Selasa, 23 Juli 2013

This is Love

Jika ada yang bertanya apa itu pengabdian mungkin aku tahu. Aku mengetahuinya lebih lama dari yang bisa orang lain ajarkan. Aku menjalaninya lebih dari yang bisa dilakukan banyak orang. Jika ada yang bertanya tentang pengorbanan. Aku bisa menjawabnya. Aku hidup dengan cara itu lebih dari yang bisa dihadapi oleh orang lain. Aku mencernanya lebih sering dari aku menelan makananku.
Tapi apapun itu, aku menjalaninya biasa saja. Karena hidup ini pada akhirnya akan biasa saja. Gejolak hidup hanya semacam bumbu untuk membuatnya lebih terasa. Meski kadang sedikit pahit getir, asam, manis, asin dan entah apa lagi. Yang jelas perpaduannya akan menciptakan rasa yang sempurna.
Gejolak hidupku dimulai semenjak berakhirnya perayaan pernikahanku. Dimulainya hidup baruku, mengajarkanku hal yang baru pula. Pengabdian baru, pengorbanan baru dan mungkin rasa sakit dan cinta yang baru.
Aku pikir hidupku tak seperti kebanyakan. Aku menikah tanpa mengenal calon suamiku. Tanpa tahu siapa keluarganya. Satu-satunya yang aku tahu mereka adalah karib orang tuaku yang memang telah berikrar untuk mengikat salah satu dari putra putrinya sebagai penyambung silaturrahim.
Tapi tak berarti aku tak bahagia. Aku menjalaninya seperti pada umumnya. Berusaha menjadi istri dan menantu yang terbaik. Sebaik yang aku bisa lakukan. Hidupku terasa sempurna pada awalnya. Mertuaku sangat sempurna sebagai seorang orang tua. Hampir tak ada cela.
“Syifa, kau datang kerumah ini bukan sebagai menantuku tapi sebagai putriku”. Ucap ibu mertuaku sebelum meninggalkan aku dan suamiku di rumah yang akan kami tempati setelah ini.
“iya ibu, mohon doa restunya. Agar aku bisa menjalankan kewajibanku sebagai putrimu”.
“Sebagai Istri Farhan juga tentunya”, Sambung ayah mertuaku. Aku hanya tersipu. Suamiku tak bergeming hanya menoleh sekejab ke arah kami. Kemudian kembali sibuk dengan rokoknya.
***
Selepas kepergian mertuaku aku mulai sibuk berbenah di rumah baru kami. Untung ada bi minah. Pembantu di rumah ibu mertuaku yang sengaja dipekerjakan di rumah kami. Hingga menjelang senja seluruh pekerjaan belum rampung benar. Tapi lumayanlah rumah sudah layak huni. Aku bergegas membersihkan diri untuk menjalankan sholat maghrib. Suamiku pergi semenjak siang tadi dan belum kembali. Aku menunggunya sembari menyiapkan makan malam. Bi minah sudah pulang semenjak sore tadi. Dia memang tidak tinggal, karena masih harus membantu suaminya yang seorang penjual soto.
Jam dinding telah menunjuk angka 11. Tapi Mas Farhan tak jua pulang. Kucoba menelponnya tapi berkali-kali di reject. Sibuk mungkin, pikirku. Aku membereskan meja makan dan menghangatkan sebagian masakan. Barangkali mas Farhan pulang. Kemudian aku pergi mandi karena merasa sedikit gerah. Sesaat ketika hendak keluar dari kamar mandi, ada yang berusaha membuka pintu.
“Mas Farhan???” tanyaku dari dalam sembari memakai pakaian. Kemudian bergegas keluar. Setelah pintu kubuka mas farhan langsung saja masuk dan menutup pintu dengan keras. Aku menggeleng kepala heran.
“mas udah makan?? Biar aku siapin”.
“Aku gak laper!”. Ucapnya tanpa menoleh ke arahku sembari mengganti pakaian dengan baju tidur kemudian masuk lagi ke kamar mandi.
Aku keluar untuk membuatkan minuman untuk Mas Farhan.
Ppyyaaarrrrr , , , , , , , , !!!!
Kudengar sesuatu jatuh di kamar lebih tepatnya pecah. Aku bergegas menuju kamar. Ternyata kaca rias di kamarku pecah lebih tepatnya dipecahkan. Kulihat tangan mas farhan berkucuran darah.
“ya Allah Mas, ini Kenapa??” kuambil tisu untuk menutup lukanya yang berdarah. Mas farhan menarik tangannya dengan keras hingga aku terpental dan terjerembab.
“semua ini karena kau . . . kehadiranmu yang mengacau segalanya”
“maksud mas apa?? Aku gak ngerti” tanyaku sembari berusaha bangun. Baru setengah bangun mas farhan menarik tanganku dan melemparku ke Sofa.
“awww , , , , , ,!! Mas ada apa sebenarnya??” Mas Farhan mencengkeram kedua tanganku
 “jangan banyak bertanya lagi! Karena aku takkan bisa menjawabnya. Kalaupun bisa, semuanya sudah kacau. Dan sekarang biar kutunjukkan kekacauan itu padamu”.
Disinilah untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengutuk kehidupan yang kujalani. Kehidupan yang selama ini kupelajari dari Ibu sebagai Pengabdian.
Ibu, sesakit inikah pengabdian yang harus kujalani. Bukankah semua ini kulakukan sebagai baktiku padamu?? Kenapa begitu sakit??
Batinku menjerit namun tak bersuara. Aku tidak tahu harus menangis ataukah tersenyum. Hanya isak tangis mengiringi perih di sekujur tubuhku. Juga sakit di hatiku yang takkan pernah bisa kupahami.
***
Aku sudah bilang kan, bahwa aku akan mengajari kalian mengenai apa itu pengabdian. Inilah pengabdian itu. Kujalani hidupku tanpa mengeluh, meski dengan batin yang terkoyak. Aku tahu ini pilihan yang teramat konyol. Menjalani siksaan hidup sementara harusnya kita punya daya untuk melawan. Sekali lagi inilah pengabdian. Kadang cinta memang selalu bisa menjadi alasan kuat untuk melakukan hal yang konyol. Sekonyol apa yang aku jalani saat ini.
“Halo . . . iya dengan saya sendiri. Astaghfirullah . . . di rumah sakit mana?? Iya saya segera kesana”. Kututup telpon dan bergegas mencari taksi. Mas Farhan mengalami kecelakaan di pertigaan jalan kemuning. Mobil yang dikendarainya terserempet truk pengangkut sampah dan menabrak traffic light. Jalan kemuning? Bukannya itu jalan ke rumah ibu mertua?. Harusnya kan mas di kantor? Aku tak sempat berpikir panjang lagi.
Sampainya di rumah sakit, kulihat ibu dan ayah mertuaku telah berada disana. Dengan setengah bingung aku mengucap salam dan memasuki ruangan tempat mas dirawat. Aku sempat terperanjat kaget ketika ibu mertuaku yang terisak berhambur memelukku.
“Ibu sabar ya, , , mas Farhan pasti sembuh kok. Kan ada aku yang akan merawatnya. Ibu jangan khwatir”. Ucapku berusaha menenangkan.
Ibu mertuaku melepas pelukannya, dan mengusap air matanya.
“Ibu menangis bukan karena itu, tapi justru karena ibu merasa bersalah sama kamu”.
Aku clingukan memandang ke arah Ayah dan Ibu mertuaku juga sesekali ke arah mas farhan yang nampak sayu menahan sakit sepertinya.
“nak, maafkan kami. Keinginan kami untuk menjodohkan kalian, tidak kami sangka bakal berbuah luka untukmu. Kami benar-benar berdosa padamu”. Ayah mertuaku angkat bicara
“tadi farhan ke rumah dan menceritakan semuaya. Kami terlibat pertengkaran. Farhan pulang dalam keadaan emosi. Mungkin karena itu dia tidak fokus berkendara dan kecelakaan”. Ibu kembali terisak, kali ini bersandar di pundak ayah.
“Ayah, Ibu, aku mungkin sempat mengutuk keadaan yag kualami. Aku hanya ingin mengabdi pada orang tua tapi kenapa aku harus menderita. Namun aku sadar, kehidupan ini bukan fairy tales yang tanpa cela, pada akhirnya smua akan biasa saja. Dan bukankah aku telah bersumpah menjadi putri kalian?? Apakah seorang anak akan berhenti mencintai orang tuanya hanya karena dia hidup menderita??” ucapku bersamaan berhamburnya ibu memelukku sementara ayah mengusap dan mengecup kepalaku dengan penuh kasih. Damainya tempat ini,
“jika waktu bisa diputar, aku akan minta supaya kau jadi anakku, bukan menantuku”
“ayah, aku putrimu”
“Ayah, ibu, aku punya kabar untuk kalian,” kukeluaran sepucuk surat dari dalam tas.
“surat dari rumah sakit?? Kamu sakit apa nak?” tanya ibu
Aku Cuma menggeleng
Ibu membuka surat itu dengan was-was. Selepas membacanya wajah ibu yang tadinya sayu menjadi cerah berbinar seperti mentari pagi. Ayah yang tak sabar meraih surat itu dan membacanya sendiri.
Kami bertiga saling berpandangan dengan kecamuk perasaan yang tak pasti. Hanya yang kutahu mereka pasti senang dengan kabar ini,
“Kamu hamil???” ibu kembali memelukku. Ayah tak henti-hentinya mengucap syukur. Kurasa inilah yang akan dilakukan Abi dan Umi jika mendengar kabar ini. tak sabar aku melihat senyum mereka.
 “Ibu, tolong jangan beritahu mas soal kehamilanku. Aku takut ini justru akan membuatnya shock. Biar nanti aku sendiri yang memberi tahu mas” pintaku kemudian. Baik ayah ataupun ibu hanya mengiyakan.
***
Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, mas farhan kemudian diijinkan untuk rawat jalan. Aku bersyukur. Bukan Cuma karena mulai pulihnya keadaan mas farhan. Tapi juga itu artinya aku tak perlu lagi bolak-balik ke rumah sakit. Kadang tubuhku seperti remuk. Terutama di daerah pinggang. Jika kukeluhkan itu pada bi minah dia selalu bilang itu bawaan orang hamil.
Hamil baru 3 bulan saja sudah terasa remuk badanku, bagaimana nanti jika perutku udah membuncit?? Aku capek sendiri kadang jika memikirkannya. Tapi ada perasaan senang ketika mengusapnya, serasa ada yang hangat disana. Hingga sekarang mas farhan belum tahu apa-apa mengenai kehamilanku. Tadinya aku juga merahasiakannya dari bi minah. Mas sangat dekat dengan bi minah, aku takut bi minah menceritakannya pada mas. Tapi aku tidak bisa mengelak lagi ketika bi minah mendapati aku yang tengah mual dan muntah-muntah di kamar mandi. Mungkin karena sudah pengalaman bi minah langsung bisa menebak kalo aku tengah hamil. Akupun mengaku dan memintanya merahasiakan, dan bi minah bisa dipercaya.
Seperti biasa setiap pagi kusiapkan sarapan untuk mas farhan dan menyuapinya. Selama sakit mas farhan menurut saja ketika kusuapi, dan lagi ia takkan mampu berbuat banyak dengan posisi tangan di-gips. Pernah suatu ketika tangannya menyentuh perutku tanpa sengaja ketika hendak membalik posisi tidurnya. Itu pertama kalinya calon bayiku tersentuh oleh ayahnya, walau tanpa sengaja. Aku keluar dari kamar dengan berbinar senyum. Entah untuk apa, aku hanya merasa senang dan kunikmati saja perasaan itu tanpa banyak bertanya.
“Harusnya kau bisa saja pergi jika kau mau, kenapa masih ada disini” ucap mas farhan suatu ketika saat aku tengah membereskan bekas sarapannya. Aku tak menjawab.
“Aku tahu, kau tidak tuli. Kenapa masih mau menjagaku? Kau bisa pergi. karena bersamaku kau takkan mendapatkan cinta seperti yang kau inginkan”
“Aku tahu. Aku bisa saja meninggalkan pria pesakitan sepertimu dan mencari pria lain yang bisa memperlakukanku dengan lebih layak. Tapi aku tidak melakukannya. Kenapa? Jangan berpikir itu karena kau. Aku melakukannya karena aku telah bersumpah menjadi putri dari seorang Ibu dan Ayah. Aku bukan menikah denganmu. Aku menikah dengan keluargamu. Kau tahu, aku telah melakukan lebih dari yang bisa kau lakukan sebagai putra mereka”. Ucapku dengan nada penuh keangkuhan dan meninggalkannya.
***
Pagi ini, kurasakan tubuhku kurang bertenaga. Kuminta bi minah menyiapkan sarapan untuk mas farhan. Aku pergi beristirahat ke kamarku. Selepas malam itu aku memang tak pernah lagi tidur di kamar mas farhan. Aku tidur di kamar tamu. Samar-samar kudengar suara orang menuruni tangga, pasti mas farhan. Tak kuhiraukan dan lantas bergegas merebahkan tubuh di tempat tidur, kepalaku benar-benar pening. Aku harus istirahat, jangan sampai bayiku ikut kepayahan.
Entah berapa lama aku tidur, aku terjaga karena mendengar suara gelas pecah. Suara itu dari arah dapur. Aku beranjak dan menuju dapur. Kulihat disana mas farhan tengah memunguti gelas yang pecah. Tanpa bicara kubantu ia membereskan pecahan gelas itu.
“Kenapa tidak panggil bi minah, jika perlu sesuatu?”.
“Bi minah pulang. Suaminya sakit. Tadinya aku mau bikin kopi. Tanpa sengaja gelas itu tersengol jatuh dan pecah”
Kuambil gelas yang lain dan membuatkan kopi untuk mas farhan. Ia tetap berdiri mematung menunggu kopi yang kubuat. Kuulurkan kopi itu untuknya lantas dibawa ke meja makan. Aku menyiapkan makan siang. Rupanya sebelum pergi bi mina telah menyiapkan masakan yang tinggal kuhangatkan saja ketika akan dimakan. Ia pasti sangat khawatir aku kecapekan.
Hubungan kami sangat kaku. Meski tak pernah lagi marah dan berlaku kasar tapi kami jarang sekali terlibat pembicaraan bahkan di meja makan. Kami membisu dan berperang dengan pikiran kami sendiri. Kadang kucoba angkat bicara dan menawarkan untuk mengambilkan makanan untuk mas farhan tapi hanya dibalas denga gelengan atau kemudian diambil sendiri.
Hari ini terasa panjang tanpa bi minah. Tak ada yang bisa kuajal ngobrol. Biasanya bi minah pulang malam hari. Jadi seharian bisa menemaniku bersantai dan ngobrol. Kadang aku bertanya banyak hal mengenai kehamilan tentu saja dengan diam-diam agar mas farhan tidak mendengar.
Aku menghabiskan waktu seharian di taman depan rumah, dengan membaca majalah atau melanjutkan kain sulamanku, sebuah baju hangat untuk bayiku. Aku bergegas masuk ke dalam ketika udara mulai terasa dingin. Kulihat jam di tanganku menunjuk pukul 09.00. lantas bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mas farhan. Aku biasa membuatkannya susu hangat setiap malam. Ibu bilang mas punya kebiasaan minum susu sebelum tidur sejak kecil.
Kucoba ketuk pintu kamarnya tapi tak ada jawaban. Aku langsung masuk dan meletakkan susu hangat di meja kemudian bergegas keluar. Aku berpapasan dengan mas farhan yang ternyata berada diluar.
“eh, maaf. Aku Cuma meletakkan susu hangat di meja”
“Syifa. Bisa ngobrol sebentar??”
Aku mengangguk. Aku duduk di sofa. Mas farhan duduk di depanku, kami duduk berhadapan. Cukup lama kami cuma diam.
“aku, , , , , mau minta maaf” ucapnya memecah keheningan
“eh, , untuk pa??”
“untuk semua perlakuanku selama ini. aku tahu sangat naif apa yang aku lakukan. Menyalahkanmu atas apa yang terjadi padaku. Padahal kau tidak pernah ada kaitannya dengan semua kekacauan ini”.
“lupakan saja lah mas. Aku udah gak mikirin soal itu. Bagiku itu masa lalu”
“iya, tapi tetap saja aku bersalah padamu”
“pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Aku sudah melupakan hal itu dan memaafkan mas”
“terima kasih. Setelah apa yang kulakukan kau sedikitpun tak menaruh dendam”
Mungkinkah aku membenci seseorang yang telah menanam benih cinta di rahimku. Alasan terbesar aku bertahan sekarang. Batinku.
“kalo sudah tidak ada lagi, aku mau kembali ke kamarku”. Aku beranjak dari sofa. Tiba-tiba mas farhan menarik tanganku.
“tunggu, ada yang belum aku katakan”
“apa lagi?”. Mas farhan berdiri dekat sekali, teramat dekat hingga bisa kurasakan hembusan nafasnya di keningku. Dia menunduk dan mecoba menciumku. Refleks aku mengelak. Ia nampak kecewa. Dilepasnya tangan yang tadinya menggenggam tangan ku.
“maaf!” ucapku terbata-bata.
“ehm, , tidak aku yang harusnya minta maaf. Tadinya aku pikir kita akan mulai semuanya dari awal. Aku lupa, luka yang telah kubuat pasti sangat menyakitkan dan membuatmu trauma. Aku , , ,”. Kubuat ia tak bisa melanjutkan kalimatnya. Karena jika tidak aku pasti akan menangis dibuatnya. Kututup bibirnya dengan bibirku. Hal yang tadi kutolak kini kulakukan sendiri. Biarlah, aku hanya ingin melakukannya dan kulakukan. Toh dia suamiku.
Selepas menciumnya, akal sehatku kembali. Bergegas berlari menuju piintu tapi mas farhan meanarikku dan lantas memelukku.
“mau kemana? Kamarmu disini. Berhenti bermain-main dan biarkan kulakukan kewajibanku”
“mas, ada yang belum kukatakan” ucapku
 “apa?”
“aku hamil”
“hah, , , hamil??”
Aku mengangguk ragu. Mas farhan tersenyum bangga lantas mengecup keningku. Lantas berlutut memegang perutku. Menciumnya.
“Sayang, ini ayah. Maaf baru sekarang ayah menyapamu, baik-baik disana dan cepatlah lahir. Ayah dan bunda akan menyambutmu dengan bangga” lantas diciumnya lagi.
“Sungguh Tuhan teramat murah hati pada pendosa sepertiku. Dikaruniakan-Nya berkah yang berlimpah . . .”. kututup mulutnya dengan jariku.
“Tuhan, memang Maha Pemurah, karena itu kita harus banyak-banyak bersyukur. Jangan Cuma mengeluh”
“iya. Sekarang ijinkan aku membayar kesalahanku padamu. Kebahagiaan yang harusnya kuberikan sebelumnya,”.
Mas farhan menciumku sekejab, “bolehkan??” pintanya
“lakukanlah,”
Dan semuanya terasa indah. Pergumulan dua insan dalam ikatan cinta suci. Inilah pengabdian yang kukatakan. Pahit tapi berbuah manis.

YANG TUHAN MAU . . .

Senja mulai temaram ketika serpihan siluet menyapu rata kanvas langit. Masih ku tercengang menatap merahnya sang mega. Nyaris seperti api yang membarakan langit. Namun tak membakarnya. Hanya hangat menelusup ke setiap sendi mematikan sejenak  rasa gundah yang membuncah.
“Rey . . . balik yuk! Udah mau gelap tuh! Entar kamu kemaleman sebelum sampai rumah,” seru Andrian, teman sepermainanku dulu. Aku hanya menoleh sejenak tak bergeming.
Yah, dulu. Dulu ketika aku masih kerap mengahabiskan liburan sekolah di tempat yang kini kuinjak lagi. Kuinjak lagi setelah belasan tahun. Belasan tahun kutinggalkan untuk sebuah obsesi. Mungkin yang lebih tepat dianggap sebagai balas dendam.
Masih sangat lekat di memoriku, hari terakhirku di tempat ini. Di stasiun ini, ketika dengan langkah berat bercampur perih kunaikkan kaki memasuki gerbong kereta ekonomi yang kan membawaku ke kehidupan yang baru, katanya.
Ah, luka apa ini! Rasa perih tapi hangat kemudian. Serasa ingin menangis tapi justru tawa tipis yang mencuat dari bibirku.
“Allah . . . . kamu akan punya banyak waktu untuk melihat senja seperti itu lagi, dari rumah mu senja yang lebih indah akan bisa kau nikmati bahkan sampai gelap tiba. Tapi sekarang aku harus pastikan kamu sampai di rumah sebelum gelap tiba atau kita harus menginap di rumah tetangga,” Andrian mulai geram dan menarik tanganku yang tak bergeming menatap senja menuju motor yamaha RX yang nyaris tak bisa lagi dikenali produksi tahun berapa.
Memoriku kembali memutar kaset lawasnya yang bagiku masih teramat utuh. Hari-hari dimana aku yang berlumur lumpur setelah seharian berjingkat-jingkat mengganggu para petani harus dibujuk sedemikian rupa untuk pulang. Motor butut inilah yang paling bisa membujukku.
Aku akan merajuk mengajukan syarat untuk pulang. “Aku mau pulang asal diantar Andrian pulang pake motornya pak lek” begitulah aku merajuk hampir setiap harinya. Dan entah kenapa orang-orang tak pernah menolak permintaanku itu. Hanya Andrian yang kerap manyun sembari mengepalkan tangan geram padaku. Jika sudah begitu, aku hanya berusaha tersenyum semanis mungkin tanpa berdosa.
Hemm . . . jahilnya aku.
“Sepeda ini masih ada rupanya,” ucapku kemudian ketika motor telah melaju meninggalkan stasiun.
“Kalau sepeda ini dijual, tidak akan ada lagi alasan yang bisa membawamu pulang,” ucap Andrian ringan tanpa beban. Seperti kehangatan yang mulai diusik dingin menjelang petang.
***
Menikah, bagi gadis desa sepertiku menjadi sebuah sumpah tradisi yang mungkin tak bia kami elakkan seberapapun kami ingin. Kendatipun di usia yang masih belia. Alasannya sederhana, memiliki anak perempuan seperti meletakkan telur di ujung tanduk, alih-alih menanti umur yang cukup, perempuan justru akan menerima kutukan masyarakat yang pedasnya melebihi nyala api.
Begitupun denganku, pernikahanku segera digelar sebulan setelah sebuah lamaran datang dari salah seorang yang masih memiliki hubungan famili dengan keluargaku. Pria yang akhirnya kutahu adalah paman dari silsilah ibuku. Saat itu aku baru saja meneguk kemeriahan pesta kelulusan dari Madrasah Aliyah.
Nyaris tanpa perlawanan jika ini layak disebut sebuah peperangan kupenuhi saja sumpah setia itu. juga tanpa alasan kubiarkan keluarga baruku yang asing itu memboyongku ke Jakarta, kota yang hanya kukenal dari berita TV yang kulihat. Sama sekali tak menarik bagiku. Sekalipun banyak yang bilang Jakarta kota uang.
“Pernikahan kalian telah direncanakan semenjak kalian masih kecil, sebelum ayah Deny merantau ke Jakarta. Kami sengaja tidak memberi tahumu supaya tidak membebanimu. Sekarang saatnya kau menjalani takdirmu. Deny dari keluarga yang baik, karena itu jadilah istri yang baik untuknya,” pesan ibu, seolah meminta sumpahku.
Aku tak tahu harus menjawab apa, kendati dibesarkan dengan kebebasan untuk memilih tapi kali ini pilianku hanyalah menerima dan menjalaninya semampu hatiku bertahan. Kucoba tumbuhkan keyakinan, cinta itu akan muncul dengan sendirinya.
Bukankah Tuhan yang menjadikanku menjalani posisi ini, pastilah Tuhan pula yanga akan memberikanku kemudahan jika dalam perjalanannya aku terpelanting dan jatuh. Begitulah aku terus berharap, hingga detik-detik luka memar di hatiku.
Aku mungkin tak banyak mengenal siapa lelaki yang menjadi suamiku. Aku hanya tahu dia lelaki yang dipilihkan keluargaku, yang katanya akan bisa menjadi imam bagiku. Bersama dengan mimpi akan kebahagiaan hidup kujalani status yang disandangkan padaku.
“Rey . . . kau perempuan yang baik. aku harusnya sangat beruntung memiliki istri sepertimu. Tapi, kau tahu bagaimana keluargaku dan keluargamu. Kita memiliki latar belakang yang sangat jauh berbeda. Aku merasa sangat tidak bisa mengikuti jalan keluargamu begitupun kurasa denganmu. Bukankah sangat menyakitkan jika terus kita paksakan menjalani status yang tak men
Senja mulai temaram ketika serpihan siluet menyapu rata kanvas langit. Masih ku tercengang menatap merahnya sang mega. Nyaris seperti api yang membarakan langit. Namun tak membakarnya. Hanya hangat menelusup ke setiap sendi mematikan sejenak  rasa gundah yang membuncah.
“Rey . . . balik yuk! Udah mau gelap tuh! Entar kamu kemaleman sebelum sampai rumah,” seru Andrian, teman sepermainanku dulu. Aku hanya menoleh sejenak tak bergeming.
Yah, dulu. Dulu ketika aku masih kerap mengahabiskan liburan sekolah di tempat yang kini kuinjak lagi. Kuinjak lagi setelah belasan tahun. Belasan tahun kutinggalkan untuk sebuah obsesi. Mungkin yang lebih tepat dianggap sebagai balas dendam.
Masih sangat lekat di memoriku, hari terakhirku di tempat ini. Di stasiun ini, ketika dengan langkah berat bercampur perih kunaikkan kaki memasuki gerbong kereta ekonomi yang kan membawaku ke kehidupan yang baru, katanya.
Ah, luka apa ini! Rasa perih tapi hangat kemudian. Serasa ingin menangis tapi justru tawa tipis yang mencuat dari bibirku.
“Allah . . . . kamu akan punya banyak waktu untuk melihat senja seperti itu lagi, dari rumah mu senja yang lebih indah akan bisa kau nikmati bahkan sampai gelap tiba. Tapi sekarang aku harus pastikan kamu sampai di rumah sebelum gelap tiba atau kita harus menginap di rumah tetangga,” Andrian mulai geram dan menarik tanganku yang tak bergeming menatap senja menuju motor yamaha RX yang nyaris tak bisa lagi dikenali produksi tahun berapa.
Memoriku kembali memutar kaset lawasnya yang bagiku masih teramat utuh. Hari-hari dimana aku yang berlumur lumpur setelah seharian berjingkat-jingkat mengganggu para petani harus dibujuk sedemikian rupa untuk pulang. Motor butut inilah yang paling bisa membujukku.
Aku akan merajuk mengajukan syarat untuk pulang. “Aku mau pulang asal diantar Andrian pulang pake motornya pak lek” begitulah aku merajuk hampir setiap harinya. Dan entah kenapa orang-orang tak pernah menolak permintaanku itu. Hanya Andrian yang kerap manyun sembari mengepalkan tangan geram padaku. Jika sudah begitu, aku hanya berusaha tersenyum semanis mungkin tanpa berdosa.
Hemm . . . jahilnya aku.
“Sepeda ini masih ada rupanya,” ucapku kemudian ketika motor telah melaju meninggalkan stasiun.
“Kalau sepeda ini dijual, tidak akan ada lagi alasan yang bisa membawamu pulang,” ucap Andrian ringan tanpa beban. Seperti kehangatan yang mulai diusik dingin menjelang petang.
***
Menikah, bagi gadis desa sepertiku menjadi sebuah sumpah tradisi yang mungkin tak bia kami elakkan seberapapun kami ingin. Kendatipun di usia yang masih belia. Alasannya sederhana, memiliki anak perempuan seperti meletakkan telur di ujung tanduk, alih-alih menanti umur yang cukup, perempuan justru akan menerima kutukan masyarakat yang pedasnya melebihi nyala api.
Begitupun denganku, pernikahanku segera digelar sebulan setelah sebuah lamaran datang dari salah seorang yang masih memiliki hubungan famili dengan keluargaku. Pria yang akhirnya kutahu adalah paman dari silsilah ibuku. Saat itu aku baru saja meneguk kemeriahan pesta kelulusan dari Madrasah Aliyah.
Nyaris tanpa perlawanan jika ini layak disebut sebuah peperangan kupenuhi saja sumpah setia itu. juga tanpa alasan kubiarkan keluarga baruku yang asing itu memboyongku ke Jakarta, kota yang hanya kukenal dari berita TV yang kulihat. Sama sekali tak menarik bagiku. Sekalipun banyak yang bilang Jakarta kota uang.
“Pernikahan kalian telah direncanakan semenjak kalian masih kecil, sebelum ayah Deny merantau ke Jakarta. Kami sengaja tidak memberi tahumu supaya tidak membebanimu. Sekarang saatnya kau menjalani takdirmu. Deny dari keluarga yang baik, karena itu jadilah istri yang baik untuknya,” pesan ibu, seolah meminta sumpahku.
Aku tak tahu harus menjawab apa, kendati dibesarkan dengan kebebasan untuk memilih tapi kali ini pilianku hanyalah menerima dan menjalaninya semampu hatiku bertahan. Kucoba tumbuhkan keyakinan, cinta itu akan muncul dengan sendirinya.
Bukankah Tuhan yang menjadikanku menjalani posisi ini, pastilah Tuhan pula yanga akan memberikanku kemudahan jika dalam perjalanannya aku terpelanting dan jatuh. Begitulah aku terus berharap, hingga detik-detik luka memar di hatiku.
Aku mungkin tak banyak mengenal siapa lelaki yang menjadi suamiku. Aku hanya tahu dia lelaki yang dipilihkan keluargaku, yang katanya akan bisa menjadi imam bagiku. Bersama dengan mimpi akan kebahagiaan hidup kujalani status yang disandangkan padaku.
“Rey . . . kau perempuan yang baik. aku harusnya sangat beruntung memiliki istri sepertimu. Tapi, kau tahu bagaimana keluargaku dan keluargamu. Kita memiliki latar belakang yang sangat jauh berbeda. Aku merasa sangat tidak bisa mengikuti jalan keluargamu begitupun kurasa denganmu. Bukankah sangat menyakitkan jika terus kita paksakan menjalani status yang tak menyenangkan ini,” ucap Mas Deny di suatu malam.
“Kita bisa saja memulai semuanya dari awal jika kau bisa memastikan untuk tak hidup lagi dengan cara kedua orang tuamu,”
Aku hanya bergeming. Memastikan aku tetap bersikap sewajarnya walau hatiku dipenuhi gemuruh yang tak kupahami. Tapi, sakit di hatiku tak bisa berkompromi. Perih disana menuntun buliran air mata membasahi mataku, mengalir deras menuju pipi dan akhirnya jatuh ke pangkuanku.
“Yang aku tahu, selama 20 tahun aku hidup dengan segala nilai yang dipercaya keluargaku. Aku tak bisa melihat ada nilai lain yang lebih agung dari itu. jika kini, seseorang yang baru beberapa bulan saja memiliki hak atas hidupku, memintaku melepas ikatan dengan mereka, maaf jika aku lebih memilih untuk menyerah,”
Bukan pilihan yang tepat kurasa, tapi inilah pilihan paling logis yang bisa kuambil. Dan semua berjalan seperti yang Tuhan mau, kurasa.
Sakit ini takkan pernah lagi kuceritakan, tidak juga kan kukenang. Biarlah ia menjadi memori usang yang tak dikenal.
***
Kulepas helm yang baru kuingat dipakaikan Andrian tadi. Dan membiarkan angin melambaikan kerudung yang kupakai. Memori masa kecil selalu indah untuk dikenang, tapi takkan pernah ingin kuulangi jikapun aku bisa kembali ke masa itu. Entah mengapa. Bagiku beginipun sudah cukup. Aku tak mau apa-apa lagi.
 “Renata Maulida, are you here????” seru Andrian nyaris berteriak di telingaku. Aku tergagap kaget. Aku baru sadar, kami telah berada di depan pagar rumah.
“Apa?” tanyaku dengan wajah penuh tanya.
“Apa? Apa? Kamu itu hoby banget ngelamun ya, kamu kayak bukan Renata yang kukenal. Renata yang jahil, nyebelin, ...”
“Cerewet, bandel, sok tahu, ya kan?!” Sambungku sebelum Andrian menyelesaikan kalimatnya. Lantas tanpa menunggu responnya, aku beranjak membuka pagar rumah.
Rumah tempatku menghabiskan masa kecil. Rumah ini nampak lengang. Setahun setelah nenek meninggal, ayah dan ibu memutuskan untuk tinggal di Jepang. Tak berapa lama, aku pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Bogor, tepatnya setelah aku bercerai dari Mas Deny.
Andrian mungkin mengerti bahwa kepergianku ke Bogor bukan semata karena mimpiku menjadi seorang sarjana pertanian, bukan karena aku sangat mendambakan hidup di kota bunga, bukan juga karena ambisiku untuk menjadikan tanah kelahiranku yang gersang ini menjadi tanah yang makmur, bukan.
Kini, aku kembali ke rumah ini. Tak banyak yang berubah selain kenyataan bahwa aku akan tinggal di rumah ini sendiri. Aku bisa saja menjual rumah ini dan tinggal di Bogor. Tapi, tempat ini satu-satunya yang masih menyimpan kenangan kehidupanku. Ada nenek, kakek, ayah, ibu, Andrian, dan , , , Mas Deny.
“Rey . . tunggu!” Andrian menarik tanganku, yang memaksaku menoleh.
“Aku tidak tahu apakah ini saat yang tepat atau bukan. Aku hanya tahu, aku telah memendamnya sejak lama. Nyaris tak ada lagi kata yang pantas kurasa untuk menggambarkan seperti apa aku mengkhawatirkanmu, seperti apa aku sangat ingin bisa menjagamu  dan . . . ah . .” kalimatnya terputus begitu saja. Andrian mulai mengeram kesal.
Aku hanya bisa terpaku dan menerka-nerka apa sebenarnya hal yang membuat Andrian begitu gelisah. Pengalaman yang kupunya tak cukup untuk mengartikan apa yang tengah terjadi. Selain juga karena aku tak lagi berhasrat memikirkan sesuatu secara berlebihan.  Biarlah semua berjalan seperti yang Tuhan mau.
“Ian . .” aku mencoba meraih bahunya. Dia berbalik dengan muka yang dipenuhi keringat dingin.
“Kamu kenapa seh? Ekspresimu bikin ngeri tahu nggak. Kita akan punya banyak waktu untuk membicarakan banyak hal nanti. Sekarang pulanglah, tenangkan dirimu, terima kasih udah menjemputku,” aku kembali mencoba untuk masuk ke rumah, dan untuk kedua kalinya Andrian mencegahku.
“Rey . . ijinkan aku menjadi lebih untukmu. Jadilah halal bagiku!” ucap Andrian dengan suara tercekat.
Aku kembali terpaku, kali ini bukan karena menerka apa yang akan terjadi tapi apa yang harus aku lakukan?
Sejauh yang bisa kucerna, Andrian adalah sahabatku kendati kami telah begitu lama tak bertemu. Keluarganya pun seperti keluargaku. Pak Lek Deri, begitu kupanggil ayahnya. Keluarganya yang selama ini menjaga seluruh sawah dan ladang milik nenek. Mereka adalah pekerja kepercayaan keluargaku.
Dulu saat masih kecil, ketika merajuk aku akan memilih untuk tidur di rumah Andrian. Keluarganya tak pernah memperlakukanku seperti ratu di rumahnya, justru seperti putri mereka sendiri.
Semua alasan itu memang cukup bagiku untuk mengiyakan permintaan Andrian. Tapi, dengan statusku sekarang apa mungkin?? Tidak! Aku tidak bisa melihat kenyataan bahwa masyarakat akan mencibir Andrian yang masih lajang menikahi seorang janda sepertiku. Beban yang akan kutanggung mungkin akan jauh lebih berat, dibanding statusku sebagai janda.
Tuhan . . . aku pasrah dengan apa yang Engkau mau, tapi kali ini, apa yang Engkau kehendaki??
***
“Sayang . . . bangun! Sudah hampir subuh,” sebuah suara samar-samar mengusik kesadaranku. Memaksaku membuka mata menyatukan sukmaku yang berkeliaran entah kemana.
Seseorang menarik selimut yang membalutku. Aku beranjak duduk dengan setengah sadar. Di depanku sebaris senyum dari keteduhan wajah yang sangat kukenal menyambutku membuka mata. Tangannya membelai rambut yang berserakan menutupi wajahku.
“Cepat mandi! Aku tunggu di bawah, Kita sholat bareng,” ucapnya sembari menepuk pipiku pelan. Aku mengangguk pelan. Ia beranjak dari sisi ranjang setelah membangunkanku.
“Mas . .” aku menarik tangannya yang memaksanya untuk duduk lagi di sisi ranjang.
Kudekatkan wajahku dan memberikan kecupan di pipi kirinya. Pria lugu didepanku itu nampak terkejut meski tak terparanjat.
“I love you” bisikku di telinganya.
Dia tersenyum manis sambil mengusap lembut pipiku.
“Ada apa ini? Pagi-pagi aku sudah dapat bonus kecupan? Apa gerangan yang dimau istriku ini?” ucap Andrian, Suamiku. Ya, Andrian, Andrian yang kini kupanggil dengan sebutan ‘mas’ seperti biasanya para istri memanggil suaminya.
Aku menggeleng cepat. Dan berdiri dari tempat tidur. Merapikan sekenanya rambutku yang terurai dan menjepitnya.
“Sayang . . . ada apa? Apa kamu mimpi buruk?” tanya suamiku penasaran.
Kuraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat, berharap ia membaca isi hatiku bahwa aku sangat baik. lebih dari baik jika ada kata yang bisa membahasakannya.
“I am fine honey . . really! I am just say love you, its wrong??”
“Ok, aku percaya. Karena tadi aku dapat kecupan sekarang gantinya satu pelukan. Sini!” pintanya mengulurkan tangan, yang segera kubalas dengan berhambur ke dada bidangnya.
“Bahagiakanlah selalu hatimu istriku. Aku janji akan berusaha untuk membuatmu tak pernah memiliki alasan untuk bersedih,” meresapi setiap bahasa yang disampaikan oleh getaran dalam jiwa kami.
Tuhan . . bukankah semua berjalan seperti yang Engkau mau?? Kuyakin.
x

x

Jumat, 19 Juli 2013

Desa Payaman, Kec. Solokuro, Kab. Lamongan

DATA DESA
Nama Desa                 : Desa Payaman, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan
Kepala Desa                : Chalimin, SPd
Sekretaris Desa           : Drs M Baqir Yasin
Dusun                          :
-Dusun Sawo   : Kasun Habib Sholeh
-Dusun Ringin : Kasun Samin Arif Ardianto
-Dusun Gayam            : Kasun Nur ‘Aini, SPdi
-Dusun Asem   : Kasun Abd Muntaqim, SPd
-Dusun Palirangan      : Kasun Mushofan
-Dusun Bango : Kasun Khozin, Spdi
-Dusun Sejajar : Kasun Monaha
Perangkat Desa           :
-Kasi Pemerintahan                            : Ali Mas’ud, SPd
-Kasi Ekonomi dan Pembangunan      : Drs A Munir, SPd
-Kasi Kesmas                                       : Mu’tashom
-Kasi Trantib                                        : Drs Bondo, SPd
-Pembantu Kesmas                             : Ridluwan
-Kaur Keuangan                                  : H Moh Sholeh, BA
-Pemb. Kasun Sawo                             : H Moh Said
-Pemb. Kasun Ringin                           : Ali Ma’sum
-Pemb. Kasun Asem                            : Mulyan
-Pamb. Kasun Palirangan                    : Tadjir
-Pemb. Kasun Bango                           : Moh Fauzi, SPdi        
Alokasi Dana Desa      : Rp 51 Juta
Luas Wilayah               : 12.8187 Ha
Potensi Pertanian        : Dominan jagung, padi, kacang tanah, dll
Batas Wilayah Desa    :
-Utara              : Desa Kranji, Paciran
-Barat              : Desa Sugihan, Solokuro
-Timur             : Desa Takerharjo, Solokuro
-Selatan           : Desa Godog, Laren
                                    -------------------------------
Pertanian Oke, Reyeng Yes!
Meski bermasalah dengan pasokan air alias ‘tadah hujan’, Desa Payaman, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, membuktikan diri menjadi desa makmur dan berhasil dalam pertanian. Desa yang lantas didapuk sebagai tuan rumah Pencanangan Gerakan Pertanian Organik dan Pengukuhan Petani Ramah Lingkungan yang dimotori oleh Kapal (Kenduri Agung Pengabdi Lingkungan) Jatim, 13 April 2013 lalu, ternyata juga terkenal sebagai sentra kerajinan reyeng. Lantas seperti apakah kondisi serta bagaimana sepak terjang warganya?
Ribuan orang memadati alun-alun Desa Payaman, siang itu. pejuang pengabdi lingkungan, penjual makanan, penjual mainan, hingga masyarakat tua, muda dan anak-anak berduyun-duyun menyaksikan gawe akbar yang dihadiri orang nomor satu di Jawa Timur--Gubernur Soekarwo-- tersebut.
Kesibukan yang tak kalah riuh juga tampak di Kantor Balai Desa Payaman. Sebuah mobil pick up warna biru terparkir di depan tangga masuk balai desa. Di dalamnya berbagai jenis pala pendem (umbi-umbian) yang telah dimasak ditata rapi dan siap dikirim ke alun-alun desa.
“Mangga disambi ini hasil bumi sendiri (silahkan dinikmati),” ujar M Baqir, carik (Sekdes) Desa Payaman, memersilahkan wartawan Derap Desa saat ditemui di tengah kesibukannya mengontrol pendistribusian konsumsi acara.
Harus diakui memang agak susah menemukan desa dengan tujuh dusun itu. Berjarak sekitar 7 kilometer dari Paciran, jalan menuju Payaman melewati ladang dan sawah yang luas. Jalannya tak terlalu lebar, tapi jangan khawatir, semuanya sudah beraspal. Meski sedikit berlubang dan bergelombang di beberapa titik. Di sepanjang jalan tampak sisa-sisa hujan, becek hingga genangan air.
Meski berjarak tidak jauh dari Pesisir Laut Jawa, namun hanya segelintir penduduknya yang berprofesi sebagai penangkap ikan. Terhitung hanya sekitar 14-15 orang yang biasa melaut. Itu pun dengan intensitas yang sangat minim. Bidang pertanian masih menjadi garapan primadona di desa yang masuk dalam Kecamatan Solokuro ini.
Di musim tanam pertama lalu, hama tidak begitu menjadi persoalan. Karena itu akhir bulan Maret lalu petani di Desa Payaman berhasil memanen tanamannya. Sedangkan untuk mangsa kesanga (masa tanam kedua) baru akan dipanen pada sekitar Juni atau Juli mendatang. Sawah di Desa Payaman termasuk sawah tadah hujan, maka dalam setahun bisa dipanen hingga dua kali.
Hasil pertanian unggulan Desa Payaman seperti padi, jagung, termasuk kacang tanah. Beberapa juga ada pertanian buah meski belum dikelola secara maksimal. Mengingat kebutuhan air di Desa Payaman masih menjadi perhatian serius terutama di masa-masa kemarau. Untuk memenuhi kebutuhan air, baik keperluan rumah tangga atau pertanian, masyarakat Payaman  memenuhinya dari desa-desa lain terutama Desa Solokuro.
“Di sini air kurang. Sehingga kami harus mengambil dari desa sebelah, khususnya Solokuro. Meskipun ada sumur yang sumber airnya  bisa dimanfaatkan tapi karena orang banyak ya nggak mencukupi,” jelas M Baqir.
Meskipun begitu, salah satu faktor keberhasilan pertanian di Desa Payaman adalah keberadaan kelompok tani yang aktif di setiap dusun, baik dalam persediaan benih maupun pupuk. Di Desa Payaman sedikitnya ada 9 kelompok tani yang tersebar dari Dusun Sawo, Dusun Ringin, Dusun Gayam, Dusun Asem, Dusun Palirangan, Dusun Bango, dan Dusun Sejajar. Neberapa dusun karena faktor luas daerah dan daya jangkau malah mempunyai dua kelompok tani.
Selain itu, dipilihnya Desa Payaman untuk ditempati gawe akbar Kapal Jatim ini juga tidak lepas dari keberhasilan pemakaian pupuk organik produksi Kapal pada pertanian di Desa Payaman.
Kapal Jatim sebagai perhimpunan para pengabdi lingkungan mencoba mengambil peran penguatan komitmen masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan fasilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Salah satu misi lembaga ini yakni mewujudkan tata kelola lingkungan berbasis partisipatif masyarakat yang bersendikan kearifan lokal. “Pupuk yang diproduksi Kapal di sini berhasil, hasilnya bagus. Selain itu harganya yang terjangkau. Mungkin karena bahannya organik,” ujar Carik bernama lengkap M Baqir Yasin ini.

Manfaatkan Bambu Jawa
Penggemar ikan laut, atau minimal pernah berbelanja ikan di pasar tradisinal, pasti tahu reyeng. Reyeng adalah tempat ikan—baik segar atau kering—yang terbuat dari anyaman bambu. Di beberapa daerah memiliki nama yang berbeda seperti tumbu ataupun keranjang ikan. Kendati pertanian masih menjadi mata pecaharian utama penduduk Desa Payaman, namun kebanyakan dari masyarakat juga pelaku home industry dalam pembuatan reyeng atau tumbu.
Tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai 70 persen dari keseluruhan penduduk desa yang pernah terpilih sebagai satu dari 12 desa pelaksana ADD (Alokasi Dana Desa) terbaik tahun 2011. Sementara prosentase yang lebih kecil sebanyak 30 persen, merupakan pedagang dan kebanyakan adalah buruh migran.
Mengenai penjualan reyeng, selama ini masyarakat menjualnya melalui pengepul yang kemudian dipasarkan di Paciran, Blimbing, Banyuwangi hingga Pati, Jawa Tengah. Industri dengan bahan baku pring jawa (bambu jawa) ini terbilang sangat efektif memanfaatkan aset lokal yang mungkin selama ini terbengkalai. Maklum, bambu jawa yang terkenal banyak duri tersebut cukup sulit untuk dimanfaatkan.
Kini, meski hanya pekerjaan sampingan beberapa masyarakat mulai mencoba menanam bambu jawa untuk memenuhi pesanan yang kadang membludak. Juga mengantisipasi semakin berkurang jumlah bambu jawa liar, lantaran banyaknya masyarakat yang mulai tergiur menggeluti pembuatan reyeng.
“Sekarang sudah ada yang nanem piyambak (menanam sendiri). Dua tahun sudah bisa ditebang. Kadang juga beli, soalnya nggak mencukupi bahannya kalau dari sini sendiri,” tutur carik bertubuh jangkung ini.
Meski digeluti oleh sebagian besar masyarakat Desa Payaman, industri reyeng masih menggunakan alat manual yang tradisional. Sehingga dalam sehari hanya sekitar 100-200 biji reyeng yang dapat dibuat, bergantung pada kemampuan dan tenaga di industri rumahan tersebut.
Karena industri pembuatan reyeng ini dilakukan di masa-masa kosong bertani sebagai pengisi waktu luang dan tidak memiliki tempat khusus. Rata-rata reyeng yang dijual warga Payaman dihargai Rp 120,- perbiji sedikitnya satu bundel, yang berisi seribu biji reyeng.
Sekitar tahun 1997, desa dengan ADD sebesar Rp 51 juta itu, sempat mengajukan permohonan kepada Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk mesin penipis bambu bagi perajin reyeng. Hal itu agar industri pembuatan reyeng semakin berdaya kendati hanya sebagai sambilan. Namun waktu itu pemerintah belum bisa mengabulkan permohonan itu karena tidak adanya mesin yang dimaksud.
“Alat pemotongnya sudah bagus, ada gunting dari Malaysia, Singapura. Tapi kalau untuk menipiskan masih dengan alat seadanya, karena itu kami mengajukan permohonan, biar produksi warga bisa bertambah,” tutur M Baqir yang telah menjabat sebagai carik sejak tahun 1993.
Di samping membuat reyeng, tak sedikit juga warga Payaman yang membuat roti dan kemplang—krupuk yang terbuat dari tepung terigu—untuk kemudian dijual di pasar. Ada juga warga yang membuka galeri atau butik pakaian baik dewasa maupun anak-anak. “Warga di sini terkenal ulet dan pekerja keras, nggak suka nganggur,” imbuh carik yang juga seorang guru tersebut. 

Kisah ‘Pak, Nyaman’ dan Sumur Pitu
Pertama kali mendengar nama Desa ‘Payaman’ sempat ragu jika desa ini merupakan bagian dari Kabupaten Lamongan. Pasalnya, penamaan desa yang sekilas tak memiliki unsur bahasa Jawa. Berbeda dengan sembilan desa lainnya di Kecamatan Solokuro yakni Desa. Solokuro, Tebluru, Sugihan, Dadapan, Tenggulun, Banyubang, Dagan, Bluri, Takerharjo, terdengar masih njawani.
Dikisahkan, Payaman yang dulunya pedesaan terpencil dan termasuk dalam wilayah pesisir pantai utara (Pantura), ternyata memiliki sejarah dan cerita tersendiri yang berkaitan dengan Bumi Sakera (Madura) dalam proses asal-usulnya.
Dahulu, pada masa Kerajaan Majapahit, seorang Adipati Madura yaitu Arya Wiraraja diutus Raden Wijaya menyeru rakyat Madura agar menyebar ke seluruh wilayah Jawa, terutama Jawa Timur. Raden Wijaya menaruh kepercayaan sepenuhnya pada orang Madura karena mereka juga ikut andil dalam mendirikan Kerajaan Majapahit. 
Berangkatlah sebagian besar rakyat Madura berbondong bondong ke tanah Jawa. Ketika sampai di Jawa rombongan tersebut akhirnya menyebar.  Sebagian ada yang ke timur dan ada juga yang ke barat. Ke timur, rombongan itu menempati wilayah mulai Surabaya hingga Banyuwangi, sedang yang ke barat menempati wilayah dari Surabaya, Gresik, Lamongan hingga Tuban.
Salah satu rombongan yang dipimpin seorang pemuda bernama Aryo Bumi memisahkan diri dari rombongannya yang ke Tuban. Dengan ditemani istri dengan dua orang pembantu Aryo Bumi pergi ke selatan Pantura.
Sampai di kawasan yang penuh hutan bambu dan pohon-pohon besar Aryo Bumi merasa tempat itu sangat cocok untuk ditempati. Aryo Bumi pun mulai membersihkan tempat itu dan mendirikan rumah kecil untuk berteduh.
Beberapa bulan berlalu Aryo Bumi mulai memikirkan nama tempat itu. Dalam kebingungannya Aryo Bumi melihat istrinya di luar rumah sambil menikmati sejuknya angin pagi dan berkata “Pak Nyaman”. “Pak” merujuk kepada suaminya Aryo Bumi, panggilan bagi suami. Sedangkan “Nyaman” sama halnya dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Jawa, bisa juga diartikan beragam sesuai pemakaiannya. Dari kejadian itulah Aryo Bumi mendapat ide untuk memberi nama tempat itu dengan “Pakyaman” atau “Payaman”.
Asal muasal tersebut memang tak tertulis secara resmi dalam buku sejarah mana pun. Namun sejarah akan tetap menjadi sejarah. Desa Payaman, umumnya Lamongan, akan tetap dikenal sebagai salah satu ‘Bumi Wali Sanga’ dengan adanya makam para wali, Sunan Drajat, Sunan Sendang Duwur dan lain-lain.
Ditambah lagi keberadaan sumber mata air yang sangat penting bagi penduduk Lamongan. Sumur yang konon tak pernah kering tersebut menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan air masyarakat, yang juga dinilai memiliki nilai magis.
Sumur pitu, begitu Baqir dan seluruh masyarakat menyebutnya. Setidaknya tiga dari tujuh sumur tersebut berada di wilayah Desa Payaman. Tiga sumur itu bernama Blimbing, Planangan, dan Pawadonan. Selebihnya tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Lamongan.
Sampai sekarang ketujuh sumur tersebut masih digunakan warga, di samping sumur-sumur buatan warga. Namun, sejak banyak warga yang menggunakan pompa air, debit air sumur menjadi berkurang. Hal ini mengharuskan warga untuk membeli air dari desa sebelah,yakni Desa Solokuro.
“Ya, setiap daerah itu pasti punya sejarah dan keunikannya sendiri, termasuk Payaman ini. Mengenai kebenarannya saya juga tidak bisa memastikan,” pungkasnya mencari jalan tengah. (hay, uul)
            ------------------------------------------
Biodata
Nama              : Drs M Baqir Yasin
Usia                 : 54 tahun
Jabatan            : Sekretaris Desa Payaman
Sejak    `           : Awal 1993
Pekerjaan lain : Mengajar di pesantren
Tak Ada Hari Libur, Total Mengabdi
Nama M. Baqir Yasin, bisa jadi merupakan satu dari sedikit ‘golongan tua’ yang masih eksis dalam pemerintahan Desa Payaman. Dirinya yang telah 20 tahun mengabdikan diri sebagai perangkat desa, tak ayal menjadi salah satu figur yang disegani di kalangan masyarakat Desa Payaman.
Pria 54 tahun ini masih tampak trengginas dan cekatan. Berkali-kali obrolan wartawan Derap Desa dengannya harus terpotong lantaran banyaknya warga yang meminta tanda tangannya untuk pengesahan surat-surat penting.
Telepon genggamnya pun seolah tak mau ketinggalan, membuat pria ini harus keluar masuk pendapa desa, memastikan semua petugas menjalankan kewajibannya. “Ngapunten lho (Maaf ya), sejak tadi ditinggal-tinggal. Lah semua sama-sama kewajiban,” ujarnya dengan  peluh di wajahnya.
Sejak menjabat di awal 1993, dirinya langsung dipercaya menjadi Sekretaris Desa. Waktu 20 tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengenal pahit manis dari jabatan yang diamanahkan kepadanya. Kendati acapkali merasakan kejenuhan namun semua tetap dijalaninya dengan penuh dedikasi.
Setali tiga uang dengan sepupunya, Maymunah yang telah menjabat sebagai Ketua PKK selama 25 tahun lamanya. “Sebenarnya hal ini tidak bagus ya, karena bagaimana pun regenerasi itu penting. Setiap kali masa jabatan berakhir kami selalu mengajukan penggantian pengurus. Tapi masyarakat tidak menghendaki,” keluh Maymunah.
“Ya, kita bisa jadi tidak peduli dan tetap bersikukuh tidak mau. Tapi bagaimana jadinya ke depan jika kami seperti itu. Justru organisasi akan semakin kacau. Jadi kita pasrah dan mencoba ikhlas menjalaninya,” imbuh M Baqir.
Tak lepas dari dedikasi orang-orang seperti M Baqir dan Maymunah, Desa Payaman banyak disegani oleh daerah lain. Seperti yang diungkap keduanya bahwa telah banyak daerah khususnya di Kecamatan Solokuro yang mengadakan studi banding ke Desa Payaman.
Seperti studi banding PKK desa, Posyandu, hingga tata administrasi desa. Dalam dua tahun terakhir Desa Payaman tercatat sebagai satu dari beberapa desa terbaik kategori pelaksana ADD. Sedianya tahun ini untuk Desa Payaman mendapatkan peringkat kedua untuk kategori yang sama pada pelaksanaan pengelolaan ADD tahun 2012.
Ditanya mengenai langkah yang dijalankan sehingga mampu menorehkan prestasi tersebut, M Baqir menyebutkan bahwa desa hanya melakukan seperti apa yang sudah ditentukan. Alokasi dana desa sebesar Rp 51 juta setelah dikurangi anggaran kegiatan menjadi Rp 36 juta. Dari jumlah itulah kemudian dibagikan untuk anggaran per dusun sebesar Rp 5,5 juta.
Tidak mudah. Itulah kata yang muncul kemudian setelah dijelaskan bagaimana menjalankan tugas sebagai perangkat desa. Bahkan M. Baqir mengaku dirinya tak pernah memiliki hari libur. Pasalnya, dirinya yang juga seorang guru di sebuah pesantren harus membagi waktu bagi dua tugas yang dipandangnya sebagai bentuk pengabdian masyarakat.
“Senin hingga Jumat saya di balai desa sebagai carik. Nanti Sabtu dan Ahad saya mengajar, karena saya juga seorang guru,” ujar sekretaris desa yang berpendidikan terakhir S2 ini.