Kamis, 02 Agustus 2018
Lihatlah aku!
Seharusnya aku tak bisa menulis
Lihatlah aku! Lihat semua ini
Lihat!
Bagaimana kau abadi dalam setiap goresan penaku
Lihat!
Bagaimana aku tak memiliki diksi selain namamu
Lihat!
Bagaimana setiap cerita adalah tentangmu
Lihat!
Bagaimana nafasku menegaskan kerinduan akanmu!
Lihat!
Bagaimana mungkin saja akan kuakhiri hidupku dengan cinta untukmu
Rabu, 25 Juli 2018
MIMPI
Pertama, matamu
Lalu, senyummu
Sekarang, genggaman tanganmu
Apa kau sedang berusaha membunuhku?
Tidak. Aku merindukanmuKau mengeluh, atau sedang mengutukku?
Cinta ini milik kita berdua
Tapi kenapa hanya aku yang membayar harga
Untuk ketidakterjangkauanmu?
Tidak. Aku merindukanmuSekarang apa yang kau inginkan dariku?
Bagaimana kujelaskan, aku hidup dengan semua ketersiksaan
Menjalani semua seperti keberuntungan
Padahal aku berjalan dengan tumpukan pilu
Cinta? Kau menyegelnya seperti tahanan
Kesetiaan? Kebengalan ini membuatku hanya melihatmu
Atau hidupku? Deru napas ini merapal namamu sebagai lambang kehidupan
Tidak. Tapi aku merindukanmuKau hanya kehilangan hatimu
Kenapa semahal ini harga yang harus kubayar?
Sedang aku kehilangan seluruh hidupku
Masihkah kau berkata, semahal itu hargamu?
Tidak. Tapi aku merindukanmu
Merindukanmu dengan seluruh hatiku
Rabu, 30 Mei 2018
RINDU UNTUKMU
Kupu-kupu terbang tinggi
Melintasi batas diri untuk meraih
Namun rindu tetap berkarang di hati
Dengan segala kebengalan tak terperi
Cinta dan luka bagai dua sisi
Berlawanan namun saling mengisi
Mencintai artinya hidup dalam pengharapan tanpa pasti
Sedang luka adalah ganjaran untuk cinta yang tak tahu diri
Candu,
Kau masih saja mantra yang sejenak utuh
Lantas memuai manjadi perih
Tepat ketika senyum iblis menikam diri
Tak ada lagi pengharapan pasti tentang dirimu
Meski sekali lagi, aku bengal untuk tahu kau tak mungkin kumiliki
Karena hati menolak tak merindu
Meski cinta pun menolak luka hidup yang terasa mati
Jika benar adanya reinkarnasi
Maka lihatlah hatiku
Ia hidup dan mati berulang kali
Terluka dan sembuh setiap waktu
Dengan segala kebengalan tak terperi
Cinta dan luka bagai dua sisi
Berlawanan namun saling mengisi
Mencintai artinya hidup dalam pengharapan tanpa pasti
Sedang luka adalah ganjaran untuk cinta yang tak tahu diri
Candu,
Kau masih saja mantra yang sejenak utuh
Lantas memuai manjadi perih
Tepat ketika senyum iblis menikam diri
Tak ada lagi pengharapan pasti tentang dirimu
Meski sekali lagi, aku bengal untuk tahu kau tak mungkin kumiliki
Karena hati menolak tak merindu
Meski cinta pun menolak luka hidup yang terasa mati
Jika benar adanya reinkarnasi
Maka lihatlah hatiku
Ia hidup dan mati berulang kali
Terluka dan sembuh setiap waktu
Minggu, 11 Februari 2018
Tanda Tanya
A : Selamat Ulang Tahun!
B : Usianya 17 tahun, ketika hidupnya meminta sumpah. Belum genap 18 tahun, ketika sumpah itu berbuah serapah. 11 tahun berlalu, dan cinta masih layaknya permata di kedalaman samudera
A : Apa yang sedang coba kau ceritakan?
B : Hidupnya seklise kisah yang selalu ia ceritakan. Serumit puisi yang dirangkainya dalam kesendirian. Ketika semua orang putus asa, ia bahkan dilarang berkata cukup. Serapahnya pun berbunga tulah
A : Kenapa aku melihat luka itu lagi? Bukankah kau berjanji akan tersenyum setiap kali aku datang? Kau tahu aku suka senyummu, dan hanya dengan itu aku bertahan dari rasa sakit ini
B : Ia berjanji untuk bertahan, menjaga sumpah untuk mereka yang dikasihinya. Namun di sebatas lain hidupnya, dia sendiri. Menjalani setiap rasa sakit tanpa bisa menampakkannya. Dia bernapas, tapi tak jua layak disebut hidup
A : Katakan padaku, What can I do for you?
B : Ia mencoba kuat di sisa-sisa pertahanannya. Ia tidak butuh pertanyaan untuk merongrong kendali dirinya. Ia sudah cukup mempertanyakan kelayakan dirinya. Ia sudah cukup menjawab begitu banyak tuntutan. cukup! cukup! cukup!
A : Aku akan pergi, tepat di hari kau memintaku. Tanpa bertanya, tanpa alasan. Seperti pilihanmu untuk menjagaku, lengkap dengan segala pengkhianatan yang kulakukan tanpa mempertanyakanku. Juga tanpa meminta alasan, atas pengingkaran janjiku. Sungguh!
B : Ia lelah, melemah, dan hampir menyerah.....
Minggu, 28 Januari 2018
SAKIT
Sakit ini tak serupa dengan cinta yang kutasbihkanNamun harapan dan hidup tak selalu berjalan sama
Kuinginkan dirimu hanya untukku
Tapi bahkan dalam mimpi aku harus membagimu dengan dunia
Bisakah kau diam sejenak? Biarkan aku menatapmu untuk terakhir kalinya
Terakhir kali sebelum aku jatuh dan berkubang dalam duka kehilanganmu
Ataupun sakit karena akulah yang harusnya pergi darimu
Candu, Candu, Candu
Seperti penyakit kau selalu datang lengkap dengan rasa sakitnya
Tapi entah bagaimana caramu, tak kutemukan vaksin untuk kebal akanmu
Selasa, 26 Desember 2017
KE KOTAMU
19 November 2017
6.49
Check In
Perjalanan menuju kotamu. Masihkah kau seperti biasa? Dengan binar mata api, dan senyum perahu nagamu.
Ataukah seperti terakhir kalinya, pandanganmu sedalam telaga yang siap menelanku dalam kesedihan tanpa syarat.
Aku merindukan suaramu, tapi ketika itu terdengar; sesuatu meremas jantungku tanpa ampun.
Seseorang menghirup udara untuk hidup. Aku menyesap rindu akanmu untuk berdiri yang meski seakan mati.
11.08
Sampai di kotamu. Seperti menyesap harummu. Mendengar tawamu yang renyah. Menggenggam erat jemari kokohmu. Tapi kau tahu, semua itu hanya anganku. Salah satu caraku bernapas.
20 November 2017
09.40
Seperti angka 224 yang tiada meski tetap akan jadi hitungan yang terucap. Kau yang tak lagi ada akan tetap terkenang dalam memory kekurangajaran hatiku
21 November 2017
Aceh, seperti mengekalkan rinduku. Kejadian dahsyat yang memporakporandakan pertahanan hatiku.
Cinta tanpa kepantasan yang terpatri bagai kebandelan yang tak terelakkan.
22 November 2017
Aku jelas tidak lupa dirimu, hanya mungkin tak ingat bagaimana cara bernapas dengan benar. Rindu ini mencoba membunuhku. Perlahan.
23 November 2017
Seolah, tak ada jalan tempatku melangkah saat kau tiada. Sebelumnya, kau tujuan dari pengembaraan ini. Kini, berjalan ke arahmu adalah ketidakpatutan yang mengganggu. Masihkan aku memiliki hak sekedar mengatakan, biarlah cinta untukmu terkubur bersama hati yang telah kau bawa berlari.
24 November 2017
Can you hear my heart??? Candu, bolehkah aku sekali lagi, berkali-kali lagi mengatakan bahwa aku merindukanmu? Meski itu tak layak. Hanya agar sakit ini memiliki alasan. Sedih ini memiliki pelampiasan. Dan luka ini memiliki penyebab.
17.20
Tertahan di kotamu.
Berharap kaulah alasan ketertahanan ini. Maka kan kujalani ini dengan kebahagiaan tanpa syarat.
Kamis, 21 Desember 2017
AKU
Aku sadar, telah menjadi kelemahanmu
Jalanku, seharusnya tak pernah bersamamu
Memberimu, harapan yang takkan dapat kugenapi
Aku sadar, maafku tak berperi tak jua mengubah keadaan
Jalanku, tak lagi terhubung padamu
kendatipun kujalani sepenuhnya dengan menasbihkan namamu selayaknya doa
Apa mencinta bisa membunuh?
Jika begitu, aku mungkin takkan hidup lebih lama lagi
Karena bersama denganmu, deru napasku telah kau bawa pergi
Langganan:
Postingan (Atom)





