Senin, 23 November 2015

Haryono Taslim, Ketua Umum FK KPM Jatim

MEMBERI SEBELUM MENERIMA

Cobalah bertanya, apa yang mendasari seseorang berkecimpung di dunia sosial. Jawabannya akan senada, karena panggilan hati. Jika sudah begitu, bukan lagi materi atau penghargaan yang dicari. Tapi kepuasan hati. Hal yang sama dirasakan Haryono Taslim, Ketua Umum Forum Komunikasi Kelompok Pemberdayaan Masyarakat (FK KPM) Jatim. Seperti apakah?

Usianya tak lagi muda. Tapi semangat dan pembawaannya mengalahkan mereka yang berusia belasan tahun. Adalah Haryono Taslim, Ketua Umum Forum Komunikasi Kader Pemberdayaan Masyarakat (FK KPM) Prov Jatim. Kesibukan sebagai motivator, inovator, hingga mediator berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan adalah kegiatan sehari-harinya.
Saat ditemui medio Agustus 2015 lalu, Haryono-panggilannya, tengah mendampingi para Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) yang mendapat penghargaan dari Gubernur Jatim melalui Bapemas Prov Jatim. Penghargaan bagi KPM berprestasi yang dinilai telah memberikan kontribusi positif untuk kesejahteraan masyarakat tersebut diberikan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2015.
Berbagai kegiatan pemberdayaan yang dilakukan Haryono dan KPM seperti memberikan fasilitasi kredit lunak bagi UKM, dengan merintis lembaga keuangan mikro. Upaya ini dilakukan secara sinergi bersama Bank UMKM Prov Jatim dengan membentuk koperasi di daerah-daerah.
“Modal awalnya kita dapat dari patungan sesama KPM sampai akhirnya terbentuklah lembaga keuangan mikro, kemudian dapat bantuan dana dan jadi koperasi. Yang jelas pengusaha kecil yang belum bankable kita fasilitasi disini,” terang Haryono yang memiliki pengalaman bekerja di perusahaan Rokok dan produk kecantikan di Jakarta tersebut. Sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Surabaya dan bergabung dengan berbagai gerakan kemanusiaan.
Disamping itu, ia bersama tenaga KPM yang tersebar di seluruh Prov Jatim juga kerap melakukan pendampingan bagi UMKM untuk bisa menjangkau pasar yang yang lebih luas. Haryono meyakini bahwa kelemahan utama produk dalam negeri bersaing dengan produk luar adalah pada promosi. Masih banyak UKM yang ragu, malu, bahkan enggan mencoba peruntungan dengan membidik high level customer.
“Satu lagi, back up terhadap upaya ini yang masih lemah. Keset dari kain perca kalau dijual disini paling laku lima ribu rupiah. Tapi coba bawa itu ke Singapura, kita jual tiga dolar pun laku,” imbuh Haryono menganalogikan.
Karenanya, saat ini dirinya tengah mengupayakan kerjasama dengan berbagai pihak untuk bisa memfasilitasi para pengusaha lokal tersebut. Diantaranya membuka Java Kriya di Singapura bekerjasama dengan Ciputra, kerjasama dengan Lakesdam NU di Tebuireng, juga Dinsos Kota Kediri dengan mengawal dana progamas yang sebesar 50 juta per RW.
Diusianya yang menginjak 61 tahun, semangat Haryono masih cukup trengginas. Ia bahkan mengaku pernah selama satu bulan tinggal di Mentawai pasca Tsunami Aceh untuk melakukan pendampingan. Berkutat dengan trauma healing, berada di daerah tanpa sinyal, ataupun melakukan perjalanan kaki sejauh 37 km bukan hal baru baginya. Satu hal yang menjadi prinsipnya, sebelum bertanya apa yang negara berikan padamu, bertanyalah dulu apa yang sudah kau lakukan untuk negerimu.
“Diluar sana banyak sekali butiran mutiara tersembnyi yang mereka itu bekerja tanpa pamrih untuk membantu masyarakat. Mereka tidak meminta penghargaan tapi kita sudah selayaknya menghargai apa yang telah mereka upayakan,” tutur Haryono dengan raut muka bangga kala bersama rekan-rekan KPM berprestasi. (hay,uul)


BIODATA
Nama              : Haryono Taslim
Jabatan            : Ketua Umum FK KPM Prov Jatim
Usia                 : 61 tahun
Alamat                        : Jl A Yani 152 C Surabaya
Telp                 : 081553700237


Jemadi, Kades Nangkodono, Juara III Lomba Desa Prov Jatim 2015


Jemadi, Kades Nangkodono, Juara III Lomba Desa Prov Jatim 2015
BERKAT DUKUNGAN MASYARAKAT

Sebaik apapun program pemberdayaan, tidak akan ada gunanya tanpa partisipasi aktif masyarakat. Kenyataan itu dibuktikan sendiri oleh Jemadi, Kades Nongkodono yang Agustus lalu berhasil memboyong predikat Juara III Lomba Desa/Kelurahan Prov Jatim 2015. Seperti apakah?

Kerukunan dan keguyuban masyarakat menjadi nilai utama yang dimiliki masyarakat Desa Nongkodono. Istilah ‘Nyang Gawean’ (Kerja Bhakti) sudah mejadi kebiasaan yang mengurat dan mengakar. Setiap fasilitas umum, lapangan, pasar desa, jalan yang bagus, semuanya tercipta berkat kerja sama masyarakat.
Hal itu diungkap Jemadi kala ditemui pada kesempatan penerimaan penghargaa dari Gubernur Jatim, Soekarwo, Senin 17 Agustus 2015 di Gedung Negara Grahadi. Perasaan senang dan bangga tak dapat tersembunyi dari wajahnya yang selalu dihiasi senyum tersebut. Atas prestasi tersebut, Jemadi berhak memboyong Tropi dan uang Pembinaan Sebesar Rp 20 Juta.
“Perasaan saya senang sekali. Kalau bukan karena dukungan masyarakat saya tidak akan bisa sampai kesini. Lurah itu tidak akan ada apa-apanya jika tidak didukung antusiasme masyarakat,” tutur Jemadi.
Begitulah, antusiasme amsayarakat dalam menghadapi perlombaan tingkat provinsi tersebut berbuah manis dengan diperoleh Juara III. Namun baik Jemadi maupun masyarakat berharap, prestasinya tidak berhenti sampai disini. Ia berharap dapat diberikan kesempatan mengikuti kembali event serupa dan bisa meraih Juara I. hal itu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Desa Nongkodono yang dipimpinnya.
Antusiasme MAsyarakt tidak berhenti disana, keterpilihan Jemadi sebagai Kades, dua tahun yang lalu diakui Jemadai juga berkat dukungan penuh masyarakat. Baginya, apalah guna dirinya macung sebagai kades jika tidak ada dukungan masyarakat. karenanya, Pria kelahiran Ponorogo, 05 Juni 1966 ini, bertekad akan selalu berusaha mencurahkan tenaga, pikiran, bahkan hartanya untuk masyarakat.
Selain antusiasme masyarakat, keseuksesan Nongkodono juga ditunjang beberapa program pemberdayaan yang dilakukan di desa. Seperti halnya kegiatan pertanian buah melon dan industry kecil krupuk, otak-otak, hingga kripik tempe. Kesemuanya merupakan usaha yang mayoritas digeluti masyarakat, dan berimbas besar pada kesejahteraan finansialnya.
Kedepan, Jemadai tengah merencanakan fasilitasi bagi induatri produk unggulan yang ada di Desa Nongkodono. Seperti pemberian label kesehatan bagi indutri pangan, dan penyediaan bahan baku ikan yang sejauh ini masih dipenuhi dari Tulungagung. Jika hal itu terwuju, ia yakin kesejahteraan akan semakin meningkat. Karena keuntungan dari usaha bisa ditingkatkan.
“Kami bekerja niatnya ibadah. Untuk urusan rejeki yang mengatur Tuhan. Yang penting kita berusaha sebaik mungkin untuk membangun desa. Desa Nongkodono itu utah getih, tanah kelahiran, jadi sebisa mungkin ingin mengabdikan diri kepada desa,” pungkas suami Suyati tersebut mantab. (hay)

BIODATA
Nama              : Jemadi
Jabatan            : Kades Nongkodono Kec Kauman Kab Ponorogo (2014-2020)
TTL                  : Ponorogo, 05 Juni 1966
Istri                  : Suyati

Qowitono, Ketua Upku Karya Sehati Tuban


Qowitono, Ketua Upku Karya Sehati Tuban
Juara II UPKu Tk Prov Jatim 2015

TEPIS BANK THITHIL, BANTU RAKYAT KECIL

Bagai makan buah simalakama. Keberadaan bank thithil memang cukup merugikan. Namun disaat yang bersamaan, masyarakat yang tidak bisa mengajukan pinjaman pada bank umum terpaksa memilih terjebat di tangan lintah darah tersebut. Karenanya keberadaan Unit Pengelola Keuangan dan Usaha (UPKu), bak angin segar bagi masyarakat kecil.
Demikian halnya dengan keberadaan UPKu Karya Sehati Kel Gedongombo Kec Semanding Kab Tuban. Keberadaannya sejak tahun 2010 telah banyak membantu kebutuhan keuangan masyarakat melalui salah satu unit simpan pinjma yang dikelolanya. Tak hanya itu, UPKu Karya Sehati juga mengembangkan usaha di bidang dekorasi pengantin dan persewaan tenda pesta (terob).
Bermodalkan dana hibah Pemprov Jawa Timur tahun 2010 sebesar Rp 77 juta, dalam lima tahun omset telah berlipat menjadi Rp 250 juta. “Alhamdulillah, usaha yang kami kelola cukup menghasilkan dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Qowitono, Ketua UPKu Karya Sehati.
Ditemui di sela acara Penerimaan Penghargaan Evaluasi UPKu Berhasil 2015 oleh Bapemas Prov Jatim, Minggu, 16 Agustus 2015, Qowitono mewakili UPKu Karya Sehati yang terpilih sebagai Juara II. Atas prestasi tersebut UPKu Karya Sehati setidaknya mendapatkan tambahan dana berupa uang pembinaan sebesar Rp. 19 Juta.
Ditanya mengenai prospek pengembangan usaha, Qowitono berencana mengembangkan di bidang entertainment yang sebelumnya sudah digeluti. Setelah sukses di bidang Simpan Pinjam, Persewaan terop, dan dekorasi pengantin akan dikembangkan pula persewaan sound system.
“Karena usaha yang saling terkait akan lebih mudah untuk dikembangkan. Nah, kalau ada bantuan lagi untuk pengembangan usaha itu, kami akan sangat senang,” tutur Qowitono setengah berkelakar.
Kaitannya dengan prestasi yang diraih, Qowitono mengaku tidak memiliki resep khusus. Bahkan dirinya mengaku tidak pernah berpikir bisa mnedapat predikat sebagai Juara II UPKu berhasil. Pasalnya, selama ini penegelolaan keuangan UPKu terkesan biasa saja. Jika ada hal yang mungkin dianggap baik dalam penilaian, menurut Qowitono, adalah laporan administrasi keuangan yang tertib dan perkembangan UPKu dari sisi modal dan keuntungan.
“Seperti halnya koperasi, setiap tahun  disampaikan laporan pertanggungjwaban,” ujarnya. Laporan  pertanggungjawaban disampaikan setiap tahun pada Rapat Anggota Tahunan (RAT). Sedang  laporan triwulan disampaikan kepada Pemkab melalui Bapemas Kab Tuban.
Warga Jl Cokroaminoto Gang Pasar Hewan Tuban ini juga berharap, kemenangan tersebut bukan menjadi akhir. Kedepan, pembinaan dari SKPD terkait tetap mutlak dibutuhkan. Agar UPKu yang pernah meraih juara bisa terus survive.
            Selain pengelolaan yan baik, Qowitono juga menjelaskan bahwa salah satu kunci sukses UPKu Karya Sehati juga didukung pengurus yang memiliki loyalitas tinggi. Sebagian besar pengurus merupakan pihak swasta dengan berbagai latar aktifitas ekonomi, sehingga kegiatn di UPKu sepenuhnya menjadi pengabdian tanpa mengharap keuntungan materi.
“. Semangat kami ya, bagaimana UPKu ini bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan pemerintah dan bisa membantu masyarakat kecil itu saja,” pungkas suami Lasminah tersebut mengakhiri pembicaraan. (hay,eru)



BIODATA
Nama              : Qowitono
TTL                  : Tuban, 9 Maret 1972
Alamat                        : Jl Hos Cokroaminoto gang Pasar Tuban
Jabatan            : Ketua Upku Karya Sehati
Istri                  : Lasminah
Anak                :
1.      M Rizky Pratama
2.      Nadia Dwi Ramadani
             

sp; 

Husni, Mantan Kades Waruk Kec Karangbinangun Kab Lamongan (1997-2007)


Apa Kabar Dongkol?
Husni, Mantan Kades Waruk Kec Karangbinangun Kab Lamongan (1997-2007)

PENSIUN KADES, KELOLA BUMDES

Post power syndrom, kerap dialami mantan kades yang tak lagi memiliki kesibukan. Namun tak demikian halnya dengan Husni, mantan Kades Waruk Kec Karagbinangun Kab Lamongan. Selang setahun setelah tak lagi menjabat, ia didaulat menjadi Ketua BUMDes hingga sukses meraih prestasi di tingkat Prov Jatim. Seperti apakah?


Gurat senyum bangga dan bahagia tak pernah lepas dari wajah pria kelahiran Lamongan 50 tahun yang lalu tersebut. Ditemui di sela acara penerimaan hadiah dan penghargan bagi BUMDes berprestasi tingkat Prov Jatim, Ahad, 16 Agustus 2015, Husni menyampaikan rasa syukur atas prestasi yang tidak disangkanya tersebut.
Gak nyangka bisa juara dua, sama sekali tidak terpikir sebelumnya,” ujar Husni yang kini menjabat Ketua BUMDes Sentosa Abadi tersebut.
Husni memang tidak sendiri, bersamanya ada tiga BUMDes lain yang juga mendapat prestasi serupa. Pengelolaan dan aspek kemanfaatan bagi masyarakat merupakan beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Beberapa BUMDes tersebut diantaranya BUMDes Sekar Mulia Blitar (Juara I), BUMDes Sekapuk Gresik (Juara III), dan BUMDes UPK Sejahtera Bojonegoro (Juara IV).
Pengalamannya sebagai kades dua periode, sejak 1991-2007 tak bisa dianggap remeh. Dia menjadi satu-satunya orang yang langsung dipercaya memimpin BUMDES yang dirintis pada kisaran November 2012 tersebut. Sebelumnya, Husni juga merupakan Ketua Unit Pengelolaan Keuangan (UPK) dibawah Program Gerdu-Taskin (Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan)  yang ada sejak tahun 2008. Dimana UPK tersebut merupakan embrio dari BUMDes yang kini diberi nama Sentosa Abadi tersebut.
Lantas apakah kiat sukses yang dilakukan Husni dalam mengelola BUMDes? Ayah dua anak tersebut mengaku menerapkan prinsip 4T, Temen, Tekun, Teliti, dan Telaten. Temen (sungguh-sungguh, red), artinya dalam menjalankan tugas dan kewajibannya Husni selalu bersungguh dan tidak mudah beralih pekerjaan sebelum yang dilakukan tuntas. Tekun, tidak peduli besar atau kecil yang dilakukan, semua diupayakan untuk dilakukan dengan baik. Kemudian teliti, mengingat ia dan pengurus BUMDes pada umumnya berhubungan dengan pengelolaan keuangan yang tidak bisa disepelekan.
“Urusannya kan sama uang, jadi memang harus teliti. Kemudian harus telaten, karena setiap hari kita ini sibuk dengan angka-angka, menghitung uang yang bukan uang sendiri. Kalau tidak telaten, mungki tidak akan ada pengurus yang mau repot-repot. Mending kerja pabrik, jelas gajinya,” terang Husni diselingi tawa riang.
Berbekal prinsip 4T itulah, Husni dan segenap pengurus tetap komitmen untuk mengelola BUMDes demi kesejahteraan masyarakat. Meski di sela kesibukan mengelola BUMDes, ia dan kawan-kawan tetap harus berbagi waktu untuk bekerja menghidupi keluarga.
Terkait usaha yang dikembangkan, BUMDes Sentosa Abadi terbilang cukup bervariatif. Mulai dari unit simpan pinjam, jasa dan pemasaran yang diantaranya mengelola pengkreditan barang kebutuhan rumah tangga, sarana produksi pertanian, Industri dan kerajinan rumah tangga, kemitraan usaha, hingga bank sampah. Dari berbagai unit usaha tersebut, modal awal yang sebelumnya sekitar 270 juta, kini telah berkembang menjadi 500 juta lebih.
“Dulu saya memang sempat malu. Mantan kades kok masih ngurusi uang desa. Tapi berkat dorongan masyarakat dan dukungan istri saya akhirnya bersedia. Yang penting niat saya ikhlas untuk membantu masyarakat,” kenang Husni.
Kini, setelah sukses meraih prestasi perjuangan Husni tetap tidak berhenti. Ia bertekad untuk terus mengembangkan BUMDes dengan mengembangkan unit usaha lain yang mendukung. Seperti peningkatan keterampilan ibu rumah tangga dan pembuatan fermentasi pakan ternak. Bahkan meski mendekati masa pensiun, ia dengan senang hati mengaku akan tetap membantu kegiatan BUMDes, kendati dari belakang layar.
“Kalau didalam peraturan BUMDes saya memang harus pensiun. Karena batasnya 50 tahun. Tapi teman-teman kok enggan saya suruh cari pengganti,” pungkas pria berkacamata yang menggenapkan usia pada 26 September tersebut. (hay)

BIODATA
Nama     : Husni
TTL         : 26 September 1965
Jabatan  : Ketua BUMDes Sentosa Abadi
Alamat   : Desa Waruk RT 03 RW 01 Kec Karangbinangun Kab Lamongan
Istri        : Nur Abidah Kholis
Anak       :
1.          Faridatul Ma’shumah
2.          Syamsu Dhuha


Leran: Desa Seribu Makam Warisan Masa Silam

Desa Leran,  Kec. Manyar, Gresik

LAZIMNYA sebuah desa hanya memiliki satu atau dua kompleks pemakaman. Namun tidak demikian dengan Leran yang memiliki 13 lokasi pemakaman. Istimewanya, sebagian makam di desa ini berusia ratusan tahun. Selain menjadi ‘prasasti’ peradaban sejarah, situs makam itu juga menjadi bukti bahwa Islam telah masuk di Jawa jauh sebelum abad ke-15, zamannya para wali.

LERAN, di masa Pemerintahan Kerajaan Majapahit, dikenal dengan nama Sembalo. Tidak ada literatur pasti mengenai kapan Sembalo berganti nama menjadi Leran. Namun diyakini masyarakat sekitar, Leran dulu merupakan pusat perdagangan internasional yang banyak dikunjungi pedagang Cina, Arab, Gujarat, Kalkuta, Siam, Benggali, dan Campa. Maka penamaan Leran pun dikaitkan dengan kata “Lerenan” yang berarti tempat peristirahatan atau persinggahan.
Menemukan Desa Leran tidaklah sulit. Berada sekitar satu kilometer dari pintu Gerbang Tol Manyar yang menghubungkan Gresik dengan Surabaya. Dengan jarak 26,20 km dari pusat kota provinsi, perjalanan menuju Leran dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat. Atau Sekitar 8 km dari Pusat Kota Gresik melalui jalan Daendels (sisi pantura) yang menuju ke arah Lamongan.
Berada di pesisir utara Pulau Jawa, Desa Leran masih menyisakan sisi kehidupan Kota Bandar sebagai bukti masa lalunya. Hampir 78 persen wilayahnya berupa lahan budidaya ikan dan sejenisnya (tambak, red), yakni sekitar 1.069,30 ha dari luas wilayah 1.365,24 ha. Selebihnya 86,19 ha merupakan saluran air berupa sungai atau bengawan, 68,97 ha lahan kosong, 44,76 ha area pemukiman, 29,40 kawasan pinggiran sungai, 22 ha sawah, 7,80 ha lahan perkebunan, 6,09 ha jalan kampung, 10,05 ha wilayah pemakaman, dan 20,68 ha berbagai jenis lahan lainnya.
Desa Leran juga memiliki enam tempat pemandian umum, masing-masing Telaga Mati, Telaga Sigaran Pesucinan, Telaga Kembar Leran, Telaga Kedung, Telaga Kuti, dan Telaga Tlogojero. Namun yang lebih menarik, di hampir setiap sisi jalan desa terdapat papan nama bertuliskan ‘Tanah Makam Islam Desa Leran’.
“Ceritanya dulu di Leran pernah terjadi pagebluk yang menyebabkan banyak orang meninggal sehingga tempat pemakaman pun tersebar di hampir seluruh desa. Total ada 11 titik pemakaman umum, dan dua Makam situs Purbakala” terang Amirul Mu’minin, Sekdes Leran yang secara khusus menjadi ‘guide’  tim Derap Desa (DD) saat mengunjungi desa itu menjelang ramadhan lalu.
Bersama Amir, DD pun berkesempatan mengunjungi Masjid Pesucinan, peninggalan Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Komplek Makam Panjang yang merupakan daya tarik utama Desa Leran, peninggalan akhir abad ke-13.

Masjid Pesucinan
Salah satu bukti bahwa Maulana Malik Ibrahim pernah singgah dan berdakwah di Leran pada tahun 1370 M adalah keberadaan Masjid Pesucinan. Meski beberapa abad usianya, jangan bayangkan kondisi masjid itu sarat akan unsur klasik. Sebaliknya, keseluruhan bagian masjid kini telah mengalami pemugaran, sehingga yang nampak hanyalah arsitektur masjid kekinian.
Dua warisan Syekh Maulana Malik Ibrahim yang tersisa hanyalah, kolam di tengah area masjid dan cungkup masjid. Sampai hari ini, air kolam itu diyakini masyarakat setempat berhasiat untuk obat.
“Kalau mencari bukti ketuaan desa, mungkin sudah tidak ada. Tapi kalau yang disebut tua di Leran ya Masjid Pesucinan dan Makam Panjang,” ujar Abdul Manan, Kades Leran saat ditemui DD di kantor desanya.

Makam Panjang
Selain daya tarik Masjid Pesucinan,  keberadaan Makam Panjang pun tak kalah menarik. Di tempat ini terdapat makam utama dengan bangunan cungkup tinggi sekira 15 meter yang dipercaya, makam Siti Fatimah Binti Maimun. Selain itu, tiga kompleks makam panjang yang ukurannya mencapai sekitar 7-9 meter.
“Sebenarnya,  yang dikenal masyarakat sini secara turun temurun itu Retno Swari. Menurut KH. Abu Naim (alm) dari pengamatan hasil riyadlah beliau dulu, nama asli makam puteri ini adalah Maimunah Binti Mahmud Syah Alam. Tapi masyarakat luar sudah terlanjur mengenalnya sebagai makam Siti Fatimah binti Maimun,” terang Amirul Mu’minin.
Sebelum memasuki gapura utama makam Fatimah, pengunjung akan disambut dua makam panjang sekira 6 meter bertuliskan R. Sa'id (kanan) dan R. Ahmad (kiri). Konon keduanya merupakan Talang Pati atau penjaga pintu gerbang utama sang puteri.
Sementara, posisi komplek makam panjang berada di sebelah kanan Makam Fatimah binti Maimun, dengan jarak sekitar 100 meter. Di tempat itu terdapat tiga kompleks makam panjang. Komplek pertama, berisi tiga makam dengan panjang sekitar 9 meter dengan pagar batu setinggi pinggang dan gapura sebagai pintu masuk setinggi setengah meter. Masing-masingnya betuliskan Sayyid Karim, Sayyid Ja'far, dan Sayyid Syarif.






Komplek kedua di sisi kanannya, berisi dua makam yang sedikit lebih pendek sekitar 8 meter. Makam yang juga dikelilingi tembok batu tanpa gapura itu merupakan makam Sayyid Djalal dan Sayyid Djamal. Di luar pagar depan makam tersebut terdapat pula makam Sayyid Djamaluddin yang hanya dikelilingi pagar besi dengan pajang sekitar tujuh meter.
Salah satu sumber yang dicuplik Amir menyatakan, panjangnya makam tersebut hanyalah upaya memanipulasi letak jasad yang dikubur. Pasalnya, para sayyid yang dimakamkan di tempat itu merupakan punggawa pilihan yang sakti. Sebagian tradisi terdahulu, kain kafan orang sakti diyakini bisa dijadikan jimat kesaktian. Karena itu, selalu menjadi incaran.
‘’Namun ada versi lain yang menyatakan, panjangnya makam ini karena sejumlah senjata sakti kesayangan para sayyid itu juga ikut dikuburkan disitu,’’ imbuh Amir.
Sementara itu, di dalam cungkup utama bangunan makam Retno Swari yang menyerupai candi pada masa Hindu-Budha itu berisi 5 makam. Selain makam dengan nisan bertutup kain hijau bertuliskan Fatimah binti Maimun, juga terdapat empat makam lain di sebelah kanan dan kirinya.
Di sebelah kanan, terdapat tiga makam yang diyakini sebagai para kerabat puteri bertuliskan Putri Kamboja (Kerajaan Cambodia Mianmar), Putri Kucing  (Kerajaan Serawak Malaysia), dan Putri Keling (Taiwan). Dan di sisi kiri, terdapat sebuah makam yang disebut sebagai emban (pengasuh) Retno Swari bernama Nyai Seruni.
Di dalam komplek makam panjang, juga terdapat makam penduduk Leran karena dulunya tempat itu merupakan wilayah pemakaman umum. Akhirnya pada tahun 1963, komplek itu diambil alih Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim dan tidak lagi menjadi makam umum.
Beberapa pemugaran juga telah dilakukan. Hal itu diupayakan untuk tetap menjaga keaslian bentuk makam. Dalam beberapa waktu terakhir, telah dilakukan pembangunan pagar mengelilingi kompleks pemakaman seluas 23.150 m2.
Abdul Manan, Kades Leran menyebutkan, pembangunan pagar komplek makam dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama pembangunan senilai Rp 1,5 miliar untuk pagar di sisi selatan dan timur. Pada tahap kedua yang meliputi saluran air dan pagar sisi utara dan barat senilai Rp 4 miliar. 
Saat ini juga direncanakan pembangunan beberapa sarana penunjang, seperti tempat parkir, kantor yayasan pengelola makam, museum, hingga rumah juru kunci yang diperkirakan menelan dana sekitar Rp 10 miliar. Dana pelaksanaan pembangunan itu bersumber dari Dinas Pekerjaan Umum Kab Gresik. (hay, uul, yus, eru)



DATA MAKAM DI LERAN

  1. Makam Umum (Islam)
    • Makam Jangkang 130 m2.
    • Makam Gede 2.720 m2
    • Makam Cilik 5.130 m2
    • Makam Dukuh 9.200 m2
    • Makam Santri 2.470 m2
    • Makam Senteg Glerek 6.880 m2
    • Makam Gambang 1.250 m2
    • Makam Kedung 9.850 m2
    • Makam Kramat Gede 9.070 m2
    • Makam Kramat Cilik 1.050 m2
    • Makam Tuhu 10.900 m2
  2. Makam Situs (Suaka Purbakala)
    • Makam Tlogo Jero 580 m2
    • Makam Panjang 23.150 m2



DATA DESA

Nama Desa                  : Leran
Kepala Desa                : Abdul Manan, Msi
Sekretraris Desa          : Amirul Mu’minin
Kaur Keuangan           : M Tho’at Aziz
Kaur Umum                : Khoifin
Kasi Kesra                   : Fadholi
Kasi Ekobang              : Elin Indahsari
Nama Dusun               : Kuti, Kedung, Pesucinan, Pesantren, Makam Panjang, Dukuh Lestari
Kepala Dusun             : Abu Khasan (lainnya kosong menunggu pengangkatan)
Ketua BPD                 : Khamdan, S Ag, M.PdI

Luas Wilayah              : 1.365,24 ha
Jumlah Penduduk       : 5.118 Jiwa
Jumlah KK                  : 1.228 KK

Batas Desa
·                                                                  Batas Utara     :Desa Betoyokauman, Desa Betoyoguci, Desa Banyuwangi,
Desa Manyarejo dan Desa Manyarsidomukti (Kec. Manyar)
·                                                                  Batas Timur     : Desa Manyarejo, Desa Peganden, Desa Banjarsari (Kec. Manyar)
·                                                                  Batas Selatan  :Desa Banjarsari, Desa Tebalo (Kec. Manyar) dan Desa Tebaloan, Desa Ambeng-ambeng Watangrejo (Kec. Duduksampeyan)

·                                                                  Batas Barat     :Desa Petisbenem, Desa Kemudi (Kec. Duduksampeyan)



Ihtiyar Meluruskan Sejarah

MENGUNJUNGI Leran bak menelusuri masa silam. Mengapa? Karena Leran menyimpan banyak situs sejarah. Salah satunya Makam Fatimah Binti Maimun yang biasa diyakini masyarakat setempat sebagai makam Retno Swari, atau Nyi Mas Ayu Putri.

SEJARAH memang tak pernah tunggal. Selalu ada pembanding atas versi yang muncul. Begitu juga dengan makam Leran. Hasil kajian sejarah yang dicuplik Sekdes Leran, Amirul Mu’minin, memunculkan versi baru dari cerita yang ada.
Menurut versi kajian itu, keberadaan makam berawal dari kedatangan Syekh Maulana Malik Ibrahim ke Desa Leran sekitar tahun 1369 masehi. Setelah berdakwah selama dua tahun,  Maulana Malik Ibrahim bermaksud melakukan negoisasi dengan Raja Brawijaya III (Sebagian menyebut Raja Brawijaya IV, red.), agar masyarakat pribumi diberi kebebasan memeluk Agama Islam, tanpa ada tekanan dari pihak kerajaan.
Maulana Malik Ibrahim pun berkirim surat meminta bantuan pada kerabatnya di Kedah, Malaka, Sultan Mahmud Syah Alam. Tak beberapa lama datanglah Sultan Mahmud Syah  bersama 88 pasukan menaiki tiga kapal. Dalam rombongan itu, turut pula putri Sultan Mahmud Syah, bernama Maimunah binti Mahmud Syah Alam.
Selanjutnya dua orang kerabat dekat Sultan Mahmud Syah, yakni, Sayid  Karim dan Sayid Djafar diutus menemui raja. Karena tak berhasil, keduanya memutuskan kembali ke Leran dan meninggalkan pesan, berupa dua buah delima untuk disampaikan pada raja sebagai salam perkenalan. Setelah buah tersebut dibuka, ternyata berisi berlian.
Maka takjublah sang raja. Dikejarlah dua utusan tersebut untuk diminta kembali. Namun keduanya menolak. Sang raja pun malu dan murka atas penolakan itu. Maka dikirimlah puting beliung untuk menggulung keduanya hingga mereka linglung dan salah arah.
Mendapati utusan pertamanya gagal, Maulana Malik Ibrahim pun memutuskan datang sendiri menemui sang raja. Ikut bersamanya, Maimunah binti Mahmud Syah Alam.
Tapi dasare raja jaman semono, deleng wadon ayu langsung kepincut. Maka diajukanlah syarat, sang raja mau masuk Islam asalkan putri itu bersedia dinikahi,” terang Amir dengan sedikit gelak tawa.
Namun permintaan tersebut ditolak. Sang raja pun kembali malu dan murka. Sepulang dari kerajaan, Raja Brawijaya lantas mengirim teluh yang menyebabkan terjadi pagebluk (wabah penyakit, red) di Desa leran. Pagebluk berbentuk penyakit sampar itu akhirnya banyak menewaskan penduduk , termasuk Maimunah binti Mahmud Syah Alam dan beberapa putri pengiringnya.
Selang beberapa waktu, Raja Brawijaya memutuskan bertandang ke  Leran. Malangnya, Maimunah binti Mahmud Syah Alam yang hendak ditemui telah meninggal. Untuk menghormati sang puteri, dibangunlah sebuah cungkup di makam itu. Maimunah binti Mahmud Syah Alam juga diberi gelar Retno Swari.
Konon, lanjut Amir, saat membangun cungkup itu, Raja Brawijaya dibantu pasukan Jin dan berencana menyelesaikannya dalam satu  malam. Namun belum sampai selesai, di sekitar Manyar sudah terdengar bunyi lesung dan ayam berkokok. Pasukan Jin pun pergi terbirit.
 ‘’Itulah sebabnya ketika pertama kali ditemukan, makam ini tidak memiliki atap. Atap cungkup berbentuk limas itu dibangun pada kisaran abad 20. Pemugarannya dilakukan selama tiga tahun mulai 1979-1981 menggunakan jenis batu yang sama dari Gujarat India, ini kata Kepala Purbakala’’ terangnya.
Dengan begitu, kisah ini jelas berbeda dengan kisah yang berkembang selama ini bahwa, makam dalam cungkup itu adalah makam Siti Fatimah binti Maimun yang meninggal tahun 1082 masehi.

Meluruskan Sejarah
Berkait dengan perbedaan tersebut, menurut Amir, semua itu bermula pada tahun 1952 M, pada saat pihak Museum Nasional melakukan observasi di area makam dan menemukan batu bertuliskan Fatimah Binti Maimun Bin Hibatalllah, wafat tanggal 7 Rajab 475 H atau 2 Desember 1082 M. Batu itu kemudian diyakini sebagai batu nisan dari makam tersebut.
“Yang menjadi pertanyaan, posisi batu saat ditemukan hanya menempel di dinding makam, bukan sebagaimana layaknya batu nisan. Selain itu, batu itu juga memiliki lubang sehingga timbul banyak spekulasi apakah itu nisan atau prasasti,” ucap Amir mempertanyakan.
Ia lalu menyuplik temuan KH Mukhtar Jamil, sejarawan asal Gresik. Menurutnya, batu makam bertuliskan Fatimah binti Maimun juga ditemukan di Gujarat (Cambay) India. Pendapat ahli menyatakan, batu tersebut memiliki struktur yang sama dengan yang ditemukan di Phanrang, Thailand. Asal muasalnya juga dari Cambay, India.
Yang menguatkan, di kawasan sekitar Gujarat terdapat kebiasaan keluarga kerajaan yang mengharuskan anggota keluarganya bila bepergian jauh menyeberangi lautan, membawa bukti silsilah keluarga. Dengan begitu, dimungkinkan siapapun yang membawa batu tersebut, merupakan keturunan dari Fatimah binti Maimun bin Hibatallah asal Gujarat India.
“Itulah sebabnya kalau saya diminta bercerita, saya bilang, jika menyebut Fatimah Binti Maimun, jelas tidak ada kaitannya dengan Maulana Malik Ibrahim. Tapi kalau mengikutkan sejarah Maulana Malik Ibrahim, maka sebutlah Retno Swari atau Maimunah binti Mahmud Syah Alam” pungkas Amir. (hay,uul,eru,yus)



>>>> Drs. Abdul Manan, M.Si, Kades Leran                                                                          

Jatuh Bangun Kelola Situs Sejarah

TAMPILAN kesehariannya khas ala pesantren: pakaian gamis, sarung, juga peci putih di kepala. Penampilan itu juga yang tak jarang dilakukan saat berada di kantor desanya, Leran Kec. Manyar Kabupaten Gresik.
‘’Maaf saya masih pakaian gini. Biasanya, setelah subuhan, sebelum jam kantor dimulai, saya sudah ada disini. Makanya, ini tadi saya juga belum sempat ganti baju,’’ ujar Abdul Manan, Kades Leran mengawali pembicaraannya dengan DD di kantornya.
Bagi masyarakat Leran, penampilan seperti itu mungkin bukan hal yang aneh. Sebab, tradisi di desa itu memang kental dengan budaya pesantren. Apalagi, Abdul Manan juga merupakan kades dengan latar belakang santri.
Bahkan sebagian besar pendidikannya dihabiskan di Pondok Pesantren (Ponpes), mulai Ponpes Tanwirul Qulub Lamongan, Mambaul Hisan Sidayu Gresik, hingga Pondok Suci Manyar, Gresik. Maka, tak heran, jika sosok Abdul Manan juga dikenal dekat dengan ulama. Bahkan saat masih kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1990, ia telah bergabung dalam Forsipa (Forum Silaturrahmi Pengajian Anak) Masjid Rahmat, Kembang Kuning, Surabaya.
Lalu bagaimana bisa beralih menjadi Kades? Manan pun mengaku, tak pernah berpikir akan terjun ke dunia politik praktis, seperti pencalonan dirinya sebagai kades, dua tahun lalu. Semua itu lantaran dorongan masyarakat yang menghendaki dirinya maju saat Pilkades. Sebelumnya, selama 17 tahun, ia menjabat sebagai Kepala MTs. Nurul Huda yang lokasinya tepat di depan balai desa Leran. ‘’Sekarang mau tidak mau, ya harus ngurusi desa. Karena amanat masyarakat,’’ sergahnya.
Menurut Manan, kendati Leran merupakan desa tua sebagaimana sejarahnya sebagai Kota Bandar, namun banyak hal yang masih harus dibenahi. Khususnya pembangunan infrastruktur dan pelestarian situs purbakala desa.
Masjid Pesucinan misalnya, hingga kini pengelolaannya masih dilakukan warga meskipun tanah telah mendapat sertifikasi BP3 Jatim sebagai situs purbakala. Sementara makam panjang, belum memiliki pengelolaan yang jelas akibat kurang baiknya koordinasi antara yayasan pengelola dan juru kunci makam.
“Kami dari pihak desa mau membuat Perdes juga tidak bisa, karena itu sepenuhnya wewenang BP3 Jatim,” ujar pria yang pernah menjadi anggota Khatib Masjid Rahmat Kembang Kuning Surabaya ini.
Kendala tersebut, menjadikan tidak optimalnya pembangunan yang dilakukan di beberapa situs potensial desa. Karena setiap perubahan yang akan dilakukan harus mendapat persetujuan dari BP3 Jatim, yang dinilai kurang pro aktif. Ditambah lagi dengan sepinya kunjungan, menjadikan Leran seolah tenggelam bersama dengan sejarah besar yang membangunnya.
“Ada unen-unen (anggapan di masyarakat) Makam Panjang dulu pernah ramai, kemudian sepi karena memang tidak boleh diramaikan. Pertimbangnnya karena peziarah campur antara laki-laki dan perempuan tidak boleh,” ujar ayah tiga anak tersebut.
Terlepas dari hal itu, Abdul Manan menegaskan akan tetap mengupayakan perbaikan dalam sistem pengelolaan, baik Masjid Pesucinan maupun Makam Panjang. Ia sangat berharap, perbaikan sistem pengelolaan nanti akan membawa dampak terhadap kunjungan dan kelestarian dua situs tersebut.
“Nanti ketika rapat persiapan Haul Makam Panjang, akan kami pertegas lagi. Intinya makam panjang ini boleh diramaikan atau tidak. Kalau tidak, ya sudah. Tapi kalau sepakat boleh diramaikan, ayo bersama kita tata semuanya. Apalagi Pemkab Gresik juga mendukung sepenuhnya upaya ini,” tekad Abdul Manan. (hay,uul,eru,yus)


BIODATA
Nama                     : Drs Abdul Manan, MSi
TTL                       : Gresik, 14 April 1970
Jabatan                  : Kades Leran (2013-2019)
Istri                        : Zumrotul Muadhomah
Anak                     : 3 orang
·      Faiq Junaizatur Rifqiyyah
·      Aiz Zakiyyatul Fakhiroh
·      Alvi Farichatus Salmiyah