Senin, 23 November 2015

HARGAILAH ORANG-ORANG DI SEKELILINGMU


HARGAILAH ORANG-ORANG DI SEKELILINGMU

Suatu ketika, seorang mahaguru membagikan secarik kertas berisi beberapa pertanyaan kepada murid-muridnya. Para siswa pun sibuk menjawab satu demi satu pertanyaan dalam kertas yang sudah dibagikan.
Beberapa waktu kemudian,
“Baik, waktu sudah habis. Silakan kumpulkan semua jawaban,” seru mahaguru.
Segera, murid-murid pun mengumpulkan jawaban. Namun, sepertinya, ada wajah kurang puas di antara murid-murid.
Melihat hal tersebut, guru lantas bertanya, “Mengapa ribut? Ada yang sulit dari pertanyaan tadi?”
Seorang murid mengacungkan jarinya. “Sebenarnya pertanyaan yang Guru ajukan bisa kami jawab. Guru bertanya tentang arti sukses, gagal, tentang mimpi-mimpi kami dan berbagai hal yang akan kami lakukan dalam hidup ini. Tapi, ada satu pertanyaan yang menurut kami di luar itu semua. Pada pertanyaan terakhir, Guru bertanya, siapa nama tukang bersih-bersih yang membersihkan sekolah kami tadi pagi? Apa maksud Guru bertanya demikian?”
Sang guru tampak tersenyum. “Baiklah. Akan aku jawab rasa penasaran kalian. Namun sebelumnya, siapakah di antara kalian yang sudah menjawab pertanyaan tersebut?”
Murid-murid kembali saling berpandangan. Rupanya, tak ada satu pun yang mampu menjawab dengan benar. Mereka hanya menyebut Pak Tukang Bersih-Bersih, Pak Murah Senyum, dan aneka sebutan yang mencirikan fisik atau kebiasaan dari tukang bersih-bersih di sekolah mereka.
Mahaguru itu pun mengangguk-angguk dan tersenyum simpul. “Benar... tak ada satu pun yang tahu? Baiklah. Namanya Pak Ali. Dia adalah perantauan dari luar pulau dan sudah bekerja di sini 20 tahun lebih,” terang sang mahaguru.
Mengetahui informasi yang baru diketahui itu, seorang murid lantas bertanya. “Guru, terima kasih telah mengingatkan kami pada sosok tukang bersih-bersih di sekolah ini. Tapi, lantas apa hubungannya dengan pelajaran yang akan Guru berikan?” tanya si murid.
“Bagus sekali pertanyaanmu. Yang ingin Bapak sampaikan sebenarnya sederhana, namun sangat penting. Yakni, jangan pernah meremehkan siapa pun orang di sekelilingmu. Sebab, mereka adalah orang-orang penting, entah apa pun peran mereka, yang akan membantumu meraih sukses di berbagai bidang. Karena itu, hargailah mereka. Hormatilah siapa pun orang di sekelilingmu. Maka, kamu pun akan menjadi manusia berharga dan terhormat, serta mampu jadi manusia seutuhnya,” ucap sang guru bijak.
Puspanita,
Tak ada seorang pun di dunia ini yang mampu memperoleh kesuksesan tanpa keterlibatan orang lain. Baik yang sekadar membantu doa, mendukung sarana dan prasarana, hingga sekadar kata penyemangat.
Untuk itu, mari kita menjaga hubungan baik dengan menghargai sekecil apa pun peran orang yang membantu. Serta menghormati orang-orang yang telah berperan dalam kehidupan kita. Semua orang adalah penting. Sukses sejati adalah sukses yang juga mampu dibagi dan dirasakan bagi orang-orang di sekeliling kita. Ingat peran orang-orang di sekeliling dan teruslah berbagi kebahagiaan dengan mereka. Niscaya, kehidupan kita akan jauh lebih bernilai. (aw,ati)

KEBANGGAAN DALAM BEKERJA


KEBANGGAAN DALAM BEKERJA
Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.
”Om beli bunga Om.”
”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.
”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.
Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”
Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya,si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya. ”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.”
Bercampur antara jengkel dan kasihan si pemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya. “Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil.
Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana. Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung.
”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?”
Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab,
”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”
Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, dimana setiap keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.
Puspanita,
Banyak orang yang menghabiskan waktu hidupnya untuk bekerja. Sayang, tak semua orang bisa menikmati pekerjaannya. Penyebab ketidakbahagiaan ini bisa bersumber dari diri sendiri, lingkungan, atau tekanan pekerjaan.
Bagi mereka yang bekerja di sektor formal, bekerjasama dan siap menerima kritik menjadi modal meraih sukses dalam pekerjaan. Namun, disamping itu, mereka yang diberkahi jabatan tinggi juga tidak lantas dianggap pantas memberikan kritik dan celaan tanpa mengukur kadar loyalitas bawahan.
Penghargaan merupakan hal mutlak yang menjadikan pekerjaan itu memiliki nilai yang layak dibanggakan. Bukan masalah pada sekecil apa peran yang dilakukan, tapi bagaimana upaya yang diwujudkan dalam kerja keras tersebut. Setiap tetes keringat yang mengucur harusnya mendapatkan kehormatan yang pantas untuk diperjuangkan.
“Jabatan yang tinggi tanpa disertai attitude (sikap dan karakter) yang baik, akan menghancurkan kehidupan seseorang sampai titik yang paling rendah”
(ati,dbs)

AMBIL RESIKO DAN RAIH SUKSESMU


AMBIL RESIKO DAN RAIH SUKSESMU

Sukses yang kita raih hari ini belum tentu bisa menjadi sukses di masa depan. Karenanya, penting melakukan penyesuaian, perubahan, perbaikan, dan terus belajar. Namun demikian, bukan sekadar perubahan yang dicari, tetapi perubahan yang harus membawa perbaikan dan penyempurnaan. Atau perubahan yang berkesinambungan.
Dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, daur hidup produk semakin singkat. Kenyataan ini memaksa kita untuk lebih intensif dan aktif belajar dan selalu melakukan perubahan-perubahan. Sebagai pribadi sukses, kita  harus berani menghadapi tantangan baru. Jangan terpaku dengan ”comfort zone”. Sehingga tidak mau berubah dan akhirnya akan ditelan masa dan kemajuan zaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Puspanita,
Ada kisah mengenai kecebong  yang merasa sudah hidup nyaman di tempat ia berada. Sehingga menolak kesempatan yang ada untuk bisa menemukan kehidupan yang lebih baik. Hingga mereka hanya berakhir dengan kematian tanpa berusaha.
Di sebuah selokan kecil, terdapat sekumpulan kecebong yang hidup berkelompok. Dari semua kecebong, terdapat seekor kecebong yang merasa cemas dengan kondisi lingkungannya karena  populasi yang banyak dan musim kemarau. Ia sering meloncat-loncat ke atas air untuk melihat apakah ada tempat baru yang persediaan airnya mencukupi untuk mempertahankan hidup bila musim kemarau berkepanjangan. Setelah melihat-lihat, ternyata ada satu selokan yang lebih besar dengan air yang lebih banyak, ia pun mulai berpikir untuk bermigrasi ke sana.
Ketika ia mengajak  teman-temannya, mereka umumnya menolak, ”Di sini kan sudah hidup nyaman dan enak, makanan tersedia, banyak teman-teman; jadi, ngapain susah-susah pindah ke tempat baru yang belum tentu lebih baik?”
Teman-temannya merasa telah nyaman dengan kondisinya sekarang. Mereka tidak  mau berpikir mengenai  tantangan dan ancaman yang bakal dihadapi di masa depan. Sedangkan sang kecebong tadi, selain ingin menikmati hidup, juga selalu memikirkan  masa depannya. Setiap hari ia memperhatikan kedalaman air selokan tempatnya tinggal.
Sampai suatu hari, air selokan semakin menurun. Ia sudah bertekad untuk meloncat ke selokan yang lebih besar di sebelahnya. ”Bila tidak mengambil risiko sekarang, maka tidak ada kesempatan lagi,” pikirnya. Inilah saatnya, karena kecebong memiliki daya loncat terbatas, bila tak segera dilakukan, ia tidak akan bisa lagi melompat  ke selokan sebelahnya bila ketinggian air tidak mencukupi.
Musim kemarau yang berkepanjangan pun menyebabkan air di selokan kecil tempat sekelompok kecebong berkumpul dari hari ke hari semakin berkurang. Kecebong-kecebong yang tidak mau pindah akhirnya mati kekeringan. Sementara, kecebong yang telah berhasil pindah selokan bisa terus hidup.
Puspanita,
Orang bijak berkata, apa pun yang ada  di dunia ini selalu berubah. Karenanya janganlah pernah berkata: saya sudah cukup, saya sudah puas dengan kondisi ini, saya sudah pintar, sudah menguasai dan mempelajari banyak keahlian dan ilmu. Atau, saya sudah banyak makan asam garam.
Sekali lagi, hindarilah kata-kata tersebut, karena hanya akan membuat Anda terkungkung dalam status quo dan tidak berkembang. Orang yang tidak berkembang sama dengan orang yang hanya menunggu ’hari-hari kematiannya’. Karena kehidupan ditandai adanya perubahan dan perkembangan tanpa henti.
(aw,ati)

Titik Linarti, Ketua TP PKK Kec Tenggilis Mejoyo


Titik Linarti, Ketua TP PKK Kec Tenggilis Mejoyo
KEMBANGKAN UMKM KADER
Kemeriahan memenuhi salah satu ruangan di gedung paling barat komplek kantor TP PKK Kota Surabaya. Beberapa meja kursi ditata sedemikian rupa menyerupai suasana jamuan makan. Namun bukan jamuan makan, melainkan lomba menyajikan menu makanan bagi anak autis. Pesertanya merupakan Ketua TP PKK Kec Se-Kota Surabaya. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian lomba dalam rangka Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK Ke 43 TP PKK Kota Surabaya.
Titik Linarti, Ketua TP PKK Kec Tenggilis Mejoyo ditemui usai penilaian lomba nampak sumringah dan riang. Tak jarang ia bersama Ibu Ketua TP PKK Kec lainnya berselfi ria memperlihatkan hasil kreasi menu masakan yang disajikan.
“Perasaannya senang ya, bisa bertemu dengan ibu Ketua TP PKK Kec yang lain. Bersilaturahmi, berbagi pengalaman. Pokoknya banyak manfaatnya,” tutur Titik.
Dikatakan TItik, selain dalam rangka Peringatan HKG PKK Ke 43, lomba ini juga merupakan tindak lanjut dari sosialisai yang pernah diadakan TP PKK Kota Surabaya terkait menu makanan bagi anak autis. Dalam sosialisasi tersebut, para kader PKK Kec diberikan pengetahuan terkait makanan yang boleh maupun tidak bagi anak autis. Hal ini terkait proses penyembuhan anak autis yang terbilang sulit. Sehingga melalui makanan, diharapkan mampu memberikan asupan nutrisi yang baik bagi perkembangan hormonnya.
Terkait susunan menu yang dipilih, Titik mengaku melakukan searching melalui internet. Baik yang berkaitan dengan bahan makanan yang dipakai maupun kandungan yang seharusnya ada atau tidak dalam menu makanan anak autis. Setelah mengetahui hal itu barulah ia memadukannya menjadi sebuah masakan.
Mengaku senang dan bangga berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, Titik Linarti menyadari bahwa masing-masing peserta menyajikan menu terbaik dari masakan mereka. Sehingga dirinya tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan predikat juara.
“Optimis atau tidak itu saya kira relatif ya, karena saya lihat semuanya juga bagus-bagus. Jadi kalau masuk ya Alhamdulillah, kalau tidak ya untuk pengalaman aja bahwa kita bisa masak untuk anak autis,” ujar Titik masih dengan wajah sumringahnya.
Dilain pihak, ditanya mengenai kegiatan PKK di Kec Tengglilis Mejoyo, Titik menjelasakan bahwa sejauh ini kegiatan TP PKK yang dipimpinnya selalu aktif. Setiap kegiatan maupun sosialisasi rutin dilakukan, sinergis dengan agenda yang dilakukan di TP PKK Kota Surabaya. Ia bahkan tidak segan untuk memanggil narasumber guna memberikan sosialisai tertentu terhadap kadernya di Kelurahan. Selanjutnya dari kelurahan sosialisasi tersebut ditindaklanjuti di tingkat dasawisma.
“Kalau ada kegiatan apa di PKK Kota, penyuluhan, sosialisasi, langsung kami turunkan ke keluarahan. Tidak pakai menunda-nunda biar tidak lupa,” terang ketua TP PKK yang telah menjabat selama empat tahun tersebut.
            Disamping itu, dalam upaya meningkatkan pendapatan kader, TitIk bersama TP PKK Kec juga aktif mendorong pengembangan Usaha Menengah Kecil Masyarakat (UMKM). Baik melalui pelatihan maupun pemberian dukungan modal bagi pelaku usaha melalui UP2K PKK. Harapannya, semakin sejahtera seorang ibu maka perekonomian keluarga terangkat dan keluarga menjadi lebih sejahtera.
“Saat ini banyak kader kami yang sudah bisa membuka usaha baru. Di PKK kita tidak hanya bisa menyalurkan hobi, silatuirahmi, juga meningkatkan pendapatan,” pungkas perempuan kelahiran Surabaya, 16 Februari 1968 tersebut.
(ati,via)

BIODATA
Nama  : Titik Linarti
TTL      : Surabaya, 16 Februari 1968
Suami  : Chairul Anwar
Anak    : 5 Orang
Alamat            : Jl. Rajawali 15 A Rewwin Waru Sidoarjo


Reni Erawati, Ketua Kopwan Sumber Rejeki Pandjer Plosoklaten Kediri

Jatuh Bangun Kelola Kopwan

Jika berkunjung  ke Desa Pandjer, Kec Plosoklaten, Kab Kediri, jangan berharap menemukan warga yang tengah menganggur atau duduk santai di teras rumah. Pada siang hari, kondisi desa cenderung sepi selain derungan kendaraan yang lalu lalang di sepanjang jalan. Lantaran mayoritas penduduk merupakan pedagang keliling, warung, dan sentra usaha kecil menengah lainnya. Tak ketinggalan juga banyak yang berprofesi sebagai petani kakau.
Hal ini tak ayal menjadi peluang yang menjanjikan bagi usaha perkoperasian. Mengingat setiap usaha pasti akan membutuhkan bantuan modal. Alasan seperti itulah yang juga menginspirasi Pemerintah Prov Jatim menggulirkan dana bantuan Koperasi Wanita sebesar 25 juta pada tahun 2009. Kopwan Sumber Rejeki Pandjer menjadi salah satu yang juga mendapat kucuran dana tersebut.
Lantas bagaimana perkembangannya saat ini? Reni Erawati, Ketua Kopwan Sumber Rejeki hanya bisa berharap Kopwan yang dipimpinnya akan terus berkembang seiring waktu. Pasalnya, dua tahun pasca mendapat kucuran dana tersebut, terjadi kemacetan dalam pembiayaan Kopwan.
“Setelah dapat dana itu kan langsung kita salurkan pada para anggota. Tapi ya itu, ketika waktunya membayar, banyak pinjaman yang macet bahkan sempat vakum,” tutur Reni mengawali ceritanya.
Kendati begitu, Reni bersama pengurus tak patah arang. Meskipun dengan pembiayaan yang hampir selalu minus, Rapat Anggota Tahunan (RAT) tetap rutin dilakukan. Hingga kemudian pada tahun 2012 diputuskan untukmenurunkan bunga pinjaman menjadi satu persen. Dari sebelumnya yang sebesar 2 persen.
Upaya tersebut pun sedikit menunjukkan perkembangan. Sekalipun mengaku masih kerap harus mengandalkan pihak ketiga dan atau dana pribadi untuk menutupi minusnya pembiayaan, dana Kopwan yang sebelumnya 25 juta telah berkembang menjadi 32 juta per RAT 2014.
Dua Dari Kanan, Reni Erawati
Guna memudahkan pembayaran, Reni dibantu bendahara Kopwan Ira Devita, yang juga merupakan pernagkat Desa Pandjer membuka pembayaran setiap hari kamis pada jam kerja. Hal ini dinilai lebih memudahkan anggota karena tidak semua memiliki waktu luang yang sama.
“Dulu Kopwan buka satu bulan sekali di rumah Bu Ira, tapi sulit karena sibuk masing-masing. Makanya sekarang dibuka setiap Kamis di jam kantor. Tapi bayarnya tetap satu bulan sekali,’ tutur Reni.
Ditanya mengenai dana tambahan, reni menyatakan Kopwan Sumber Rejeki tidak mendapatkan kucuran dana tersebut. Bahkan sekalipun ditawarkan, anggota sepakat untuk tidak mengajukan tambahan lagi. Selain karena birokrasi yang dinilai sedikit rumit, Reni juga menegaskan ingin memaksimalkan dana yang ada dahulu.
“Kita kelola dana ini saja dulu. Nanti kalau sudah semakin berkembang baru mikir dana tambahan,” pungkas perempuan kelahiran Kediri, 13 Oktober 1973 tersebut.
(ati,via)



SUSUNAN PENGURUS KOPWAN
Ketua               : Reni Erawati
Bendahara      : Ira Devita
Sekretaris        : Indariyah
Anggota           :
1.      Sonah
2.      Eni Purwasi
3.      Inayah
4.      Sringah
5.      Nurul Farida
6.      Susi
7.      Anam


BIODATA
Nama              : Reni Erawati
TTL                  : Kediri, 13 Oktober 1973
Anak                : Limarta Intan Isworo
Jabatan            : Ketua Kopwan Sumber Rejeki


Hj Nurul Hidayah, Ketua TP PKK Kel Grati Tunon Kec Grati Kab Pasuruan


Hj Nurul Hidayah, Ketua TP PKK Kel Grati Tunon Kec Grati Kab Pasuruan

NIAT MENGABDI KE MASYARAKAT
           
Berkecimpung dalam keorganisasian PKK bukan lagi hal baru bagi Hj Nurul Hidayah. Setidaknya telah tiga kali pergantian Ketua TP PKK Kabupaten Pasuruan yang dirasakannya. Tahun 2002, Hj Nurul pertama kali menjabat sebagai Ketua TP PKK Desa Kedaung Kulon hingga tahun 2009. Lantas, H Muhammad Surono , sang Suami diangkat menjadi Lurah Grati Tunon Kec Grati, hingga sekarang.
Pasang surut kegiatan di TP PKK pun bukan lagu baru baginya. Karenanya ia tidak heran apalagi canggung ketika harus mengahadapi berbagai karakter orang. Di kegiatan PKK yang sepenuhnya merupakan kegitan sosial, tak jarang ada orang yang hanya datang ketika ada fee. Bukan murni karena panggilan jiwa sosial.
Menghadapi hal itu, Hj Nurul pun mengambil langkah mudah. Tetap menjalankan kegiatan kendati hanya bersama segelintir orang yang dinilainya memiliki dedikasi dan loyalitas. Baginya yang terpenting adalah bagaimana kegiatan PKK dapat berjalan sebagaimana yang diamanahkan TP PKK Kecamatan.
“Semua orang itu memang tidak sempurna. Sampai kadang saya juga heran. Diajak kegiatan ogah-ogahan. Giliran saya ajak yang semangat, dibilangnya pilih kasih,” tutur Hj Nurul kala ditemui di salah satu kediamannya di Desa Kedaung Kulon medio September lalu.
Namun hal itu tidak menyurutkah langkahnya untuk memimpin kegiatan TP PKK di Kel Grati Tunon. Ia juga kerap dengan percaya diri mengikuti berbagai kegiatan yang digelar TP PKK Kec Grati, meskipun dengan kemampuan seadanya.
Baru-baru ini, dirinya yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan vocal tetap mengikuti lomba samroh yang digelar kecamatan dalam rangka memperingati Hari Besar Nasional. Tak sia-sia, keberaniannya diganjar predikat juara II. Termasuk juga Juara III dalam kreasi membuat tumpeng dalam kesempatan yang sama.
“Kalau saya sih nekat aja. Bisa gak bisa maju,. Daripada saya harus bayar denda. Kan lebih enak uangnya disimpan untuk kas kegiatan,” jelas Hj Nurul yang juga akrab dipanggil Bu Inggih (Ibu Petinggi= Ibu Inggih, julukan untuk istri kades atau lurah di Kab Pasuruan).
Selain berbekal semangat dan keberanian, Hj Nurul juga tidak segan nomboki kegiatan TP PKK. Dana dari ADD sebesar 21,5 juta rupiah kerap tidak mampu memback up seluruh kegiatan TP PKK. Terutama sejak kepemimpinan Hj Lulis Irsyad Yusuf, yang diakui memiliki banyak sekali program dibanding sebelumnya.
Sebagai penyemangat, kocek pribadi dirogoh untuk sekedar member souvenir atau doorprize bagi anggota PKK pada momen-momen tertentu. “Kata Pak Lurah, biar ada sodakohnya. Biar tambah berkah hidupnya dan kader juga semakin semangat’ selingnya riang.
Hj Nurul mengaku masih memiliki banyak angan-angan untuk kegiatan TP PKK. Baik di Kelurahan Grati Tunon, maupun jika nantinya kembali diberi kesempatan memimpin kembali TP PKK Kedaung Kulon. Salah satunya berkeinginan untuk menggelar pelatihan aneka kerajinan, menciptakan ikon makanan khas desa, dan beberapa kegiatan pemberdayaan lainnya.
Ia berharap, bahwa kegiatan TP PKK yang sempat mati suri bisa kembali aktif. Masyarakat juga bisa merasakan manfaat dari adanya kegiatan PKK. Khususnya untuk pengembangan keahlian yang pastinya berguna bagi kesejahteraan masyarakat.
“Kegiatan sosial itu kalau dibilang berat ya berat. Dianggap enteng ya enteng. Jadi dijalani saja. Kalau suami, saya akui memang suka sekali sibuk kegiatan sosial, nah saya jadinya katut (terpengaruh) ” ujar Hj Nurul diselingi tawa renyah memungkasi. (ati,via)



BIODATA
Nama              : Hj Nurul Hidayah
TTL                  : Pasuruan, 8 Oktober 1964
Suami              : H Muhammad Surono
Anak                : tiga orang
1.      Eka Susiantini
2.      Ridho Dwi Sukma
3.      Resy Tri Wilujeng
Cucu                : tiga orang
1.      Salwa Imtiyaz Salsabil
2.      Sabrina Nabilatus Salma
3.      Mutihurrahman
Prestasi           :
1.      Juara II Samroh HUT RI Ke 70 PHBN Kec Grati 2015
2.      Juara III Lomba Membuat Tumpeng Kec Grati 2015

KEMBANGKAN POTENSI LOKAL, BIDIK PASAR GLOBAL


Industri Kerajinan Jatim Menghadapi MEA 2015

KEMBANGKAN POTENSI LOKAL, BIDIK PASAR GLOBAL

Industri Kecil Menengah (IKM) terbukti menjadi sektor paling bertahan dalam kondisi krisis ekonomi. Di Jatim, Industri tumbuh sebanyak 5,30 persen pada triwulan II tahun 2015. Dengan kontribusi mencapai 20,6 persen terhadap perekonomian nasional. Hal itu menjadi modal kuat dalam menyongsong diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Lantas, bagaimanakah upaya yang dilakukan pemerintah? Serta seperti apakah potret kesiapan pelaku usaha lokal tersebut dalam membidik pasar global?

Jemari lentik Siti Sunarsih (16) dengan telaten menggosok tempurung kelapa menggunakan amplas. Sesekali ia meneliti bagian tempurung memastikan seluruhnya telah digosok halus. Selanjutnya tempurung yang telah dibentuk menyerupai mangkuk dengan dudukan di bagian bawah itu dilapisi cairan vernis. Sebagai finishing, gambar berupa bunga, hewan, atau tulisan tertentu pun diaplikasikan di bagian luar mangkuk. Mangkuk dari tempurung kelapa yang cantik pun selesai dibuat. Tak hanya hiasan, mangkuk kreasi ini juga bisa digunakan sebagai pengganti asbak atau wadah aneka pernak-pernik kecil.
Mangkuk dari tempurung hanya satu dari sekian banyak produk kerajinan yang dihasilkan Kejaya Handycraft. Selain itu, terdapat pula tas dari tapas kelapa, aneka alat dapur dari kayu, lampu hias dari lidi, pigura cantik berhias kulit batang pohon pisang, dan masih banyak lagi. Khotibin, sang pemilik bahkan mengaku tidak ingat satu-persatu produk yang telah dibuat dan diperkirakan mencapai lebih dari 500 jenis tersebut.
Berlokasi di Desa Tambong Kec Kabat, Kejaya Handycraft menjadi salah satu sentra kerajinan yang cukup banyak menyerap tenaga kerja lokal. Industri kerajinan yang didominasi bahan baku pohon kelapa, aneka jenis kayu dan rumput ini, mempekerjakan 30 pekerja tetap dan lebih dari 150 orang tenaga borongan. Jumlah tersebut belum termasuk sejumlah pemilik lahan tanaman, pengepul, hingga tukang panjat yang bertugas mengumpulkan bahan baku kerajinan.
Kejaya Handycraft hanya satu potret dari ribuan IKM yang berkembang di Jatim. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Prov Jatim tahun 2013, terdapat 803.453 IKM yang tersebar di seluruh Prov Jatim. Dari Jumlah tersebut sebanyak 97,80 persen merupakan sektor Industri Kecil, 2,07 persen sektor Industri menengah, dan industri besar sebanyak 0,13 persen.
Kepala Disperindag Jatim, Warno Harisasono melalui Rety Andini Kepala UPT Aneka Industri dan Kerajinan Surabaya menjelaskan, menjelang pemberlakuan MEA, IKM menjadi salah satu sektor usaha yang perlu mendapat perhatian khusus. Mengingat, IKM menjadi salah satu tulang punggung utama perekonomian Prov Jatim.
Kendati Warno Harisasono optimis, Jatim memiliki peluang yang cukup strategis untuk mengisi pasar bebas ASEAN tersebut. Hal ini berdasarkan peta negara tujuan ekspor Jatim, dimana 16,60 persen menuju negara ASEAN. Sisanya 10,35 persen ke Uni Eropa, Cina 10,94 persen, Amerika Serikat 10,88 persen, Jepang 15,17 persen, dan lain-lain.
Hasilnya, pada tahun 2014 nilai ekspor produk kerajinan Jatim mencapai 18,98 persen dari total ekspor non migas sebesar USD 17,928 juta. Sementara di tahun 2015 hingga Bulan April sekitar 1,03 persen dari total ekspor non migas sebesar USD 6,224 juta.
“Agar kompetitif, maka daya saing dari produk-produk kita juga perlu ditingkatkan. Dimana kalau bicara mengenai peluang dan tantangan industri kerajinan adalah di sektor ekspor dan impor” ujarnya mengingatkan.
            Karenanya, Pemprov Jatim terus berupaya melakukan perlindungan konsumen dan peningkatan daya saing produk Industri kerajinan. Perlindungan konsumen, melalui pengawasan barang beredar terutama bagi produk impor. Serta pencegahan barang impor ilegal. Termasuk memfasilitasi pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yang kini tercatat sebanyak 3.682 IKM. Sedangkan untuk meningkatkan daya saing, pembinaan IKM secara paripurna dan penguatan pasar domestik dan internasional terus diupayakan.
            “Selain pengendalian terhadap jalur ekspor dan impor, yang tidak kalah penting adalah upaya menumbuhkan jiwa enterpreneurship masyarakat. Yang telah memiliki usaha kita dorong agar usahanya bisa semakin kuat dan mandiri. Yang belum, kita dorong agar mereka berwirausaha,” imbuh Rety Andini.

Modal Kuat Jatim
            Dalam konstelasi ASEAN, Indonesia, khususnya Jatim sesungguhnya telah memilki modal yang cukup. Baik dari segi demografi, pertumbuhan ekonomi, maupun kinerja perdagangannya.
            Secara demografis, berdasarkan rilis KTT ASEAN Ke-23 di Brunei Darussalam, jumlah penduduk ASEAN diperkirakan mencapai 741,2 juta jiwa pada 2035. Data prospek pertumbuhan penduduk Divisi Populasi PBB menunjukkan, Indonesia menduduki urutan tertinggi dengan 291,6 juta jiwa lebih, diikuti Filipina 135,8 juta dan Vietnam 106 juta jiwa. Sementara, Brunei Darussalam 560 ribu jiwa, Kamboja 18,1 juta jiwa, Laos 8 juta jiwa, Malaysia 39,8 juta jiwa, Myanmar 55,9 juta jiwa, Singapura 6,5 juta jiwa dan Thailand 76,5 juta jiwa.
            Dari segi ekonomi, hingga saat ini, postur ekonomi terbesar pun masih diduduki Indonesia yang mencapai 28,47 persen dari total ekonomi ASEAN. Dimana 4,18 persennya disumbang Prov Jatim. Prosentase ini setara dengan dua pertiga perekonomian Vietnam yang mencapai 6,48 persen. Atau hampir 2,5 kali lebih besar dibanding gabungan Laos (0,36 persen), Kamboja (0,82 persen), Timur Leste (0,05 persen), dan Papua New Guinea (0,54 persen). Selanjutnya Thailand 18,26 persen, Singapura 16,92 persen, Malaysia 15,07 persen, dan Philipina 13,03 persen.
            Dalam skala nasional, pertumbuhan ekonomi Jatim juga berada diatas rata-rata nasional. Pada tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Jatim di posisi 6,55 persen diikuti nasional pada kisaran 5,78 persen. Sementara pada semester I tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Jatim kembali mengalami peningkatan mencapai 6,17 persen, dan nasional 5,17 persen.
            Tak hanya itu, dalam upaya penguatan pasar dalam negeri, saat ini Pemprov Jatim telah membuka 26 Kantor Perwakilan Dagang di seluruh Indonesia. Termasuk membentuk lima Unit Pelaksana Teknis Industri (UPTI) produk skala ekspor. Yaitu UPTI Logam dan Perekayasaan Sidoarjo, UPTI Kulit dan Produk Kulit Magetan, UPTI Kayu dan Produk Kayu Pasuruan, UPTI Makanan, Minuman, dan Kemasan Surabaya, dan UPTI Aneka Industri dan Kerajinan Surabaya.
Selain pertumbuhan ekonomi, di kancah nasional, Jatim juga merupakan salah satu provinsi yang memiliki hubungan perdagangan yang sangat menentukan. Sekitar 31 persen perdagangan dalam negeri berasal dari dan menuju Jatim. Pada tahun 2012, kinerja perdagangan Jatim surlpus mencapai Rp 50,451 triliun. Meningkat dibanding tahun sebelumnya yang masih mencapai Rp 34,576 triliun. Sedang pada tahun 2013, surplus kinerja perdagangan Jatim juga naik menjadi 53,728 triliun.
(nurhayati)

JUMLAH IKM DI JATIM
NO
JENIS USAHA
JUMLAH**
PROSENTASE
(%)
1.
Industri Kecil
785.777
97,80
2.
Industri Menengah
16.631
2,07
3.
Industri Besar
1.045
0,13
TOTAL
803.453
100



JUMLAH SERAPAN TENAGA KERJA JATIM
NO
JENIS USAHA
JUMLAH**
PROSENTASE
(%)
1.
Industri Kecil
1.797.436
57,69
2.
Industri Menengah
957.760
30,74
3.
Industri Besar
359.861
11,55
TOTAL
3.115.680
100
*Sumber : Data update 2013 Disperindag Prov Jatim, diolah.
**Asumsi jumlah berdasarkan prosentase


BACK TO NATURE

Dalam upaya peningkatan daya saing industri, berbagai strategi perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Salah satunya, seperti yang diupayakan Pemkab Banyuwangi dengan membidik sektor Pariwisata.

Jika anda berkunjung ke Kejaya Handycraft, bertanyalah produk apa saja yang dimiliki. Maka anda dijamin akan dibuat bingung. Tapi hanya dengan sekilas pandang, anda akan menyadari satu hal, semua produk Kejaya Handycraft menggunakan bahan baku alam.
“Produk alam itu aman. Karena jika nantinya sudah rusak dan tidak terpakai, limbahnya akan mudah terurai menyatu dengan tanah. Sifat ini yang banyak diminati di negara maju seperti Amerika, dan Eropa yang menjadi tamu saya,” terang Khotibin sembari menunjukkan salah satu tas berbahan dasar tapas kelapa. Pesanan khusus Pemkab Banyuwangi sebagai goodybag dalam event Banyuwangi Beach Jazz 2015.
Selain Khotibin, konsep kembali ke alam juga dilakukan Abdullah Azwar Anas, MSi, Bupati Banyuwangi. Betapa tidak, dari luas wilayah sebesar 5.782,50 km2, sebanyak 31,72 persen merupakan hutan, 11,53 persen berupa persawahan, dan perkebunan 14,21 persen. Selebihnya terbagi menjadi pemukiman 21,66 persen, ladang 2,80 persen, tambak 0,31 persen, dan jalan sebanyak 17,77 persen. Sehingga pengelolaan destinasi wisata menjadi salah satu  alternatif yang dijalankan.
Sejumlah program pengembangan pariwisata dan investasi di Banyuwangi pun berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data 2010-2014 tercatat, pendapatan per kapita naik tajam 70 persen dari Rp 14,97 juta menjadi Rp 25,5 juta. Sedangkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) naik tajam 71 persen dari Rp 23,56 triliun menjadi Rp 40,48 triliun. Hal ini tidak lepas dari kesuksesan Pemkab Banyuwangi dalam menentukan dan menjalankan strategi pembangunan yang tepat bagi daerahnya.
“Tidak mungkin Banyuwangi mencontoh Malang apalagi Surabaya. Maka strategi pembangunan juga harus kita putuskan, termasuk sekarang kita fokus untuk kembali ke alam. Maka sudah empat tahun ini kami belum ijinkan mall ditengah kota karena strateginya berbeda dengan Surabaya,” terang Bupati yang baru-baru ini menerima penghargaan sebagai Marketer of The Years 2014 dari Markplus Inc tersebut.
            Lantas bagaimana kaitannya dengan pengembangan IKM? Dalam hal ini Anas menjelaskan, pemasaran dan promosi menjadi dua hal penting dalam upaya pengembangan IKM. Akan tetapi hal itu tidak mungkin hanya dilakukan secara mandiri oleh pelaku usaha. Sehingga pemkab berperan memback up agar promosi tidak hanya bersifat konvensional.
Pengembangan destinasi wisata pun dinilai akan berpengaruh besar pada peningkatan jumlah kunjungan turis manca maupun dalam negeri. Hal itu pun berkontribusi besar pada pendapatan daerah.  
“Turis datang tidak mungkin pulang tanpa oleh-oleh. Terus yang dibeli apa? Produk IKM,” tutur Anas menganalogikan
Disamping itu, ia juga mendorong perbankan untuk memberikan pinjaman lunak pada pengrajin. Termasuk mengintensifkan pembinaan usaha guna peningkatan keterampilan dan pengetahuan. Tak ketinggalan pula menggelar pelatihan internet marketing sebagai jalur alternatif promosi kreatif.
“IKM kita saat ini memang berkembang cukup baik. Namun hal itu terkendala proteksi kepemilikan akan hak paten. Karenanya, Pemkab Banyuwangi bekerjasama dengan Disperindag Prov Jatim berupaya memfasilitasi pengajuan hak paten. Sekarang sudah sekitar 24 IKM Banyuwangi telah mengantongi hak patennya,” terang Anas. (hay)

Kejaya Handycraft, Kabat, Banyuwangi

SEMANGAT LOKAL, AMBISI GLOBAL
Ditengah maraknya isu pemanasan global, produk kerajinan Kejaya Handycraft menjadi salah satu alternatif. Betapa tidak, selain terbukti memberdayakan sebagian besar tenaga kerja lokal, bahan baku yang digunakan pun sepenuhnya berasal dari alam.

Khotibin, perajin sekaligus pemilik sentra kerajinan Kejaya Handycraft kini bisa tersenyum bangga. Usaha kerajinan yang ditekuninya sejak tahun 1998 kini telah mampu menjadi penyangga kebutuhan ekonomi keluarganya. Bahkan tetangga dan warga sekitar pun sebagian besar menjadi tenaga kerja di tempatnya.
“Saya masih ingat betul, sekitar tahun 1998, di Banyuwangi itu sedang ada wabah tanaman. Inspirasi awalnya saya dengan kakak, memanfaatkan pelepah pisang yang kala itu sempat rusak dan konon pisangnya beracun. Jadi banyak pohon pisang ditebangi. Dari situ kita tergerak untuk memanfaatkannya,” kata Khotibin menceritakan kisahnya.
Ia beserta sang kakak, Ahmad Fathoni (alm) mengawali usaha dengan menitipkan hasil kerajinannya ke artshop (toko kerajinan) di daerah Bali.
Di Bali, produknya tidak lantas langsung diterima di pasaran. “Awal-awal saya sempat bilang sama kakak, iki kerjo cap opo? Saking gak ada hasilnya,” kenang Ibin, panggilannya, yang pernah menjadi sales produk kesehatan di Bali tersebut.
Namun kesulitan itu tak lantas mematahkan semangat keduanya. Mereka yakin bahwa usaha tersebut memiliki prospek yang bagus. Sampai kemudian order pertama datang dari seorang buyer Inggris sekitar awal tahun 2000. Lalu tahun 2001 tamu dari Itali dan menyusul tahun 2002 seorang Agen Korea yang memiliki pasar di Hawai, Jamaika, dan Florida. Tak ketinggalan buyer Malaysia yang datang dan bekerjasama pada kisaran tahun 2005 sampai 2010.
Sejak order pertama itulah ia mulai merekrut pekerja. Berawal dari empat orang pada bulan pertama, belum genap sebulan bertambah lagi empat orang. Hingga di kisaran tahun 2007, tenaga kerjanya mencapai 99 orang.
“Akhirnya satu persatu mereka menikah lalu saya beri kewenangan untuk bekerja dari rumah dan mengajari masyarakat disekitarnya. Jadi sekarang yang dirumah sedikit tapi tenaga borongannya banyak,” jelas ayah dari dua orang anak ini.
Kendati menolak menyebutkan omset yang dihasilkan, keuntungan usaha Ibin diperkirakan tidaklah sedikit. Contohnya saja, permintaan tali agel untuk tempat parfum yang diterima dari seorang agen di Jakarta. Dalam sebulan, Kejaya Handycraft mengirimkan 60 ribu buah tali agel. Dikirim setiap sepuluh hari sekali sebanyak 20 ribu buah.
Tali agel ini terbuat dari daun gebang (sejenis pohon palm) yang dipilin. Dijual dengan harga Rp 2000 perbuah dengan modal kurang dari Rp 1500. Dan kerjasama ini telah berjalan selama delapan tahun dari order pertama sebanyak 5000 buah.
“Kami sistemnya jual langsung bukan menitipkan barang. Jadi barang selesai kami kerjakan, bayar lunas, barang baru kita kirim. Termasuk kalau untuk ekspor, saya hanya sebatas mengantar barang hingga ke kargo, disana dibayar lunas,” terang Khotibin.
Dari beberapa buyer yang datang pertama, kerjasama dengan pihak Korea paling lama. Hingga saat ini, Ibin rutin memasok barang mulai dari tas, caramba, maracas, aneka souvenir, bahkan kreasi pakaian dalam dari batok kelapa.
“Pasar saya memang kebanyakan Amerika dan Eropa. Jepang, Arab Saudi, dan sebagian besar Asia, saya kurang punya pasar. Mungkin mereka kurang meminati bahan alam. Kalau orang Amerika atau eropa kan sukanya bahan alam, yang jika rusak dibuang, akan kembali ke tanah,” tutur Ibin.
Disisi lain, untuk produknya, Ibin mengaku tidak banyak ambil pusing terkait brand yang harus dipakai. Bahkan beberapa dengan sengaja diberi brand lain.
            Sikap tak ambil pusing juga terlontar ketika ditanya mengenai kesiapannya menghadapi pasar bebas MEA. Pria 41 tahun tersebut mengaku sama sekali tidak terpengaruh. Pasalnya, dengan atau tidak diberlakukannya MEA, produknya terbukti bisa bersaing di pasar mancanegara. “Dulu merintis usaha sampai dua tahun tanpa penghasilan saja siap, sekarang sudah tambah ilmu, wawasan, pengalaman, juga modal masa nggak siap,” jawab Ibin santai.
Saat ini, Kejaya Handycraft telah memiliki tiga titik tempat usaha. Lokasi pertama yang dikatakan sebagai lokasi rintisan merupakan gedung bekas sekolah yang tidak terpakai. Ditempati sejak tahun 2003, dan berada di Dusun Kejoyo Desa Tambong. Ditempat ini pekerja yang mayoritas perempuan bekerja merakit produk kerajinan seperti tas dari gebang atau batok kelapa, membuat tali agel, dan sejenisnya.
Sementara lokasi kedua berada di Dusun Krajan, yang berfungsi sebagai lokasi produksi mesin  ditempati sejak lima tahun lalu. Sebagian besar pekerja laki-laki bertugas membentuk barang setengah jadi sebelum kemudian dilakukan proses penghalusan dan finishing. Termasuk pemberian sentuhan akhir pada tas dan aneka kerajinan berupa gambar atau tulisan menggunakan alat penyemprot.
Sedang lokasi terakhir, merupakan toko yang sudah hampir empat tahun dipakai sebagai tempat memasarkan sebagian hasil kerajinan. Artshop ini berada di jalur utama kota di Jl Raya Kabat (Depan Pom Bensin Kedayunan) Banyuwangi.
Kedepan, di lokasi kerja yang berada di Dusun Krajan, Ibin berencana membangun tempat pelatihan kerajinan. Disana, nantinya ia berharap bisa membagikan ilmu kepada siapapun yang membutuhkan. Termasuk membangun area penginapan dan tempat makan. “Semakin banyak yang bisa, semakin luas cakupan usaha saya. Ini juga bagian dari pengembangan usaha,” tukas lulusan MAN Banyuwangi tersebut. (hay)

Drs Ec Soebagyo
Tidak Perlu Pesimis Menghadapi MEA!

Menyongsong diberlakukannya MEA 2015, berbagai persiapan terus dilakukan. Bagi IKM, penguatan daya saing menghadapi pasar bebas ASEAN menjadi hal mutlak. Sementara pemerintah sebagai fasilitator dan regulator, sudah selayaknya memberikan kemudahan akses bagi IKM. Demikian setidaknya, pandangan yang diberikan Drs EC Soebagyo, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair Surabaya.

Dalam kondisi krisis seperti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (Defresiasi Rupiah) saat ini, IKM menjadi salah satu tulang punggung kuat perekonomian Jatim. IKM merupakan sektor usaha yang cukup survive karena berbasis lokal mulai dari pasar, bahan baku, hingga tenaga kerja. Sehingga dalam kondisi Defresiasi Rupiah, sektor IKM tidak sepenuhnya terdampak.
            Menurut Soebagyo, penurunan nilai tukar rupiah justru memberikan insentif ekspor bagi IKM. “Dengan kata lain, saat Defresiasi Rupiah, harga barang dalam negeri menurun di mata uang asing. Sehingga besar kemungkinan justru akan menambah permintaan,” tutur Soebagyo menganalogikan.
Kendati Soebagyo juga tidak menampik, bahwa upaya penguatan IKM tetap harus dilakukan. Tugas pemerintah lah untuk memberikan suntikan dana, menciptakan regulasi, menyediakan pusat  pasokan bahan baku, termasuk memotong jalur distribusi yang terlalu panjang.
Namun, lanjut Soebagyo menggaris bawahi, skema perbantuan bagi IKM, baiknya hanya bersifat sementara. Mengingat tujuannya adalah membantu IKM tetap bertahan. Sementara usaha menjadikan IKM kuat dan berdaya saing harus diupayakan sendiri.
            Kecuali itu, dalam menyongsong pemberlakuan MEA, Soebagyo menilai, IKM Jatim cukup kompetitifnes (memiliki daya saing). Alasannya, dilihat dari skala pasar ASEAN yang tidak sepenuhnya identik dengan produk dalam negeri. Sehingga persaingan yang akan dihadapi pun tidak terlalu signifikan.
            Berbeda halnya jika kelak pemberlakuan MEA ASEAN Cina Korea. Kompetisi yang akan dihadapi Indonesia akan cukup ketat. Sebab, produk daratan Cina sangat identik dengan produk dalam negeri.
            “Selama ini yang kita takutkan, barang yang sama di dalam negeri diproduksi juga diluar negeri. Dan pasar lebih berminat pada barang luar negeri. Lantas bagaimana? Maka daya saing produk kita harus ditingkatkan. Caranya? Pemerintah harus back up itu. Gencarkan promosi, ciptakan regulasi. Artinya pemerintah sebagai regulator, harus melakukan perlindungan, pengaturan, supaya kita tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.” terang Soebagyo
            Lantaran itu ia berharap, menghadapi MEA 2015, IKM Jatim harus optimis. Karena Jatim memiliki ketahanan yang kuat untuk menghadapi MEA. Ditambah lagi, Jatim memiliki soliditas yang kuat dari para pemimpinnya. Sehingga menjadi modal kuat bagi Jatim untuk bisa percaya diri berkompetisi di Pasar Bebas MEA.
            “Memang Orang Jawa itu fighting spirit-nya lemah apa? Ndak kan?! Jadi tidak perlu khawatir. Kita cukup siap dan barangkali yang paling siap menghadapi MEA 2015,” pungkas Soebagyo penuh keyakinan. (hay)