Senin, 14 November 2016

TENANG

Bangun di fajar subuh
Dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh kecintaan
Istirahat di terik siang
Merenungkan puncak getaran cinta
Pulang kala senja
Dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dalam doa
Bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran
Tersungging di bibir senyuman





MUNGKIN

Mungkin
Kita harus berhenti mencintai agar tak lagi tertekan
Berhenti percaya agar tak selalu merasa dikhianati
Berhenti berharap sebelum menerima kekecewaan
Atau berhenti hidup, meski mati tak memberi solusi
Hanya mungkin.

PUDAR

Cinta,
Aku tidak bisa mengatakan yang lain lagi
Wajahmu memudar bersamaan dengan padamnya cahaya di langit ini
Rasanya begitu sulit melepaskan diri
Meski akhirnya aku harus menyerah
Pada gelombang yang menarikku ke bawah
Dan kemudian aku mati.



Minggu, 13 November 2016

MIMPI

Pancaran hangat sinar mentari 
Tembus dalam asaku
Sorot matamu yang sebening kaca 

Pernah menghiasi hariku
Tampak ukiran senyum di bibirmu 

Seakan bagai aliran sungai
Aku masih ingat terasa sejuk itu, 

Damai, dan bersahabat
Namun saat aku tersadar, 

Ternyata ini hanya mimpi belaka




RINDU

Bukan pada diksi yang sama aku jengah
Tapi pada hati yang sama aku marah


||Alright. I didn't lose him
    He was never mine in the first place.


Rabu, 09 November 2016

BOM WAKTU



Kupikir aku akan mati oleh ambisiku
Meski bukan dengan cara memberontak sistem semu
Atau dengan mengkambinghitamkan hakikat abdi
Pun juga tidak dengan memasrahkan diri

Aku hampir selalu lupa
Bagaimana menikmati luka tanpa air mata
Menjalani sedih tanpa merintih
Melupakan lelah tanpa menjadi jengah

Mereka bilang aku manusia
Yang selalu bereaksi serupa dengan apa yang diterima
Atau berdiam diri menahan murka
Hingga batas penantian yang jelas kentara

Aku manusia atau bom waktu?

Selasa, 18 Oktober 2016

DIARY


Aku bersyukur, bahwa aku memiliki dirimu
Karib yang takkan pernah bosan menerima kesahku
Kendati diksi yang kuceritakan masih sama
Dia

Inilah anehnya cinta, rindu, sakit, dan bahagia
Seaneh diksi tentang dia yang masih terjaga dalam diskusi
Kusadari sepenuhnya tentang cintaku yang keras kepala
Tentang rindu yang menolak berdamai
Rasa sakit yang nyata
Serta bahagia yang tanpa kompromi

Tapi ini tetap aneh ketika segalanya tak selalu sama
Aku mencintainya
Merindukannya
Merasa sakit karenanya
Juga bahagia untuknya

Sedang untuk dia
Cinta dan rindu dengan indah terpatri
Dia selalu jadi alasanku bahagia
Tapi dia tidak pernah memberiku alasan untuk menjadi tersakiti

Kenangannya, selayaknya oase di padang tandus
Rasanya biarlah dia bukan milikku
Bahkan jika wujudnya pupus
Aroma kehidupannya adalah milikku

Kau karibku
Simpankan ini untuk hidupku
Segala hal yang tersisa dari perjalananku
Pun juga segala rasa yang dicipta untukku