Minggu, 18 September 2016

MASIH TENTANG AKU



Ya, ini tentang aku. Aku yang hampir selalu merasa bahwa diriku hanyalah serpihan dari masa lalu yang tersisa atau ditinggalkan. Tapi aku tidak akan membiarkan diriku menjadi Radha. Yang meskipun terlahir dari wujudmu, bukankah kita tak pernah benar-benar menyatu?

Aku juga tidak berpikir menjadi Subadhra, yang sekalipun bergelarkan kesayangan toh aku harus berbagi. Pun menjadi Vrushali, yang demi sumpah dan tradisi harus  berada jauh darimu. Lantas sanggupkah aku menahan duka menjadi Panchali, yang kehormatannya seharga kehancuran seluruh dinasti.


Aku, cukuplah aku. Dan hanya akan menjadi aku.

Kamis, 15 September 2016

LUKA YANG SAMA



Ini kelahiranku,
Hari dimana aku mendengar kabar pernikahanmu
Aku bahagia untukmu
Tapi apakah langit menangis untukku?
Doa apa yang harus kupanjatkan untukmu?
Bahagia saja, apa itu cukup?

Seseorang bertanya padaku, apa yang akan kulakukan dengan semua kenanganmu yang nyata?
Memang harus kuapakan? dan apa yang bisa kulakukan?
Apa harus kucuci otakku agar setiap warnamu memudar?
Aku ingat kau pernah bilang bahwa hidupmu berwarna udara.
Lantas bagaimana aku menghapusnya?
Dan lagi, bagaimana bisa aku meghapusnya?
Selama ini, kau dan kenanganmu adalah kekuatan tak berbahasa untuk hidupku.
Jikapun bisa kuhapus, apa aku masih bisa dikatakan hidup?

Hidup ini benar-benar jadi ironi yang menarik kan sekarang?

Rabu, 14 September 2016

Selfisness Man



Hai pria egois yang sibuk bertualang!
Masihkah kau berlari?
Sampai dimana?
Kapan akan merasa lelah?
Sudah lupa jalan pulang atau kau tidak ingat bahwa aku disini menunggumu berhenti?
Dengarkan aku, meski hanya di sela luangmu. Dan sekalipun tanpa hasratmu untuk membalas apa yang ingin kukatakan. Jalan ini semakin rumit, ada rongga yang begitu besar dan dalam di hati dan pikiranku. Jangan tanya kenapa? Itu serasa pertanyaan 10 sks yang harus kuselesaikan selama lebih dari satu semester. Rasanya aku bisa tertelan ke dalam kawah yang tanpa sengaja mungkin kubuat sendiri. Jika kau belum tahu, menolehlah sejenak, aku telah berada tepat di bibir jurang. Mungkin bukan urusanmu jika kemudian aku jatuh dan terkubur di kawah ini. Tapi kupastikan kau akan mendengar jeritan kesakitanku tepat setelah namamu kuteriakkan sebagai nada luka hatiku.
 Tidak. Jangan berpikir aku menyalahkanmu. Ini hanya rasaku. Rasa yang sungguh pernah kukira mati saat dengan kesadaran kukubur dia ketika kau bersamanya. Namun kini, ketika kita berdua sama-sama tertatih di jalan yang sama. Jalan kesendirian menantang luka yang terus terselip dengan bandelnya. Bisakah aku mencegah hati ini kembali mengingatmu? Kau bodoh jika mengira aku bisa melakukannya. Kukatakan sekali lagi, itu hal yang sulit bagiku. Kupikir otakku perlu diganti jika ingin hal itu terjadi.

 

Minggu, 14 Agustus 2016

Tentang Aku, Kau, dan Hujan (2)

Hujan ini Jatuh di hari yang sama ketika segenggam garam dilempar dengan sengaja ke hatiku
Hatiku yang menganga meski tak berdarah
Seperti air hujan yang jatuh dari kelopak bunga yang hampir bersemi namun harus patah karena derasnya tingkah hujan
Hidup ini bukankah sementara, tapi kenapa seolah aku harus berjuang selamanya
Seolah aku harus menjaga hati agar tetap bersisa meski takkan pernah utuh lagi
Ketika sisa cinta ini harus kupertahankan, aku hanya berharap bahwa tubuh ini masih cukup mampu menemani langkahku yang tak mudah
Untuk sejengkal harapan itulah tubuh ini kubawa berlari
Menjemput cahaya yang tak hanya menjadi segaris bagian dari namaku, doa hidupku, juga taqdir baik dari perjalanan yang kutempuh
mimpi akan cinta yang sempurna dan menyempurnakan, indah dan mengindahkan, hidup dan menghidupkan, besar dan membesarkan.

Alfinurya, 9 Juli 2016

Tentang Aku, Kau, dan Hujan

Hujan tak memilih di tanah mana dia harus jatuh
Tapi tanah bisa memilih untuk menjadi tempat tumbuh bunga-bung kecil penyemarak musim semi, atau berakhir dalam gersang tak berpesona
Bunga terakhir yang berkembang adalah pejuang terakhir yang berjaya
apakah aku akan menjadi tanah tempat bertumbuh, ataukah bunga terakhir yang berkembang hanya tentang pilihan
Karena sekalipun menjadi hujan yang tak memilih tanah, aku akan tetap menjadi hujan yang menumbuhkan.
Atau membersihkan
Dan itulah pilihanku.

Alfinurya, 9 Juli 2016




Pejuang Terakhir

Ketidakberuntungan ini adalah jalan yang kupilih.
Tapi di akhir, kupastikan aku adalah pejuang terakhir yang berjaya.
Petarung pertama yang mendapatkan tempatnya diantara para kesatria.
Pujangga pertama yang bersua dengan syairnya yang penuh irama suci.

Alfinurya, 9 Juli 2016

Jumat, 15 April 2016

RINDU YANG BASAH


Rindu ini semakin basah dan berdarah sekarang. Disini-dari tempatku duduk dan berdiri-, aku bisa melihat puncak gedung yang telah pernah kau tinggalkan. Puncak yang dulu hanya bisa kita lihat dengan tengadah, kini berada sejajar dengan pandangan mataku.
Dari tempat ini aku bisa melihat semua dengan sangat jelas. Semua hal yang telah berubah dan nyaris mengubur semua tinta kenangan kita bersama. Ini seperti mimpi yang tidak pernah ingin kubagi. Kau tahu, ketinggian ini membuatku takut. Karena ia membuatku seolah bersiap untuk jatuh.
Barangkali disinilah sejatinya keindahan meniti tangga, perjuangan mencapai puncak. Saat dibawah, kita terpacu bagai dikejut listrik jutaan volt untuk mencapi tujuan. Tapi diatas, keinginan dan tujuan menjadi kabur seolah memisah buih dari gelombang air laut. Jika benar ini seperti yang mereka bilang, satu dari puncak yang telah teraih.
Masih tentang rindu yang basah dan berdarah. Kini bukan hanya tentangmu , tapi juga segala kekonyolan yang membentuk jati diri kita. Juga tentang dia, yang selalu jadi objek sketsa diskusi yang selalu kita pertentangkan.
Tempat ini masih sama dengan rupa yang berbeda. Seperti aku yang tak lagi sama tapi terikat pada hal yang tak beda. Bagaimana kujelaskan padamu kawan, tempat ini membarakan rinduku yang menganga. Bilamana akan kulupa ketika setiap sudut membisikkan kenangan yang berserabut? Aku terbebas dan terikat di waktu yang sama. Aku rindu kau dan segala kekonyolanmu. Segala keluguan yang memerahkan senjaku.