Kamis, 06 Oktober 2016

KHUD KO TERE


Tum bhi tanha the Hum bhi tanha the
Kau kesepian Aku juga kesepian

Mil ke rone lage
Kita bertemu lalu menangis bersama

Ho..Tum bhi tanha the Hum bhi tanha the
Kau kesepian Aku juga kesepian

Mil ke rone lage
Kita bertemu lalu menangis bersama

Ek jaise the dono ke gham dava hone lage
Kesedihan kita sama dan kita berdua mulai mencari solusinya

Tujh mein muskurate hain
Aku tersenyum padamu

Tujh mein gungunaate hain
Aku bernyanyi padamu

Khud ko tere paas hi chhod aate hain
Aku mendekat padamu dan pergi bersamamu

Tere hi khayalon mein
Aku tenggelam dalam khayalanmu

Doobe doobe jaate hain
Aku pergi bersamamu

Khud ko tere paas hi chhod aate hain
Aku mendekat padamu dan pergi bersamamu

Thode bhare hain hum thode se khaali hain
Hatiku yang kosong sedikit terisi

Tum bhi ho uljhe se hum bhi sawaali hain
Kau bingung ketika aku bertanya

Kuch tum bhi kore ho Kuch hum bhi saade hain
Sesuatu yang kosong dalam dirimu juga aku isi

Ik aasmaan par hum do chaand aadhe hain
Kita berdua seperti bulan di langit yang sama

Kam hai zameen bhi thodi Kam aasmaan hai
Bumi tidak mencukupi begitu juga langit

Lagta adhoora tum bin har jahaan hai
Setiap kata merasa tidak sempurna tanpa dirimu

Apni har kami me hum ab tujhe hi paate hain
Ketika aku merasa sendiri aku menemukanmu

Khud ko tere pass hi chhod aate hain
Aku mendekat padamu dan pergi bersamamu

Jitni bhi viraani hai tujhse hi sajaate hain
Aku menghiasi harimu yang sepi

Khud ko tere paas hi chhod aate hain
Aku mendekat padamu dan pergi bersamamu

Do raaz milte hain Humraaz bante hain
Dua rahasia bertemu dan menjadi kepercayaan

Sannate aise hi aawaaz bante hain
Inilah cara sepi untuk mendengarkan suara

Khaamoshi mein teri meri sadaayein hain
Keheninganmu memanggilku
Meri hatheli mein teri duayein hain
Dalam tanganku ada doa untukmu

Ik saath tera ho toh Sau manzilein ho
Jika aku bersamamu In i seperti seratus tujuan

Tanhaai teri meri mehfilein ho
Kesepianmu adalah tempatku

Hum teri nigaahon se khud mein jhilmilate hain
Pandanganku tertuju padamu

Khud ko tere paas hi chhod aate hain
Aku mendekat padamu dan pergi bersamamu

Tujhse apni raaton ko subah banaate hain
Aku meninggalkan malamku sampai pagi

Khud ko tere paas hi chhod aate hain
Aku mendekat padamu dan pergi bersamamu

MUSKURANE


Muskurane ki wajah tum ho
Kau adalah alasanku untuk tersenyum

Gungunane ki wajah tum ho
Kau adalah alasanku untuk bersenandung

Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
Aku tidak bisa hidup jika tanpa dirimu

O re piya re
Kekasihku

Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
Aku tidak bisa hidup jika tanpa dirimu

O re piya re
Kekasihku

O re lamhe tu kahin mat ja
Oh sang waktu janganlah kau pergi kemanapun

Ho sake to umr bhar tham ja
Bila perlu tinggalah disini untuk selamanya

Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
Karena aku tidak bisa hidup bila tanpa dirimu

O re piya re
Kekasihku

Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
Karena aku tidak bisa hidup bila tanpa dirimu

O re piya re piya re
Kekasihku

Dhoop aaye to chhaanv tum laana
Bila datang sinar mentari kau akan mendapatkan tempat yang teduh

Khwaahishon ki barishon mein
Dalam hujan keinginan

Bheeg sang jaana
Kita akan basah bersama

Dhoop aaye to chhaanv tum laana
Bila datang sinar mentari kau akan mendapatkan tempat yang teduh

Khwaahishon ki barishon mein
Dalam hujan keinginan

Bheeg sang jaana
Kita akan basah bersama

Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
Karena aku tidak bisa hidup bila tanpa dirimu

O re piya re
Kekasihku

Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
Karena aku tidak bisa hidup bila tanpa dirimu

O re piya re piya re
Kekasihku

Jo mile usmein kaat lenge hum
Rintangan yang datang apapun kita hadapi bersama

Thodi khushiyaan, thode aansoo
Sedikit kebahagian dan sedikit air mata

Baant lenge hum
Kita bagi bersama

Jo mile usmein kaat lenge hum
Rintangan yang datang apapun kita hadapi bersama

Thodi khushiyaan, thode aansoo
Sedikit kebahagian dan sedikit air mata

Baant lenge hum
Kita bagi bersama

Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
Karena aku tidak bisa hidup bila tanpa dirimu

O re piya re
Kekasihku

Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
Karena aku tidak bisa hidup bila tanpa dirimu

O re piya re piya re
Kekasihku

Muskurane ki wajah tum ho
Kau adalah alasanku untuk tersenyum

Gungunane ki wajah tum ho
Kau adalah alasanku untuk bersenandung

Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
Aku tidak bisa hidup jika tanpa dirimu

O re piya re
Kekasihku

Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
Aku tidak bisa hidup jika tanpa dirimu

O re piya re piya re
Kekasihku

Selasa, 04 Oktober 2016

HATI YANG KERAS KEPALA


Untuk hati yang tak pernah mendengarku

Aku mulai bahagia sekarang
Beberapa beban terasa meringan meski tak hilang
Kau punya cara yang unik untuk menentangku
Dan disaat yang sama mengajarkanku cara bertahan

Kau tahu, kemarin aku memecahkan gelas
Beberapa itu menganggap tanda sangkal
Tapi seseorang berkata lain, itu sangkal yang telah pergi
Seketika kulihat sebuah pintu dengan cahaya lembut
Dan aku tengah berdiri dengan damai di depannya

Ini bukan tentang mitos,
Kau tahu kita sama-sama keras kepala untuk hal ini
Ini tentang keyakinan, bahwa seberapun berlumurnya kita berdua akan dosa dan khilaf
Kita selalu memiliki-Nya untuk menunjukkan jalan
Dan untuk keberadaan, kekeraskepalaan, serta caramu menantangku
Aku berterimakasih

Salam dari jiwa yang selalu kau tentang.

Kamis, 29 September 2016

AKU, KAU, DAN DIA


Aku mulai berpikir hal yang konyol hari ini
Mungkin bukan cuma hari ini
Sudah beberapa hari berlalu
Sejak undangan terakhir yang kuterima bulan ini
Rasanya sudah lelah
Tapi jangan tanya ini lelah dalam hal apa
Aku sendiri juga lupa, atau tidak tahu.

Kau ingat,
Baik aku, kau, ataupun dia memiliki pikiran yang sama
Kita hanyalah pemain dalam panggung yang maha megah ini
Peran kita bisa jadi penting atau sekedar figuran
Tapi toh nyatanya kita ada
Cukup jalani saja perannya.

Tapi apa kau tahu,
Aku rasa aku sudah bosan dengan peran yang kujalankan selama ini
Untuk yang satu ini aku bisa berikan alasan.
Ayolah!
Aku kehilangan kalian berdua hanya dalam satu petikan jari
Kau, sahabat dan pelindungku
Dia, rekan sekaligus rival abadiku.
Yang sialnya, sama-sama pernah memiliki hatiku.

Katakanlah separuh ada padanya, separuh lagi untukmu
Selepas kalian pergi, aku tidak memiliki apapun
Aku kehilangan semuanya.
Aku hidup, atau harus kukatakan hanya bernapas?
Terserah padamulah.

Kau kesal?
Baiklah. akan kukatakan!
Aku ingin menghilang
Aku ingin pergi dan melepas peranku
Aku ingin bersembunyi jika perlu
Dan kau, kau,
Berhentilah mengintaiku

Kenanganmu saja sudah cukup mengganggu
Apalagi bayanganmu yang berjumpalitan dalam memoriku
Ini kepala bukan ruang tamu, apalagi taman bermain.
Pergilah!

Minggu, 25 September 2016

CINTA YANG BEDA



Hari ini kusingkirkan satu hal tentang dirimu
Bukan membuangnya
Hanya membuatnya tak nampak dan muncul sebagai bunga mataku
Seperti kenanganmu yang takkan pernah terhapuskan
Bayanganmu yang akan tetap mewarnai sebagian dari masa laluku
Keberadaanmu nyata adanya
Seperti rasaku yang tak terbantahkan
Namun jalan kita sudahlah berbeda
Seperti bahagia dan sedih yang tak lagi dapat kubahasakan
Maka biarlah hati ini belajar
Tentang bahasa dan cinta dengan cara yang berbeda
Kendati syairnya akan tetap sama
Untaian kata yang terlahir dari wujudmu

Jumat, 23 September 2016

KARENA HADIRMU ADALAH ILUSI


Aku sudah melepasmu sekali
Nyaris melupakanmu dan keterikatan yang menjalin di masa lalu
Kemudian senja yang kusangka mentari memberiku ilusi harapan merengkuhmu
Namun belum juga petang, harapan itu pupus bersama mega merah yang menyilaukan
Bagaimana aku menjelaskannya pada hatiku? dia begitu egois dan tak mau mendengarku
Aku masih berhenti di persimpangan yang pernah kita janjikan
Meski dengan kesadaran sepenuhnya, kau telah menikung di sudur jalan yang lain dari perjalanan

Jika hatiku egois, kakiku beku dan tak mau kuajak melangkah
Aku masih di jalan yang sama dengan harapan yang sama
Bahwa meski tak lagi memiliki jalan ke arahmu
Setidaknya di jalan ini aku dapat bertemu seseorang sepertimu
Apa kau akan bilang ini sangat tidak adil?
Lalu apa yang adil?
Apakah hati pernah diajarkan tentang rasa adil?
Jika pernah, kenapa dia selalu berontak dariku meski otakku serasa pecah untuk membuatnya mengerti?

Baiklah. Mari kita berdamai untuk hal ini
Biarkan hatiku yang egois, dengan ketidakadilan yang terus diperbuatnya padaku
Tapi, bisakah kau dan kenanganmu tak lagi jadi objek imajiku
Berhentilah menjadi ilusi yang menenggelamkanku
Berlakulah adil padaku untuk kali ini
Ijinkan aku bangun dan berhenti bermimpi


Rabu, 21 September 2016

KAU DAN SYAIRKU

https://dewiekezzie.files.wordpress.com/2010/12/60.jpg


Hari dimana aku sadar, jalanku kepadamu terhenti
Aku bahkan gagal memahami apa yang kurasakan
Bahagia dan sedih seperti sesuatu yang tak pernah kupahami
Seperti diksi yang tak kukenal

Hingga beberapa hari berlalu dan aku kembali mencoba untuk bertanya
Pada hatiku, hati yang tak pernah mau berdamai denganku
dan hanya satu kenyataan yang diperdengarkannya padaku

Kau hidup dalam syairku
Setiap kata yang kurangkai adalah kerinduanku pada kekuatan tak berbahasa
Yang hanya kudapatkan dengan mengingatmu
Mengingat setiap hal yang kupelajari untuk hidupku darimu

Lantas, apakah aku bisa disebut tengah bersedih hanya karena tak lagi sanggup menjangkaumu?
Atau aku harus dikatakan akan tetap bahagia dengan setiap hal tentang syairku yang terlahir dari wujudmu?

Sekali lagi, keduanya bukanlah diksi yang bisa kupahami sekarang
Bukan juga sesuatu yang ingin kuketahui
Itu saja.