Selasa, 18 November 2014

Yaariyan



These Relationships
My heart is so mindless
The impatient heart is an idiot
How much it loves you?
It didn’t understand itself
Now someone make a case for this pain of heart
So that it gets that rain of love
That drenches it completely
What such effect whos there of being with you
I don’t know
That there was no sense left in me
My words stuck on my tongue
But cuoldn’t get spoken
In my heartbeat there is your name alone
And the eyes give this massage too
That is there on me
As I found you, my life has changed
I have become all new
All talks of world are ineffective
Now I listen to you always
I find excuse to meet you
When you smile, I wish to be the reason
And wish to spend all my day with you everyday

Selasa, 04 November 2014

The Untold Love, Bhisma Karna


Kau hebat adikku. Langkah pertama kemenanganmu telah dimulai. Bhisma Yang Agung akhirnya mendapatkan alasan mengakhiri pergulatannya, melepas keterikatan sumpahnya, juga pembebasan atas kesalahannya.
Kelak, satu dari kami bertiga pun akan mengalaminya. Bhisma Yang Agung, Guru Drona, dan Aku hanyalah alasan bahwa perang ini akan dianggap seimbang. Meski hasil dari peperangan ini sejatinya telah digariskan.
Temanku Druyudhana, mengangkatku menjadi senopati perang menggantikan Bhisma Yang Agung yang telah kau lumpuhkan. Bukan karena ketidakmampuan Guru Drona, tapi karena keyakinannya, bahwa aku akan menjadi perantara kehancuran kalian, Pandawa. Kalau saja dia atau kalian tahu yang sebenarnya, barangkali perang ini akan berakhir bahkan sebelum dimulai. Entah kalian yang menyerah, atau Druyudhana yang kehilangan nyali melawanmu.
Malam hari sebelum memasuki medan perang, aku menemui Bhisma Yang Agung di Padang Kurusetra. Terlepas kenyataan dia kini adalah kakekku, aku menghormatinya jauh sebelum jati diriku terungkap. Betapapun penghinaan yang kudapat darinya, dia tetaplah pribadi yang agung bagiku.

Karna    : Bhisma Yang Agung, sebelum memasuki medan pertempuran aku kesini untuk memberikan hormatku padamu.
Bhisma  : Aku sudah tidak mempunyai restu lagi untuk kuberikan kepadamu, Raja Angga.
Karna          : Aku tahu Bhisma Yang Agung. Anda tidak menyukai diriku. Engkau selalu menghinaku. Engkau selalu mencoba menjauhkanku dari Hastinapura. Tapi Bhisma Yang Agung, rasa hormatku tidak akan pernah berkurang.
Bhisma       : Kamu orang yang bodoh, Putra Kunti.
                      Ya, aku tahu bahwa kamu adalah Putra Kunti. Bahwa kamu adalah keturunan dari Dewa Surya. Kamu adalah kakak tertua dari para Pandawa. Dan tidak hanya saat ini, aku telah mengetahuinya bertahun-tahun yang lalu, Anakku. Kau sangat istimewa dan aku tidak membencimu tetapi kasihan padamu. Aku mencoba menjauhkanmu dari Hastinapura. Karena aku tahu bahwa sentuhan pada perunggu berubah menjadi emas putih, tapi tidak akan merubah perunggu tersebut. Sama halnya semakin cepat dia sampai di atas, maka akan semakin cepat pula jatuhnya.
Karna      : Engkau mengetahui rahasia atas kelahiranku, Bhisma Yang Agung. Tapi apakah engkau tahu rahasia hidupku? Ketika seluruh masyarakat menolak seseorang, seluruh kehidupannya tampak seperti kematian baginya. Seseorang yang tenggelam di sungai mencoba meraih pundak buaya untuk keselamatannya. Ketika seluruh masyarakat menolak seseorang, dia tidak bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh.
Bhisma   : Aku tahu itu, Anakku. Benih kecambah akan tumbuh dengan baik tergantung dimana kita menanamnya. Tempatnya tidak dapat diganti. Ini adalah kemalanganmu. Bahwa kamu telah menemukan tempat diantara orang-orang jahat itu. Dan kemalanganmu telah menjadi kemalangan bagi seluruh masyarakat.
Seandainya saat itu, di kompetisi itu aku menerimamu sebagai kesatria daripada anak kusir, maka saat ini situasinya akan berbeda. Selama masa weda, sistem kasta dalam masyarakat didasarkan atas perbuatan dan kemampuan seseorang. Saat itu, apakah dia mendapatkan status kelahirannya tidaklah berarti apa-apa. Ini adalah dosa yang dilakukan oleh pejabat sepertiku. Aku tidak menyalahkanmu, Anakku.
Sekarang setelah mengetahui semuanya, kamu dapat menjauhkan diri dari perang ini, Anakku.
Karna          : Itu tidak mungkin, Bhisma Yang Agung. Temanku telah memberiku alasan untuk tetap hidup. Dengan menjauhinya aku tidak ingin menjadi penyebab kematiannya.
Bhisma       : Lakukanlah apa yang menurutmu benar. Takdir akan membuka jalannya sendiri, Anakku. Kita setuju ataupun tidak, tidaklah berarti apa-apa. Aku tidak dapat memberikan restuku agar kamu mendapatkan kemenangan. Tetapi jika kamu meminta restu lainnya maka akan aku lakukan untukmu.
Karna      : Aku hanya minta satu restu, Bhisma Yang Agung. Seumur hidupku, aku berjuang untuk mendapatkan penghormatan. Setelah kematianku, aku ingin namaku mendapat penghormatan dari seluruh masyarakat. Hanya itu yang aku minta.
Bhisma     : Seseorang bisa mendapatkan penghormatan melalui kekayaannya. Kadang-kadang juga diperoleh melalui kepandaiannya. Tetapi melalui restu seseorang tidak bisa mendapatkan penghormatan, Anakku. Jika kamu mengharapkan penghormatan maka jadilah pemenang dan berusaha tidak mati. Seseorang bisa di bunuh melalui penghianatan dan penyangkalan. Tetapi untuk menjadi seorang pemenang, maka dia harus mempunyai kemampuan. Hanya itu caramu mendapatkannya, Anakku. Inilah restuku padamu. Jika kamu yakin akan kemampuanmu dan tidak menggunakan cara-cara penghianatan serta tipu muslihat, kamu akan mendapatkan penghormatan itu.

Lihatlah adikku, Arjuna kemalangan dari saudaramu ini. Jika benar dia mengakuiku sebagai kakak tertua dari Pandawa, bukankah aku memiliki hak di sebagian doanya? Tapi baiklah, dia bicara benar. Takdir akan membuka jalannya sendiri. Semuanya telah digariskan, baik itu kemenanganmu, pembebasan daerah Arya, musnahnya dinasti Kuru dan Yadawa, juga kematianku.

Kamis, 30 Oktober 2014

The Untold Love, Kavaca dan Kundala


Dua hari menjelang pertempuran.

        Seorang Brahmana duduk bersila tak jauh dari tenda pasukan Hastinapura. Aku tahu dia adalah Indradev, ayahmu Arjuna. Seperti halnya juga aku tahu apa maksud kedatangannya. Menemuiku dan meminta amal dariku. Ya, amal. Jika tidak ingin kukatakan itu sebagai jebakan atau tipuan.
        Tapi benar apa yang dikatakannya, “Mencari cara untuk memastikan keselamatan dari seorang anak adalah hak setiap ayah”. Dan itulah yang dilakukannya. Tak peduli kalaupun itu akan menodai kedudukannya. Bukankah itu yang akan dilakukan semua orang tua? Tak terkecuali ibumu? Yang membuka kebungkamannya setelah membiarkanku jatuh dalam kubangan sumpah yang tak bisa kutinggalkan. Untuk apa? Untuk keselamatanmu, untuk keselamatan kalian, Putra Pandu.

Indradev   : Aku seorang peminta-minta. Aku telah berkeliling untuk mencari sesuatu Raja Angga, yang mana keduanya berhubungan dengan kematian dan keabadian. Keduanya hidup dan juga penyebab hidup itu sendiri. Keduanya kelihatan dan juga tidak terlihat. Ini lembut juga kuat. Ini adalah bagian dari tubuh. Tapi juga sebuah sarana. Keduanya bisa suci dan tidak suci.
Karna        : Itu adalah Kavaca dan Kundalaku. Selama mereka diberkati mereka adalah suci. Mereka berdua kelihatan dan juga tidak kelihatan. Selama mereka tetap berada di dalam tubuhku mereka adalah bukti keabadianku. Bagaimanapun ketika mereka akan dipisahkan dari tubuhku, mereka akan menjadi penyebab dari kematianku. Bukankah kedatanganmu kemari untuk memintanya, Indradev?
Indradev   : Ayahmu pasti sudah mengatakan hal itu kepadamu, Anakku. Besok saat subuh tiba, aku akan meminta Kavaca dan Kundalamu.
Karna        : Apakah puteramu tidak mempunyai kemampuan untuk bertarung melawanku? Apakah dia merasa takut dengan Kavaca dan Kundalaku?
Indradev   : Mencari cara untuk memastikan keselamatan dari seorang anak adalah hak setiap ayah. Ketakutan anakku tidak ada hubungannya dengan hal ini. Walaupun demikian, kekhawatiran yang ada di hati seorang ayah sudahlah pasti berhubungan dengan hal itu.
Karna        : Disamping menjadi seorang dewa bagaimana bisa kamu ikut campur dengan hal ini Indradev? Permusuhan diantara manusia dibatasi oleh kematiannya. Jika dewa-dewa yang abadi mulai memihak salah satu pihak, itu akan menjadi hal yang mamalukan buat mereka. Walaupun ombak-ombak di lautan saling bersaing satu dengan yang lainnya. Tetapi laut tidaklah memihak salah satu ombak tersebut.
Indradev   : Apakah kamu juga tidak mempunyai keyakinan akan kemampuanmu? Atau tanpa Kavaca dan Kundalamu itu akankah kamu tidak akan mampu melawan arjuna? Apakah itu juga ketakutanmu?
Karna        : Aku tidak takut akan diriku Indradev. Aku punya keyakinan yang kuat bahwa aku bisa membunuh Arjuna. Kemudian seluruh dunia akan tahu siapa yang benar-benar pemberani diantara kami. Tetapi yang kita bicarakan disini tidaklah tentang keberanianku. Ini tentang kepercayaan dari teman-temanku. Aku telah bersumpah untuk melindunginya dan membantunya meraih kemenangan. Dengan mengambil Kavaca dan Kundala, anda baru saja berbuat tidak adil terhadap temanku.
Indradev   : Aku memintamu…. Keputusan ada di tanganmu. Jika kamu tidak berharap melepaskannya sebagai amal maka katakanlah. Dan jika kamu tidak mempunyai keberanian untuk menolak permintaanku, maka berilah Suryadev air di saat subuh sebagai tanda kamu tidak lagi berhak memakai pemberiannya itu. Kamu harus memutuskan apakah sumpah itu lebih penting bagimu daripada kedua sumpahmu lainnya. Aku akan menunggumu di tepi sungai saat subuh tiba untuk mendapatkan amal darimu.
Tapi bahkan kebencianku pun melebur bersama dharma yang seketika membelitku atas pertalian darah ini. Kejayaanku, kehawatiran ayahku, sumpahku, atau cintaku pada kalian adik-adikku. Dilema ini lagi-lagi mencekikku.

Satu hari menjelang pertempuran.
       
        Ayahku, Suryadev menolak untuk muncul pagi ini. Aku tahu kenapa, karena dia teramat mengasihiku dan ingin menjamin keselamatanku. Seperti yang dia lakukan selama ini. Disaat aku tak seberuntung anak lainnya yang mendapat perlindungan dari ibu kandungnya.
        Seperti yang juga dilakukan ayahmu, Arjuna adikku. Semua ayah ternyata sama saja. Mereka hanya akan terlihat kuat saat mengajarkan anaknya untuk hidup. Tapi jika sudah menyangkut keselamatan putranya, hidup mereka seolah telah terenggut bahkan sebelum nyawa beranjak dari tubuhnya.

Karna        : Suryadev, sudah waktunya bagi anda untuk terbit. Seluruh makhluk di dunia ini telah menunggumu. Semua manusia adalah anakmu. Demi keuntungan salah satu dari anak-anakmu. Jangan sembunyikan anakmu yang lain dari cahayamu.
Dulu putra dari Pavandev telah menyembunyikanmu di dalam mulutnya. Maka semua makhluk mendekati bencana kehancuran. Aku mohon padamu, Ayah. mohon tunjukkanlan dirimu dan terimalah persembahanku.
Dalam sebuah dilema kehidupan, untuk sekali saja penuhilah keinginan putramu. Dalam kehidupan, dimana setiap orang dirampas dari perlindungan ayahnya, maka itu adalah dimana kemampuannya benar-benar sedang mendapatkan ujian, Ayah.
Bahkan sebuah pohon membiarkan buahnya dalam rangka membantu penciptaan kehidupan yang baru. Biarkan dunia menguji kemampuanku, Ayah. Sehingga tidak akan ada satupun yang mampu mengatakan, bahwa aku memperoleh kemenangan dengan bantuanmu.
Jika itu sampai terjadi maka seumur hidupku akan ternoda. Aku juga adalah bagian dari cahayamu, Ayah. Daripada hidup dalam kegelapan dan ternoda akan lebih baik jika aku mati dengan penuh kehormatan. Aku mohon padamu, Ayah. Tolong tunjukkanlah dirimu dan terimalah persembahanku.

Suryadev muncul dengan cahayanya yang tak pernah sekalipun menyilaukan bagiku. Meski kali ini aku tahu, dalam cahayanya ada air mata kesedihan.
Arjuna, jika kulakukan ini demi sumpah dan ambisiku, barangkali itu benar. Tapi jika alasan dari kebodohan yang kulakukan ini karena aku adalah kakakmu, itu juga tidak bisa kusangkal. Hidupku terikat dengan begitu banyak sumpah, kutukan, dan penderitaan. Tapi beban terberat adalah ketika aku tak sanggup memelukmu sebagai seorang kakak, melainkan mempersembahkan nyawaku sebagai penebus kemenanganmu.

Karna     : Aku sudah siap memberikan kesempatan kepada anakmu untuk menang Indradev. Memberikan cahaya kepada dunia tidak akan mengurangi kekuatan matahari. Anak Suryadev masihlah mempunyai kemampuan yang cukup. Katakan padaku, apakah ini yang kamu inginkan dariku?

Kamis, 23 Oktober 2014

The Untold Love, Kavaca & Kundala 2


Indradev, ayahmu datang menemuiku, Adikku. Saat itu aku tengah melakukan pujasurya. Kau tentu tahu, bahwa aku telah mengikat diriku dengan amal dan bersumpah, siapapun yang datang selepas aku menyelesaikan pemujaanku maka dia tidak akan pulang dengan tangan hampa. Tidak peduli dia manusia, hewan, dewa, bahkan iblis sekalipun.

Seperti yang juga telah diperingatkan ayahku, Suryadev. Indradev datang menyamar menjadi seorang brahmana dan meminta amal dariku.
“Maafkan aku anakku, jika nanti kurawa menang maka seluruh dinasti akan hancur dan menegakkan keadilan akan menjadi tidak mungkin lagi. Maka satu-satunya cara adalah agar kau berpura-pura menjadi benteng mereka. Tetapi jika kau berjanji untuk mundur dari perang ini maka aku akan membebaskanmu dari semua sumpahmu. Keputusan ada di tanganmu, apakah kau memilih mundur dari perang ini atau berikan kavaca dan kundala yang menjadi pelindungmu,”
Arjuna, ayahmu mencoba bermain dengan harga diriku sebagai kesatria. Tapi aku mengerti, semua itu dilakukan karena cinta kasihnya padamu. Maka inilah yang kulakukan, Adikku. Kulepas Kavaca dan Kundala milikku dan memberimu kesempatan untuk memenangkan perang ini. Bagiku cukup, aku telah merasakan kenikmatan kemenangan. Aku menang, Arjuna. Aku menang tanpa harus menyakitimu.
Sampai kemudian kau datang dan mendapati kecurangan yang Indradev lakukan padaku. Aku tahu, harga diri kesatriamu terluka. Kau mulai merasa dunia tidak adil padamu, juga kemampuanmu. Sungguh ini jauh lebih menyakitiku dibanding luka di sekujur tubuhku. Tapi aku tak berdaya.
Muncul keinginan untuk meneguhkan hatimu, Adikku. Tapi hal itu tak mungkin lagi sekarang. Karena itulah kuminta anugerah Indradev. Sebuah senjata yang sebanding dengan kekuatanmu.
Kau pasti brpikir, senjata ini kuminta sebagai pamungkas ketika kelak aku harus berduel denganmu di medan pertempuran. Bahkan ketika kucoba menggali kembali kebencianku setelah tahu kau adikku, aku tidak sanggup lagi, Arjuna. Kau adalah pantulan jiwaku. Mengarahkan senjata padamu, sama halnya dengan bersiap menuju kematianku sendiri. Aku tak berdaya.
Kelak, jikapun dharma membuatku harus mengarahkan senjata padamu, sungguhpun itu bukan lagi karena kebencianku. Itu hanya ketidakberdayaan. Adikku, lebih baik terlahir beruntung dibanding kaya. Tapi keduanya pun tak ada dalam garis nasibku.

The Untold Love, Karn-Suryadev



Bahkan bagiku yang terlahir dari anugerah Suryadev, kegelapan pun sanggup menghampiri hidupku. Seumur hidup aku berjuang untuk membalas penghinaan atas jati diri, kehormatan, dan pengakuan akan kemampuanku. Tanpa kuketahui, sejujurnya perang ini hanyalah antara aku dan kemalangan hidupku. Apalah artinya terlahir dengan perlindungan dari kematian, sementara setiap saat hidupku lebih buruk dari kematian itu sendiri.
Bagaimanapun seseorang yang terlahir hanya dengan perlindungan dari sang Ayah, hanya dapat berdiri di depan dunia. Tapi di dunianya sendiri dia tersingkir.

Karna    :Dalam kegelapan hidup ini memikirkanmu setiap saat telah menghiasi di setiap jalan yang kulalui tetapi hari ini untuk melepaskan kegelapan yang ada di diriku ini aku memerlukan cahayamu, Ayah.
Suryadev  :Hanyalah dengan menjalankan kewajibanmu akan dapat menghilangkan kegelapan yang ada di dirimu, Anakku. Meskipun kamu telah menjalankan kewajibanmu jika seseorang mencoba menghalangi jalanmu maka berhati-hatilah jangan sampai kamu terjatuh ke dalam tipuannya.
Dengan pengharapan ini, aku datang untuk meminta amal darimu, Anakku.
Karna      :Itu bukan amal namanya, Ayahku. Itu adalah hak setiap orang tua. Ketika seseorang mempunyai hak untuk memberkati orang lain. Bagaimana mungkin dia meminta sesuatu dariku?
Suryadev :Aku hanya minta satu hal sebagai amal. Jangan   lagi terikat dengan amal, Anakku.
Karna     :Aku telah mengambil sumpah, Ayah. Bahwa setiap aku menuangkan air di pagi hari ini jika seseorang memintaku melakukan sesuatu yang lebih dan aku mampu maka aku dengan sungguh-sungguh akan memberikannya.
Sebuah sungai yang mengalir menuruni gunung tidak akan pernah bisa mendakinya. Begitu juga denganku yang tidak akan bisa melanggar sumpahku, Ayah.
Lagipula jika seseorang berada dalam perlindunganmu, bagaimana mungkin seseorang bisa menipu orang tersebut?
Suryadev  :Janganlah lupa bahwa musuh-musuhmu telah diberkati oleh dewa lainnya. Dewa-dewa ini mengharapkan kemenangan dan kesuksesan dari anak-anaknya. Tak lama lagi Indradev akan datang kepadamu dan meminta Kavaca dan Kundala milikmu. Keduanya membuatmu abadi dan berarti juga menunjukkan sifat kedewataanmu. Tanpa itu, senjata dari Arjuna akan dapat menembus tubuhmu.
Karna    :Tapi apakah senjata Arjuna bisa menyentuh tubuhku, Ayah? Jika patung dewa dipahat dari sebongkah batu maka itu hanya menunjukkan kedewataan batu tersebut dan bukan ketangguhannya. Kemampuanku terletak pada tangan juga panahku, Ayah.
Atas perhatianmu terhadap hidupku aku akan selalu berhutang budi kepadamu. Bagaimanapun bagiku, sumpahku adalah hal paling penting dari hidupku. Dengan membunuh Arjuna, aku akan menunjukkan pada dunia bahwa kemampuan tidak hanya dilahirkan dari sebuah dinasti, klan, atau suku tertentu. Kemampuan lahir dari setiap jiwa manusia.
Jika Indradev dan juga anaknya tidak mengetahu hal ini dan lebih takut kepada baju perang dibandingkan panahku. Maka aku akan melepaskan baju perang itu dan memberikannya dengan sukarela, Ayah.           



Aku hanya sedang mencoba menghiburnya. Bagaimanapun dia ayahku. Kebesaran dan kejayaannya adalah tanggung jawabku. Tapi aku juga adalah putra dari ibu yang anaknya kini adalah musuhku. Jika pada ibu yang telah membuangku, aku sanggup menjanjikan kehidupan akan kelima putranya. Kenapa aku harus ragu menjanjikan kebanggaan atas darah kesatria yang diwariskan, Ayahku? Meskipun keduanya berarti sama, kematianku.

Selasa, 21 Oktober 2014

Karn-Arjun Sad Song



Ek Maa ki santaane

Two children from same mother

Bhai do anjaane

One is another's brother

Rishto ki ye kaisi vyatha hai 

Share a bond of Pain

Apne hi apno ke 

Rivals of each other 

Ban baithe dushman hai

Have become everywhere

Vidhi ka ye kaysa vidhan hai

Being ignorant of a relationship Hidden

Jumat, 03 Oktober 2014

KARNA*ABIMANYU >>> PERANTARA CINTA DAN DHARMA



Arjuna  : “Baik kereta ataupun kehidupan. Saat ia terperosok ke dalam lumpur, ia kan membutuhkan orang lain untuk bisa bangkit”
                  Karna : “Baik kereta maupun kehidupan, akan terperosok ke dalam lumpur saat beban yang ditanggungnya terlalu berat”

Arjuna dan Karna yang serupa dan bersaudara namun tak saling mengenal. Hingga kehidupan membawa satu diantaranya menjadi perantara kematian bagi yang lain. Kalimat yang akan membuat terenyuh siapapun untuk kesekian kalinya pada Sang Putra Surya. Disengaja atau tidak seorang kakak tak akan berpikir menjadi perantara kehancuran bagi adiknya. Meskipun untuk hidupnya yang jadi taruhan.
Lihatlah Karna, yang meski tahu muslihat Dewa Indra memintanya melepas Kavaca dan Kundala yang mampu melindunginya dari kematian, ia tetap melepasnya. Demi apa? Lagi-lagi demi dharma. Dan apa? Demi cintanya pada sang adik. Karna mungkin tak berdaya untuk melanggar sumpah setianya pada Duryudhana yang telah memberinya penghargaan ketika semua orang membuangnya, untuk itulah ia memilih membebaskan diri dengan kematian. Kematian yang hanya dirasanya pantas ditangan adik ketiganya, Arjuna.
Aku melihatnya, ia menghadapi kematian di tangan adik tercintanya dengan tersenyum. Entah bagaimana caranya, tapi Karna, kehidupan, hingga kematiannya menguras energiku. Barangakali atau bisa jadi aku akan mati seperti Karna. Tapi, putra mana yang tidak merasa beruntung dijemput dalam pangkuan sang Bunda. Tempat paling damai di seluruh dunia. Tempat yang selalu dirindukan bahkan dalam mimpi yang tak bisa lagi dia ingat.
Kalau di pihak Kurawa ada Karna yang tanpa pamrih, Pandawa punya Abimanyu yang gigih dan tanpa ragu. Seperti kata Khrisna, tidak ada kebajikan yang tidak bisa ditegakkan. Keduanya, Karna dan Abimanyu terlahir sebagai sebuah perantara perubahan besar di seluruh daerah Arya.
Jika saja Karna tak terlahir dan gejolak hidup membawanya berpihak pada Kurawa, tak akan ada perang besar Barathayuda. Karena Kurawa takkan pernah memiliki alasan kekuatan untuk menandingi Pandawa yang berperisaikan Khrisna. Lalu ketidakadailan akan tetap terselip bahkan dalam selimut sekalipun.
Lalu Abimanyu, jika bukan ambisi untuk apa lagi dia dilahirkan. Terlahir dari seorang ayah dengan kesaktian setingkat dewa, seorang ibu keturunan dinasti besar Yadawa, Subadhra, dan hidup untuk memenuhi sumpah pengabdian pada Ibunda Pancali yang terlahir dari api pengorbanan. Hidupnya adalah alasan dimana Pandawa akan tetap dikenang hingga akhir jaman. Seperti yang dijanjikan Khrisna.

Abimanyu : Aku adalah mata panah ayahku. Aku akan selalu berlumur darah, tapi kejayaan tetaplah milik ayahku. Aku adalah perisai bagi saudara-saudaraku.