Kamis, 26 Desember 2019

BERLAPIS CAHAYA


(Bersambung)
Pukul 08.15 pesawat berlogo singa bersayap itu lepas landas dari Bandara berinisial SUB meski berada di Kabupaten Sidoarjo. Seat 31C bukan sudut istimewa untuk duduk selama 11 jam perjalanan tanpa transit menuju tujuan akhir Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Tapi juga bukan sesuatu yang benar-benar kupikirkan, karena aku sibuk dengan hal lainnya.
Hanya sekali aku berdiri dari ‘penjara’ kursi itu untuk memenuhi tugas kemanusiawianku. Beruntung aku memiliki gabungan ruas punggung dan tulang ekor yang bukan buatan manusia. Sehingga bentuknya tetap utuh meski bergemeretak seperti kerupuk renyah.
Sepanjang perjalanan tak banyak hal yang kulakukan. Bahkan sekedar mengagumi pengalaman pertama berkendara langit dengan durasi terpanjang. Bicarapun kukira hanya satu atau dua kali yang tak kuingat detailnya.
Hatiku mencair bagai telaga. Sedang mataku adalah sumber tumpahnya yang tak terbendung. Menangis dan merapal apapun yang kubisa dan kuingat. Memanggil satu persatu nama yang menjadi kekuatanku.
Apa aku phobia naik pesawat? Of course no! Tapi jika ada yang bertanya apa aku takut? Iya. Aku takut. Takut apa? Entahlah. Mungkin aku takut semua yang kualami hanya mimpi. Bunga tidur yang akan menyisakan sesak di hati saat terjaga. Bisa jadi aku takut tak cukup baik sebagai pribadi untuk menjejakkan kaki di Tanah Suci. Atau takut tak bisa kembali ke tanah air.
Oke, opsi terakhir itu sedikit konyol. Disaat pesawat beberapa kali mengalami turbulensi karena berbenturan dengan mendung, aku justru sibuk dengan pena dan note. Sepenuhnya mengabaikan pekikan beberapa penumpang yang panik. Atau satu dua orang yang akhirnya mabuk perjalanan. 'Dua kekasih setiaku' itu selalu sanggup mengalihkan duniaku. Pun juga menjaga kewarasanku di waktu lainnya. Meski tak cukup untuk mengendalikan emosiku.
Pukul 15.15 WSA, pesawat mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Sepasang Pramugara dan Pramugari melepas kami dari sisi pintu keluar dengan senyum. "Terima kasih, sampai jumpa kembali," seru mereka melepas kepergian kami satu persatu.
"Maskernya bisa dipakai kak, disini banyak virus," ujar sang pramugari padaku. Aku hanya mengangguk dan melempar senyum terbaikku. “Ya Rabb, ijinkan aku menghirup aroma kotaMu, dan jagalah aku,” bisikku dalam hati. Kuresapi udara yang seketika melingkupiku. Hangat, itu yang kurasa, mungkin efek dingin tak tertahan di pesawat dan panas diluar.
Apa suasananya luar biasa? Tidak. Meski segala hal terasa istimewa, tapi aku takkan melebih-lebihkan narasiku. Bandara dengan nama Raja Arab Saudi yang pertama ini terkesan sepi. Barangkali hanya rombongan dari pesawat kami yang memenuhi bandara ini. Mengingat kami adalah gelombang pertama umroh setelah sempat dihentikan beberapa waktu karena Dua Kota Suci menjalani perawatan dan perbaikan insfrastruktur.
Bersama dengan bus bandara, kami diantar memasuki pintu kedatangan. Nampak pria bergamis panjang dan sorban dengan perawakan tinggi serta suara menggelegar menyambut kami. Menggiring kami mengantri di masing-masing pintu check in untuk pemeriksaan berkas.
Team Leader yang biasa kami panggil Ustadz Aziz mulai sibuk dengan ponselnya. Menghubungi perwakilan yang akan menjadi pemandu kami selama di Tanah Suci. Pukul 17.15 WSA pemandu kami sampai dan aku akhirnya teringat menelpon orang tuaku. Mengabarkan keberadaanku. Mendengar suara mereka membuatku kembali merasakan nyeri di ulu hati. “Ya Allah jagalah selalu kedua pelita hidupku, Gusti . . .”
Bus yang kami tumpangi melaju di jalanan Jeddah yang lagi-lagi cenderung sepi. Dua orang Muthowwif (Pemandu, red) yang memperkenalkan diri bernama Ustadz Rofiqi dan Ustadz Affan Syaiful Bahri mengisi keheningan kami dalam bus dengan talbiyah serta Sholawat Nabi. Nada yang syahdu dan mengalun lembut lagi-lagi meneteskan telaga di mataku.
Hari mulai gelap dan selain sorot lampu kendaraan, tak ada lagi yang bisa kupandangi di sisi kanan kiri jalan. Tak ada penerangan, karena yang kami lewati hanyalah hamparan gurun pasir nan gersang. Ustadz Rofiqi dengan aksen khas Pulau Garamnya pun bercerita tentang Kota Madinah. Kota yang diriwayatkan memiliki dua kali keberkahan dari Kota Makkah Al Mukarromah berdasarkan Doa Rasulullah dalam sebuah hadist riwayat Anas Bin Malik RA dalam Shohih Muslim.
Enam jam perjalanan dari Jeddah menuju Madinah, jamaah berhenti di perbatasan dua kota untuk menjalankan ibadah Sholat Maghrib Jama’ Ta’khir dengan Isya.’ Masjid Sasco Mahattah, begitulah Muthowwif menyebutnya yang tentu saja bergaya Timur Tengah. Makan malam dengan menu nasi kotak pun kami nikmati di sekitar area masjid, yang juga baru kusadari berada di area jalan tol. Menu nasi dengan ayam goreng dan sambal yang tidak membuatku rindu tanah air. Hanya merasa, ‘Kenapa chefnya memaksakan resep nusantara dalam bahan yang jelas citarasa Arab?” Enak, tapi tidak istimewa. Astaghfirullah.
Gerimis menitik ketika bus yang kami tumpangi memasuki Kota Madinah. “Assamualaika ya Rasulallah,” Ya Rabb, nyeri itu lagi, tangis yang sama. Seolah mataku tak punya lagi cara mengapresiasikan kekaguman dan kebahagiaan selain memeras telaga airmata yang tak jua mengering.
Sesuai dengan namanya, Madinatul Munawwaroh, ‘Kota Yang Bercahaya.’ Madinah memang merupakan gambaran dari struktur tata kota modern dengan banyaknya gemerlap lampu dan gedung pencakar langit di pusat kotanya. Di malam hari-dari sudut pandang yang tepat-, Kota Nabi ini akan nampak seperti taburan bintang di hamparan langit yang gelap.
Bagi yang telah berkali-kali melakukan perjalanan suci seperti halnya Umroh atau bahkan Haji, pemandangan Kota Madinah mungkin bukan hal yang asing lagi. Namun bagi the first comer bahkan proses terbuka dan menutupnya Payung Masjid Nabawi pun menjadi momen spesial yang tak ingin dilewatkan.
Masjid Nabawi-Masjidnya Nabi, tak hanya menjadi Ikon Kota Madinah, tapi sekaligus tempat suci selain Masjidil Haram di Kota Makkah yang menjadi mimpi setiap Muslim untuk bisa mengunjunginya. Karena di tempat inilah Junjungan Umat Muslim sedunia bersama dua karib tercinta Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddig dan Umar Bin Khattab dimakamkan.
Bahkan sebuah tempat yang dijuluki sebagai Min Riyadhil Jannah (sebagian dari taman surga), Roudhoh, merupakan tempat paling Mustajabah-tempat terkabulnya segala doa- yang hampir selalu ramai dikunjungi setiap waktu. Roudhoh merupakan tempat mustajab yang berada diantara mimbar dan Rumah Baginda Rosul, yang saat ini sekaligus Makam Nabi  beserta dua sahabat.
Hotel Jawharat Al Rasheed, menjadi rumah kedua kami selama berada di Kota Nabi. Hampir tengah malam ketika kedua Muthowwif dengan telaten mengantar setiap jamaah menuju pintu kamar masing-masing. “Setiap akses menuju dan keluar dari Masjid Nabawi melewati pintu 6 atau 7 yang lurus dari arah hotel,” terang Ustadz Rofiqi.
Rasa hati tak ingin menunggu lagi untuk berlari ke Masjid Nabawi. Namun, nyeri di badan dan kebas pada mataku menyadarkan diri agar tak bertindak gegabah. Gegabah dengan akibat fatal tersesat atau lupa jalan pulang. Suara hati yang lantas kusesali hanya selang beberapa jam berikutnya. (2)

Sidoarjo, 15 Desember 2019 Pukul 17.52 WIB


Selasa, 10 Desember 2019

NUR-KU

(Bersambung)


Akhirnya, aku menemukan alasan untuk menulis. Sesuatu yang selalu kucari. Satu dari sedikit hal yang mampu mempertahankan kewarasanku yang seringkali menguap. Sebuah Challenge dari saudaraku, Johan Rifki Maimunuddin, yang lebih suka kupanggil Joe.
Barangkali ini tak seperti espektasimu, Saudaraku. Karena jika kau mengharap tulisan yang serius dan berbobot, kau meminta pada orang yang salah. Aku hanya satu dari saudara perempuanmu yang tak terlalu pandai dan suka berkhayal.
Bulan Desember ini : *Berlapis Cahaya*
Menerima tema ini pada 30 November lalu, sontak membuatku memikirkan dua hal. Pertama, diriku sendiri; Kedua, Madinah. Tanya kenapa?
Aku, terlahir dan diberi nama kedua, Nur Hayati. Setelah sebelumnya sempat menyandang nama Yusnia Zahrotul Hasanah. Nama yang dianggap terlalu berat bagi anak sulung sepertiku. Entah apa pertimbangannya, mungkin benar terlalu berat, karena ada mufrod dari julukan Putri Nabi Muhammad dalam nama itu, Zahra----Azzahra.
Nur berarti cahaya. Madinah, Madinatul Munawwaroh, Kota yang bercahaya. Terlihat clue-nya? Begitulah kadang ide di otakku muncul. Seringkali tidak singkron, berloncatan, dan tak bisa dipahami selain oleh diriku sendiri.
Dan untuk kali ini, aku akan berusaha menata kembali kenangan 14 purnama yang lalu. 21 Oktober 2018 atau 12 Safar 1440 H. Hari yang akan selalu menjadi kenangan sakral bagiku. Hari yang akan selalu kukenang dengan haru biru dan bahagia tak terperi. Perjalanan umroh perdanaku.
***
Beberapa bulan sebelum tanggal sakral itu, kabar keberangkatanku diumumkan. Bagai kabar yang tak tahu harus kurespon bagaimana, aku hanya tercengang. 'Yakin ini bukan mimpi? Atau aku melantur?.' Tapi sekeras apapun usaha yang kulakukan untuk tersadar--dari sesuatu yang kusangka lamunan--semua tak berubah.
"Bapak sudah mendaftarkan kita berempat untuk umroh tahun ini," ddduuuaarrrr . . . . . Oke, jika suara paling mengejutkan adalah ledakan bom yang mampu memporakporandakan sekitar, maka bom yang satu ini berhasil membuatku berkeping-keping. Bukan hancur, hanya begitu terkejutnya sampai tak yakin harus tertawa dulu atau menangis sekalian.
Pada akhirnya, tak satupun dari dua opsi itu yang kulakukan. Aku hanya tercengang sembari menatap wajah pria berperangai teduh yang kupanggil ‘Bapak’ itu dengan berbagai perasaan, yang sekali lagi tak bisa kudefinisikan. Meski duniaku seolah terhenti, toh, semua berjalan seperti yang seharusnya. Aku mengurus pembaruan KTP, Akta Lahir, Kartu Keluarga, Penambahan nama, ijin cuti, hingga paspor tentu saja.
Sehari menjelang keberangkatanku, aku masih seperti manusia linglung yang melakukan segala hal secara otomatis. Bukan karena aku berpikir perlu melakukan ini dan itu. Otakku berhenti bekerja dengan benar. Lantunan doa dari sanak, kerabat, dan tetangga seperti menggema di kepalaku. “Ya Rabb, semuanya masih seperti mimpi,”
21 Oktober 2018. Pagi masih buta ketika perjalanan menuju Bandara Juanda T1. Subuh pun belumlah tiba. Aku mendekap erat buku panduan umroh yang kuterima dari travel, meski pada akhirnya hanya Sholawat Nabi yang tak kuijinkan lepas dari bibir dan pikiranku.
"Jangan pernah lepas sholawat, dalam keadaan apapun," pesan ibuku jauh hari sejak kabar keberangkatanku ditetapkan. Pesan yang selalu diulang-ulang setiap ada kesempatan. Entah kenapa, aku kembali melihat wajah sendu disana. Ada segurat bahagia yang diselimuti kekhwatiran khas seorang ibu. Wajah yang selalu kudapati setiap kali aku hendak bepergian.
Hah, ibu tetaplah ibu. Seberapapun bengalnya, aku tetaplah putrinya. Yang dibanding lemah lembut dan penurut, aku cenderung pendiam tapi pembangkang sekaligus. "Mungkin tanda lahir di kaki itu yang membuatmu tak bisa diam,"
Selain bingung, aku juga mendadak menjadi cengeng. Air mata menggenang di pelupuk mataku, ketika tiba waktunya berpamitan pada keluarga. Aku tentu tak bisa menangis di depan mereka, tidak boleh. Itulah mantera yang terus kubaca dalam hatiku. Mereka keluargaku, tapi aku tak cukup berani terlihat lemah didepan mereka. Aku lebih memilih dipandang bengal dan keras kepala. Itu lebih terdengar menyenangkan.
"Meski meninggal di tanah suci menjadi impian banyak orang, tapi jangan pernah sekalipun berpikir ingin meninggal disana. Ingatlah, kami disini menunggumu dengan doa dan kerinduan," Pesan paman kembali menyentuh jiwaku. Membuat air mataku nyaris jatuh tanpa kuminta. Entah kenapa aku mudah sekali ingin menangis hari itu. Seolah-olah hatiku mencair menjadi telaga air mata yang selalu siap tumpah. Membuatku mudah tersentuh dan terharu.
Setelah perjuangan keras mencegah air mata membanjir dengan tidak tahu diri. Air mata pertamaku hari itu jatuh tepat ketika aku memasuki pintu check in bandara dan mengirim pesan pamit pada Bapak.
"Jangan lupa doakan Bapak ya Nur. Sampaikan salam Bapak untuk Kanjeng Nabi," ucapnya saat mengantar kepergian kami. Ah, sayang sekali Bapak tak bertemu Abi dan Umi.
"Panjenengan akan menjadi doa pertama saya. Terima kasih untuk semuanya. Saya tidak akan bisa membalas apa-apa. Semoga Bapak selalu dilimpahi dengan kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup,"
***
Aku masih ingat dengan jelas, keinginan tersembunyi yang selalu kupatrikan dalam hati. “Jika aku ditaqdirkan pergi ke Luar Negeri, aku ingin kota yang pertama kali kujejaki adalah Tanah Suci.”
Mimpi itu terwujud.
Aku tak pernah menduga, hal semacam ini akan terjadi dalam hidupku. Keberuntungan tak terduga, rejeki yang tak disangka-sangka. Sesuatu yang kuyakini adalah karma baik dari tirakat orang tua dan leluhurku. Karena  aku sadar, siapa lah aku tanpa doa dan restu mereka. Hanya anak gadis bengal yang kerap membangkang. Hamba yang selalu khilaf pada Rabb-nya.
Pada akhirnya, aku juga disadarkan pada banyak hal. Cinta luar biasa yang tersaji indah dalam hidupku. Ibu dan ayah yang sama bengalnya denganku. Tak pernah ada kata cinta keluar dari mereka. Tapi aku tahu, bahwa dalam diam mereka selalu menitikkan air mata di setiap doanya untukku. Bahwa aku memiliki lingkungan yang luar biasa dengan teman-teman yang tak ubahnya saudara.
Jika kali ini aku masih merasa sendiri, maka kukira hatiku tertinggal di suatu tempat. Dan jika pernah sekalinya aku merasa hidup ini gelap, maka mungkin aku buta untuk melihat cahaya-cahaya terang yang selalu menemaniku. Keluargaku, Sahabatku. Mereka adalah cahayaku. Nurku. (1)

Sidoarjo, 07 Desember 2019 Pukul 22.51 WIB.

Rabu, 27 November 2019

DIINGAT


Maumu bagaimana? Diingat atau dilupakan?

Setiap orang ingin diingat, minimal dikenang oleh orang yang dikasihi

Apa aku termasuk didalamnya?

Kau adalah kata lain dari kasih sayang itu sendiri

Begitu ya? Aku pasti sangat istimewa

Tidak tepat seperti itu, kau hanya tidak seperti kebanyakan

Langka?

Kurasa tidak

Menarik?

Itu juga tidak tepat

Baiklah, aku memang tidak tepat waktu

Waktu?

Tidak tepat waktuku mencintaimu, menyadari nafasku menyerukan namamu

Sweetheart, aku bisa jadi seperti apapun untukmu.

Tapi bukan seperti mauku. Berhentilah, Candu! Sekuat kau berusaha, sesakit itu juga jiwa yang kau tinggalkan. Biarkan kunikmati ini sendiri.

Kau hanya memintaku berhenti, bukan pergi. Dan kau tahubengalnya hatiku, bukankah aku tak pernah seperti maumu?

Ya, kau dengan kebengalanmu yang kucintai hingga sesak napas.

Senin, 11 November 2019

HILANG


Aku telah merendahkan diri demi menggapaimu yang katanya melihatku terlalu tinggi

Namun ketika sedikit saja kepalaku tertunduk, mahkota di kepalaku nyaris terjatuh

Aku tertawa dalam getir yang konyol

Mempertanyakan kewarasan yang tersisa di otak kecilku

Apakah seperti itu cara terbaik menghadapimu?

Melepas kendali terakhir dari citra diriku?

Kurasa tidak begitu

Atau aku hanya melantur?

Aku dapat saja dengan lantang berkata, I am the Queen

Hanya raja berjiwa kesatria yang layak berdiri denganku

Tapi sekali lagi, 

Kegetiran dalam senyuman menghantamku dengan kenyataan paling konyol

Seberapa istmewakah diriku?

Kamis, 03 Oktober 2019

LAIN HATI



"Berhentilah tersenyum, Candu! Aku muak,"

Rasa sakit itu nyata. Tak sesakit ketika kau pergi. Tapi aku sadar, goresan luka yang kubuat padanya meski tanpa sengaja pasti berbekas.

"Padahal sebelumnya kau bilang senyumku adalah yang terindah, selain binar mata apiku,"

Karena keduanya aku terjebak hingga tak dapat melihat ke arah lainnya.

"Tidak, jika kau gunakan untuk menghardikku,"

Aku mencoba terlihat marah, kau selalu saja mengejekku.

"Ternyata statusku bersyarat ya?"

Lagi-lagi kau dengan ekspresimu yang menyedihkan. Aku suka kau menjadi menyebalkan saja.

"Hidupku saja bersyarat kan?" Acuh.

"Syaratnya?" Bingung.

"Syaratnya, tetap mencintaimu," Senyum tanpa berdosa.

"Aku tidak pernah mengatakan itu," Kerutan di dahimu, aku suka. Tapi, memangnya apa yang tidak kusuka darimu?

"Memang bukan,"

"Lalu?"

"Kau pergi,"

"Sweetheart . . . ."

"Candu . . ."

"Oke, kau menyebalkan!"

"Yes, that's I am,"

"Sweetheart, come. Kau terlalu banyak berpikir. Shut up, dan tidurlah!"

"Candu, saat aku tidur kau akan pergi. Lalu aku akan kembali menikmati kesendirian dalam luka yang kubuat sendiri. Apa aku egois? hanya memikirkan lukaku, hingga tanpa sengaja membuat luka bagi orang lain?"

"Tidak ada yang salah dalam cinta, sweetheart. Tidak kau, tidak juga dia. Bahkan aku. Kita hanya berada di waktu yang tidak tepat. Waktu selalu mengambil kuasanya. Dia berperan untuk banyak hal,"

"Kapan waktu akan berdamai denganku?"

"Aku tidak tahu. Tapi waktu tak sejahat itu. Lihatlah, kau masih memilikiku meski kita tak bersama,"

"Hanya kenanganmu, dan itu tidak cukup,"

"Jangan merasa cukup denganku. Kau punya hidupmu sendiri, aku hanya sementara. Aku tempatmu singgah, bukan tinggal,"

"Kenapa aku tak bisa memintamu menjadi rumahmu?"

"Sekalipun begitu, aku hanya akan jadi balkon rumahmu. Pada saatnya, kau benar-benar harus masuk dan tinggal didalam, tidak sekedar di depan jendela kamarmu,"

"Kau tahu kan, dia mundur karena sebelumnya aku terlampau fokus padamu?"

"Itu ketidakberuntungannya. Siapapun yang tidak bersabar denganmu, dia hanya tidak beruntung,"

"Termasuk juga dirimu?"

"Termasuk juga aku,"

"Lantas siapa yang menyedihkan disini?"

"Tidak ada. Ini tentang waktu, Sweetheart. Bisakah kau bersabar? Biarkan hatimu berdamai dengannya,"

"Candu, aku lelah,"

"Itu sebabnya kuminta kau tidur,"

"Tapi aku takut,"

"Hanya takut tak masalah. Karena kau tidak akan kalah. Itu keyakinanku,"

"Bagaiamana aku meminta maaf padanya? Aku tahu itu rasanya sakit,”

“Apa dia marah?”

“Tidak. Tapi aku merasa bersalah, aku harus meminta maaf,”

“Itulah kenapa dia mencintaimu. Emosimu murni,”

“Apa hubungannya itu dengan dia mencintaiku?”

“Aku, juga mungkin dia, telah melihat begitu banyak kebohongan. Sedang dimatamu, kami melihat cahaya. Itulah dirimu,”

“Kau sedang menghiburku?”

“Aku sedang menenangkan singa dalam dirimu,”

“Kau selalu saja menyebalkan,”

“You look so beautiful, Sweetheart,” Lantas semua berakhir dengan senyummu yang berkalang di hatiku. Tuhan, apa seperti ini rasanya cinta? Sakit, tapi Candu.



Senin, 30 September 2019

DOSA HATI


Surabaya-Madiun
[07:51, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Wess josss pokok e..mbok yoo aq seng teko mimpine.. Moso aq ra tau diimpikan to bu dosen.
[08:15, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Coba saya ingat dulu . .   Pernah gak ya . . . .🤔🤔🤔
[08:15, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kados e kok blas. . . 🤭
[08:16, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Byoohh..byoohh....
[08:16, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Mbok yo aq ngono wi seng di impikan..
[08:17, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Ben tambah semangat
[08:17, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😤😤😤
[08:18, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Semangat iki nek jualan laris . . . Nyapo kok mimpi2an . . . .😏
[08:19, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Lhaa ... Kui yo iyo... Seng kui yo iyo...😀😀
[08:20, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kua kui ae . . .
[08:20, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Kadong kangen karo wong meduro😊😊😊
[08:20, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Lha pripun... Lha moso aq wes ra di eleng2 blaaaasss...
[08:21, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Tuwas kangen ra didugo . . . Hahaha
[08:22, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Byooohhhh...byoohhh.. Sajak e kok wes melupakan.. Diriku yg terlanjur cinta...😊😊😊
[08:23, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ingatlah . . . Kalau ndak, WAnya gak bakal kebales . . .
[08:25, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Ingatmu sebatas wa.. Tanpa ingat bahwa aq pernah merasakan perasaan tanpa perasaan.😄😄😄
[08:27, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Ora loo sak jane wes rabi urung too... Kembali lah kedesa kami.. Rabi o wong kene bu dadi wong ndeso gengsi ora dadi wong deso..
[08:27, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Hush . .  Ra ilok. Fokus pada yang sudah ada saja. Abaikan saya.😌
[08:28, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Neng kene okeh joko bu.. Asal siap ngaret..
[08:28, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya juga orang desa yang terusir ke kota . . .
[08:28, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😴😴😴
[08:29, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: 😅masalah e joko arep to ra karo rondo???😅
[08:29, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Tp sekarang lupa jalan ke desa..
[08:30, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sejak dulu saya memang tidak hafal jalan.
[08:30, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: 😝
[08:30, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Okeh seng gelem bu... Ora sah minder...
[08:31, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Yo tooo.. Wes kadong menak neng kota.. Moh ngaret neng deso..
[08:31, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Niku lak sanjange njenengan . . .
[08:31, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Casing kota, hati desa awak2 iki . . . .
[08:34, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Tenan poraaa.....
[08:34, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😄😄😄
[08:34, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ra percoyo yowis . . .
[08:35, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Lha kok moh dirabi wong deso bu.. Hayoooo.. Milih e yo seng neng kota.. Hayooo iyoo tooo😄😄😄
[08:35, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Ojo nesu nesu.. Seng sareh bu.. Ben ra darah tinggi
[08:36, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Bahasan iku neh . . . . Tak jelaskan gimana juga njenengan ra bakal percoyo . . .
[08:36, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Mboten nesu . . . I a woles kok . . .🤣
[08:38, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Mosssoooo...... Lha kadong di tolak kok.. 😄😄😄
[08:39, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Mboten ditolak jane. Tapi njenengan yang tidak benar2 serius. 😅
[08:39, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Ndang rabio bu.. Gek ndang di udeh aq. Jak dolen gonku bojone..
[08:39, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Di udeh iku nopo?
[08:40, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Lhoo.... Moso!! Pdhl mbiyen kie.. Rumangsaku wes pamit wong tuo lo.. Lha tp emoh karo wong deso.. Yo aq trimo mundur najan ati ajur..😊😊😊
[08:41, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Koyok lagu
[08:41, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: 😝
[08:41, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Di udeh ne aq bu... Kenalkan diriku yg pernah merasakan jatuh cinta pada ibu dosen.. Yg bagaikan langit dan bumi
[08:41, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ape dibandingkan ngaten nggeh . . .😅
[08:42, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Jiaaahh ra percoyooo...
[08:42, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Mboten enten niat ngoten niku.. Ampun su'udhon bu.. Kulo mboten pendendam ko bu..
[10:01, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Aku kudu ngomong opo . . .?
[10:03, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😄😄😄
[10:15, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Semakin aku merasa berdosa
[10:16, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Biar hilang rasa nya ayooo dibudal ne..
[10:16, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: ☺☺☺
[10:17, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Tapi ya sudahlah, semuanya sudah terjadi. InsyaAllah itu yang terbaik buat panjenengan. Maaf jika benar, saya dengan tanpa sengaja menjadi penyebab sakit hatinya panjenengan. Sungguh tidak ada niat untuk itu.🙏🏻😢
[10:17, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: dibudalne nangdi?
[10:18, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Budal Neng KUA
[10:18, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: engken tho, bidal kale sinten . . .
[10:18, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Piyambak e dereng dugi . . . hehehe
[10:19, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😊😊😊...
[10:19, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Karo aq...
[10:19, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Iki wess siappp
[10:19, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😄😄😄
[10:20, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😧😧😧
[10:23, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Wes ndang rabi... Rasah kakean pilihan... 😊😊😊

Sopo too calone ndang dikenal no.. Koncone ben ruh..
[10:23, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Dereng ketemu . . . . 😅
[10:24, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Durung ketemu seng dikarep no opo trah durung ketemu seng di pengeni
[10:25, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: entah . . .
[10:37, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Lhaa iki... Gak yaqin karo awak dewe ne garai...
[10:38, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Opo rasah rabi ae.. Seng penting sukses.. Sopo ngerti sok dadi rektor. Fokus dgn kerjaan
[10:39, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Lha ngunu wi . . . Dungo e elek men . . . .
[10:41, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Lo kok dungo... Nek dungo ne yo rabi mbi aq kok.. Piyeee tooo😴😴😴
[10:45, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya jadi yang kedua? Yo moh . . .😝
[10:47, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😀😀😀
[10:48, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Mbiyen dijadikan yg pertama emoh.. Yg kedua emoh.. Trus gelem e yg ketiga paling...😀😀😀
[10:50, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Saya kan sudah bilang, dulu itu bukan ditolak tapi njenengan yang tidak serius. Ketiga? Yo tambah emoh. Saya, dengan alasan apapun tidak mau diduakan. hehehehe
[10:53, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Byoohhh.. Pdhl rumangsaku mbiyen wess serius poll... Sampai wong tuaku wes se7.. Pdhl mbiyeenn kie aq wes tau musyawarah mbi wong tuo.. Tp sak elingku... Aq jik di anggep guyoonn...😟😟😟
[10:55, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Begitukah? Padahal orang tua njenengan bahkan tidak kenal siapa saya . . .
[10:59, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Seng arep nglakoni aq.. Wong tua ku ngrestoni.

Bukan kah pernah mampir dan sempat ketemu walau sebentar.. Apa mgkin sudah lupa.. Bahwa pean orang kota pernah datang mampir di gubug reyot saya...
[10:59, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😞😞😞
[11:10, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Pertama, itu artinya kita memang tidak berjodoh. Kedua, aku tidak munafik bahwa sebagai perempuan aku ingin diperjuangkan. Jika aku belum cinta, kenapa tidak berjuang membuat saya jatuh cinta? Ketiga, Dalam hal yang berbeda, sejujurnya panjenengan pernah berada di posisi yang istimewa bagi saya. Masih ingat kan? Panjenengan adalah orang pertama yang tahu status dan cerita masa lalu saya, bahkan sebelum sahabat dan orang yang saya minati tahu hal itu.
[11:20, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Mboh aq wes lali...
Lali cara ne. Bahkan gak ngerti cara ne, Waktu itu gimana cara nya saya meyakinkan memperjuangkan. Seingatku pintu itu sudh tutup..

Jodooohhhhh.....!!!!
😟😟😟..
[11:22, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ya begitu. Lupakan saja perasaan untuk saya. Cukup ingat, kita berteman baik. Itu saja. Supaya saya juga bisa melupakan kenyataan, saya mungkin memang tidak layak untuk diperjuangkan.😅
[11:24, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sudah tutup atau saya kunci sementara? Waktu itu masih ada Munir, ingat? Ah, mengingat dia, semakin saya merasa tidak layak . . . 😌
[11:28, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Nahhh itulah masalah nya.. Pean bisa dgn mudah.. Krn pada dasarnya saat itu pean gak ada rasa itu.. Dan bahkan dianggap omong kosong,dianggap belas kasihan,dianggap rasa iba.dianggap saya ambil kesempatan. Pahamku dulu bgtu..Tp bagi yg merasakan.. Klo disuruh lupa 100%.. Saya kira sulit mbak..
[11:30, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Ya.. Karena harapan pean adalah munir.. Dan itu lah.. Yg dulu serius masih dianggap gak serius. Karena ada pilihan. Jelas lah klo waktu itu org desa org gunung kalah..😀😀😀😀
[11:31, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Oke, jangan dilupakan. Saya juga sakit rasanya kalau dilupakan. 😅 Tapi mari ambil hikmahnya,
[11:32, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😊😊😊
[11:32, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ketidakpercayaan diri panjenengan inilah yang membuat saya ragu, pada awalnya.
[11:33, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Saya berusaha tersenyum
[11:35, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😊😊😊
Ya emg klo tak ada rasa pasti isi nya serba salah kok mbak.. Mau omg apa pun..bahkan seribu kebenaran pun disalahkan apalagi seribu alasan.. Dan yg ada hanya dianggap sebuah alasan.. Umum nya bgetu..😀😀😀
[11:36, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Begitupun saya. Apapun yang akan saya katakan sebagai alasan. Akan selalu nampak salah bagi njenengan. Karena jauh didalam hati, saya sudah menorehkan luka. Meski njenengan jelas tidak merasa dendam akan hal itu.
[11:40, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Mboten mbak... Saya tidak menyalahkan.. Krn tidak ada yg perlu disalahkan..😊😊😊
[11:42, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Nampak salah, bukan menyalahkan. Saya tahu panjenengan orang baik. Ketidakberuntungan saya tidak bisa merasakan cinta agung njenengan.🙏
[11:45, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Lukaa.....luka itu apa.. 😀😀😀.. Luka itu bs sembuh kok mbak.. Luka apa pun.. Ini jempol kaki luka bertahun2.. Sampai hilang separo dan tulang nya jempol sampai copot.. Bisa sembuh kok mbak... Luka itu bisa diobati..😊😊😊
[11:46, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Iya. Tapi berbekas kan? Meski tidak sakit. Semoga begitupun kehadiran saya, pernah menciptakan luka, sakit, lalu sembuh meski berbekas. Selanjutnya akan tetap njenengan kenang dengan senyum.
[11:48, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Kalau kesalahan semua org pasti... Klo nampak bisa disembunyikan..dan salah juga bisa dibenarkan.. Jika terbayang2 salah kita gak bisa gerak mbak.. Karena apa pun yg kita lakukan akan selalu nampak salah dlm hal apapun..
[11:51, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😀😀😀...  Nek bahasane ngene iki seoalah2 pernah jadian..pdhl kan urung.. Moso urung nyapo2 kok melukai.. Yo ora lah mbak..

Ra ono entek e nek bahas iki ae
[11:53, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Bahas liyane barang mbak2.. Moso mung wong dua thok seng dibahas..

Oh tumben on time iki mau.. Gak kerja yee
[11:53, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Baiklah. Percakapan ini, semoga juga diketahui juga oleh nyonya. Saya tidak ingin ada kesalahpahaman. Kalau memungkinkan, sampaikan salam saya pada beliau. Katakan saya bangga pada beliau, meski tidak mengenalnya, saya yakin beliau orang baik yang dipertemukan dengan orang baik. 🙏😇
[11:55, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Njenengan yang mulai ndang . . . Saya inginnya juga, bahasan2 ini diskip. Tidak baik buat njenengan kan . . .😅
[12:02, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Bojoku neng mahe morotuoku
[12:03, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: Ben too... Malah ben rasah eruh..
[12:03, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😀😀😀
[12:10, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: injeh, kalau itu keputusan panjenengan. Saya hanya tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan karena saya.
[12:14, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😀😀😀 wes terjadi dari bertahun2 lalu bu...
[12:24, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: disambi karo mbut gae ya bu...
[12:27, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Monggo . . . .🤭
[12:28, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😄😄💪💪💪
[12:33, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Nyonya apa kabar?
[12:33, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Kok ditinggal nak omah morotuo rek . . .😌
[12:33, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: gone mbok e mbak wes 2 mingguan di blora
[12:34, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: iyo e mbak,, ben iso golek nyonya neh...😄😄😄
[12:35, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: morotuo lg sakit,, sedangkan aq sejak sakit drmh madiun.. wes meh 3 thn aq di madiun
[12:41, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sakne Nyonya e dikon PP Blora-Madiun . . . .
[12:41, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: InsyAllah Istri Sholihah . . .
[12:41, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Dijaga baik-baik lho nggeh . . .
[12:42, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: baru dua minggu kmrn mbakk
[12:43, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: ☺☺🙏🙏
[12:44, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: awakmu pengen dijogo pisan ora,,,😄😄
[12:44, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Ingin. Tapi, biarkan itu jadi tugas orang lain. Bukan Njenengan. Hehehehe
[12:45, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 😄😄😄
[12:46, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: beehhh sinis men to yoo,, yooo😄😄
[12:46, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 🙏🙏🙏
[12:46, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: mboten . . . . Saya slow kok . . .
[12:47, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: 😌
[12:47, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: ☺☺☺
[12:48, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: sarapan mbak,,, mpun sarapan nopo dereng
[12:48, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sarapan sampun. Makan siang yang dereng
[12:49, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: dereng sempat.
[12:49, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: hehehe
[12:49, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: oh,, enggal makn siank,,kulo bade sarapan
[12:50, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: oh njih,, takseh di perpus kampus njih leh mbut damel
[12:51, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: sanes. di ruangan.
[12:53, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: lha riyen
[12:53, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: oh sak niki mpun dados dosen njih
[12:53, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sanes
[12:53, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: alhamdulillah,,,
[12:53, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Hnya pegawai
[12:54, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Babu, hehe
[12:54, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: pegawai nopo
[12:55, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: tp kulo yaqin ,, cita2 ne terpenuhi
[12:55, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Sejujurnya saya lupa, saya bercita2 apa dulu . . .🙈
[12:56, 9/30/2019] Nour 'Aiko' Elhayat: Tapi kalau bicara keinginan, masih banyak. Gak ada habisnya.
[12:56, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: lhaaaa dalahhh,, moso urip gak ono tujuan
[12:56, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: ohhh,,,,,
[13:00, 9/30/2019] Ust. Agus mdn: 🥰🥰🥰