Senin, 07 Juli 2014

Sutaputra, Ksatria yang tak dianggap


Sekali lagi, kau membuatku terbelalak kagum. Dan tanpa sadar, membenci para ksatria cengeng yang menistakan hadirmu.



Hastinapura tengah menggelar adu kehebatan antar pangeran untuk menunjukan hasil pendidikan bertahun-tahun oleh Guru Drona. Setelah melaui berbagai tahap pertandingan, Drona akhirnya mengumumkan bahwa Arjuna adalah murid terbaiknya, terutama dalam hal ilmu memanah, setelah mengalahkan pangeran terkuat Kurawa, Duryodana.
Tiba-tiba Karna muncul menantang Arjuna. Resi Krepa selaku pendeta istana meminta Karna memperkenalkan diri terlebih dahulu karena untuk bisa menghadapi Arjuna haruslah dari golongan yang sederajat.
Karna memberontak, Ia menilai semua orang berhak untuk menunjukan kekuatanya tanpa melihat asal-usulnya.
“Sungai tak pernah bertanya air siapa yang memasukinya? Yang dia tau hanyalah kekuatannya. Dewa Siwa tak pernah mempertanyakan bunga teratai darimana yang menjadi persembahannya. Karena yang terpenting adalah keindahannya. Mengapa manusia harus mempertanyakan darimana asal-usulnya?!”
Di hadapan khalayak ramai yang sedang menyaksikan perang tanding itu, Ia menyatakan pemberontakanya atas sistem kasta yang diskriminatif itu. Ia sangat menentang kasta yang memenjarakanya sejak kecil. Kasta yang sudah menghalanginya untuk menunjukan kekuatanya. Menurutnya, manusia semua sama. Ksatria, brahmana, suta boleh diakui bukan karena statusnya tetapi karena kekuatan, kerja kerasnya. Karna adalah pengagum kekuatan sejak kecil. Ia bersumpah untuk menjadi ’sesuatu’ dan diakui dengan kekuatan yang ada dalam dirinya.
Oleh karena itu, Karna bersikeras menantang Arjuna untuk membuktikan siapa pemanah terbaik di muka bumi. Arjuna pun menyanggupinya. Ia tak gentar dengan tantangan Karna dan yakin dengan didikan Resi Drona. Namun, sebelum busur tertarik, Adirata turun ke gelanggang. Ia meminta maaf dan memaksa Karna, yang dinilainya tak tahu sopan santun dan mempermalukan keluarga, untuk pulang. Ibunya juga bercucuran air mata melihat anaknya mempermalukan diri dan keluarganya. Karna akhirnya luluh.
Ia pun dengan berat hati meninggalkan gelanggang. Sampai, Duryodana yang baru saja di kalahkan Arjuna berteriak. “Tunggu dulu pemanah,” katanya.
Duryodana lantas meminta ayahnya Destrarata, mengangkat Karna menjadi raja dan agar diizinkan bertanding melawan Arjuna. Maka, perang tanding antara Arjuna dan Karna pun dimulai. Perang tanding yang bukan sekedar adu ilmu keprajuritan tetapi juga sebuah perjuangan Karna untuk mendapatkan pengakuan. Perjuangan emansipasi seorang Karna menentang sistem kasta yang diskriminatif.
Dan, adu kekuatan dua pemanah terhebat di dunia pun dimulai. Perang tanding antara Arjuna dan Karna yang sesungguhnya adalah kakaknya.
Suatu saat, panah Arjuna berhasil mengenai tubuh Karna. Ajaib, tubuhnya langsung bersinar dan ada sebuah perisai berkilauan yang melindunginya. Itulah perisai anugerah dari Sang Dewa Surya, ayahnya.
Di tribun kehormatan, Kunti terbelalak dan kaget bukan kepalang. Ia melihat perisai ditubuh karna dan langsung mengenali pemuda gagah itu sebagai putra sulung yang pernah dibuangnya. Kunti pun jatuh pingsan dan di papah oleh Priyamwada, sahabatnya sejak kecil.
Sementara, perang tanding antara Karna dan Arjuna pun usai karena matahari sudah terbenam. Tak ada pemenang antar kedua pemanah hebat yang sebenarnya memiliki ibu yang sama itu.  Sementara, keduanya sama kuat.
Di dalam bilik kamarnya, Kunti yang baru siuman lalu menangis sesenggukan ditemani Priyambada. Ia sedih melihat kemunculan anaknya, Karna. Sebagai ibu hatinya teriris melihat anak yang telah diterlantarkanya.
“Aku harus menyentuh rambutnya, aku harus mengganti kasih sayang yang selama ini tidak pernah didapatkanya sebagai anak. Aku harus menemui Karna,” begitu ratapan Kunti dengan bercucuran air mata.
Priyamwada mengingatkan. Kunti harus memahami perasaan anak-anaknya dan juga kehormatannya. “Tuan putri dan anak-anak tidak akan dihormati lagi jika semua tahu bahwa tuan putri melahirkan sebelum menikah. Semua orang tahu bahwa tuan putri hanya memiliki lima anak, yaitu pandawa,” kata Priyamwada mengingatkan Kunti dan ia pun bungkam.
Karna adalah simbol sebuah perjuangan. Ia adalah pemberontak yang menentang diskriminasi. Karna menantang arus dan penindasan dengan bingkai kasta. Hidupnya dibaktikan untuk membuktikan bahwa semua orang berhak untuk diakui karena kemampuan dan kerja kerasnya, bukan karena kasta dan garis keturunannya.
Karna, si anak yang terbuang juga memiliki sifat-sifat kompleks. Ia sangat yakin akan kemampuanya sehingga cenderung over pede, angkuh. Namun, Karna terkenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Karna juga selalu menepati janjinya, meski bertentangan dengan hati kecilnya. 

Radheya dan Kutukan Kelahiran


Semakin aku mengenalmu, semakin aku terobsesi padamu

Radheya (nama lain Karna. Yang berarti Putra Radha) baru saja selesai melakukan Surya Sewana (pemujaan terhadap Dewa Matahari) ditepi sungai Gangga. Telah terkenal bahwa setiap selesai melakukan Puja tersebut Radheya akan memberikan anugerah kepada siapapun yang datang dan meminta kepadanya.
Saat berbalik Radheya melihat Seorang wanita duduk berteduh dibawah pohon, diapun menghampiri lalu membungkuk hormat. Dia adalah Dewi Kunti, Ibu para Pandawa.
“Salam Ibu.. apa yang ibu minta? Radheya menunggu perintahmu”
Kunti hanya memandangnya dengan tatapan sedih, terkenang kembali saat dia membuang Radheya begitu lahir dengan menghanyutkannya di sungai Gangga.
“Aku kesini bukan untuk meminta anugerahmu, aku hanya ingin bertanya tidakkah kau mengenal siapa aku?”
Radheya menatap wanita didepannya, mencoba mengingat ingat lalu sesuatu pun terlintas dalam pikirannya. Dadanya pun berdebar.
“Ini aneh, aku tidak tahu siapa dirimu, tapi aku merasa telah lama mengenalmu. Engkau seperti wanita yang selalu hadir dalam mimpiku”
“Maukah kau duduk disampingku, dan menceritakannya padaku?”
Radheya mendekat dan duduk disamping Kunti.
“Ini aneh, selama ini aku tidak pernah menceritakan tentang mimpiku ini kepada siapapun bahkan kepada ibuku Radha. Tapi kenapa sekarang aku ingin menceritakan kepadamu”
Aku adalah Radheya, putra Radha. Ayahku Adhirata, kusir sang raja. Tapi aku bukanlah anak ibuku. Ayahku memungutku dari Sungai Gangga dalam kotak kayu waktu aku kecil.
Semasa kecil aku selalu bermimpi, seorang wanita cantik yang berpakaian layaknya Putri Raja datang padaku. Dia selalu menangis dan sedih.
Dalam mimpi aku bertanya “Siapa engkau? Mengapa kau menangis?”
Wanita itu selalu menjawab ”Aku menangis dan sedih karena aku melakukan ketidakadilan ini padamu”
Ketika aku bertanya ”Mengapa Ibu, mengapa kau lakukan ini padaku ?
Dia diam membisu. Hanya air mata yang menjawab semua pertanyaanku. Lalu wanita itu akan menghilang dari pandanganku seberapa keras pun aku memanggilnya.
Mimpi yang sama selalu terulang berkali-kali. Sampai aku remaja mimpi itu mulai berkurang. Wanita itu semakin jarang menemuiku dalam mimpi, dan sampai sekarang dia tak pernah lagi muncul. Mungkin karena dia mulai lupa denganku atau karena dia sudah punya anak yang lain
“Kau salah anakku, wanita itu tidak pernah dan tidak akan bisa melupakanmu. Meski dia sudah punya anak yang lain.”
“Mengapa kau begitu yakin Ibu, seolah kau tahu dan mengenal wanita dalam mimpiku?”
Dada Radheya semakin berdebar. Semakin lama dia memandang wanita itu, semakin dia yakin kalau wanita dihadapannya adalah wanita yang hadir dalam mimpinya.
Kunti pun menangis.
“Aku tahu siapa wanita dalam mimpimu, karena akulah wanita itu. Aku adalah Kunti wanita yang melahirkanmu.”
Kunti mencurahkan air matanya, perasaan yang dipendam selama puluhan tahun seakan ingin dia tumpahkan semua saat ini. Radheya diam mematung.

………….

“Aku sudah tahu bahwa kau adalah ibuku. Bahwa Radheya sebenarnya Putra Kunti dan Surya (Dewa Matahari). Tapi mengapa baru sekarang kau datang padaku?”
“Bagaimana kau tahu aku adalah ibumu dan Surya adalah ayahmu?”
“Kemarin Khrisna dating dan memberitahu jati diriku yang sebenarnya. Tapi sudahlah Ibu janganlah kita membicarakan hal yang berlalu. Hari ini aku begitu bahagia karena Ibu telah datang menemui aku. Jadi jangan berkata apa-apa lagi,”
Keduanya berpelukan dan menangis bersama, melepas kerinduan mereka selama ini. Radheya merebahkan kepalanya di pangkuan Kunti, dengan lembut Kunti membelai rambut putranya yang ”Hilang”, mereka larut untuk sesaat dalam hening.
Beberapa saat berlalu, Radheya pun bangkit
“Terima kasih, Ibu telah memberikan saat-saat yang paling suci dalam hidupku. Kini perintahlah Radheya,”
“Tidak anakku, Ibu tidak memberimu perintah tapi Ibu akan memintamu melakukan sesuatu,”
“Katakanlah Ibu apa yang harus aku lakukan?”
“Ikutlah bersama Ibu ke Pandawa. Mereka adalah saudaramu, ibu akan memberi tahu Yudhistira bahwa kau adalah Putra tertuaku. Hilangkan kebencianmu selama ini kepada Arjuna, berperanglah di pihak Pandawa. Dunia akan melihat engkau bersatu kembali dengan saudara saudaramu. mereka akan melihat dirimu bersatu dengan Arjuna. Didunia ini siapa yang bisa mengalahkan Kalian berdua? Kalian akan Jaya seperti Khrisna-Balarama. Menangkan perang ini, lalu perintahlah seluruh dunia. Karena kaulah Pewaris Tahta Kerajaan. Yudhisthira akan menjadi Yuvaraja (Putra mahkota) dan memegang payung kebesaranmu, Arjuna akan menjadi kusirmu, Bhima akan menjadi kepala Pengawal, sedangkan si kembar akan selalu setia melayanimu.”

…………..

“Ibu, ibu telah merenggut segala hak kelahiranku sebagai ksatria dengan melemparkan aku, bayi yang tidak berdaya ke sungai. Mengapa sekarang engkau bicara tentang tugasku sebagai ksatria? Engkau tidak pernah mencintaiku dengan cinta ibu yang merupakan hak setiap anak yang terlahir di dunia. Induk binatang saja tak pernah membuang anaknya, mengapa engkau membuangku ?”
“Sekarang, ketika engkau mencemaskan nasib anak-anakmu yang lain, kau ceritakan semua ini kepadaku. Apabila sekarang aku menghindari kewajibanku, berarti aku akan menyakiti diriku lebih parah dari apa yang dapat dilakukan musuhku terhadap diriku. Seandainya sekarang aku menggabungkan diri dengan Pandawa, bukankah dunia akan mengutukku sebagai pengecut ?”
“Dunia mengenalku sebagai Sutaputra, nama ini menodai kelahiranku yang sebenarnya. Saat menginjak remaja kau tahu aku bertanya pada Ibuku Radha, Ibu mengapa aku ingin sekali menjadi seorang pemanah bukan menjadi kusir kereta seperti ayah ?”
Saat itu lah aku tahu bahwa Ibuku Radha bukanlah ibuku, namun cinta kasihnya melebihi cinta kasih seorang ibu kepadaku. Karena itu aku bangga dengan nama Radheya, nama yang akan aku bawa sampai mati. Lalu aku pun berkelana, untuk menuntut ilmu memanah. Kau tahu pa yang aku alami? Tidak ada seorangpun yang mau mengajariku karena ketidakjelasan kelahiranku.
Drona menolakku karena aku adalah seorang ’Sutaputra’, nama yang melekat dan menyakiti hatiku. Ini semua karena ketidakadilan mu padaku ”
Kemudian aku menghadap Bhargawa (Parasurama) beliau mau mengajariku karena aku mengaku sebagai Brahmana. Tetapi ketika Beliau tahu aku bukan seorang Brahmana beliau mengutukku bahwa aku akan melupakan Mantra dari ilmuku disaat paling genting.
Disamping itu seorang Brahmana mengutukku bahwa roda keretaku akan terbenam dan aku akan terbunuh pada saat aku tidak siap, seperti hal nya sapi Brahmana itu yang aku bunuh.
Lalu aku kembali ke Hastina, saat itu adalah waktu Perlombaan ketangkasan Para Pangeran Hastina. Jiwa Pemanahku bergolak melihat kesombongan Arjuna yang bangga akan keahliannya. Akupun menantangnya lalu semua orang tahu bahwa aku hanyalah seorang putra kusir, mereka menghina dan mencemoohkan aku terutama Bhima mu yang tersayang. Mereka menilai aku bukanlah lawan yang pantas bagi Arjuna.

Saat itulah Duryodhana datang padaku, mengakui aku sebagai sahabatnya dan mengangkatku sebagai Raja Angga. Duryodhana lah orang yang mengangkat derajatku saat semua orang merendahkan ku. Dia hanya meminta hatiku sebagai balasannya, dan mulai saat itu hatiku milik sang Raja, Majikan sekaligus sahabatku Pangeran Duryodhana. Ibu Tidakkah kau mengenalku saat itu? aku yakin kau pasti mengenalku dari Kavaca (Baju Pelindung) dan kundala (anting-anting) yang kukenakan. Namun dengan alasan yang kau ketahui sendiri saat itu Ibu diam membisu. Namun mengapa sekarang kau datang padaku.
“Selama ini aku dihidupi oleh anak-anak Drestarastra. Aku dipercaya oleh mereka sebagai sekutu yang setia. Aku berhutang budi pada mereka. Semua harta dan kehormatan yang kumiliki kuperoleh dari mereka. Sekarang, ketika perang akan meletus dan aku harus membela Kurawa, engkau menghendaki agar aku mengkhianati Kurawa, menyeberang ke pihak Pandawa. Ibu, mengapa kau minta aku mengkhianati garam yang telah kumakan?”
“Anak-anak Drestarastra memandang aku sebagai jaminan kemenangan mereka dalam peperangan yang akan datang. Katakan, adakah yang lebih hina daripada mengkhianati orang yang telah menolong kita? Katakan, adakah yang lebih hina daripada orang yang tak tahu membalas budi? Ibuku tercinta, aku harus membayar hutangku, bila perlu dengan nyawaku.
Kalau tidak, aku ini ibarat perampok yang hidup dari hasil curian dan rampasan selama bertahun-tahun. Tentu aku akan menggunakan segala kekuatanku untuk melawan anak-anakmu dalam perang nanti. Aku tidak akan mengkhianati siapapun. Aku tidak akan menipu engkau dan diriku sendiri. Ampunilah aku”, kata Karna dengan lembut tetapi tegas.
Di Dunia ini hanya ada dua cinta terpenting bagi Radheya, cintaku kepada Ibuku Radha dan cintaku kepada sahabat sejatiku Duryodhana.
Aku tidak pernah dan tidak berani berpikir akan ada cinta yang lebih agung datang dalam kehidupanku.
Aku tidak bisa meninggalkan Duryodhana untuk bergabung dengan saudara saudaraku yang baru aku temukan sesuai dengan permintaanmu ibu”
“Mengapa anakku?”
“Ibu ,Aku terikat jalinan jutaan untai benang dengan Sahabatku Duryodhana, satu satunya orang di dunia ini yang menjadikan aku sahabatnya tanpa peduli aku seorang Sutaputra. Bergantung padaku, dia telah memulai perang ini. Dunia mengenalku sebagai sahabat sang raja. Duryodhana malah ingin berbagi singgasana yang sama denganku, aku tidak bisa memungkiri kebahagiaanku melewati hari-hari bersama sang pangeran.
Namun kini Ibu datang padaku dengan cinta yang membuat temaram cinta yang aku tahu selama ini.”
“Aku akan tetap berada disamping Duryodhana untuk melunasi hutangku, hutang cinta dan terima kasih adalah hutang yang sangat sulit untuk dibayar. Katakanlah ibu, begitu agungkah cinta seorang Ibu hingga membuat aku begitu bimbang, tapi Radheya tidak akan merubah pendiriannya? Sekarang janganlah berkata apa-apa lagi aku tidak ingin menyakitimu dengan kata-kataku ”
Radheya menutup kedua matanya dan menangis. Kunti tertunduk lemas air matanya bercucuran tak terhingga. Mereka kembali berpelukan dalam tangis.
Sesaat kemudian Radheya melepaskan pelukannya
“Ibu tangisan ini tidak baik untukku. Seorang Ibu hanya boleh menangisi anaknya yang sudah mati. Aku akan tetap bersama sahabatku dan aku tahu akhir hidupku. Aku tahu bahwa kami semua yang berpihak pada Duryodhana akan dikirim ke alam Yama (kematian) kami akan kalah, aku tahu itu Ibu.”
“Ibu Restuilah aku berikan aku anugerah :
Bahwa namaku akan di ingat sepanjang manusia masih hidup di dunia ini, kemahsyuran ku akan abadi sepanjang sejarah”
Dengan Hati yang hancur lebur Kunti merestui permintaan putranya.
“Terimakasih ibu, namun ini tidaklah benar, biasanya akulah yang memberikan anugerah kepada orang-orang yang datang padaku setelah aku selesai memuja Ayahku. Kini aku akan memberimu anugerah yang setara dengan permintaanmu sesuai dengan kemampuanku. Engkau menginginkan hatiku, tapi hatiku bukan miliku, hatiku milik sahabatku Duryodhana.”
”Engkau akan tetap memiliki lima Putera, Yudhistira, Bhima, Nakula dan Sahadeva tidak akan aku bunuh dalam perang. Mereka tidak akan mati ditanganku. Sedangkan Arjuna, pertarungan diantara kami harus terjadi. Itulah satu-satunya caraku untuk melunasi hutang kepada sahabatku Duryodhana. Namun bagaimana pun hasilnya kau akan tetap punya lima Putera. Dengan Aku tanpa Arjuna, ataupun Arjuna tanpa Radheya, itulah anugerahku ”
Radheya menghela nafas panjang, dengan tatapan sedih Kunti memandangnya.
“Tapi ibu aku tahu, Arjuna akan tetap bersamamu, dibawah lindungan Khrisna, Pandawa akan aman seperti bayi dalam rahim ibunya. Mereka akan selamat melewati perang besar ini.”
“Tapi ibu aku tahu, Arjuna akan tetap bersamamu. Dibawah lindungan Khrisna, Pandawa akan aman seperti bayi dalam rahim ibunya. Dengan kutukan dari Bhargawa Parasurama, Brahmana, dan Dewa Indra yang telah meminta Kavaca (Baju pelindung) dan Kundala (anting-anting) yang akan melindungiku dari kematian, bagaimana aku bisa selamat dari perang?”
Kini mata Radheya terang tanpa airmata,
“Ibu janganlah sedih, apa yang sudah digariskan oleh Para Dewa tidak ada yang bisa merubahnya, tidak juga cintamu yang agung. Aku harus bertarung dengan Arjuna dan aku akan mati ditangannya.”
“Sekarang pulanglah Ibuku sayang, jangan sampai ada orang yang melihat kau datang menemui aku. Biarlah dunia tetap menganggapku ”Sutaputra”, tapi dirimu dan aku tahu bahwa Radheya adalah putera Kunti dan Surya. Biarlah rahasia kelahiranku lenyap bersama kematianku ”
Tubuh Kunti begitu lemas, Radheya berkali-kali harus memapahnya, Dia telah kehilangan puteranya selama ini dan setelah menemui Radheya dia semakin kehilangan.

Karna, Permata Yang Dibuang


Aku membaca kisahmu, dan aku mulai mengagumimu.

Ia dilahirkan karena keisengan Kunti, mencoba mantra Adityahredaya saat menatap matahari pagi. Betara Surya datang dan memberinya bayi laki-laki berbaju besi menyilaukan dan sepasang anting dan kalung. Ia tak bisa menolak anugerah itu, pun tak bisa mempertahankannya.
Bagian paling tragis dari kelahiran Karna adalah karena tak ada yang mempertahankan kehadirannya. Tidak juga Kunti, yang demi harga diri dan kehormatan, menjadi ibu yang tega melarung anak laki-laki pertamanya di sungai.
Karna seumur hidup menyebut diri Radheya. Ia yang dipungut pasangan sais kereta Adirata dan Radha selamanya merasa berutang budi pada pasangan yang menyelamatkan hidupnya itu. Bahkan ketika Kunti mendatanginya bertahun-tahun kemudian. Ia menolak cap Kunteya, meski itu adalah kenyataan darah.
Tapi bakti tetap ia bagi pada sang ibu kandung. Karna berjanji tak akan membunuh para Pandawa, kecuali Arjuna. Karena perang antara keduanya harus terjadi. Bagi Karna, Kunti dapat tetap memiliki 5 anak. Dimana anak ke-5 ini adalah salah satu diantara ia atau Arjuna. Yang tersembunyi dari sumpah ini adalah bahwa sesungguhnya Karna sendiri yakin dirinya akan mati dalam perang baratayudha.
Kisah Karna yang tragis adalah hasil dari pertemuan maupun persimpangan antara berbagai sifat buruk, kesialan, tipu muslihat, waktu dan tempat yang tak tepat. Karna adalah ksatria yang hidup sebagai sudra, brahmana, namun tak pernah sepenuhnya menjadi bagian kaum yang ia perankan.

Seumur hidupnya, Karna adalah sosok yang lain dan terus dipersalahkan. Ia adalah ksatria yang sudra, ksatria yang brahmana, kakak Pandawa yang Kurawa, ia putra Kunti yang Radheya.
Seolah belum cukup, Karna mendapatkan tiga kutukan dalam hidupnya, yang ia peroleh pada waktu yang berbeda-beda. Namun kutukan itu menjadi kenyataan pada saat yang bersamaan. Ketika ia harus berhadapan dengan Arjuna.
Bahkan alam semesta pun seolah menghukumnya pada saat yang bersamaan. Terlahir dan dibuang, ditolak Drona atas alasan darah, mengalami penghinaan demi penghinaan oleh Drupadi, Arjuna serta Bimasena karena berasal dari kasta sudra.
Kemarahan yang membara atas kutukan kelahirannya sungguh berlawanan dengan kedermawanannya yang tanpa pamrih. Bahkan ketika Batara Indra menyamar menjadi brahmana tua, meminta baju besi yang melekat di badannya, ia pun memberikannya, meskipun tahu ini hanya sebuah muslihat.
Dikisahkan, Karna bergabung dengan para Pandawa di Swargaloka setelah Bharatayudha di Kurusetra. Apakah itu sebanding dengan nista yang telah dihadiahkan, justru oleh orang-orang terdekatnya?

Kamis, 10 April 2014

VIOLET YANG AMBISIUS by Kahlil Gibran


Dahulu kala, hiduplah setangkai bunga violet yang indah serta harum dengan tenang di antara teman-temannya di sebuah kebun. Suatu pagi, ketika mahkotanya dihiasi bintik-bintik embun, ia mengangkat kepalanya dan melihat ke sekelilingnya. Ia melihat setangkai bunga mawar yang jangkung dan indah, berdiri bangga serta menjulur ke tempat yang tinggi, seperti obor yang menyala-nyala di atas pelita emerald.
Sang violet membuka bibirnya yang biru dan berkata, "Betapa malangnya aku di antara bunga-bunga ini, dan betapa rendahnya posisiku dihadapan mereka! Alam telah merancangku pendek dan miskin...Aku hidup sangat dekat dengan tanah dan aku tak dapat menaikkan kepalaku ke langit biru, atau memalingkan wajahku ke matahari, seperti bunga-bunga mawar itu".
Dan bunga mawar itu mendengar kata-kata sesamanya itu; ia tertawa dan berkomentar , "Betapa aneh perkataanmu itu! Engkau beruntung, tetapi engkau tidak memahami keberuntunganmu. Alam telah menganugerahimu keharuman serta keindahan yang tidak dianugerahkannya kepada yang lain... Buanglah pikiran-pikiranmu itu dan cukupkanlah dirimu, dan ingatlah bahwa dia yang merendahkan dirinya akan ditinggikan, dan dia yang meninggikan dirinya akan dihancurkan".
Sang violet menjawab,"Engkau menghiburku sebab memiliki apa yang kudambakan... Engkau ingin membuatku sakit hati dengan makna bahwa engkau hebat... Betapa menyakitkan khotbah yang beruntung kepada hati yang nelangsa! Dan betapa kejam yang kuat ketika menjadi penasihat diantara yang lemah!"

Alam mendengar percakapan antara violet dengan mawar. Ia mendekat dan berkata, "Apakah yang terjadi padamu, anakku violet? Selama ini engkau rendah hati dan manis dalam segala perbuatan dan kata-katamu. Apakah ketamakan telah merasuk hatimu dan mengebaskan inderamu?"
Dengan suara memelas, sang violet menjawab, "Oh ibu yang agung serta penuh belas kasih, penuh kasih dan simpati, kumohon kepadamu, dengan segenap hati dan jiwaku, agar menganuhgerahkan permohonanku dan membiarkan aku menjadi bunga mawar suatu hari nanti".
Alam menjawab, "Engkau tidak tahu apa yang engkau minta; engkau tidak sadar akan rencana tersembunyi di balik ambisi butamu itu. Seandainya engkau menjadi bunga mawar, engkau akan menyesal, dan pertobatanmu akan sia-sia".
Sang violet bersikeras, "Ubahlah aku menjadi bunga mawar yang tinggi, sebab aku ingin mengangkat kepalaku tinggi-tinggi dengan bangga; dan terlepas bagaimana nanti nasibku, itu adalah risikoku".
Alampun mengalah, dan mengatakan, " Baiklah violet yang tidak tahu dan pemberontak, akan kupenuhi permintaanmu. Tetapi kalau bencana menimpamu, mengeluhlah kepada dirimu sendiri".
Alampun mengulurkan jari-jemarinya yang misterius dan ajaib dan menyentuh akar-akar bunga violet itu, yang seketika itu juga berubah menjadi mawar yang jangkung, tinggi di atas bunga-bunga lainnya di kebun itu.
Menjelang malam langit menjadi tebal dengan awan-awan hitam, dan unsur-unsur yang mengamuk mengganggu keheningan keberadaan dengan gunturnya, dan mulai menyerang kebun itu, mengirimkan hujan lebat dan angin kencang.
Badai itu mencabik dahan-dahan dan mencabut akar-akarnya serta mematahkan akar bunga-bunga yang tinggi, membiarkan hanya bunga-bunga kecil yang tumbuh dekat bumi yang ramah. Kebun itupun sangat menderita dari langit yang mengamuk.
Ketika badai menjadi tenang dan langit cerah kembali, semua bunga rebah dan tak ada satupun yang terluput dari murka alam selain violet-violet yang kecil, yang bersembunyi dekat dinding kebun itu.
Setelah mengangkat kepalanya dan menyaksikan tragedi yang dialami bunga-bunga serta pepohonan di sana, salah satu gadis violet itu tersenyum senang dan berseru kepada teman-temannya, "lihatlah apa yang telah diperbuat badai terhadap bunga-bunga yang sombong!" Setangkai violet lainnya berkata, " Kita kecil dan hidup dekat dengan tanah, tetapi kita aman dari murka langit". Dan yang ketiga menambahkan,"Sebab kita tidak jangkung, badai tak dapat menaklukkan kita".
Ketika itu ratu violet melihat di sebelahnya violet yang telah diubah, rebah ke rumput yang basah oleh badai seperti prajurit yang lunglai di medan pertempuran. Sang ratu violet mengangkat kepalanya dan berseru kepada keluarganya, " Lihatlah, anak-anakku, dan renungkanlah apa yang telah diperbuat ketamakan terhadap violet yang telah menjadi mawar yang sombong selama satu jam. Biarlah kenangan pemandangan ini menjadi pengingat akan keberuntungan kalian yang baik."
Mawar yang sekarat itu mengerahkan sisa-sisa kekuatannya dan berkata, " Dasar kalian bunga-bunga penurut yang bodoh; aku tidak pernah takut terhadap badai. Kemarinpun aku pasrah dan mencukupkan diri dengan Kehidupan, tetapi kecukupan diri telah menjadi penghalang di antara keberadaanku dengan badai kehidupan, mengurungku dalam kedamaian serta ketenteraman pikiran yang pesakitan serta malas.”
“Aku bisa saja hidup seperti kalian sekarang ini dengan berpegang ketakutan kepada bumi... Aku bisa saja menantikan musim dingin menutupiku dengan salju dan mengirimkanku kepada maut, yang tentu akan memangsa semua violet... Aku bahagia sekarang sebab aku telah keluar dari duniaku yang kecil, ke dalam misteri alam semesta ... sesuatu yang belum pernah kalian lakukan.”
“Aku bisa saja melupakan ketamakan, yang sifatnya lebih tinggi daripadaku, tetapi ketika kudengarkan keheningan malam, aku dengar dunia sorgawi berbicara kepada dunia bumi ini, Ambisi di luar keberadaan itu merupakan maksud penting dari keberadaan kita. Ketika itulah rohku memberontak dan hatiku merindukan posisi yang lebih tinggi daripada keberadaanku yang terbatas.”
“Aku sadar bahwa jurang tak berdasar tak dapat mendengar nyanyian bintang-bintang, dan ketika itulah aku mulai melawan kekerdilanku dan mendambakan apa yang bukan kepunyaanku, hingga pemberontakanku berubah menjadi kekuatan besar, dan dambaanku menjadi kehendak yang tercipta... Alam, yang adalah objek besar dari mimpi-mimpi  kita yang lebih mendalam, menganugerahi permintaanku dan mengubahku menjadi bunga mawar dengan jari-jemarinya yang ajaib".
Bunga mawar itu terdiam sejenak, dan dengan suara yang semakin lemah, berbaur dengan kebanggan serta prestasi, ia berkata, " Aku telah hidup satu jam sebagai bunga mawar yang bangga; aku sempat menjadi ratu; aku telah melihat Alam Semesta dari balik mata setangkai mawar; aku telah medengar bisikan langit lewat telinga mawar dan menyentuh lipatan-lipatan pakaian terang dengan daun-daun bunga mawar. Adakah disini yang dapat mengklaim kehormatan seperti itu?"
Setelah berkata demikian, ia tundukkan kepalanya, dan dengan suara tercekik ia melanjutkan, " Sekarang aku akan mati, sebab jiwaku telah mencapai sasarannya. Akhirnya aku telah memperluas pengetahuanku ke dunia di luar goa kelahiranku yang sempit. Inilah rancangan Kehidupan... Inilah rahasia Keberadaan".
Lalu bunga mawar ini gemetar, perlahan-lahan melipat daun-daun bunganya, dan menghembuskan nafasnya yang terakhir  dengan senyum sorgawi di bibirnya... senyum kepenuhan pengharapan serta maksud dalam kehidupan... senyum kemenangan... senyum Ilahi.

Jumat, 22 November 2013

Desa Batokaban, Kec Konang, Kab Bangkalan


DATA DESA
Nama Desa                 : Desa Batokaban, Kec Konang, Kab Bangkalan
Nama Kades               : Muhammad Hajar
Ketua BPD                 : Darwis
Sekdes                         : Liman Carik
Pamong Desa              : Liman Pettong
Jumlah Penduduk       : 6000 Jiwa
Jumlah KK                  : 2000 KK
Batas Desa                 
·                     Barat               : Desa Debung, Kec Geger
·                     Timur               : Desa Durin Timur Kec Konang
·                     Utara               : Desa Durin Barat, Desa Kanegarah Kec Konang
·                     Selatan             : Desa Lembung, Desa Ampara’an Kec Kokop
Jumlah Dusun 4
·                     Dusun Paser                : Kasun Muhammad Ramli
·                     Dusun Manggala         : Kasun Syaru’din
·                     Dusun Sok-Sok           : Kasun Muhammad Fahri
·                     Dusun Prenduan         : Kasun Farid
Potensi Lahan
Pertanian         : Padi, jagung, ubi-ubian dan beberapa buah tropis seperti kelapa, mangga, jambu biji, dan pisang. Setahun terakhir tengah diuji cobakan perkebunan tebu.
Perkebunan     : Mayoritas jati, mahoni, trembesi, dan bambu. Tapi masih sebatas tanaman liar yang ditanam untuk mengisi lahan kosong.

Desa Batokaban, Kec Konang, Kab Bangkalan
TERTINGGAL, DESA NOL PEMBANGUNAN
“Jika di kota setiap Bulan Agustus mengibarkan bendera merah putih dan melakukan upacara. Disini tidak perlu mengibarkan merah putih, karena kami belum merdeka,” Itulah satu dari keluhan yang terdengar ketika mengunjungi salah satu desa di Kabupaten ujung paling barat pulau Madura yang berbatasan langsung dengan ibukota Jatim, Kota Surabaya. Tepatnya Desa Batokaban, Kec Konang, Kab Bangkalan. Seperti apakah kondisinya?
Desa Batokaban bisa ditempuh dengan satu jam perjalanan motor dari arah timur (belok kanan) perempatan Jembatan Suramadu.  Melintasi tiga kecamatan yakni Kecamatan Tanah Merah, Kecamatan Geger, dan Kecamatan Blega.
Di siang hari, terik matahari yang serasa membakar ubun-ubun bukan lagi hal baru. Ditambah kemudian jalanan aspal yang sudah mulai mencuat disana-sini seolah memberi peringatan bagi para pengguna jalan agar jangan sekalipun bermain kebut-kebutan di jalan ini. Beruntung jika hanya terperosok ke sawah atau ladang milik warga. Jalan berkelok yang terjal bisa jadi ancaman tersendiri jika harus beradu badan dengan kendaraan lain.
.
Memasuki Desa Batokaban atmosfer yang berbeda mulai tercium sepanjang perjalanan. Meskipun Batokaban seperti pada umumnya desa-desa di Kecamatan Konang. Dominasi lahan pertanian dan perkebunan, pemukiman dengan jarak yang masih jarang, wilayah lembah, perbukitan, dan beberapa jalan berbatu yang akan sangat licin jika musim hujan (kontur tanah liat).
Desa Batokaban di sebelah timur berbatasan langsung dengan Desa Durin Timur yang masih merupakan daerah Kec Konang. Di sebelah barat   terdapat Desa Debung, Kec Geger. Sebelah utara merupakan Desa Durin Barat, Desa Kanegarah yang juga wilayah Kec Konang. Sedangkan di sebelah Selatan terdapat Desa Lembung dan Desa Ampara’an, Kec Kokop
Hal yang paling dominan yang akan terasa bagi pendatang adalah sulitnya akses keluar masuk bagi kendaraan. Satu-satunya alat transportasi yang kerap dipakai warga adalah sepeda motor. Mengingat jalan utama desa yang kecil, sangat sulit untuk dilalui oleh kendaraan besar. Jika pun terpaksa menggunakan kendaraan besar, harus memutar dulu dari arah barat Kec Tanah Merah yang sebagian telah beraspal dan beberapa titik telah di makadam secara manual.
“Kalau untuk jalan sebenarnya kita dapat bantuan dari PNPM Mandiri, tapi itu tidak maksimal. Sebatas satu sampai satu setengah kilometer. Sementara Batokaban ini luas,” ungkap Liman, Sekretaris Desa Batokaban.
Sejauh ini, titik pengaspalan jalan di Desa Batokaban memang masih jauh dari cukup. Dari empat dusun yang dimiliki, baru sebagian kecil dari Dusun Sok-Sok yang memiliki jalan beraspal. Ini tidak lain karena di dusun ini terdapat beberapa pusat pendidikan seperti SDN Batokaban 2, RA Al Aziziyah, MI dan MTS Al Ikhlas, dan beberapa tempat pendidikan lain. Beberapa ruas jalan di Dusun Manggala yang berjajar dengan Dusun Sok-Sok baru nampak sisa makadam yang juga mulai rusak.
Terkendala SDM
Desa Batokaban, yang berdasarkan penuturan Sekdes memiliki penduduk sebanyak kurang lebih 6000 jiwa dengan sekitar 2000 Kepala Keluarga. Jumlah yang besar, tapi suasana di desa ini nampak lengang. Hal ini disebabkan sebagian besar penduduk memilih menjadi perantauan ke luar kota bahkan keluar negeri. Jumlahnya mencengangkan, yakni sekitar 70 persen.
Penghasilan dari hasil pertanian yang tidak bisa diharapkan, menjadi salah satu alasan kuat bagi para muda-mudi untuk menghadapi realitas tersebut secara pragmatis. Para pemudanya akan lebih memilih merantau. Begitupun dengan para gadis yang telah beranjak dewasa akan memilih bekerja atau menikah muda.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan juga masih sangat minim. Bisa menemukan lulusan sekolah menengah merupakah hal yang luar biasa disini. Keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas paling tinggi akan mengirim putra-putrinya ke pesantren selepas lulus dari Sekolah dasar atau Sekolah Menengah Pertama. Beruntung jika saat berada di Pesantren mereka dapat mengenyam pendidikan Menengah Atas. Selepas itu, secara tidak langsung para muda-mudi ini dituntut oleh keadaan untuk segera memiliki penghasilan (bekerja).
Salah seorang Ustadz (Panggilan khusus bagi pemuda yang mengajar ngaji) mengiyakan keadaan tersebut. Menurutnya, semakin tahun dirasakannya Batokaban semakin sepi. Kader-kader muda yang diharapkannya bisa menemaninya melakukan perubahan justru pergi dan tidak bisa lagi diharapkan kedatangannya. Terlebih ketika para tetua yang semakin hari juga dirasakannya semakin berkurang.
“Kalau bicara mengenai perubahan, ya sulit. Lha wong yang mau diajak berubah aklarkaran kaloar kabbih, (Bertebaran pergi, red)” ujar Ustadz bernama Ma’ruf ini.
Pemuda berumur 27 tahun ini bisa dikatakan satu dari kalangan yang beruntung. Pasalnya, terlahir dari keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan (Keturunan Kyai Sepuh Desa Batokaban), Ma’ruf juga berkesempatan mengenyam pendidikan S1 melalui beasiswa guru madin yang digulirkan oleh Pemerintah Provinsi beberapa waktu lalu. (hay)


TERTINGGAL DI SEMUA LINI
Dalam berbagai kesempatan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini menyatakan bahwa Pulau Madura akan bebas dari status daerah tertinggal pada tahun 2014. Di Indonesia, ada 183 kabupaten yang masuk kategori daerah tertinggal dengan tiga diantaranya berada di Madura  yakni Pamekasan, Sampang dan Kabupaten Bangkalan.
Beberapa ketentuan sebuah daerah masuk dalam kategori tertinggal, seperti tingginya angka buta huruf dan anak putus sekolah, pendapatan perkapita masih rendah, ketersediaan air bersih kurang, serta aliran listrik yang belum merata.
Merujuk pada berbagai kategori tersebut maka bukan hal yang berlebihan jika dikatakan Desa Batokaban, satu diantara desa-desa tertinggal tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Liman, bahwa berbicara mengenai pembangunan Desa Batokaban ibarat membenahi gubuk reyot. Bukan dengan menambal di sana-sini, melainkan merombak total.

Namun jika harus memilih skala prioritas, Liman mengutamakan untuk perbaikan akses jalan dan jembatan penghubung per dusun. Akses jalan menjadi prioritas karena menurutnya hal itu sedikit banyak mempengaruhi sebagian besar kegiatan sehari-hari warga. Jika akses jalan memadai, bukan tidak mungkin pembangunan desa akan semakin mudah pula begitu harapnya.
Jembatan penghubung antar dusun menurutnya menjadi sangat penting ketika menghadapi musim penghujan dimana sebagian besar sungai mulai terisi air. Sedangkan hampir setiap dusun di Batokaban terpisah oleh aliran sungai, yang akan dengan otomatis menjadi jalan lapang saat musim hujan karena airnya mengering.
“Selama ini kan bukan tidak ada pembangunan tapi ya itu, sulitnya akses jalan menjadikan pembangunan itu terhenti. Misal mau bangun rumah atau jalan. Untuk mengangkut material saja kita harus menunggu musim kemarau karena kalau musim hujan jalan tidak akan bisa dilewati oleh kendaraan karena becek dan rawan longsor,” ungkap Sekdes yang telah menjabat selama 13 tahun ini.
Namun di musim kemarau masalah lain yang juga mengganjal adalah keterbatasan sumber air. Hal ini juga kemudian menjadikan aktifitas pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat terhenti. Di musin kemarau hampir dipastikan seluruh sungai yang ada di Desa Batokaban pun ikut mengering. Kalau pun ada yang masih bisa digunakan, itupun dengan kodisi yang memprihatinkan. Debit air yang sedikit, jauh, kurang bersih, dan masih harus berantrian dengan banyak orang.
Pada musim ini hanya nampak beberapa tanaman tropis yang tidak membutuhkan perawatan khusus yang masih nampak tertanam di ladang-ladang warga. Beberapa jenis umbi-umbian seperti ketela pohon, kacang, talas.
Tanaman utama seperti Padi dan jagung hanya bisa ditanam pada musim hujan. Kendatipun begitu, Liman menuturkan bahwa masyarakat menyiasatinya dengan menanam secara bersusun. Artinya setelah selesai dipanen langsung ditanami lagi jika dilihat cuaca masih memungkinkan. Jika terpaksa tidak ada hujan, jalan satu-satunya adalah mendesel atau memikul air dari sisa air di sungai. Sehingga pada musim hujan yang maksimal hanya enam bulan itu petani tetap bisa memanen padi atau jagung sebanyak dua kali.
“Kalau bisa lagi urusan air sebenarnya pengeboran. Kami juga tengah mengusahakan pembangunan waduk, tapi belum bisa dipakai karena waduknya terlanjur kering,” jelas Carik yang memiliki nama yang sama dengan pamong desa yang juga masih kerabatnya tersebut.
Minim Pemberdayaan
 “Kalau semisal ingin mengajukan dana bantuan ke Provinsi bagaimana caranya?” pertanyaan yang cukup menggelitik dari Sekdes paruh baya tersebut. Bersama dengan rokok kreteknya yang tak berhenti mengepul. Pria berkulit gelap itu menuturkan keluh kesahnya.
Sebagai putra daerah yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Desa Batokaban, dirinya sangat ingin melihat tempat kelahirannya ini menjadi lebih maju. Sebagai Sekdes yang telah diberikan kepercayaan penuh oleh masyarakat dan juga kepala desa untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak perihal upaya pembangunan desa, dirinya mengaku nyaris putus asa.
“Karena kalau di Bangkalan (Pemerintah Kabupaten, red) sendiri selama ini sangat sulit, entah karena terlalu banyak antrian atau bagaimana, sehingga lama sekali untuk proses acc. Bahkan kadang pengajuan kita tak pernah mendapatkan respon. Seandainya ada jalan, mungkin akan lebih cepat jika bisa langsung mengajukan ke Provinsi,” ujarnya dengan raut muka penuh harap.
Bantuan alat pertanian semacam traktor, menjadi salah satu mimpinya agar pertanian di Batokaban dengan kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi menjadi lebih optimal. Baik dari segi efisiensi waktu dan tenaga, yang selanjutnya akan memaksimalkan hasil.
“Pertanian disini masih menggunakan sistem tradisional. Membajak menggunakan sapi, sapinya masih harus menyewa sekaligus tenaga pembajaknya dan harus bergantian. Jadi dana yang dikeluarkan juga lebih banyak. Hasilnya juga belum tentu menutup semua biaya itu,” jelas Sekdes yang menggenapkan umurnya pada 28 November tersebut.
Kondisi ini dipertegas dengan banyaknya warga yang menjadi perantauan sehingga dalam kondisi sibuk seperti masa panen, atau hajatan sulit mengajak orang untuk gotong royong. Pilihan terakhir adalah membayar kuli, yang otomatis merogoh kocek lebih dalam.
Terkait fasilitas untuk sarana kesehatan, Desa yang dikatakan paling luas dibanding desa-desa lain disekitarnya itu hanya memiliki satu bidan desa dan mantri yang berada di sebelahnya, yakni Desa Debung, Kec Geger. Beberapa kali dirinya mengajukan penambahan tenaga kesehatan tapi terkendala kondisi yang menyebabkan para bidan tersebut tidak betah dan akhirnya meminta untuk dipindahkan.
Kendatipun dengan segala kekurangan tersebut, ada beberapa hal yang tak luput disyukurinya adalah sudah masuknya aliran listrik ke Desa Batokaban. Meskipun masih menggunakan tiang pancang manual seperti bambu atau kayu, Kedepan telah ada rencana untuk membangun tiang yang lebih permanen.
“Kalau untuk listrik sudah mulai masuk tiang pancangnya dari Desa Durin Timur (batas timur desa). Ke Batokaban tinggal tunggu gilirannya aja, Insyaallah akan segera dipasang,” harapnya.
“Pokok’en mon bede program bantuan dari pemerintah mesti nemmu lebbun ke tokaban. Jek lakar pas tadek sekabbinnah, (Yang jelas, jika ada program bantuan apapun dari pemerintah pasti akan bisa dijalankan di Batokaban. Karena memang disini segalanya masih minim, red)” imbuhnya setengah berkelakar. (hay)

BIODATA SEKDES
Nama                     : Liman
TTL                       : 28 November 1973
Alamat                    : Dusun Manggala, Desa Batokaban Konang Bangkalan
Istri                         : Nima
Anak                       : Muharrom
Jabatan                    : Sekretaris Desa Batokaban
Menjabat Sejak       : Tahun 2000 Pengangkatan PNS tahun 2007, aktif mulai tahun 2009.
Lebih Pamor dari Kades
Menjadi Sekdes di Desa terpencil seperti Batokaban bukanlah sesuatu yang membanggakan. Setidaknya itu yang tersirat dari raut wajah Liman, kala menceritakan kondisi desa tumpah darahnya ini. namun berbekal kepercayaan masyarakat dirinya tetap memilih bertahan menjadi carik.
Liman menyadari minimnya sumber daya yang dimiliki oleh Batokaban menjadi salah satu alasan kenapa hingga saat ini Batokaban masih saja menjadi desa tertinggal. Keterbatasan itu berimbas pada tidak berjalannya birokrasi pemerintahan desa. Struktur pemerintahan desa tidak dijalankan sebagaimana tupoksinya.
 Dirinya juga mengibaratkan bahwa pemerintahan desa masih seperti kerajaan kecil. Kuasa penuh ada di tangan kepala desa. Sehingga kerapkali aparatur desa hanya sekedar perlengkapan yang tidak memiliki fungsinya.
Sebagai putra daerah dirinya paham betul dengan segala seluk beluk mengenai Desa Batokaban. Bahkan bisa dibilang dirinya yang lebih dikenal luas oleh masyarakat dibanding Kepala Desa (Kades) sendiri. Sehingga kendatipun secara struktural dirinya berada dibawah Kades, dalam keadaan genting dan penting justru dirinya yang menjadi tameng, dan pusat penyelesaian.
“Selama ini kalau untuk ke masyarakat sebenarnya tidak mengalami kesulitan karena mereka kan noro’ buntek, (Menurut saja, red). Masyarakat permintaannya itu sederhana, asalkan desa aman, tidak ada maling. Kesulitan justru jika harus menyatukan kemauan dengan kepala desa,” ujar Sekdes yang juga menyayangkan belum adanya kantor desa yang bisa dipakai utuk menjalankan administrasi desa, sebagaimana wewenangnya.

“Sampai saat ini Batokaban tidak memiliki balai desa. Balai desa ya mengikuti rumah kades. Kades ke barat ya ikut ke barat. Ke timur ya ke timur,” imbuhnya menganalogikan. (hay)