Seperti janji yang tak pernah kau tepati Aku terhenti di jalan yang tak pernah kupilih Layaknya cinta yang tak pernah bersemi Kau hidup dalam hatiku yang telah lama mati
Apa aku akan hidup, sampai pesaing candu datang? Atau aku akan dicukupkan dengan cinta rahasia untuk candu? Bersanding dengan begitu banyak rahasia yang kusimpan, Bahkan dari orang-orang terdekatku? Terkadang aku mulai berpikir membuka semua rahasiaku Tapi apa itu akan membuat perubahan? Yang kuhadapi adalah, mereka yang menerimaku tak dipilih hatiku. Yang dipilih hatiku, tidak dituliskan dalam taqdirku. Aku tidak menyesal, Juga tidak sedang menghujat Tuhan, Aku hanya ingin bilang, 'Tuhan, aku suka caraMu menguji hatiku... Tapi, bisakah sesekali kuminta PadaMu untuk membuatnya berdamai denganku? Dia benar-benar hampir selalu membuatku kesal,' 😂😂😂
Jika aku bunga, maka aku yakin telah layu bahkan sebelum sempat menguncup Kau tahu kenapa, karena aku berdiri tanpa tanah ataupun air untuk tumbuh Jika aku air, maka pastilah aku air yang jatuh dari talang rumahmu Sebab aku tak cukup punya daya untuk bisa menghanyutkan sesuatu selain debu yang kebetulan berada di jalanku Lantas apakah aku? Bisa jadi aku adalah ranting, meski aku tak separah ia kala diretak tanpa sebab Bisa pula aku adalah udara yang membwa aroma basah untuk hujan yang tak syahdu Meski jelas, aku tak semenyegarkan itu untuk memberi hawa kehidupan Ya, mungin aku hanya kisah yang tak bermula dan jua tanpa akhir Ayo pulang! Sungguh aku jadi lapar sekarang.
Aku berdusta jika mengatakan tak pernah bahagia selepas kau pergi Selalu ada alasan bagiku untuk tersenyum setiap harinya Kujalani hidup yang penuh kemurahan tanpa syarat Tapi tahukah kau, ketidakberuntunganku adalah bahwa di akhir hari Aku selalu berhenti pada bayanganmu yang sendu di penghujung ruang hati Hati yang pernah kunisbatkan padamu Hati yang aku sendiri tak tahu berbentuk seperti apa sekarang Lantas kita duduk bersama Berbagi cerutu beraroma darah Kau tak bicara, hanya melempar senyum pahit yang tak bisa tak kusuka Sebab hanya itu yang dapat kukenang dari wajahmu Kau tak menyentuhku Hanya melukisku di udara Seolah berusaha mencipta sketsa tanpa gambarku Kita menangis Aku ingin bicara, tapi kau isyaratkan jangan Lantas aku pun diam Dan kita hanya saling menatap Sampai angin mengeringkan air mata kita Menggantinya dengan rintik gerimis Aku menangis lagi, jika kau tak tahu Kau juga menangis lagi Dan aku cukup yakin untuk itu Meski kita tak lagi bicara dan berbagi Kau berbalik tanpa bicara Menoleh dan melempar senyum Setangkai mawar jatuh di kakiku Kelopaknya tercerai seperti hatiku Aku pun sadar, kenanganmu takkan pernah cukup untukku Meski harus kupaksakan untuk cukup Bayanganmu takkan pernah lengkap dalam hidupku Tapi hidup ini berjalan setelah kulengkapkan bayanganmu dalam diriku Aku lelap, dan berharap Esok kita akan bertemu Dan berjanjilah untuk bicara dan tersenyum