Rabu, 24 Desember 2014

Maria Novita Sechan, Perajin dan Tutor Hand Painting Surabaya


Seni itu Terapi Emosi dan Kontrol Diri                   

Siapa bilang jadi seniman harus punya bakat atau keturunan seniman? Lihat saja Maria Novita Sechan, berawal dari iseng dirinya kini dikenal sebagai satu dari sedikit seniman sekaligus tutor seni lukis hand painting. Baginya, melukis bukan sekedar seni tapi juga sarana terapi dan kontrol diri. Keuntungan lain, seni juga mampu mendulang pundi-pundi rupiah. Seperti apakah?

           Mengenakan baju dan celana berwarna senada biru tua dipadu blazer jeans tanpa lengan warna coklat, Maria Novita Sechan lebih nampak seperti model. Apalagi didukung dengan sandal wedges serta kalung manik-manik menambah kesan anggun perempuan berkerudung yang akrab disapa Ita tersebut.
            Orang yang baru mengenalnya mungkin takkan menyangka jika ia adalah seorang seniman. Maklum, umumnya orang berpikir seniman itu selalu tampil apa adanya dan cenderung ‘amburadul’. Berbeda dengan Ita yang  melanggar kebiasaan  melalui tampilan modis dan rapi.
            “Perempuan itu memang harus hemat, tapi bukan berarti tidak bisa tampil cantik. Dan lagi cantik itu tidak harus mahal,” ujarnya kala ditemui Puspa beberapa waktu yang lalu.
            Cantik tidak harus mahal. Kalimat ini hampir seperti mantra ampuh yang digunakannya untuk membakar semangat orang-orang, kala ia menjadi tutor pelatihan. Ita mencontohkan, bahwa untuk tampil modis seseorang tidak harus selalu menggunakan baju baru dan mahal. Tapi dengan sedikit sentuhan seni, baju lama pun bisa nampak baru dan berkelas. Salah satunya melalui seni lukis hand painting.
Selain kerap menerima pesanan lukisan untuk baju, kerudung, tas, dan lain-lain Ita juga merupakan salah satu tutor tetap seni lukis hand painting di UPT Pelatihan dan Pengembangan Pendidikan Kejuruan (PPPK) Dinas Pendidikan Provinsi Jatim. Di sela kesibukannya, Ita pun masih meluangkan waktu dalam berbagai event yang digelar Dewan Kesenian Jatim.
Ditanya mengenai passion-nya pada dunia seni khususnya melukis, Ita menampik kalau itu diwarisinya dari keluarga. Pasalnya, tak ada satupun anggota keluarga Ita yang berprofesi seperti dirinya. Ita juga menggaris bawahi, bahwa untuk menjadi seniman tidak harus memiliki bakat seni. Ataupun terlahir dari keluarga seniman.
“Jaman sekarang semua itu bisa dipelajari. Buka saja google, semua informasi yang kita inginkan ada disana. Mulai dari teknik melukis, aliran naturalis dan sebagainya. Jadi tidak perlu sekolah sampai empat tahun kayak aku,” tutur Ita setengah berkelakar.
Oleh karena itu, Ita juga selalu menekankan pada  setiap pelatihan bahwa yang terpenting adalah seberapa kuat kemauan kita untuk mengasah kemampuan. Karena mereka yang ditakdirkan memiliki bakat seni pun tidak akan berguna ketika itu tidak diasah.
Bagi bungsu dari 11 bersaudara ini, seni memiliki banyak manfaat. Di antaranya terapi emosi sekaligus kontrol diri. Dengan melukis, seseorang akan telaten dan bersabar dalam mencampurkan warna dan menggoreskan kuas di atas suatu media. Aktivitas melukis juga bisa menjadi terapi ketika emosi sedang buruk.Ita mencontohkan ketika menghadap psikolog, hal pertama yang pasti diminta adalah menulis, menggambar, atau sekedar membuat coretan.
“Seni itu kompleks. Bukan sekedar teori, tapi juga sarana refreshing dan terapi. Dan akhirnya seni juga bisa menjadi industri dan tambahan pendapatan,” ujar ibu dari Zahwa Nayla Shakira ini.
            Meski menekuni dunia seni rupa sejak SMK, Ita mengaku tak menyangka dirinya akan menggelutinya sebagai sebuah bisnis. Sebelumnya, beberapa karya hand painting dibuat semata karena hobi. Tapi ternyata, banyak yang meminati hasil karyanya. Sehingga muncullah keinginan untuk menjadikan peluang bisnis dan mengajarkannya pada orang lain.
Meski begitu, jika kebanyakan perajin berburu trademark untuk hasil karyanya. Ita mengaku bahkan belum sempat terpikirkan untuk membuat brand bagi hasil karyanya. Karena menurutnya, goresan tangan tidak akan pernah bisa ditipu. Orang boleh mengklaim karya miliknya dengan menempel merek tertentu, tapi bukan keahliannya.
“Suatu saat, ketika pembeli menginginkan kualitas yang sama dengan yang aku buat. Mau tidak mau penjual akan kembali pada aku. Jadi aku tidak pernah ambil pusing. Karena  rejeki tidak akan kemana,” jelas Ita ringan.
Ditanya mengenai prospek usaha, Ita mengaku usaha seperti yang digelutinya terbilang sangat prospektif. Selain banyaknya peminat, adanya kluster tertentu untuk setiap hasil karya menjadikan usaha hand painting bisa dinikmati semua kalangan. Kluster tersebut didasarkan pada pemilihan bahan, teknik pewarnaan, dan tingkat kerumitan desain.
 Hobi jadi Profesi

Berawal dari mengikuti les melukis yang diadakan salah seorang yang tinggal di rumah kos milik ibunya, Ita mulai belajar seni secara gratis. Keisengan itu berlanjut ketika dirinya memutuskan masuk pendidikan kejuruan di Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri (Sekarang SMKN 12) Surabaya. Menariknya, disana Ita menjadi satu-satunya yang diterima di jurusan seni rupa dari 13 anak perempuan yang mendaftar. Dunia melukis pun semakin ditekuni dengan melanjutkan pendidikan strata satu jurusan seni rupa di Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
            Beberapa komunitas seperti perkumpulan pelukis perempuan ‘Seronce Melati’ yang kerap disebutnya ‘geng ibu-ibu’, Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI), Adecipta Art Community, semakin meneguhkan posisinya sebagai pelukis perempuan. Bagi Ita, berbagai komunitas tersebut tidak hanya menjadi ajang kumpul-kumpul. Namun banyak hal yang bisa dilakukan bersama, melukis, mempelajari pembuatan kerajinan baru, hingga kegiatan sosial.
Tak ketinggalan, melalui komunitas Ita memiliki banyak teman yang bisa diajaknya berbagi job kala pesanan membludak dan tidak bisa ditanganinya sendiri. “Sampai sekarang aku tidak punya pekerja dirumah. Semua aku handle sendiri. Dan kalau pesanan banyak, aku kan punya geng ibu-ibu. Mereka bisa aku berdayakan sekaligus bagi-bagi rejeki,” ujarnya dengan gaya centil dan riang khasnya.
(ati, via)
           
Riang dan Penuh Kepedulian
Aku selalu happy. Jadi bingung kalau ditanya pengalaman apa yang paling berkesan. Semuanya berkesan,” tutur Ita yang juga akrab dipanggil Novi. Pembawaannya yang low profile menjadikannya sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol.Tak jarang, Puspa yang kala itu menemuinya di Kantor Dewan Kesenian Jatim dibuat tertawa riang dengan cerita yang disampaikan.
Penampilan yang tomboy dan cekatan tak menutupi keanggunan perempuan yang menggenapkan usia pada 16 Oktober ini. Disela-sela perbincangan, Ita juga sempat menunjukkan beberapa foto dirinya berpose bak model catwalk menggunakan hasil karyanya.
“Ya beginilah, kalau gak kuat mbayar model. Dadi dimodeli dewe (kalau tidak sanggup membayar model. Sehingga jadi model sendiri, red)” tuturnya diringi tawa renyah.
Selain riang dan ramah pada siapapun, Ita ternyata juga memiliki kepedulian yang tinggi. Kendati keahlian maupun usaha seni lukis hand painting dikatakannya bisa dipelajari siapapun. Namun tingginya harga bahan baku di pasaran bisa menjadi hambatan bagi mereka yang ingin memulai usaha.
Berawal dari pemikiran tersebut, Ita bersama komunitasnya bereksperimen menciptakan cat hand painting yang murah tapi dengan kualitas yang tidak kalah. Cat tersebut pula yang kerap digunakan dalam setiap mengisi pelatihan. Meski Ita juga tidak pernah luput untuk menjelaskan berbagai jenis cat serupa yang dijual di pasaran.
 “Kita bicara tentang membantu masyarakat untuk bisa berdaya dan berproduksi. Tapi kalau secara produksi saja sudah tinggi bagaimana bisa?” ungkap Ita dengan ketulusan yang tidak bisa disembunyikan.
(ati, via)


Biodata
Nama                 : Maria Novita Sechan, S.Pd
Panggilan           : Novi, Ita
Lahir                  : Sidoarjo, 16 Oktober 1979
Putri                   : Zahwa Nayla Shakira (10th)
Pendidikan         :
1.      Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri (SMSR N) Surabaya (Sekarang SMKN 12 Surabaya) angkatan 1996
2.      S1 Seni Rupa Unesa Angkatan 1999
Pengalaman      :
1.      Pameran di berbagaikota di Indonesia sejak 1996
2.      Komunitas Seronce Melati
3.      Pengurus Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) Jatim
4.      Anggota Adecipta Art Community sejak 2006
5.      Sekretaris Komunitas Surabaya Membara

Hj Rosyidah Masykuri BA, Ketua TP PKK Kab. Kediri


Fokus Tangani Masalah Sosial

DARI sekian banyak Ketua TP PKK kabupaten/kota di Jatim, mungkin Hj Rosyidah Masykuri BA merupakan satu-satunya yang berangkat dari jenjang karier PKK dilevel kecamatan. Sebelum memimpin tampuk TP PKK di Kabupaten Kediri, ibu dua anak ini ternyata juga pernah menjabat sebagai Ketua TP PKK di tiga kecamatan: Kepung, Purwoasri dan Gampeng. Apa saja obsesinya?


PERNAH menjadi Ketua TP PKK di tiga kecamatan tentu membuat Hj Rosyidah BA, kaya akan pengalaman diorganisasi berjuluk green angel ini. Kendati demikian, diawal masa kepemimpinannya, isteri Wakil Bupati Kediri, Drs H Masykuri MM ini tetap saja mengaku sempat canggung, khususnya saat penyesuaian diri dengan lingkungan barunya.
“Hari-hari pertama menjabat, saat harus memberikan sambutan, saya masih sempat grogi lho, sampek-sampek kemringet (sampai berkeringat, red),” kisah perempuan yang menjabat sejak 19 Agustus 2010 ini diselingi tawa renyah ketika berbincang dengan Puspa.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Pengalaman aktif di PKK dan berbagai organisasi kala masih mahasiswa membuatnya terlatih untuk menghadapi orang lain. Berbagai program kemasyarakatan pun mulai menyibukkan kesehariannya, salahs atunya, menjaga dan meningkatkan kualitas program yang telah dicapai sebelumnya, dan mengupayakan program baru sebagai penguatan.
Capaian program yang cukup baik pada periode sebelumnya, diantaranya revitalisasi taman posyandu, pemberian bantuan UKM, dan pemberdayaan perempuan.
“Seringkali kalau kita bicara capaian program, kita selalu bicara mengenai angka. Padahal angka itu sifatnya fluktuatif. Saya selalu tekankan untuk kejar kualitas, bukan kuantitas,” tegasnya.
Lantaran itulah, saat ini ia lebih menekankan program-program integratif, yakni, dengan mengadakan kesepakatan bersama dengan sektor terkait, salah satunya dalam upaya penurunan AKI (AngkaKematianIbu) dan AKB (AngkaKematianBalita).
Menurutnya, upaya revitalisasi taman posyandu sebagai sarana pemenuhan kebutuhan kesehatan akan semakin kuat jika didukung lintas sektor. Karena masalah AKI dan AKB bukan hanya tanggung jawab pemerintah melalui dinas terkait, tapi juga organisasi kemasyarakatan dan masyarakat itu sendiri.
Selain soal posyandu, dibawah kepemimpinan Rosyidah, TP PKK Kab Kediri juga berperan aktif dalam pemberian bantuan bagi UMKM. Tentu, hal ini dilakukan bersinergi dengan Pemkab Kediri selaku pembina. Dalam hal ini, PKK berperan melakukan survey bagi UMKM yang mengajukan bantuan. Hasil survey itulah yang nanti akan menjadi acuan kelayakan UMKM untuk tidak diberi bantuan atau tidak.
“Kita berupaya memberikan fasilitas tapi bukan untuk dimiliki. Kita tidak memanjakan dengan pure memberi, tapi melatih mereka untuk berusaha sendiri,” terang lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

HarusDiberdayakan
Selain dua program tersebut, Rosyidah juga memprioritaskan program PKK pada pemberdayaan perempuan, khususnya perempuan miskin berusia produktif yang terpaksa menjadi single parent akibat perceraian, ataupun miskin karena himpitan ekonomi.
‘’Sejak menjadi Ketua TP PKK kecamatan sekitar 10 tahun yang lalu, saya sebetulnya telah memilik iangan-angan bagaimana memberdayakan ibu-ibu muda yang menjadi single parent. Sebab selama ini, anak yatim cenderung hanya diberi santunan saja. Padahal jika ibunya yang diberi sarana untuk usaha agar bisa memiliki income esendiri, tentu itu lebih bermanfaat,’’ tandasnya
Akhirnya, angan-anggan itu kini terjawab melalui peluncuran Program JalinMatra Penanggulangan Feminisasi Kemiskinan (PFK) Pemprov Jatim yang dilaunching Gubernur Jatim, 16 Desember 2014 lalu di Grahadi.
“Program seperti inilah yang harus ditenani (ditindaklanjuti).  Bagaimana caranya perempuan bisa diberdayakan agar memiliki income. Coro jawane ben gak jagakne wek-wekane wong, (Dalam istilah Jawa, agar tidak mengandalkan pemberian dari orang lain, red)” jelas perempuan kelahiran Tuban tersebutd engan aksen Jawa yang kental. (nurhayati)


BIODATA

Nama               : Hj Rosyidah BA
TTL                 : Tuban, 22 Mei 1963
Pendidikan      : IAIN Sunan Ampel Surabaya
Suami              : Drs H Masykuri MM
Putra/I             : 1. H Faradiba Zuhro, SE
2.      Syafiqul Umam
Cucu                : Dua Orang
Jabatan                        :
1.      Ketua TP PKK Kab Kediri Tahun 2010-Sekarang
2.      Ketua Dekranasda Kab KediriTahun 2010-Sekarang
3.      Ketua Forikan Kab KediriTahun 2011-Sekarang

Saatnya Jalankan Amanah


            Hal yang selalu menjadi pertanyaan bagi perempuan dengan segudang aktivitas adalah, bagaimana mereka membagi waktu untuk keluarga. Bagi Rosyidah, hal itu sebetulnya masalah yang sederhana saja. Sebab dirinya bersama suami telah sepakat jika saat ini merupakan momentum untuk bekerja demi masyarakat.
Apalagi dua anaknya kini telah beranjak dewasa. Anak pertama telah menikah dengan dikaruniai dua orang anak, dan si bungsu kini sedang melanjutkan kuliah diluar kota.
“Tapi, meskipun kini tinggal berdua, bukan berarti saya sudah tidak punya tanggung jawab lagi. Saya sudah komitmen dengan bapak (suami, red), saat ini waktunya kita jalankan amanah yang diberikan masyarakat. Susah senang kita hadapi berdua,” tutur nenek dua cucu yang kini menunggu kelahiran cucu ketiga ini.
Selain mengaku tidak terlalu terbebani dengan kewajiban rumah tangga, sebagai Ketua TP PKK, menurut Rosyidah bukan berarti harus mengerjakan semua tugas sendirian. Di TP PKK, dirinya memiliki teamwork yang mampu bekerja bersama dan saling bersinergi sesuai tupoksi.
Dengan mengoptimalkan kerja dimasing-masing Pokja, Rosyidah meyakini tugas-tugas tidak akan lagi menjadi beban. Sebab semua orang tahu apa yang harus dikerjakan. Sehingga program dapat terealisasi dengan baik, tapi masing-masing orang juga tetap memiliki waktu untuk menjalankan aktivitas yang lain.
            “Dalam sebuah organisasi apapun, kendala itu relatif dan pasti ada. Tetapi bagi saya, selama hal itu bisa dibicarakan, dikompromikan, dan dicari jalan keluarnya, itu sudah bukan lagi menjadi kendala,” pungkas perempuan yang menggenapkan usia pada 22 Mei tersebut. (ati)



Senin, 15 Desember 2014

REDUPNYA CAHAYA SURYAPUTRA


Seorang ibu adalah kekuatan bagi putranya. Keberanian yang akan membawanya menuju kemenangan, atau setidaknya kebanggaan menuju nirwana. Tapi sekali lagi aku tidak memiliki keduanya untuk hidupku, adikku Arjuna. Aku seperti melihat kematianku dimatanya.

            Pagi hari menjelang  perang dihari ke17, Ibu Kunti datang menemuiku. Disaat yang sama, airmata menetes dari mataku tanpa kutahu alasannya. Kali ini pun sama, dia datang karena kekhawatiran akan keselamatanmu. Dia tahu bahwa hanya aku satu-satunya orang yang mampu mengalahkan kesatria tangguh sepertimu. Dia hanya tidak tahu bahwa aku telah kehilangan kebencianku kepadamu. Dan setiap senjata yang kuarahkan padamu adalah ketidakberdayaanku. Ketidakberdayaan sebagai seorang kakak yang seharusnya mengangkat tangan untuk merestui adiknya. Bukannya busur untuk membunuhnya.
            Aku melihat jelas duka di matanya, saat tangan agungnya memegang belati. Dia datang meminta kemurahanku untuk mengakhiri hidupnya. Hidup yang seperti kematian ketika harus melihat kedua putranya berduel. Coba katakan padaku, Adikku! Jika kau berada dalam posisiku, ibumu datang dan meminta kematiannya, apa yang akan kau lakukan? Itu seperti doa untuk kematianku sendiri, Adikku.
Ibu Kunti: Anakku, Karna!
Karna: Ibu Ratu, kau kesini untuk mendoakanku atau meminta kehidupanku sebagai amal? Aku telah mengecualikan nyawa keempat anakmu sebagai amal sebelumnya.
Ibu Kunti: Jika satu bagian tubuh terpotong maka penderitaan akan dirasakan oleh seluruh anggota tubuhnya, Anakku. Sama halnya jiika kehidupan salah satu anakku dalam bahaya, maka kehidupan ibunya juga dalam bahaya. Aku punya satu permintaan, lakukanlah! Bermurah hatilah pada ibumu. Aku  tahu kau terikat oleh sumpahmu, itu sebabnya aku tidak memintamu untuk melanggar sumpahmu. Tapi daripada merasakan kematian setiap saat, jika aku mati saat ini, hari ini ketika kau menghadapi adikmu sendiri, Arjuna. Aku akan merasakan kematianku sendiri. Itulah sebabnya aku memintamu untuk mengakhiri hidupku saat ini juga.
Karna: Apa maksudmu, Ibu? Mengucapkan kata-kata itu tidak akan ada gunanya. Kau ibu dari kesatria. Di medan pertempuaran ini anak-anak dari ibu lain tidak terhitung yang telah dikorbankan. Cobalah untuk mengingat ratapan mereka. Kau adalah seorang ibu ratu. Kau figur seorang ibu diseluruh kerajaan. Kau memiliki anak-anak yang tangguh. Jika mereka sampai tahu bahwa demi melindungi mereka kau sampai ingin mengakhiri hidupmu, maka kemampuan mereka akan ternoda.
Ibu Kunti: Tapi Anakku,,,
Karna: Seorang ibu adalah kekuatan anak-anaknya. Dia adalah keyakinannya. Aku meminta padamu, agar mengijinkan anak-anakmu melaksanakan kewajibannya.
Ibu Kunti: Tapi Anakku aku,,,
Karna: Anakmu, pasti akan mengingat janjinya. Seluruh dunia mengakui, Ibu Kunti adalah ibu dari lima anak yang tangguh. Bahkan sampai perang ini berakhir ,itu akan tetap berlaku.
Ibu Kunti: Aku hanya punya satu permintaan, diseluruh kehidupanku ini aku telah menyimpan kisah kelahiranmu sebagai rahasia. Dan beban ini selalu menjadi beban dihatiku. Pertama keberanianku telah terkalahkan. Kemudian rasa percaya dirimu telah terkalahkan. Dan sekarang di medan pertempuran ini kasih sayang seorang ibu akan pula dikalahkan. Itulah kenapa aku memintamu, aku memintamu anakku, setelah perang ini usai, aku akan meminta ijinmu untuk mengungkap kisah dari kelahiranmu dihadapan semua orang.
Karna: Jika aku melihat kata-katamu Ibu Ratu, maka kau telah memutuskan akulah yang akan mati dalam perang besar ini.
Ibu Kunti: Tidak nak,,,
Karna: Sebab jika Arjuna yang mati, maka aku terikat sumpah untuk menyatakan diriku sendiri sebagai anakmu yang kelima. Tetapi jika Arjuna memiliki kemampuan untuk membunuhku maka aku akan memberikanmu ijin. Bahwa setelah kematianku, anak-anakmu dapat melakukan upacara terakhirku bukan sebagai musuh tapi sebagai seorang saudara.
Iya adikku, bahkan dalam ketidaksadarannya IbuKunti lupa menyalakan obor kehidupanku. Aku yang terlahir dari kesalahannya, selamanya hanya akan hidup untuk berjuang. Dan mati sebelum perjuangan itu mencapai hasilnya. Tapi mungkin aku harus bangga, karena kematianku terjadi ditanganmu. Tangan yang juga akan membawa kendi pemujaan di upacara terakhirku, atas namaku, dengan cinta dan penghormatan. Sungguh, ini indah pada akhirnya.

Senin, 08 Desember 2014

Hidden Love Karna




Perang Hari Ke 15


    "Kau hanya perlu berduka untuk kematian satu putramu. aku tidak akan membunuh empat putramu yang lain," Sumpah itu kembali terngiang. Ketika Perang membawaku berhadapan dengan Nakula dan Sadewa. Adik lain ibu yang juga kau besarkan seperti putramu sendiri Ibu Kunti. Tanganku bergetar, meski pedangku tak jatuh. Dan kubiarkan Pedang Sadewa melukai kakiku. Luka kecil, dibanding luka yang ada di hatiku, atau di kehidupanku.
  Kami semua yang berada di jalan ketidakbenaran, akan mendapatkan keberuntungan mati setelah bertemu dengan wujud suci Shree Khresna. Hari ini langkah itu diambil Dronacarya dengan senyuman. Selanjutnya bisa jadi adalah giliranku, putramu.

Perang Hari Ke 16



   Aku menjadi Panglima Perang Pasukan Kurawa, Ibu. Nakula datang dengan kebencian di matanya. Menghadang jalanku agar tak mendekati Bheema, Kakaknya.
   "Pangeran Nakula, Kau jauh lebih muda dariku. Bagi mereka yang lebih muda bukan diberikan kesempatan perang, tapi doa,"


  "Doa? Apa doa seperti caramu membunuh Putra Kesayangan, Abimanyu? Bahkan sekalipun kau adalah saudaraku, aku tidak membutuhkan doa darimu. Bagiku kau adalah musuh. Dan menjalin hubungan dengan musuh adalah suatu ketidakbenaran,"
  Entah bagaimana caranya, hinaan ini tak lagi menyisakan kebencian. Tapi justru penyesalan dan kesedihan.
   "Pangeran Nakula, aku tidak akan memberikan kematian padamu di perang ini. Dan kaupun tidak mebutuhkan doa. Maka cukuplah puas dengan kekalahanmu,"

Sabtu, 29 November 2014

SIAPA YANG



Siapa yang merubah hatiku
Siapa yang membuat kita satu
Selalu menyatu beban kecewa
namun tak ragu kan berakhir
Siapa yang membuatku pilu
kembali datang masa lalu
Semakin dalam gejolak jiwa
Benci dan Cinta pun menyatu
Kenangan indah pun memudar
Alami masa sendu
Walau kita kan berpisah
Rasa hati bergelora
Siapa yang membuatku resah
Tak berharap untuk berjumpa
Benci dan Cinta selalu menyatu
Tak pernah ragu kan berakhir

Jumat, 28 November 2014

SILENCE; TRY TO REMEMBER


 Try to remember the kind of September
When life was slow and oh, so mellow.
Try to remember the kind of September
When grass was green and grain was yellow.
Try to remember the kind of September
When you were a tender and callow fellow.
Try to remember, and if you remember,
Then follow.

Follow, follow, follow, follow, follow,

Try to remember when life was so tender
That no one wept except the willow.
Try to remember when life was so tender
That dreams were kept beside your pillow.
Try to remember when life was so tender
That love was an ember about to billow.
Try to remember, and if you remember,
Then follow.

Follow, follow, follow, follow, follow,
Follow, follow, follow, follow.

Deep in December, it’s nice to remember,
Although you know the snow will follow.
Deep in December, it’s nice to remember,
Without a hurt the heart is hollow.
Deep in December, it’s nice to remember,
The fire of September that made us mellow.
Deep in December, our hearts should remember
And follow.