. Affan: hehe
[10:57, 11/8/2019] Muthowwif Ust. Affan: iya
[10:57, 11/8/2019] Muthowwif Ust. Affan: km apa kabar?
[10:58, 11/8/2019] Muthowwif Ust. Affan: saya mau berangkat ziaroh
[10:58, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Alhamdulillah . . . .
[10:58, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kemana agenda hari ini?
[10:58, 11/8/2019] Muthowwif Ust. Affan: di madinah
[10:58, 11/8/2019] Muthowwif Ust. Affan: sama sperti kemarin
[11:00, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Roudhoh? Baqi'?
[11:06, 11/8/2019] Muthowwif Ust. Affan: jabl uhud kuba
[11:25, 11/8/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kangen . . . . . hehehe
----
[09:16, 11/19/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ijin nitip doa untuk H. Moch. Ma'shoem, BA., Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan kesembuhan dari segala penyakitnya.🙏 Terima kasih.
[11:37, 11/19/2019] Muthowwif Ust. Affan: insa allah semoga cepat di angkat penyakit nya..
----
[04:59, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Wow . . . Jadwal ziarahnya malam hari ya . . . Subhanallah sekali rombongan yang didampingi . . . .
[04:59, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: ada jamaah menta di temenin 8 orang
[05:00, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Enaknya . . . . Dulu saya minta diantar keatas ndak ada yang mau . . . . Malah disuruh naik sendiri . . . 🥺
[05:01, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: kapan menta diantar?
[05:01, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: tdk pernah ngajak aku
[05:03, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Pernah, waktu kan rombongan Nur Dhuha cuma dikasih waktu 5 menit untuk foto. Saya minta diantar naik sebentar aja, biarpun cuma setengah jalan. Panjenengan malah bilang, "Toreh kalau mau naik, nanti saya jemput lagi habis isya'" 😅
[05:04, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Hilang saya kalau ditinggal sendirian dimakan burung gagak . . .  😆
[05:05, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: hehe kalau waktu ziaroh aku ga bisa nemenin
[05:05, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: kalau dr hotel pakek taxi Bisa gtu
[05:06, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: 😂😂
[05:07, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ustadz gak bilang, tahu gitu kan saya kompori teman2 buat rombongan sendiri kesana diluar jam . . .😒
[05:07, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: kasian
[05:08, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Pilih kasih ah, Ustadznya . . . . 😪 Kalau saya yang minta gak dianggep serius . . . .😓
[05:09, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: kapan yang menta??
[05:09, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: aku kalau sm jamaah mau kemana aja siap
[05:09, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: kerna sudah kewajiban aku
[05:11, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ya waktu itu . . . Coba saya dibilangi, nanti aja diluar jam kalau mau kesini lagi, gitu. Bilangnya cuma disuruh berangkat sendiri dijemput tengah malam . . . Kan hilang saya kalau seharian jadi gelandangan di jabal nur . . .😝
[05:12, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: berarti km luar Biasa sudh satu tahun masih ingat apa yang aku katakan
[05:15, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya mengingat apa yang ingin saya ingat, dan melupakan apa yang ingin saya lupakan.
[05:20, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: mantap
[05:20, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: yang ingin dilupakan apa??
[05:20, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: aku??
[05:21, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Banyak. . . . Hal2 yang tidak menyenangkan pastinya.
[05:22, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Maunya gimana? Diingat atau dilupakan?🤭
[10:44, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: terserah mana Baik nya 😅
[10:44, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: wah . . . wah . . . wah . . .
[10:45, 11/20/2019] Muthowwif Ust. Affan: kanapa??
[10:46, 11/20/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Tidak apa-apa . . .😅
----
[13:10, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Untung bukan Hayati . . . . 🤭
[13:36, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan: hayati
[13:36, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan: 😁😁
[13:48, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: 🤭
[13:50, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan: lg ziaroh nor
[13:50, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kemana?
[13:50, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan: Madinah spert Biasa
[13:51, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Pingin kurma muda . . . . 🤤
[13:51, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan: Buat apa
[13:51, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan: buat kesuburan
[13:51, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Dimakan lah . . .
[13:52, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Enak, dibanding yang sudah matang.
[13:52, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan: jangan banyak makan kurma muda nanti subur spert orang arab
[13:53, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Gpp, bukannya perempuan itu baiknya yang subur . . .
[13:53, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan: subur kalo keluar nya sampai 3😅
[13:54, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Enak kali ya? Punya anak langsung kembar 3. Dua cowok satu cewek . . . .😆
[13:54, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan: ga enak lah
[13:54, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Hamil 3kali penuh rumahnya . . .
[13:54, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan: enakan satu satu
[13:55, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya malah pingin punya anak kembar, 3 sekaligus bagus. Jadi hamilnya sekali aja,
[13:56, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Katanya melahirkan itu sakit, jadi sekali aja . . Biar gak bolak balik sakitnya . . .😅
[14.52, 11/24/2019] VN: Kata siapa sakit? Kata saya enak kok. Orang mealhirkan itu enak. Apalagi yang membuatnya, enak. Enak kalau kata saya enak.
[15:29, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Enak berpahala ya . . .  😌
[16:09, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya tidak tahu sakit apa tidak, kan belum pengalaman. Tapi kalau haidl tiap bulan aja sakitnya MasyaAllah . . . . Saya kira melahirkan akan lebih sakit lagi . . . . 😳
[16.36, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: Eh.. takutnya enak. Enak kalau dinikmati. Melahirkan itu saya pernah.
[16:37, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Pernah melahirkan????😱😱��
[16:38, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: Pernah jaman dahulu. Kan saya hidup jaman sekarang dahulunya sudah tidak ada lagi.
[16:39, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat VN: Ini orang main teka-teki ya?
[16:39, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: enggak, siapa yang mau main teka-teki? Saya gak tahu main teka-teki, kalah terus. Bukan ahlinya main teka-teki.
Kala mau main percintaan dengan aku, InsyaAllah.
[16:41, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat VN: Saya gak bisa dua-duanya, kalah terus donk?
[16:41, 11/24/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: Ouh, jangan main sama kalau gitu. Kalu gak tahu caranya, saya juga gak bisa ngajari kalau masalah itu.
[16:47, 11/24/2019] Nour 'Aiko' Elhayat VN: Siapa juga yang mau main-main?!
----
[20:52, 11/26/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Akhirnya, ketemu jodoh. . . . . . 🤭
[21:09, 11/26/2019] Muthowwif Ust. Affan: jodoh apa?
[21:11, 11/26/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Jodoh foto, mungkin . . . . 😌🤭
[21:17, 11/26/2019] Muthowwif Ust. Affan: 👍🏻
[21:25, 11/26/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Pose andalan . . . .
----
[21:42, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Assalamulaikum Wr. Wb.
[21:43, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Maaf mengganggu. Jika berkenan, saya ingin meminta pendapat sekaligus petuah mungkin. Tolong ijinkan saya belajar tentang bagaimana panjenengan memahami poligami?🙏
[21:44, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Walaikum salam
[21:44, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Maaf mungkin salah orang..
[21:44, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ini siapa yah
[21:46, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sepertinya nomor saya dihapus dari kontak hp-nya . . . .😅
[21:48, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat VN: Saya Nur Hayati. Satu tahun yang lalu, panjenengan menjadi muthowwif bagi jamaah Nur Dhuha dari Surabaya Bersama Ustadz Rofiqi. Saya jamaah paling menjengkelkan.Jamaah yang paling suka telat. Jamaah yang paling sering membuat panjenengan jengkel.
[21:59, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: Ouh maaf ya . . . Ya Allah. . . Maaf. Soalnya ini, aku ganti hape baru. Jadi kan nomernya gak ikut semua. Jadi kemarin aku nyalin nomernya semua, jadi mungkin nomornya tidak tersimpan. Maaf ya?
[22:00, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat VN: Tidak apa-apa. Karena memang tidak semua kontak bisa disimpan di handphone.
[22:01, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: Ya gak, ini soalnya gak apa ya? Bukannya mau menghapus nomernya. Tapi ya sebagian aku sudah gak sempat, saking sibuknya aku disini. Cuma sebagian nanti aku ambil lagi dari handphone satunya. Yang email pertama itu aku tidak tahu, jadi menyalinnya harus satu-satu. Gimana kabarnya? Sehat? Lagi ada dimana?
[22:02, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: ini juga aku baru pulang dari Jeddah. Baru selesai ngantar jamaah. Sekarang lagi ada di rumah istirahat.
[22:02, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat VN: Jangan minta maaf terus. Saya jadi merasa suul adab. Alhamdulillah saya baik. Saya mengganggu ya?
[22:07, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Hhh
[22:07, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Alhamdulillah
[22:07, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ga meng ganggu koq
[22:07, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ini lagi mau istirahat
[22:07, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Capek banget
[22:08, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Artinya mengganggu. Karena panjenengan hendak istirahat saat saya chat. Pangaporah, Ustadz🙏
[22:09, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: Enggak kok, enggak mengganggu. Apanya yang pangaporah? Gak punya salah.
[22:11, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat VN: hehehe, terima kasih sudah dimaafkan. Ngomong-ngomong, saya serius ingin belajar soal yang tadi.
[22:31, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Aku ga tau
[22:31, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Buat apa mau belajar seperti itu
[22:32, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Hanya ingin belajar.
[22:32, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya tahu, kita sama2 tidak punya pengalaman. Tapi setidaknya saya ingin tahu, cara pandang kita masing2 tentang poligami.
[22:33, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Biar saya sederhanakan, pertanyaannya . . .
[22:33, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Jangan belajar sma aku
[22:34, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Panjenengan kalau kelak menikah, sempat berpikir ingin poligami?🙏
[22:34, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Aku ga tau
[22:34, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ga tau kadang yah
[22:34, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Emang km mau di gituin
[22:34, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kenapa ingin poligami?
[22:35, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Pengen aja
[22:35, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Tidak.
[22:36, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Pengen kan pasti ada alasannya?
[22:41, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Kok mau belajar
[22:41, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Pengen aja mau seperti itu
[22:41, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Kalo km mau ayo sama aku 😂
[22:42, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Belajar kan tidak harus selalu hal yang disuka. Saya juga mau tahu hal2 yang tidak saya suka.
[22:42, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ga usah belajar Kalao ga mau
[22:42, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Please... Beri saya alasan yang masuk akal . . .🙏
[22:43, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Aku pengen aja
[22:43, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Huft . . . . .
[22:43, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Sudah kemauan aku seperti itu
[22:43, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Pengen tau rasa nya hidup seperti itu
[22:44, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Oke . . . . Sepertinya saya tidak bisa memaksa panjenengan menjawab serius . . . .😏
[22:44, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: 😁
[22:46, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Begini. Saya punya teman baik. Dia sudah menikah, dan dikaruniahi 3 anak. Sekarang hamil anak ke4. Suaminya, dengan dalih ingin terhindar dari zina ingin menikah lagi dengan mantan pacarnya. Menurut panjenengan gimana?🙏
[22:47, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: ga apa2 yang penting adil
[22:48, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Menurut aku spert itu yang penting kita sudah jujur mau nikah lagi
[22:48, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Nikah nya ga sembunyi2
[22:48, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Meskipun istri pertama tidak setuju? Atau kalaupun setuju itu karena terpaksa?
[22:49, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Jangan terpaksa kalo ga siap
[22:49, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Katakan aja yang sebenarnya
[22:51, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sudah disampaikan, tapi suami tetap pada keinginan. Memaksa istri mengerti. Bahkan sampai menjalin hubungan sembunyi2 dan bisa dibilang hampir mendekati tidak pantas . . .
[22:53, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Aku ga bisa memberikan penjelasan kerna bukan aku yang mengalami nya
[22:54, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Coba dibayangin aja. Kira2, kalau panjenengan ada di posisi si pria. Panjenengan sudah menikah punya anak, eh, ketemu mantan pacar. Gimana?
[22:56, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: Ya menurut aku mungkin sebelum menikah pernah berjalin hubungan dan si cowok itu mungkin sayang dan si perempuan itu sayang juga mungkin. Ya sekarang pengennya mau bersama lagi, kalau menurut aku sih aku seorang laki-laki wajar aja seperti itu.
[22:58, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Wajar ya . . . .🥺
[22:58, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: 😁😁
[22:58, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ga tau menurut ak ya
[22:58, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Tidak ada rasa iba gitu pada istrinya?
[22:58, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Kerna laki2 seperti itu
[22:59, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Terlatih berbagi cinta?
[22:59, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ga usah bahs itu
[23:00, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Aku ga mau tau itu urusan keluarga orang
[23:00, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Heheh
[23:00, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: 🙏
[23:01, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya tidak mengajak panjenengan bergunjing rumah tangga orang. Saya hanya ingin tahu, seperti apa sih pikiran seorang pria tentang poligami.
[23:01, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ya udh kamu ga usah tau
[23:01, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Yang tadi itu sebagai contoh aj . . .
[23:01, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ok
[23:01, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kenapa tidak boleh?
[23:01, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Aku paham
[23:03, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Nantinya, saya juga harus belajar mengerti laki2 kan? Sama halnya panjenengan juga perlu belajar mengerti perempuan . . .
[23:03, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Enak kalo punya km bisa mengerti
[23:04, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Aku mau punya kayak gtu
[23:04, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Punya apa?
[23:04, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Punya km😂
[23:04, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya kok bingung . . . .😳
[23:04, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Jangn bingung
[23:05, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Biar ga pusing
[23:05, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ini maksudnya saya mengerti apa?
[23:05, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Mengerti tentang perasaan laki2
[23:06, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya tidak mengerti, itu sebabnya saya tanya panjenengan.
[23:10, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ikuti aja kemauan suaminya itu pahala besar
[23:10, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Tidk usah cari tau
[23:11, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Pahala lagi . . . .😏
[23:11, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Jgan di kejar
[23:12, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kalau gitu caranya apa gak jadinya, pahala istri neraka suami?
[23:12, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Surga
[23:12, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Surga semua
[23:12, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Surga darimana kalau menyakiti hati istri?
[23:13, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Kata orang yang ga paham yang bilang menyakiti
[23:13, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Maka pahamkan saya . . .
[23:42, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan: Aku ga tau cara memahamkan masalah ini
[23:43, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Hiks. .
[23:45, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kira2 menurut panjenengan Apakah semua laki2 atau kebanyakan berniat/ingin poligami?
[23:54, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: Ya menurut aku ya, kalau ,asalah itu semua laki-laki yang ada di dunia pasti pingin seperti itu. Cuma tidak berani.
[23:54, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat VN: Tidak beraninya kenapa?
[00.17, 12/11/2019] Muthowwif Ust. Affan VN: Ya gak beraninya takut. Karena takut ke istrinya. Takut negitu. Kalau menurut aku sih semua orang itu maunya punya dua
[00:19, 12/11/2019] Nour 'Aiko' Elhayat VN: Waduh, saya kok jadi takut ya . . .
----
[09:30, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Menurut panjenengan, apa sih yang paling diinginkan laki2 dari istrinya?
[11:21, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: Di inginkan semuanya
[11:21, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sebutlah beberapa . . .?
[11:22, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ingin puas
[11:22, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Masih belum spesifik
[11:23, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Supaya puas, istri itu musti gimana?
[11:23, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ikuti semua ke mauan suami
[11:24, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Termasuk soal poligami, berarti?
[11:24, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: Apapun yang di suruh yang penting tidk menyimpang dr yang di larang
[11:24, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Lalu dimana hak istri atas suami?
[11:24, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: Insya allah ga
[11:25, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: Minta pengertiannya kepada suami nya kalo sudh memenuhi apa yang di menta
[11:26, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: Kerna laki2 ingin apa yang dia mau harus di ikuti
[11:26, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: Mungkin sma istri pertama kurang puas dr segi pelayanan nya
[11:27, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Apa itu bisa tetap jadi alasan untuk poligami?
[11:30, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ya
[11:34, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: huft . . . .
[11:35, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Mungkin saya terlalu banyak berkhayal, yah . . . .
[11:37, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: Berkhayal gimana
[11:40, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Berkhayal bisa dicintai tanpa syarat . . . .😅
[11:40, 12/12/2019] Muthowwif Ust. Affan: 😜
[11:43, 12/12/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: kok diketawain
[20:30, 12/19/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Jamaah An Nur . . . . 😊
[21:20, 12/19/2019] Muthowwif Ust. Affan: Ok
[22:08, 12/19/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Maalis . . . . 🙏
[22:40, 12/19/2019] Muthowwif Ust. Affan: Kenapa??
[08:50, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Assalamualaikum, ustadz. Ijin bertanya. Masjid Nabawi memiliki 44 pintu itu maksudnya pintu masjid atau gerbang masuk area masjidnya?🙏
[08:52, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ke museum AlQuran, bisa diakses langsung dari pintu berapa? Museumnya di sisi selatan kah?
[11:03, 12/29/2019] Muthowwif Ust. Affan: Masjid Nabawi 41 Pintu. Museum alQuran sekarang masih direnovasi. Tidak bisa dikunjungi.
[11:36, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: 41 pintu masjid atau gerbang masukya?🙏
[11:37, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya menanyakan arah letaknya ustadz, dan aksesnya dari masjid lewat pintu berapa?🙏
[11:37, 12/29/2019] Muthowwif Ust. Affan: Pintu 5
[11:37, 12/29/2019] Muthowwif Ust. Affan: Kerah timur
[11:38, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Pintu 6 arah hotel jawharat alrasyid itu di baratnya masjid kan ustadz?🙏
[11:40, 12/29/2019] Muthowwif Ust. Affan: Iya
[11:41, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Terus kok bisa museumnya di timur masjid? Bukannya timur masjid itu Baqi'?🙏
[11:41, 12/29/2019] Muthowwif Ust. Affan: Sampingnya baqi
[11:42, 12/29/2019] Muthowwif Ust. Affan: Pintu 5
[11:42, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ouh.... Saya yang lupa arah berarti . .  🙏
[11:43, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ini gimana ustadz? Jumlah pintu masjid sama dengan pintu gerbang?🙏
[11:45, 12/29/2019] Muthowwif Ust. Affan: 41
[11:45, 12/29/2019] Muthowwif Ust. Affan: Mesjid
[11:47, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kalau pintu gerbangnya?🙏
[11:47, 12/29/2019] Muthowwif Ust. Affan: Kurang tau
[11:47, 12/29/2019] Muthowwif Ust. Affan: Belum pernah hitung
[11:47, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Engkih....🙏😅
[11:48, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kalau shof tempat sholat perempuan dimulai dari pintu berapa saja Ustadz?
[12:04, 12/29/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Pintu roudhoh untuk jamaah putri lewat pintu 25 kan gih?🙏

Minggu, 29 Desember 2019

DIALEKTIKA DUA KOTA SUCI


(Bersambung)
Hanya sekitar dua jam mataku terpejam. Alarm pukul 02.45 WSA berteriak tepat di telingaku sebelum akhirnya kupaksakan air dingin mengguyur tubuh dan menjagakan mataku. Setelah cukup dengan peregangan otot sekenanya, kubangunkan rekan-rekanku dan beralih mengirim pesan pada Muthowwif kami karena tak berhasil menelpon Team Leader. Untuk apa? Bertanya jalan menuju Masjid Nabawi, hehe.... Tahu sendiri lah.... I am a first comer. Begitu juga teman sekantor yang jadi teman sekamarku. Ada dua lagi sebenarnya, karena kami berempat di satu kamar. Salah satunya sudah pernah haji, tapi Eyang Uti itupun tak lagi paham arah ke Masjid Nabi.
"Kalau keluar dari hotel belok kanan lewat dari pintu 6 atau pintu  7 keluar masuknya," balasan WA dari Muthowwif masuk ke ponselku. Pintu yang dimaksud Muthowwif adalah Gerbang menuju pelataran masjid, bukan pintu masjidnya. Meskipun pada akhirnya, dengan penuh tanggung jawab Muthowwif yang sepantaran denganku itu memilih mengantar kami hingga ke pintu masuk area shalat perempuan, pintu masjid ke-12.
"Jangan lupa, keluar dan masuk lewat pintu 6 atau 7. Lebih mudah untuk sampai ke arah hotel. Habis shalat kembali ke hotel untuk sarapan. Setelahnya ada agenda pengenalan area masjid," terang sang Muthowwif menjelaskan agenda kami. Nada bicara yang detail membuatku merasa seperti murid bengal yang sedang diceramahi sang guru. Hihihi
Waktu Shalat Subuh belum tiba saat kami memilih shof di luar pintu 12 Masjid Nabawi. Menikmati semilir angin dingin disertai lantunan ayat-ayat baik dari pengeras suara di masjid maupun para jamaah. Kutelusuri setiap sudut yang bisa ditangkap oleh mataku. Mencoba merekamnya sebaik mungkin sebagai kenangan dalam hidupku. Pintaku satu, "Semoga selalu ada kesempatan lainnya di kemudian hari aku kembali ke tempat ini," Aamiiin....
Seolah menjadi satu dari ritual pasti lainnya, ‘darah’ bening kembali menganak sungai dari mataku. Menambah sembab dan kebas di wajahku yang bahkan belum tuntas sisa kemarin. Barangkali ini pengalaman subuh pertamaku bangun di pagi buta, duduk patuh di masjid, menikmati suasana syahdu menyambut panggilan ibadah wajib. Karena biasanya, aku lebih sering terbangun ketika matahari nyaris mengintip dibalik bukit.
"Mau bangun jam berapa? Keburu Subuhnya dipatok ayam," teringat omelan ‘sang ratu’ di rumah setiap kali bangun kesiangan. Mengingatnya, membuatku menyesali diri yang selalu khilaf menjalankan kewajiban terhadap Ilahi. Semakin terasa kecil diri ini.
Subuh kulalui dengan syahdu. Ada banyak hal yang kupelajari. Disini tak ada Qunut saat subuh dan dzikir sesudah shalat. Sesuatu yang bukan hal baru, tapi pertama kali kualami sendiri. Bukan sekedar kutahu dari kitab pelajaran di pesantren. Tak ada juga saling bersalaman usai shalat kecuali di kalangan sesama jamaah Indonesia. Hal yang sangat khas Nusantara.
Satu lagi, selalu ada Shalat Ghoib usai Rawatib. Tidak hanya di Madinah, tapi juga di Makkah. Atau barangkali di seluruh Masjid di Tanah Suci. Entahlah, aku belum sempat menanyakan hal itu. Mengingat aku hanya shalat jamaah di dua masjid itu selama di Tanah Suci.
Ah, otakku kembali memutar file-file lawasnya untuk mengingat bagaimana cara dan bacaan Shalat Ghoib. Lantas seperti biasa, mbah google memberi jawaban. See, ‘Santri macam apa aku ini?!’
***
Sejenak akan kuceritakan tentang apa yang kulihat di masjid yang telah membuatku jatuh cinta di pandangan pertama ini.
Masjid Nabawi memiliki 41 pintu dan 44 gerbang. Pastikan mengingat dari gerbang mana kita masuk pertama kalinya dan searah dengan hotel tempat menginap. Karena itu akan jadi satu-satunya pintu teraman bagi jamaah agar terhindar dari ‘lupa jalan pulang.’ Sebab, setiap sisi masjid hanya ada gedung pencakar langit yang seringkali menyusahkan untuk diingat detailnya satu persatu. Barangkali itu juga sebabnya, Muthowwif berkali-kali mengingatkan hal itu pada jamaah.
Di sekitar area masjid, para Jamaah Umroh maupun Haji dapat menemui banyak tempat bernilai sejarah. Sebut saja Area Pemakaman Baqi’, tempat pemakaman Keluarga dan Sahabat Nabi serta para jamaah haji dan umroh yang meninggal di Kota Suci. Berada di sisi Timur Masjid Nabawi yang hanya bisa dikunjungi jamaah laki-laki pada jam tertentu. Pagi setelah Shalat Subuh sampai pukul 08.00 WSA. Setelah itu sore Ba'da Shalat Ashar hingga menjelang Maghrib pukul 16.30 WSA.
Tak jauh dari lokasi Pemakaman Baqi’ keluar melalui gerbang 5 terdapat Museum AlQuran. Akan ada tour singkat saat memasuki museum yang bisa diakses gratis tapi dibatasi dan bergantian. Pemandu tour yang kebetulan atau memang disengaja adalah orang Indonesia membawa kami mengitari area museum. Mengenal berbagai jenis khat AlQuran, sejarah pembukuannya, hingga berakhir di toko yang menjual AlQuran yang disahkan dan dipakai di Tanah Suci. Mengingat, tidak semua cetakan diterima. Hanya yang asli cetakan Madinah dan disahkan negara yang dipakai.
“Jamaah bisa membeli AlQuran cetakan asli disini, lalu menjadikannya souvenir atau diwakafkan di Masjid agar menjadi jariyah,” ujar sang muthowwif yang lantas secara personal menjelaskan ‘prosedur’ Wakaf AlQuran tersebut.
Beralih ke sisi luar masjid sebelah barat keluar dari gerbang 6 di sisi selatan, terdapat masjid dengan kubah putih bernama Masjid Ghamamah, yang berarti Awan. Konon, masjid tersebut merupakan lokasi dimana Rasulullah dan para sahabat melakukan Shalat Istisqo’, shalat meminta hujan. Dikisahkan, bahwa tak lama setelah shalat selesai dilakukan segumpalan awan pun menyelimuti diatas tempat tersebut dan turunlah hujan. Sehingga untuk mengenang peristiwa tersebut dibangunlah masjid.
Masih di sisi Barat Masjid Nabawi, tepat arah Gerbang 6, bangunan masjid lainnya di lokasi berdekatan adalah Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ali Bin Abi Thalib. Dikisahkan, bahwa tempat dibangunnya masjid tersebut merupakan kediaman kedua sahabat. Riwayat lainnya mengatakan, tempat tersebut merupakan lokasi dimana kedua sahabat mengikuti shalat Istisqo' bersama Nabi. Ada pula riwayat menjelaskan, bahwa disanalah shaf kedua sahabat kala mengikuti Shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Kendati berjuluk masjid, ketiga tempat tersebut tidak dipergunakan sebagai tempat shalat. Tidak ada keistimewaan khusus untuk melakukan shalat atau amalan lainnya di tempat-tempat tersebut. Selain dari sisi sejarahnya, untuk mengenang peristiwa atau keberadaannya.
Makkah dan Madinah layaknya dua sisi mata uang yang sejatinya satu meski memiliki karakteristik yang berbeda. Menilik pada sejarah, Makkah merupakan tempat dimana Syiar Agama Islam di masa Rasulullah pertama kali digaungkan. Sedangkan Madinah merupakan tempat dimana gaung itu akhirnya terdengar sampai ke seluruh penjuru dunia. Madinah, bahkan digambarkan sebagai Replika Kota Madani yang dibangun Rasullullah.
Perbedaan sederhana yang akan didapati pada kedua kota suci, misalnya dari segi penataan tempat shalat. Di Madinah, kita akan mendapati bahwa wilayah bagi Akhwat dan Ikhwan terpisah, dengan jalur dan pintu berbeda untuk masuk kedalam masjid. Sedangkan di Makkah, pemandangan Shaf (Barisan Shalat, red) perempuan di depan laki-laki merupakan hal yang lumrah. Meski tidak benar-benar berbaur di satu tempat.
Namun, dari segi ketepatan waktu dan konsistensi, patutlah kita contoh yang dilakukan di dua masjid. Ketika Adzan berkumandang, maka seketika itu juga para Askar (Polisi Penjaga) akan menutup pintu masuk ke Masjid. Sehingga para jamaah yang datang setelah adzan atau bahkan terlambat harus shalat di pelataran masjid.
Masih mengenai ketepatan waktu dan konsistensi, baik di Makkah, Madinah, bahkan Jeddah, adalah toko-toko yang akan tutup begitu adzan berkumandang. Tidak peduli apakah masih ada pembeli atau tidak. "Kalau ada yang tidak bayar pun mereka tidak peduli," tutur Muthowwif di suatu ketika. (3)
Surabaya, 30 Desember 2019 Pukul 12.26 WIB

Kamis, 26 Desember 2019

BERLAPIS CAHAYA


(Bersambung)
Pukul 08.15 pesawat berlogo singa bersayap itu lepas landas dari Bandara berinisial SUB meski berada di Kabupaten Sidoarjo. Seat 31C bukan sudut istimewa untuk duduk selama 11 jam perjalanan tanpa transit menuju tujuan akhir Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Tapi juga bukan sesuatu yang benar-benar kupikirkan, karena aku sibuk dengan hal lainnya.
Hanya sekali aku berdiri dari ‘penjara’ kursi itu untuk memenuhi tugas kemanusiawianku. Beruntung aku memiliki gabungan ruas punggung dan tulang ekor yang bukan buatan manusia. Sehingga bentuknya tetap utuh meski bergemeretak seperti kerupuk renyah.
Sepanjang perjalanan tak banyak hal yang kulakukan. Bahkan sekedar mengagumi pengalaman pertama berkendara langit dengan durasi terpanjang. Bicarapun kukira hanya satu atau dua kali yang tak kuingat detailnya.
Hatiku mencair bagai telaga. Sedang mataku adalah sumber tumpahnya yang tak terbendung. Menangis dan merapal apapun yang kubisa dan kuingat. Memanggil satu persatu nama yang menjadi kekuatanku.
Apa aku phobia naik pesawat? Of course no! Tapi jika ada yang bertanya apa aku takut? Iya. Aku takut. Takut apa? Entahlah. Mungkin aku takut semua yang kualami hanya mimpi. Bunga tidur yang akan menyisakan sesak di hati saat terjaga. Bisa jadi aku takut tak cukup baik sebagai pribadi untuk menjejakkan kaki di Tanah Suci. Atau takut tak bisa kembali ke tanah air.
Oke, opsi terakhir itu sedikit konyol. Disaat pesawat beberapa kali mengalami turbulensi karena berbenturan dengan mendung, aku justru sibuk dengan pena dan note. Sepenuhnya mengabaikan pekikan beberapa penumpang yang panik. Atau satu dua orang yang akhirnya mabuk perjalanan. 'Dua kekasih setiaku' itu selalu sanggup mengalihkan duniaku. Pun juga menjaga kewarasanku di waktu lainnya. Meski tak cukup untuk mengendalikan emosiku.
Pukul 15.15 WSA, pesawat mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Sepasang Pramugara dan Pramugari melepas kami dari sisi pintu keluar dengan senyum. "Terima kasih, sampai jumpa kembali," seru mereka melepas kepergian kami satu persatu.
"Maskernya bisa dipakai kak, disini banyak virus," ujar sang pramugari padaku. Aku hanya mengangguk dan melempar senyum terbaikku. “Ya Rabb, ijinkan aku menghirup aroma kotaMu, dan jagalah aku,” bisikku dalam hati. Kuresapi udara yang seketika melingkupiku. Hangat, itu yang kurasa, mungkin efek dingin tak tertahan di pesawat dan panas diluar.
Apa suasananya luar biasa? Tidak. Meski segala hal terasa istimewa, tapi aku takkan melebih-lebihkan narasiku. Bandara dengan nama Raja Arab Saudi yang pertama ini terkesan sepi. Barangkali hanya rombongan dari pesawat kami yang memenuhi bandara ini. Mengingat kami adalah gelombang pertama umroh setelah sempat dihentikan beberapa waktu karena Dua Kota Suci menjalani perawatan dan perbaikan insfrastruktur.
Bersama dengan bus bandara, kami diantar memasuki pintu kedatangan. Nampak pria bergamis panjang dan sorban dengan perawakan tinggi serta suara menggelegar menyambut kami. Menggiring kami mengantri di masing-masing pintu check in untuk pemeriksaan berkas.
Team Leader yang biasa kami panggil Ustadz Aziz mulai sibuk dengan ponselnya. Menghubungi perwakilan yang akan menjadi pemandu kami selama di Tanah Suci. Pukul 17.15 WSA pemandu kami sampai dan aku akhirnya teringat menelpon orang tuaku. Mengabarkan keberadaanku. Mendengar suara mereka membuatku kembali merasakan nyeri di ulu hati. “Ya Allah jagalah selalu kedua pelita hidupku, Gusti . . .”
Bus yang kami tumpangi melaju di jalanan Jeddah yang lagi-lagi cenderung sepi. Dua orang Muthowwif (Pemandu, red) yang memperkenalkan diri bernama Ustadz Rofiqi dan Ustadz Affan Syaiful Bahri mengisi keheningan kami dalam bus dengan talbiyah serta Sholawat Nabi. Nada yang syahdu dan mengalun lembut lagi-lagi meneteskan telaga di mataku.
Hari mulai gelap dan selain sorot lampu kendaraan, tak ada lagi yang bisa kupandangi di sisi kanan kiri jalan. Tak ada penerangan, karena yang kami lewati hanyalah hamparan gurun pasir nan gersang. Ustadz Rofiqi dengan aksen khas Pulau Garamnya pun bercerita tentang Kota Madinah. Kota yang diriwayatkan memiliki dua kali keberkahan dari Kota Makkah Al Mukarromah berdasarkan Doa Rasulullah dalam sebuah hadist riwayat Anas Bin Malik RA dalam Shohih Muslim.
Enam jam perjalanan dari Jeddah menuju Madinah, jamaah berhenti di perbatasan dua kota untuk menjalankan ibadah Sholat Maghrib Jama’ Ta’khir dengan Isya.’ Masjid Sasco Mahattah, begitulah Muthowwif menyebutnya yang tentu saja bergaya Timur Tengah. Makan malam dengan menu nasi kotak pun kami nikmati di sekitar area masjid, yang juga baru kusadari berada di area jalan tol. Menu nasi dengan ayam goreng dan sambal yang tidak membuatku rindu tanah air. Hanya merasa, ‘Kenapa chefnya memaksakan resep nusantara dalam bahan yang jelas citarasa Arab?” Enak, tapi tidak istimewa. Astaghfirullah.
Gerimis menitik ketika bus yang kami tumpangi memasuki Kota Madinah. “Assamualaika ya Rasulallah,” Ya Rabb, nyeri itu lagi, tangis yang sama. Seolah mataku tak punya lagi cara mengapresiasikan kekaguman dan kebahagiaan selain memeras telaga airmata yang tak jua mengering.
Sesuai dengan namanya, Madinatul Munawwaroh, ‘Kota Yang Bercahaya.’ Madinah memang merupakan gambaran dari struktur tata kota modern dengan banyaknya gemerlap lampu dan gedung pencakar langit di pusat kotanya. Di malam hari-dari sudut pandang yang tepat-, Kota Nabi ini akan nampak seperti taburan bintang di hamparan langit yang gelap.
Bagi yang telah berkali-kali melakukan perjalanan suci seperti halnya Umroh atau bahkan Haji, pemandangan Kota Madinah mungkin bukan hal yang asing lagi. Namun bagi the first comer bahkan proses terbuka dan menutupnya Payung Masjid Nabawi pun menjadi momen spesial yang tak ingin dilewatkan.
Masjid Nabawi-Masjidnya Nabi, tak hanya menjadi Ikon Kota Madinah, tapi sekaligus tempat suci selain Masjidil Haram di Kota Makkah yang menjadi mimpi setiap Muslim untuk bisa mengunjunginya. Karena di tempat inilah Junjungan Umat Muslim sedunia bersama dua karib tercinta Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddig dan Umar Bin Khattab dimakamkan.
Bahkan sebuah tempat yang dijuluki sebagai Min Riyadhil Jannah (sebagian dari taman surga), Roudhoh, merupakan tempat paling Mustajabah-tempat terkabulnya segala doa- yang hampir selalu ramai dikunjungi setiap waktu. Roudhoh merupakan tempat mustajab yang berada diantara mimbar dan Rumah Baginda Rosul, yang saat ini sekaligus Makam Nabi  beserta dua sahabat.
Hotel Jawharat Al Rasheed, menjadi rumah kedua kami selama berada di Kota Nabi. Hampir tengah malam ketika kedua Muthowwif dengan telaten mengantar setiap jamaah menuju pintu kamar masing-masing. “Setiap akses menuju dan keluar dari Masjid Nabawi melewati pintu 6 atau 7 yang lurus dari arah hotel,” terang Ustadz Rofiqi.
Rasa hati tak ingin menunggu lagi untuk berlari ke Masjid Nabawi. Namun, nyeri di badan dan kebas pada mataku menyadarkan diri agar tak bertindak gegabah. Gegabah dengan akibat fatal tersesat atau lupa jalan pulang. Suara hati yang lantas kusesali hanya selang beberapa jam berikutnya. (2)

Sidoarjo, 15 Desember 2019 Pukul 17.52 WIB


Selasa, 10 Desember 2019

NUR-KU

(Bersambung)


Akhirnya, aku menemukan alasan untuk menulis. Sesuatu yang selalu kucari. Satu dari sedikit hal yang mampu mempertahankan kewarasanku yang seringkali menguap. Sebuah Challenge dari saudaraku, Johan Rifki Maimunuddin, yang lebih suka kupanggil Joe.
Barangkali ini tak seperti espektasimu, Saudaraku. Karena jika kau mengharap tulisan yang serius dan berbobot, kau meminta pada orang yang salah. Aku hanya satu dari saudara perempuanmu yang tak terlalu pandai dan suka berkhayal.
Bulan Desember ini : *Berlapis Cahaya*
Menerima tema ini pada 30 November lalu, sontak membuatku memikirkan dua hal. Pertama, diriku sendiri; Kedua, Madinah. Tanya kenapa?
Aku, terlahir dan diberi nama kedua, Nur Hayati. Setelah sebelumnya sempat menyandang nama Yusnia Zahrotul Hasanah. Nama yang dianggap terlalu berat bagi anak sulung sepertiku. Entah apa pertimbangannya, mungkin benar terlalu berat, karena ada mufrod dari julukan Putri Nabi Muhammad dalam nama itu, Zahra----Azzahra.
Nur berarti cahaya. Madinah, Madinatul Munawwaroh, Kota yang bercahaya. Terlihat clue-nya? Begitulah kadang ide di otakku muncul. Seringkali tidak singkron, berloncatan, dan tak bisa dipahami selain oleh diriku sendiri.
Dan untuk kali ini, aku akan berusaha menata kembali kenangan 14 purnama yang lalu. 21 Oktober 2018 atau 12 Safar 1440 H. Hari yang akan selalu menjadi kenangan sakral bagiku. Hari yang akan selalu kukenang dengan haru biru dan bahagia tak terperi. Perjalanan umroh perdanaku.
***
Beberapa bulan sebelum tanggal sakral itu, kabar keberangkatanku diumumkan. Bagai kabar yang tak tahu harus kurespon bagaimana, aku hanya tercengang. 'Yakin ini bukan mimpi? Atau aku melantur?.' Tapi sekeras apapun usaha yang kulakukan untuk tersadar--dari sesuatu yang kusangka lamunan--semua tak berubah.
"Bapak sudah mendaftarkan kita berempat untuk umroh tahun ini," ddduuuaarrrr . . . . . Oke, jika suara paling mengejutkan adalah ledakan bom yang mampu memporakporandakan sekitar, maka bom yang satu ini berhasil membuatku berkeping-keping. Bukan hancur, hanya begitu terkejutnya sampai tak yakin harus tertawa dulu atau menangis sekalian.
Pada akhirnya, tak satupun dari dua opsi itu yang kulakukan. Aku hanya tercengang sembari menatap wajah pria berperangai teduh yang kupanggil ‘Bapak’ itu dengan berbagai perasaan, yang sekali lagi tak bisa kudefinisikan. Meski duniaku seolah terhenti, toh, semua berjalan seperti yang seharusnya. Aku mengurus pembaruan KTP, Akta Lahir, Kartu Keluarga, Penambahan nama, ijin cuti, hingga paspor tentu saja.
Sehari menjelang keberangkatanku, aku masih seperti manusia linglung yang melakukan segala hal secara otomatis. Bukan karena aku berpikir perlu melakukan ini dan itu. Otakku berhenti bekerja dengan benar. Lantunan doa dari sanak, kerabat, dan tetangga seperti menggema di kepalaku. “Ya Rabb, semuanya masih seperti mimpi,”
21 Oktober 2018. Pagi masih buta ketika perjalanan menuju Bandara Juanda T1. Subuh pun belumlah tiba. Aku mendekap erat buku panduan umroh yang kuterima dari travel, meski pada akhirnya hanya Sholawat Nabi yang tak kuijinkan lepas dari bibir dan pikiranku.
"Jangan pernah lepas sholawat, dalam keadaan apapun," pesan ibuku jauh hari sejak kabar keberangkatanku ditetapkan. Pesan yang selalu diulang-ulang setiap ada kesempatan. Entah kenapa, aku kembali melihat wajah sendu disana. Ada segurat bahagia yang diselimuti kekhwatiran khas seorang ibu. Wajah yang selalu kudapati setiap kali aku hendak bepergian.
Hah, ibu tetaplah ibu. Seberapapun bengalnya, aku tetaplah putrinya. Yang dibanding lemah lembut dan penurut, aku cenderung pendiam tapi pembangkang sekaligus. "Mungkin tanda lahir di kaki itu yang membuatmu tak bisa diam,"
Selain bingung, aku juga mendadak menjadi cengeng. Air mata menggenang di pelupuk mataku, ketika tiba waktunya berpamitan pada keluarga. Aku tentu tak bisa menangis di depan mereka, tidak boleh. Itulah mantera yang terus kubaca dalam hatiku. Mereka keluargaku, tapi aku tak cukup berani terlihat lemah didepan mereka. Aku lebih memilih dipandang bengal dan keras kepala. Itu lebih terdengar menyenangkan.
"Meski meninggal di tanah suci menjadi impian banyak orang, tapi jangan pernah sekalipun berpikir ingin meninggal disana. Ingatlah, kami disini menunggumu dengan doa dan kerinduan," Pesan paman kembali menyentuh jiwaku. Membuat air mataku nyaris jatuh tanpa kuminta. Entah kenapa aku mudah sekali ingin menangis hari itu. Seolah-olah hatiku mencair menjadi telaga air mata yang selalu siap tumpah. Membuatku mudah tersentuh dan terharu.
Setelah perjuangan keras mencegah air mata membanjir dengan tidak tahu diri. Air mata pertamaku hari itu jatuh tepat ketika aku memasuki pintu check in bandara dan mengirim pesan pamit pada Bapak.
"Jangan lupa doakan Bapak ya Nur. Sampaikan salam Bapak untuk Kanjeng Nabi," ucapnya saat mengantar kepergian kami. Ah, sayang sekali Bapak tak bertemu Abi dan Umi.
"Panjenengan akan menjadi doa pertama saya. Terima kasih untuk semuanya. Saya tidak akan bisa membalas apa-apa. Semoga Bapak selalu dilimpahi dengan kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup,"
***
Aku masih ingat dengan jelas, keinginan tersembunyi yang selalu kupatrikan dalam hati. “Jika aku ditaqdirkan pergi ke Luar Negeri, aku ingin kota yang pertama kali kujejaki adalah Tanah Suci.”
Mimpi itu terwujud.
Aku tak pernah menduga, hal semacam ini akan terjadi dalam hidupku. Keberuntungan tak terduga, rejeki yang tak disangka-sangka. Sesuatu yang kuyakini adalah karma baik dari tirakat orang tua dan leluhurku. Karena  aku sadar, siapa lah aku tanpa doa dan restu mereka. Hanya anak gadis bengal yang kerap membangkang. Hamba yang selalu khilaf pada Rabb-nya.
Pada akhirnya, aku juga disadarkan pada banyak hal. Cinta luar biasa yang tersaji indah dalam hidupku. Ibu dan ayah yang sama bengalnya denganku. Tak pernah ada kata cinta keluar dari mereka. Tapi aku tahu, bahwa dalam diam mereka selalu menitikkan air mata di setiap doanya untukku. Bahwa aku memiliki lingkungan yang luar biasa dengan teman-teman yang tak ubahnya saudara.
Jika kali ini aku masih merasa sendiri, maka kukira hatiku tertinggal di suatu tempat. Dan jika pernah sekalinya aku merasa hidup ini gelap, maka mungkin aku buta untuk melihat cahaya-cahaya terang yang selalu menemaniku. Keluargaku, Sahabatku. Mereka adalah cahayaku. Nurku. (1)

Sidoarjo, 07 Desember 2019 Pukul 22.51 WIB.

Rabu, 27 November 2019

DIINGAT


Maumu bagaimana? Diingat atau dilupakan?

Setiap orang ingin diingat, minimal dikenang oleh orang yang dikasihi

Apa aku termasuk didalamnya?

Kau adalah kata lain dari kasih sayang itu sendiri

Begitu ya? Aku pasti sangat istimewa

Tidak tepat seperti itu, kau hanya tidak seperti kebanyakan

Langka?

Kurasa tidak

Menarik?

Itu juga tidak tepat

Baiklah, aku memang tidak tepat waktu

Waktu?

Tidak tepat waktuku mencintaimu, menyadari nafasku menyerukan namamu

Sweetheart, aku bisa jadi seperti apapun untukmu.

Tapi bukan seperti mauku. Berhentilah, Candu! Sekuat kau berusaha, sesakit itu juga jiwa yang kau tinggalkan. Biarkan kunikmati ini sendiri.

Kau hanya memintaku berhenti, bukan pergi. Dan kau tahubengalnya hatiku, bukankah aku tak pernah seperti maumu?

Ya, kau dengan kebengalanmu yang kucintai hingga sesak napas.

Senin, 11 November 2019

HILANG


Aku telah merendahkan diri demi menggapaimu yang katanya melihatku terlalu tinggi

Namun ketika sedikit saja kepalaku tertunduk, mahkota di kepalaku nyaris terjatuh

Aku tertawa dalam getir yang konyol

Mempertanyakan kewarasan yang tersisa di otak kecilku

Apakah seperti itu cara terbaik menghadapimu?

Melepas kendali terakhir dari citra diriku?

Kurasa tidak begitu

Atau aku hanya melantur?

Aku dapat saja dengan lantang berkata, I am the Queen

Hanya raja berjiwa kesatria yang layak berdiri denganku

Tapi sekali lagi, 

Kegetiran dalam senyuman menghantamku dengan kenyataan paling konyol

Seberapa istmewakah diriku?

Kamis, 03 Oktober 2019

LAIN HATI



"Berhentilah tersenyum, Candu! Aku muak,"

Rasa sakit itu nyata. Tak sesakit ketika kau pergi. Tapi aku sadar, goresan luka yang kubuat padanya meski tanpa sengaja pasti berbekas.

"Padahal sebelumnya kau bilang senyumku adalah yang terindah, selain binar mata apiku,"

Karena keduanya aku terjebak hingga tak dapat melihat ke arah lainnya.

"Tidak, jika kau gunakan untuk menghardikku,"

Aku mencoba terlihat marah, kau selalu saja mengejekku.

"Ternyata statusku bersyarat ya?"

Lagi-lagi kau dengan ekspresimu yang menyedihkan. Aku suka kau menjadi menyebalkan saja.

"Hidupku saja bersyarat kan?" Acuh.

"Syaratnya?" Bingung.

"Syaratnya, tetap mencintaimu," Senyum tanpa berdosa.

"Aku tidak pernah mengatakan itu," Kerutan di dahimu, aku suka. Tapi, memangnya apa yang tidak kusuka darimu?

"Memang bukan,"

"Lalu?"

"Kau pergi,"

"Sweetheart . . . ."

"Candu . . ."

"Oke, kau menyebalkan!"

"Yes, that's I am,"

"Sweetheart, come. Kau terlalu banyak berpikir. Shut up, dan tidurlah!"

"Candu, saat aku tidur kau akan pergi. Lalu aku akan kembali menikmati kesendirian dalam luka yang kubuat sendiri. Apa aku egois? hanya memikirkan lukaku, hingga tanpa sengaja membuat luka bagi orang lain?"

"Tidak ada yang salah dalam cinta, sweetheart. Tidak kau, tidak juga dia. Bahkan aku. Kita hanya berada di waktu yang tidak tepat. Waktu selalu mengambil kuasanya. Dia berperan untuk banyak hal,"

"Kapan waktu akan berdamai denganku?"

"Aku tidak tahu. Tapi waktu tak sejahat itu. Lihatlah, kau masih memilikiku meski kita tak bersama,"

"Hanya kenanganmu, dan itu tidak cukup,"

"Jangan merasa cukup denganku. Kau punya hidupmu sendiri, aku hanya sementara. Aku tempatmu singgah, bukan tinggal,"

"Kenapa aku tak bisa memintamu menjadi rumahmu?"

"Sekalipun begitu, aku hanya akan jadi balkon rumahmu. Pada saatnya, kau benar-benar harus masuk dan tinggal didalam, tidak sekedar di depan jendela kamarmu,"

"Kau tahu kan, dia mundur karena sebelumnya aku terlampau fokus padamu?"

"Itu ketidakberuntungannya. Siapapun yang tidak bersabar denganmu, dia hanya tidak beruntung,"

"Termasuk juga dirimu?"

"Termasuk juga aku,"

"Lantas siapa yang menyedihkan disini?"

"Tidak ada. Ini tentang waktu, Sweetheart. Bisakah kau bersabar? Biarkan hatimu berdamai dengannya,"

"Candu, aku lelah,"

"Itu sebabnya kuminta kau tidur,"

"Tapi aku takut,"

"Hanya takut tak masalah. Karena kau tidak akan kalah. Itu keyakinanku,"

"Bagaiamana aku meminta maaf padanya? Aku tahu itu rasanya sakit,”

“Apa dia marah?”

“Tidak. Tapi aku merasa bersalah, aku harus meminta maaf,”

“Itulah kenapa dia mencintaimu. Emosimu murni,”

“Apa hubungannya itu dengan dia mencintaiku?”

“Aku, juga mungkin dia, telah melihat begitu banyak kebohongan. Sedang dimatamu, kami melihat cahaya. Itulah dirimu,”

“Kau sedang menghiburku?”

“Aku sedang menenangkan singa dalam dirimu,”

“Kau selalu saja menyebalkan,”

“You look so beautiful, Sweetheart,” Lantas semua berakhir dengan senyummu yang berkalang di hatiku. Tuhan, apa seperti ini rasanya cinta? Sakit, tapi Candu.