Kamis, 06 Agustus 2015

Situs Sejarah dan Mitos Air Penyembuh

Masjid Maulana Malik Ibrahim, Leran, Manyar, Gresik
Menelusuri jejak sejarah selalu menarik. Tak hanya melihat kilas balik peradaban di masa lampau, namun juga berbagai tradisi dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat, menarik untuk dikaji. Salah satunya jejak kedatangan Maulana Malik Ibrahim ke Nusantara. Peninggalannya berupa masjid, kolam tempat wudlu, hingga peninggalan purbakala lain menjadi kekayaan Nusantara yang harus dilestarikan.

Berkunjung ke Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, orang seolah ‘dipaksa’ mengurutkan kembali fakta sejarah tentang masuknya agama Islam ke Nusantara. Salah satunya adalah kedatangan Maulana Malik Ibrahim pada kisaran tahun 1370-1371 M, yang konon mengendarai kapal dan mendarat di Desa Sembalo yang kini dikenal dengan nama Desa Leran.

Gresik, khususnya Desa Leran, sejak abad ke-11 dikenal sebagai pusat perdagangan internasional, atau dikenal dengan nama Kota Bandar. Sebagai Kota Bandar, Gresik banyak dikunjungi pedagang China, Arab, Gujarat, Kalkuta, Siam, Benggali, Campa dan lain-lain.

Mengacu pada fakta sejarah tersebut, penamaan Leran yang berasal dari kata “Lerenan” berarti tempat peristirahanan atau persinggahan. Tempo dulu, Leran punya peran penting dalam penyebaran Islam. Khususnya di Tanah Jawa. Desa ini juga menjadi tempat pendaratan Maulana Malik Ibrahim. Pria yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gresik ini diyakini menjadi salah satu penyebar Islam pertama di Pulau Jawa.

Namun sejarah sebagai pelabuhan internasional kala itu agaknya telah terkikis habis. Desa yang terletak tujuh kilometer di barat laut Kota Gresik itu secara fisik tidak banyak berbeda dengan kota lain pada umumnya. Tanah-tanah gersang di kampung yang luasnya kira-kira 1.300 meter persegi itu sekarang lebih didominasi oleh petak-petak tambak.

Meski demikian, sisa-sisa kejayaan Leran masih bisa ditelusuri dari sejumlah peninggalan. Salah satunya, masjid yang dibangun Maulana Malik Ibrahim. Masjid yang diberi nama Masjid Maulana Malik Ibrahim, atau orang lokal menyebutnya Masjid Pesucinan itu dibangun di tepian kolam besar di sebelah timur Dusun Pesucinan.

Meski sebagai masjid yang bernilai sejarah, jangan membayangkan kondisi masjid yang penuh dengan unsur klasik. Karena hampir keseluruhan bagian masjid telah mengalami renovasi. Sehingga yang akan ditemui adalah masjid dengan arsitektur yang benar-benar baru dan modern.

Namun sebagai upaya pelestarian, tanah masjid telah disertifikasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) sebagai peninggalan sejarah. Sehingga meski telah dipugar menjadi masjid modern, namun lokasi masjid masih diakui sebagai tempat bersejarah.
Seperti halnya bentuk gapura yang menyambut kedatangan pengunjung ketika hendak memasuki areal masjid. Sebuah gapura persegi dengan lubang masuk berbentuk lengkung, dan sepasang ornamen simetris berhias ukiran kaligrafi Arab.

Masjid Pesucinan memiliki atap bergaya limasan dengan atap berupa cungkup dari gerabah. Menurut Amirul, Carik Desa Leran, yang mendampingi Derap Desa berkeliling, cungkup tersebut merupakan satu-satunya bagian asli dari masjid. Selebihnya telah diganti atau diubah selama masa renovasi. Termasuk bedug penanda masuknya waktu salat, yang kini berada di Museum Kabupaten Gresik.

Memasuki bagian dalam masjid, pandangan mata akan langsung disuguhkan pada sebuah mimbar salat dengan bentuk yang relatif unik. Mimbar yang konon dibuat dari pilar-pilar asli Masjid Pesucinan ini terlihat penuh dengan berbagai macam ornamen. Mimbar kayu ini menjadi satu-satunya benda menarik yang ada di dalam ruangan Masjid Pesucinan Leran.

Masih di bagian dalam masjid, ruang utamanya tidak terlalu luas. Terdapat empat pilar kayu yang menyangga bagian tengah masjid. Saat kami menengadah ke atas melihat bagian langit-langit masjid, tidak tampak ukir-ukiran seperti kebanyakan masjid. Meski relatif baru, agaknya kesan simpel dan sederhana tetap dipertahankan dalam arsitektur masjid.

Saat itu, Masjid Pesucinan untuk kesekian-kalinya kembali direnovasi. Tampak berserakan material bangunan yang sedianya digunakan memperluas bagian dalam masjid di bagian barat masjid.

“Semua bagian masjid bisa dibilang sudah tidak ada yang asli selain cungkup di atap. Bahkan tembok ini yang nantinya dirobohkan dan diperluas, juga baru. Ini sisa pemugaran sekitar tahun 1980-an,” kata Amir sembari memandu berkeliling di area masjid.

Pesucinan dan Air Penyembuh

Tidak banyaknya literatur yang menjelaskan secara rinci kedatangan Maulana Malik Ibrahim ke Desa Leran, juga pembangunan masjid. Sehingga memunculkan banyak asumsi yang berkembang di masyarakat. Mulai dari yang berkaitan dengan aspek historis hingga magis.

Masyarakat percaya, sosok Maulana Malik Ibrahim adalah ‘waliyullah’ dengan karomah luar biasa. Sebagian masyarakat percaya, Masjid Pesucinan tidak dibangun sebagaimana pada umumnya, namun muncul secara tiba-tiba pada tengah malam. Hal ini diyakini karena masyarakat pada masa itu banyak yang masih beragama Hindu-Budha, sehingga pembangunan masjid akan mengganggu tatanan sosial masyarakat kala itu.

Berkembang pula kepercayaan bahwa kapal yang dinaiki Maulana Malik Ibrahim  saat mendarat di Leran, masih berada di sekitar lokasi masjid. Namun telah terkubur di bawah Bumi Leran. Hal ini didasarkan pada pengalaman penggalian tim arkeologi dari BP3 Prov Jatim yang menemukan beberapa peninggalan purbakala yang diyakini sebagai bagian dari bangkai kapal Maulana Malik Ibrahim.

Amir menuturkan bahwa dari cerita yang berkembang di masyarakat, pernah ada yang mencoba menerawang keberadaan kapat tersebut. Dan dibenarkan kalau kapal itu masih terkubur di tanah. Tetapi setelah dilakukan penggalian kapal itu tidak dapat ditemukan.
“Kepercayaan di masyarakat begitu. Namun karena kapal itu milik orang yang punya karomah atau dengan kata lain kesaktian, maka barang-barangnya pun sakti. Kira-kira begitu yang diyakini masyarakat,” ujar Amir.

Satu lagi yang tidak kalah menarik adalah keberadaan sumur dan kolam air di sebelah utara bagian utama masjid sebelum pelebaran. Kubangan air yang oleh masyarakat sekitar disebut Pesucinan (tempat bersuci, Jawa) juga diyakini salah satu peninggalan Maulana Malik Ibrahim.

Sesuai dengan namanya yang kemudian diadopsi sebagai nama dusun, tempat itu dulunya dipakai Maulana Malik Ibrahim dan pengikutnya berwudlu sebelum melaksanakan salat. Ada pula yang mengatakan, dinamakan Pesucinan karena masjid itu merupakan tempat mensucikan diri bagi penduduk lokal yang masuk Islam. Salah satu alat mensucikan diri adalah dengan membasuh diri menggunakan air yang ada di kolam samping masjid.

Menariknya lagi, tak hanya dianggap sebagai tempat berwudlu, endapan air yang terdapat pada kubangan kolam tempat dikumpulkannya air yang diambil dari sumur di sebelahnya diyakini mampu mengobati penyakit gondok. Di samping juga airnya, dipercaya bisa mengobati segala macam penyakit.

Kala itu salah seorang warga, Mukhtar Jamil (60 tahun) yang tengah menuruni kolam berbentuk persegi dan berundak guna mengambil air. Sebelumnya dia tampak merapalkan beberapa bacaan doa. Lelaki sepuh tersebut mengaku mengambil air untuk puteranya yang disinyalir terkena penyakit kiriman (teluh, red).

“Orang sini percaya air ini bisa menyembuhkan segala penyakit, medis maupun non-medis. Kebiasaannya, sebelum mengambil air, mereka Wasilah Alfatihah dulu ditujukan pada Maulana Malik Ibrahim dan beberapa ahli kubur yang ada di kompleks pemakaman Fatimah Binti Maimun,” tutur Amir.

Tak hanya masyarakat sekitar, beberapa pengunjung dari dalam dan luar kota kerap pulang dengan membawa air yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Amir sendiri menilai, terlepas dari aspek kebenarannya, hal itu ia kembalikan kepada keyakinan masing-masing individu.


Ia hanya bisa mengingatkan bahwa kesembuhan sepenuhnya dari Tuhan. “Mitos atau bukan itu kadang ‘kan sugesti. Orang kadang sembuh dari sakit, salah satunya juga ditunjang bagaimana sugesti terhadap dirinya,” lanjutnya. (hay, uul, eru, yus)

Senin, 03 Agustus 2015

Karna: Menuju Pembebasan (3)

 

Khrisna               : Jangan berpikir, Temanku! Bunuh Raja Angga, Karna!
Karna                  : Jika aku dapat mengangkat roda keretaku keluar dari lumpur, Arjuna lalu kecepatan waktu akan berubah. Bagaimanapun aku akan berusaha untuk mengeluarkan roda keretaku. Aku adalah Ksatria. Berusahan sampai nafas terakhir adalah tugasku. Bagaimanapun, sekarang matahari terbenam sebentar lagi. Sebelum Suryadev bersembunyi, kamu harus membunuhku. Sekarang aku ingin berkeliling bersama ayahku.
Khrisna               : Hanya tersisa 15 menit lagi sampai matahari terbenan, Temanku! Ambil keuntungan dari kesempatan ini! Bebaskan Raja Angga Karna dari beban dosanya!

Terompet telah ditiup. Genderang telah ditabuh. Tujuan telah tercapai. Kemenangan seharusnya menjadi nyata ada di pihak kami. Tapi kenapa aku meneteskan air mata? Hatiku seperti tercabik. Bahkan seolah panah yang kulontarkan menebas lehermu menancap tepat di jantungku. Kenapa kebenaran ini harus kau sembunyikan, dan menjadikan kami menanggung beban dosa akan kematianmu?

***

Aku tengah menikmati sakit akan penebusan dosaku tadinya. Sebelum, suara magisnya menyentakku. Dan akhirnya kutahu, ini tidak akan hanya menjadi penebusan dosa tapi juga pembebasanku. Terima kasih adikku. Di tanganmu, jalanku menjadi sedemikian mudah.

Aku mencoba menggapainya, tanganku ingin menggenggamnya. Aku ingin memilikinya disaat terakhirku. Aku ingin semua yang tidak bisa kudapat seumur hidupku. Hanya sekali, hari ini, dan untuk terakhir kalinya. Biarkan aku menikmati, memiliki nama yang berhak untuk kusandang. Kauntheya, Putra Kunti.

Kunti                   : Anakku!
Karna                  : Kau memberi tilak padaku, Ibu. Aku telah mendapatkan pembebasan dari semua dosaku.
Kunti                   : Tapi bagaimana aku bisa mencapai kebebasan dari dosa kematianmu, Anakku?
***
Air mataku menetes, hatiku serasa bagai disayat. Tapi aku pun tak pernah tahu, jika itu karena sebagian dari jiwakulah yang sebenarrnya tengah meregang nyawa.

Arjuna                : Kenapa ibuku menangis seperti itu untuk kematian seorang musuh?
Khrisna               : Permusuhan sudah berakhir, Temanku. Sekaranglah waktunya kita mengingat hubungan seseorang. Hubungan yang terlahir dari tangisan dan berakhir dengan menggenangi mereka
Arjuna                : Apa maksudmu?
Khrisna               : Tanyakan pertanyaan ini kepada ibumu, Kunti!
***
Kunti                   : Aku tidak pernah menaruh kepalamu di pangkuanku. Seumur hidupku, cinta seorang ibu tetap menderita diam-diam.
Karna                  : Inilah kemalanganku, Ibu. Aku tidak pernah memberimu kebahagiaan. Aku malah mendapatkan pangkuan Ibu Radha. Bagaimanapun, aku tidak pernah bisa memberimu pembaktian dari seorang anak, Ibu. Ibu, letakkan kepalaku di pangkuanmu, Ibu!
Kunti                   : Baiklah.
Karna                  : Aku berharap untuk meninggalkan semua penderitaanku, dan permusuhan di pangkuanmu sebelum aku pergi, Ibu. Letakkan kepalaku di pangkuanmu, Ibu!

Rasanya damai, Tuhan. Aku tidak butuh apa-apa lagi. Cukup seperti ini. Dan ambillah nyawaku, kapanpun Engkau mau. Ampuni aku, jika aku cukup pantas untuk itu. Tapi bahkan hal inipun sudah melebihi surga bagiku. Terima kasih untuk pangkuan ibuku.

***

Mereka datang, adik-adikku. Seperti selayaknya kematian seorang musuh. Mereka datang untuk merayakan kemenangannya. Karena aku adalah kunci terakhir dari pembebasan yang tengah mereka perjuangkan. Aku melihat kebencian dimata adik-adikku, kecuali Arjuna. Dimatanya ada luka yang seolah merenggut seluruh hawa kehidupannya. Ibu, kumohon jangan sakiti adik-adikku dengan membuka kebenaran ini. Ini menjadi seolah pembebasanku yang lagi-lagi ternoda. Air mata dan kelemahan mereka bukan hal terakhir yang ingin aku lihat, Ibu!


Bhima                 : Ibu! Apa yang kau lakukan? Dia adalah musuh kami.
Kunti                   : Tidak, Bhima! Akulah musuhnya! Siapa tahu, kenapa kau menuntut balas dendam dari dia dalam hidupnya dan kenapa aku memberinya penderitaan terus menerus. Dan sebuah kehidupan dari perjuangan keras.
Nakula                : Kamu memberi Karna Raja Angga kehidupan penuh penderitaan? Apa yang kamu katakan, Ibu? Maharathi ini selalu mengambil senjata melawan anakmu. Dia tetap bersaing dengan anakmu dengan percuma. Dia membunuh Putra Abhimanyu tanpa ampun. Dia telah mengambil sumpah untuk membunuh kelima anakmu.
Kunti                   : Tidak, Nakula! Dia telah mengambil sumpah untuk menjaga kelima anakku tetap hidup. Itulah kenapa, ia tidak membunuh satupun dari kalian.
Yudhistira           : Ibu, apa yang kamu katakan? Tolong katakan dengan jelas!
Kunti                   : Yudhistira, Anakku…
Karna                  : Tidak…
Tidak, Ibu Ratu! Tolong diamlah! Rasa hormat, nama baik, cinta, pengabdian, semuanya adalah istana pasir. Mereka dibangun dengan sesaat. Aku telah disiapkan, sekarang aku telah disipkan untuk mati. Dengan kehilangan kehormatanmu, apa yang akan kamu dapatkan? Dan bahkan apa yang aku dapatkan dari itu? Nasib misterius kami seharusnya dikubur dalam kedalaman waktu, Ibu Ratu.
Kunti                   : Tidak, Sayang! Kamu tidak memberikanku hukuman apapun. Seluruh hidupmu, yang kamu dapatkan hanya untuk menanggung hukuman dari kejahatanku. Sekarang bahkan jika anakku, jika mereka menghinaku dan terus menghinaku atau memberiku sebuah hukuman itu menjadi sesungguhnya benar.
Arjuna                : Bahkan menanyakan hal ini membuat hatiku gemetar, Ibu! Tapi, misteri apa itu? Kejahatan apa? Dan hukuman apa? Hukuman apa, Ibu?
Kunti                   : Kejahatan sebelum pernikahan. Maharesi Durwasa telah memperingatkanku untuk tidak memakai mantra ini diluar keinginan. Sebaliknya, bukannya memetik buah, aku malah menerima penderitaan. bagaimanapun, aku hanyalah seorang anak kecil. Kekuatan mantra tidak dapat aku pahami.

(Suryadev           : Kekuatan mantra tidak datang dalam kesia-siaan. Ketika aku meninggalkan bagian dari kekuatanku akan kembali denganmu dalam wujud seorang bayi laki-laki. Anakku akan menjadi tidak terkalahkan Kunti. Seluruh dunia akan mengenalmu dengan nama Karna.)

Radha                 : Anakku! Anakku…
                           Ibu Ratu, kau telah mengambil nyawa anakku. Apakah kamu berencana untuk merebut kenangan anakku sekarang?! Karna adalah anakku. Dia anakku. Kamu adalah Radheya, Nak. Kamu adalah Radheya! Kamu bukan putra dari wanita licik ini! Seekor buaya menelan anaknya sendiri, aku telah mendengar hal semacam ini. Jika kamu telah melahirkan anakku, lalu itu membuatmu lebih licik dari seekor buaya!
Karna                  : Ibu Radha,
Radha                 : Anakku,
Karna                  : Ibu Radha, aku adalah anakmu, Ibu Radha.
Radha                 : Ya,
Karna                  : Aku adalah anakmu. Ibu Kunti, Jangan menyalahkan Ibu Kunti!
Radha                 : Kenapa bukan aku, anakku? Kenapa bukan aku? Kamu adalah ibu dari anakku? Apa yang kamu tahu tentang anakku? Apa kamu tahu masa kecilnya? Masa kecil anakku dipenuhi dengan kedewaan. Dia pernah melompat dari gunung. Kamu diterima di Hastinapura dengan mandi bunga, apakah kamu ingat, Ibu Ratu? Itu adalah kemampuan anakku. Kamu telah membuang anakku, dan kamu hadir disini sebagai ibunya?
Karna                  : Ibu Radha, akulah anakmu, Ibu Radha. Kalau Ibu Kunti tidak membuangku bagaimana aku akan mendapatkanmu, Ibu Radha? Dia, Vasudev, diapun anak dari dua ibu, lalu kenapa aku tidak bisa seperti itu, Ibu Radha? Kenapa aku tidak bisa?
Sadewa               : Apakah Karna Raja Angga anakmu, Ibu?
Kunti                   : Ya, anakku. Karna Raja Angga adalah kakak tertuamu. Dia adalah anakku. Anakku..

***

Masa-masa itu kembali diputar layaknya pertunjukan yang kami saksikan sendiri. Hari-hari dimana kami dengan kejamnya, mencabut seluruh hakmu di masyarakat bahkan dari pengabdian kami. Kakak, bagaimana bisa kami buta akan sinar keagunganmu? Dan bagaimana bisa kau biarkan kami menanggung kutukan akan kebenaran yang kau simpan ini? Apakah ini hukuman untuk kami? Kakak, jika saja kutahu ini sebelaumnya, maka sungguh jangankan kemenangan ini, nyawa kami pun akan kami persempahkan di telapak kakimu.

Arjuna                : Apa yang membuat perbedaan, anggaplah ini kalimat kematianmu. Karna Raja Angga kamu telah mengambil harga diri dalam kemampuanmu dan juga kebijakan untuk penyalahgunaan seperti pengemis lemah? Ingatlah! Kamu akan kehilangan kemampuanmu dan pengetahuanmu saat waktunya kamu mati. Jiwamu akan habis ketika kamu mati.
Bhima                 : Pergilah, Anak Kusir! Dengarkan ayahmu, karena dia tahu orang sepertimu tidak punya kemampuan!
Karna                  : Ketika aku melihat teratai ini aku teringat akan kakimu, Yang Mulia!
Nakula                : Kita seharusnya menunduk sebelum menghadapi kematian Karna Raja Angga!
***
Yudhistira           : Kamu telah melakukan perbuatan yang tidak benar, Ibu! Siapa yang menyembunyikannya adalah dosa, yang mengungkapkannya dianggap terpuji.
Karna                  : Tidak!
Yudhistira           : Dengan menjaga pahala sebagai rahasia kamu memberi kesialan dosa!
Nakula                : Kami seharusnya menyentuh kaki kakak kami. Tapi, kita malah menaruh senjata dihadapannya.
Bhima                 : Dia berhak sebagai yang terhormat. Akan tetapi aku menghinanya sepanjang hidupku. Dia layak menjadi bagian dari mahkota. Bagaimanapun aku selalu menganggap bahwa mutiara tetap berharga walaupun diletakkan di kaki.
Arjuna                : Aku telah melakukan perbuatan yang jahat, Kakak! Bagaimana bisa, Ibu? Bagaimana bisa kamu membuat dosa besar?
Karna                  : Aku yang melakukannya, Arjuna! Untuk membuktikan bahwa aku itu hebat. Tetapi aku senang, pada akhirnya aku sudah membuktikan bahwa diriku hebat. Untuk membunuhku kamu harus melakukan penipuan.
Arjuna                : Bagimana aku bisa selamat dari beban dosa ini, Kakak? Bagaimana bisa?
Karna                  : Letakkan kepalamu di pangkuan ibu, Arjuna! Disitulah tempat keselamatanmu berada. Aku telah menemukan milikku.
                           Ibu Radha! Inilah waktu untuk kepergianku, Ibu Radha!
                           Adik-adikku tercinta! Sebagai kakak tertuamu, maukah kalian mengikuti perintahku? Tolong jangan menghina Ibu Kunti. Dan kau Arjuna, ajarkanlah anakku kesaktian.
Arjuna                : Aku berjanji, Kakak! Anakmu akan mendapatkan kehormatan yang selayaknya dia dapatkan. Kaulah pewaris tahta Indraprastha. Anakmu juga akan menjadi pewaris ini, Kakak. Dia akan mewarisinya.
Karna                  : Melawanmu adalah kesalahan terbesarku, Arjuna. Aku mungkin hebat, tapi kamu lebih hebat. Kamu tiada duanya, Adikku. Kamu tiada duanya. Pemakaman terakhirku, pantasnya dilakukan olehmu, Adikku.
                           Vrushali! Apakah kamu ingat, Vrushali? Aku pernah berkata padamu, kalau seseorang yang berkeliling melalui lautan dapat dipimpin oleh bintang kutub sekalipun. Kau selalu menuntunku ke jalan yang benar, Vrushali. Walaupun itu terjadi di nasibku, aku pasti akan menempuh itu suatu hari nanti. Tapi kebahagiaan itu, aku tidak ditakdirkan untuk mendapatkannya, Vrushali. Berkeliling melewati samudera kehidupan, aku kehilangan pandangan bintang kutubnya. Aku mengabaikan bintang petunjuk itu, Vrushali. Maafkan aku, Vrushali!
                           Aku akan pergi, Ibu!



***

Tubuhmu yang terbaring di atas kayu pembakaran, kau memintaku menyelesaikan upacara terakhirmu. Ini seperti aku melakukan puja untuk kematianku sendiri, Kakak! Bagaimana bisa hidup menjadi begitu tidak adil bagi kita berdua? Api yang sedikit demi sedikit memisahkan ragamu dari kami, membakar kami sepenuhnya. Selamanya, takkan lagi ada kebanggaan akan kemenangan yang kau tebus dengan nyawamu. Takkan ada. Seumur hidup kami menabur luka di hatimu. Dan kami akan menghabiskan seumur hidup kami untuk meratapinya.

Arjuna                : Perang ini bercampur menjadi kesedihan dan kebahagiaan dengan cara membedakan kesedihan dan kebahagiaan telah menjadi tidak mungkin, Madhav.
Khrisna               : Ini adalah kenyataan dari perang, temanku. Itulah mengapa, hal terbesar dalam kehidupan adalah bukan kekerasan. Tidak ada dasar yang lebih besar daripada bukan kekerasan.
Sadewa               : Tapi kamu membiarkannya menjadi perang besar, Vasudev?
Khrisna               : Kamu tidak pernah mengambil bagian dalam perang ini, Sadewa! Ketidakkerasan kami akan menjadikan kami sebagai pengecut. Bukan kekerasan adalah keberhasilan, hanya ketika ini lahir dari kekuatan dan kemampuan dan bukan ketakutan. Dengan kata lain, ketidakkerasan kami akan menjadikan kami disebut pengecut , Sadewa! Bagaimanapun inilah waktunya untuk perang ini berakhir.
Bhima                 : Vasudev benar. Hanya Duryodhana yang belum dihukum. Aku akan membunuhnya saat fajar.
Khrisna               : Kamu tidak kan bisa membunuhnya kalau begitu, Kakak Bhima! Duryodhana adalah ksatria yang mampu tapi kamu harus membunuhnya saat matahari terbenam. Kalian semua harus pergi dan beristirahat sekarang. Kita semua harus bersiap untuk perang besok.

Karna : Menuju Pembebasan (2)


Aku selalu memegang teguh kebenaran yang kuyakini. Menjadikan itu sebagai dharma menjalani kehidupanku yang selalu berkubang dalam ketidakbenaran. Namun, akupun tak sepenuhnya beruntung dikendalikan oleh kebenaran itu sendiri. Sehingga hidupku terikat pada dharma yang kubaktikan untuk jalan yang tak sepenuhnya benar.
Adikku, jika untuk ketidakbenaran itu aku harus menumpahkan darahku, maka seperti janjimu, tunaikan itu melalui tanganmu. Tanganyang juga akan membawakan kendi pemujaan dai upacara terakhirku. Satu-satunya tangan yang pernah dengan kemarahan mencuci kakiku.

Khrisna               : Pengetahuan yang dikumpulkan dengan menjauhi etika, selalu meninggalkan Pria disaat krisis. Ini bukan kutukan Bagwan Parasurama, Raja Angga. Tetapi hukum alam.
Karna                  : Tetapi aku sudah terlibat tanpa kenal lelah pada apapun kecuali kerja keras untuk mendapatkan pengetahuan, Basudev. Lalu bagaimana aku bisa melupakan pengetahuanku?
Khrisna               : Kenapa kamu mencoba untuk mendapatkan pengetahuan, Raja Angga? Apakah kamu mengerti pentingnya pengetahuan? Selagi mencapai pengetahuan apakah kamu berkeinginan untuk berguna di masyarakat? atau kau mencapai pengetahuan hanya untuk meminta balas dendam dari penghinaanmu? Kebenarannya, untuk mendapatkan pengetahuan seseorang tidak perlu terlibat dalam kerja keras. Cukup dengan konsentrasi dan dedikasi. Pengetahuan bukanlah kualitas tidak mudah dari jiwa dan kamu itu pintar. Kamu bilang aku selagi mencapai pengetahuan kenapa pikiran tidak dapat fokus?
                           Ketika seorang pria dianggap mengerti pengetahuan dan untuk mendapatkan sesuatu dia mempersiapkan untuk mendapatkan pengetahuan. Ketika mendapatkannya dia tidak dapat menenangkan pikirannya. Pengetahuan tidak dapat menjadi kualitas jiwanya. Seperti warna, ia bukanlah kualitas alami dari pakaian. Itulah kenapa warna tersamar dalam matahari. Sesorang yang mendapatkan pengetahuan dengan mengerti nilai dari suatu kesatuan yang tidak ternilai, hebat dalam bidangnya. Bagaimanapun seseorang yang mendapatkan pengetahuan dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu tetap bersaing sepanjang hidupnya untuk membuktikan dirinya hebat. Bagaimanapun dia tidak akan pernah hebat. Kamu juga mendapatkan pengetahuan dengan maksud walaupun memiliki perlindungan dari Yang Maha Kuasa kau tidak dapat menenangkan pikiranmu. Kau tetap bersaing dengan Arjuna yang sudah jauh. (*) Maksudmu untuk mendapatkan pengetahuan tidaklah benar jadi kamu terikat untuk melupakan pengetahuan. Kau tidak pernah mendapatkannya, Raja Angga.

(aku akan kembali. Tetapi biarkan aku meyakinkanmu, kalau aku akan kembali sebagai pemanah terhebat di India. Dan aku akan lebih hebat dari semua muridmu.

Karna                  : Kenapa aku belum hebat, Basudev? Kenapa aku berkompromi dengan hidupku? Soaialitasi ini selalu menghancurkan kemungkinanku. Ini tidak memberikanku hormat pada kekuatanku. Tidak menerima mimpiku. Selalu menghinaku dengan memanggilku anak kusir. Kemungkinan yang diberikan oleh-Nya dalh hak manusia, Basudev. Lalu kenapa masyarakat ini mengasingkan seseorang dari haknya?
Khrisna               : Itu adalah kejahatan yang serius, Radheya. Mendiskriminasi orang berdasarkan kasta dan kepercayaan, berdasarkan keyakinan yang salah, membuat seseorang diasaingkan dari masyarakat, dari tujuan yang benar, harta atau kehormatan, benar-benar terhadap kebenaran.
Karna                  : Lalu kenapa aku disalahkan, Basudev? Jika ketidakpuasan terlahir padaku, jika aku mampu, dan jika aku mencoba mendapatkan hakku dengan kekuatan, lalu apakah aku melakukan kesalahan, Basudev?
Khrisna               : Ada suatu waktu, Raja Angga, ketika anak dari Kritavirya, Kritavirya Arjuna, seorang Raja Kesatria telah membunuh petapa hebat Jamadagni. Apakah kamu tahu apa yang anak petapa tersebut lakukan? Meskipun menderita dia bermeditasi, kenapa ayahnya, sang petapa hebat terbunuh. Dia ingin tahu dimana ketidak benaran berkembang. Dia lupa akan penderitaannya. Mengambil penderitaannya dari seluruh masyarakat dan dengan menghancurkan semua ketidakbenaran Ksatria dia mensucikan seluruh wilayah Arya. Karena dia telah mendapatkan mantar ini dari hidupnya. Dia berada di neraka hanya bertekad balas dendam, dia mungkin tidak dipanggil Baghwan Parasurama hari ini.
                           Ya, Radheya. Kesedihan dan penghinaan yang kamu alami adalah nyata. Bagaimana[un kalau mengubah itu menjadi tujuan lalu masyarakat akan mengambil keuntungan dari itu dan kamu akan menjadi makmur juga. Jika dasar dari manusia yang kuat sepertimu dapat diperoleh oleh orang-orang yang telah dirugikan lalu kehidupan dari banyak orang akan menjadi bahagia. Kamu memiliki kemungkinan, kamu memiliki kemampuan, dan kamu tahu seperti apa rasanya penderitaan, tapi kamu tidak mendedikasikan hidupmu kepada orang-orang. Kamu mendedikasikan hidupmu pada Duryodhana! Dia tidak memiliki apa-apa selain ketidakbenaran di pihaknya. Lihatlah situasimu sekarang! Kamu tetap mendukung Duryodhana. Kamu menjadi bagian dari dosa membuka pakaian Panchali. Kamu tidak dapat menghargai Ibumu. Kamu membunuh dua putra dari saudaramu sendiri. Dan hari ini dengan kehilangan kebenaranmu, pengatahuanmu, dan kepuasanmu kamu disiapkan untuk mati ditangan saudara termudamu.
Karna                  : Kamu benar, Basudev! Tapi aku tidak dapat melupakan kebaikan temanku Duryodhana.
Khrisna               : Kebaikan apa, Radheya? Setelah menjadi teman Duryodhana, apakah semua kusir dan orang Hastinapura yang dirugikan haknya diberi kesempatan mendapatkan pengetahuan? Apakah dia mengambil komunitas dari perbuatan berani dan merugikan? Tidak. Tidak, Radheya! Dia menjadi temanmu hanya untuk keuntungannya sendiri. Semangat bersaingmu untuk melawan Arjuna adalah alasan kenapa dia berteman denganmu. Kamu lupa akan kesengsaraanmu dan mengambil itu dari masyarakatmu. Kamu mungkin sudah tahu kebenaran dari pertemanan palsu Duryodhana. Jika duryodhana mempunyai sedikit saja kaebaikan untukmu, lalu dengan perantaranya kamu dapat menolong kerugian dari dunia. Kebenarannya adalah kamu dapat membebaskan dia dari semua ketidakbenaran dan kejahatan. Bagaimanapu kamu tidak pernah tahu kebenaran ini. Kebenarannya adalah semua kebaikan yang telah dilakukan untukmu tidak berarti.
Karna                  : Seluruh hidupku aku telah terlibat dalam amal dengan yang dirugikan dan malang, Basudev. Aku tidak pernah menyimpan apapun
Khrisna               : Manfaat sejati dari membagikan kekayaan pergi ke orang yang terlibat dalam amal bukan kepada yang menerima. Sudahkah kamu menggunakan kemampuanmu untuk membebaskan orang yang telah dirugikan sepertimu semua orang tentu sudah menikmati dari itu, Radheya. Kamu berkata bahwa masyarakat menghancurkan kemungkinanmu tapi harga dari kemungkinan diberikan oleh Tuhan tidak akan kamu ketahui. Jangan mengindahkan kebenaran ini! Seseorang yang hidup untuk masyarakat juga menjadi manfaat. Tapi seseorang yang hidup seolah-olah untuk dirinya sendiri. Merugikan bukan hanya dirinya sendiri tapi juga seluruh masyarakat.
                           Permusuhan yang terjadi di Kurushetra hari ini bukanlah karena Duryodhana atau Paman Shangkuni, ini karena dosa dari tiga Maharathi. Yang Mulia Bhisma, Guru Drona, dan Kamu, Radheya. Kalian bertiga telah meninggalkan apa yang kalian anggap benar, pemikiran akan kesejahteraan masyarakat, dan dengan tidak membantu Duryodhana perang ini tidak akan berlangsung.
Karna                  : Kamu benar, Basudev! Bahkan ketidakbenaran tidak akan menyakiti masyarakat yang kejam, kebenarannya lebih menyakitkan kalau dilakukan karena kelambanan dalam kebenaran. Dosa dari perang besar ini, adalah beban yang harus kami tanggung.
Khrisna               : Sekarang adalah waktunya, Radheya! Untuk melupakan kesengsaraanmu untuk menyerah pada ketidakbenaranmu dan menerima kematianmu. Ini untuk kesejahteraan masyarakat dan kamu, Radheya!
Karna                  : Aku terima perintahmu, Basudev! Aku bahkan menerima kematianku. Katakana pada Ibu Kunti untuk memaafkanku. Katakan pada Panchali, kalau aku telah menumpahkan darahku untuk menghapus noda dari penghinaanku. Aku hanya punya satu pertanyaan, Basudev! Akankah kemampuanku tidak akan pernah memiliki identitas?
Khrisna               : Radheya, kamu tidak memiliki busur di tanganmu, roda keretamu masuk kedalam lumpur, dan kamu telah melupakan seluruh pengetahuanmu. Kami harus mengambil keuntungan dari situasi tersebut untuk membunuhmu. Apakah ini bukan bukti akan kemampuanmu?


Aku rasa ini cukup. Tidak ada lagi yang perlu kubuktikan. Aku mencari kehormatan, sudah keudapatkan dengan kehadiran Vasudev di hadapanku. Aku ingin pengakuan, telah kuperolaeh sejak kuikhlasakan kavaca dan kundalaku untuk kemenangan adik-adikku. Aku ingin pembebasan, akan kudapat itu segera setelah darah dari tubuhku teralirkan untuk terakhir kalinya. Sungguh ini cukup.

Jumat, 31 Juli 2015

Mahligai Kasih

Anak-anakku,
Kau bangun mahligai cinta
Di taman kehidupanmu yang teduh hari ini
Kembang kasih tengah mekar di hatimu
Bersemi,
Merajut hari-hari, yang telah lama kau titi
Kau tengadahkan jiwa,
Dalam lantunan tembang kesyukuran abadi
Tetapi,
Kutitip pesan untukmu, anak-anakku
Taman bathin yang kau sirami
Dengan cahaya harapan dan keindahan
Takkan selalu cerah,
Meski tak kering berkah
Jika kau tatap zaman di kejauhan
Engkau tengah berlayar
Di arung Samudera raya
Di antara karang, topan dan bulan purnama
Perjalananmu panjang, anakku
Dan tak miskin rintangan
Serta godaan
Namun, layar telah kau kembangkan
Jangan surut dan tertinggal di buritan
Satukan jiwamu,
Jemput masa depanmu,
Di tanah kemenangan
Abadi dalam keberkahan Tuhan
Cikeas, 4 Februari 2004
Diambil dari buku kumpulan puisi "Taman Kehidupan" karya Susilo Bambang Yudhoyono.

Kamis, 30 Juli 2015

The Potters: Bintangku

Oh bintangku terlalu pagi kau meninggalkan ku
Teringat pesanmu, pesan terakhirmu yang kau titip pada ku
Oh bintangku ku teringat sentuhan jemari mu
Kau lalu berkata tibalah saatnya waktu yang tepat berpisah
Selamat tinggal engkau bintangku

Oh bintangku kering sudah tetesan ar mata
Berakhirlah semua cerita cinta kita karena kau memilih dia
Oh bintangku dengarlah engkau di dalam tidurmu
Dan biarkan aku sendiri tanpa mu karena
kau bukan untuk ku
Selamat tidur engkau bintangku

Selamat tidur engkau bintang yang ku sayang
Dan bantu aku melupakan mu
Dan selamat jalan damailah kau bersamanya
Dan gapai semua mimpi yang indah

Oh bintangku kering sudah tetesan air mata
Berakhirlah semua cerita cinta kita karena kau memilih dia
Selamat tidur engkau bintangku




*The Last Candu

Karna: Menuju Pembebasan (1)


Pertarungan kita berdua telah pasti kejadiannya adikku, Arjuna. Sumpahmu, kewajibanku, keduanya menghendaki satu dari kita berdua mencapai pembebasannya.  Hidupku tak pernah lebih baik daripada kematian itu sendiri, jadi jika kali ini aku yang harus menghadapi pembebasanku, lakukan itu atas dasar kebenaran, Adikku.

Karna              : Raja Madra, bawa kereta keluar . Ambil roda kereta keluar dari tanah.
Raja Madra    : Itu bukan tugasku. Aku ini dihukum untuk menjadi kusirmu, maka aku mengendarai keretamu. Bagaimanapun aku bukan pelayanmu. Aku adalah Raja Madra, berlutut di tanah untuk mengangkat roda kereta adalah penghinaan bagiku.
Karna              : Tugas dari seorang laki-laki tidak membuat dia besar atau kecil, Raja Madra. Perilakunyalah yang membuat dia besar atau kecil. Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Aku adalah putra dari seorang Shudra. Aku adalah putra dari seorang kusir. Aku sudah terbiasa dengan kereta sejak aku masih kecil. Roda kereta telah menjadi mainanku. Dan aku masih ingat hari-hari masa kecilku.
….
Khrisna           : Maharathi Karna. Beberapa saat yang lalu kau menentang Arjuna untuk berduel. Dengan berdiri di tanah, Sekarang Arjuna terimalah tantangan itu!
Arjuna            : Madhava, dia tidak memiliki senjata apapun. Dan aku tidak bisa menyerang seseorang yang tidak bersenjata.
Khrisna           : Inilah waktunya menyelesaikan perang, Temanku. Selama Karna memiliki busur di tangannya, mengalahkannya itu sangat sulit. Dia tidak boleh memberikan kemenangannya pada temannya, Duryodhana. Bagaimanapun dia harus kala. Untuk alasan itulah kenapa inilah waktu untuk membunuhnya.
Karna              : Jangan meninggalkan kebenaran, Vasudev. Biarkan aku mengeluarkan roda kereta ini. Setelah itu aku akan berperang dengan Arjuna.
Khrisna           : Bahkan dengan menggunakan kata-katamu sebagai senjata kamu dapat menyebut seorang perempuan sebagai pelacur dan meninggalkan kebenaran, Raja Angga Karna?!
                        Sebentar lagi matahari tenggelam. Setelah mengambil sumpah, tidak pantas bagi seorang kesatyria menjadi ragu, Temanku. Temabakkan panahmu!
Karna              : Arjuna, aku selalu membiarkan kebenaran hidup. Aku selalu meminta pertarungan yang adil denganm,u. biarkan aku mengeluarkan roda kereta ini. Biarkan aku menjadi maharhati sekali lagi. biarkan aku memegang panahku.
Khrisna           : Jangan menunda temanku. Angkat busurmu!
Karna              : Jangan melakukan kebenaran, Arjuna. Jika kau membiarkan ketidakbenaran maka aku akan melakukannya juga. Aku akan memanggil brahmastra. Dengan ledakannya, seluruh pasukan kuru, setiap pria, wanita bahkan binatang akan menjadi abu.
Khrisna           : Tembakkan panahmu!
Karna              : Aku memanggilmu senjata Brahmatra.
….
Khrisna           : Raja Angga Karna melupakan pengetahuannya. Hanya di saat krisis dia akan melupakan pengetahuannya, Temanku. Jika krisis dihindari maka dia akan memanggil pengetahuannya kembali. Inilah waktu yang tepat. Bunuh Raja Angga Karna!
Karna              : Hentikan Arjuna! Jika kamu kesatria. Jika kamu seorang maharathi, Berhentilah! Kamu tidak menyerang seorang prajurit yang tidak bersenjata.
Khrisna           : Ingatlah saat terakhir Abhimanyu, Raja Angga Karna! Ketika Abhimanyu mati, dia tidak bersenjata hingga tetesan darah di dadanya, dan kamu membunuhnya, Raja Angga Karna.
Karna              : Aku membunuh Abhimanyu untuk menghilangkan penderitaannya.
Arjuna            : Dan siapa yang membuatnya menderita, Raja Angga? Temanmu, sekutumu menyikas seorang anak selama enam jam. Kamu tetap diam, Raja Angga. Bukankan kamu juga melupakan kebenaran?
                        Tapi bagaimanapun aku memberikanmu kesempatan. 30 menit sebelum matahari tenggelam, Raja Angga. Jika kau tidak memanggil pengetahuanmu dalam 15 menit, maka dalam 15 menit berikutnya aku akan membunuhmu dengan Anjali-Astra.
….
Karna              : Kenapa ini terjadi padaku, Bagwan Parashurama? Pengetahuanku, kemampuanku, kenapa mereka menjauh dariku? Kenapa ini terjadi padaku, Bagwan Parashurama?
Khrisna           : Raja Angga Karna!
                        Cobalah ingat kata-kata Bagwan Parashuram!
(Pergilah, Karna! Suatu saat, ketika itu menjadi pembuktian terbesar dalam hidupmu, pengetahuanmu akan meninggalkanmu, akan menghilang, dan tidak akan berguna untukmu)

Kabar tentang kutukan hidupku, tak pernah sedikitpun membuatku takut. Bagaimana bisa seseorang merasa takut, sementara seumur hidupnya ia tak pernah berada di tempat yang aman?

Jumat, 24 Juli 2015

Tentang Kita dan Ketakutanku

 Ahad, 19 Juli 2015 (3 Syawal 1436)
Teruntuk kau yang kelak akan menjadi imam bagiku dan anak-anak kita.

Aku menulis ini tepat ketika sakit akibat tamu bulanan yang menyiksa. Beberapa menakutiku dengan kemungkinan tidak suburnya rahimku. Tapi kau tahu, aku akan selalu mengabaikan justifikasi itu. Karena tak ada yang berhak mendahului Kuasa Tuhan. Juga tak ada yang dapat menyakiti kita kecuali kita memberinya kesempatan untuk menyakiti kita.

Aku masih sepenuhnya yakin dengan mimpi sederhana tentang keluarga kecil yang akan kita bangun. Aku, kau, dan anak-anak yang akan lahir dari rahimku. Anak-anak yang akan meramaikan kehidupan kita. Kau akan mendebatku tentang laki-laki atau perempuan sebagai anak pertama? Bagaimana jika kita berdoa agar memiliki anak kembar, jadi kita tidak perlu berdebat siapa yang akan menang atau kalah.

Aku sadar apa yang akan kau dengar dariku mungkin terkesan terburu-buru, ditengah proposal hidup yang masih kita susun untuk diajukan pada sang Pemberi Hidup. Ketahuilah, ini kulakukan karena aku tidak tahu harus membagi ini pada siapa. Entah apa yang akan terjadi didepan kita tapi telah kutasbihkan namamu sebagai satu-satunya yang akan menerima bakti akan kesetiaan dan cinta yang Tuhan anugerahkan untukku.

Kau tahu hidupku selalu dipenuhi dengan ‘ketidakbenaran’ sesuatu yang kau larang untuk kusebut sebagai kutukan. Kumohon biasakan dirimu dengan hal itu. Satu-persatu akan kita buktikan itu tidak berlaku bagi kita. Aku selalu meyakinkan diriku untuk tidak lagi  merasa takut karena kau ada untukku. Tapi bagaimana jika ketakutanku itu ada kaitannya denganmu?

Aku telah melihat begitu banyak pernikahan berubah menjadi upacara kematian tanpa pemakaman. Bagaimana tidak, ketika selalu kami perempuan yang akan menerima tulah ketika kehidupan pernikahan berjalan tak sebagaimana mestinya. Atau tak seperti yang pria inginkan. kenapa selalu kami yang harus berkorban meninggalkan satu untuk yang lain?

Baiklah kita lupakan hal itu. Kepalaku seketika pening membicarakannya. Tapi kumohon dengarkan apa yang ingin kuminta untuk kita. Ya, Kita. Karena setelah menikah bukan lagi tentang aku atau kau, tapi kita.

Ketahuilah, setelah menikah kau tak hanya mengikatkan diri denganku, tapi juga keluargaku. Berlaku juga sebaliknya. Apa yang kita lalui dan rasakan akan berimbas pada keluarga kita. Jadi kumohon pertimbangkan itu untuk apapun yang ingin kau lakukan. Aku sadar, kita tidak hidup di negeri dongeng dimana semuanya berlaku secara magis. Disini kita hanya menuai apa yang kita tanam. Akan ada banyak onak dan duri dalam perjalanan kita, untuk menguji sebarapa kuat kita akan menjalankan kehidupan ini bersama.

Jika kelak terjadi perselisihan diantara kita, seberapapun marahnya kau padaku kumohon jangan biarkan keluarga kita melihat kebencian dimatamu. Marahlah padaku, tapi jangan pernah mengangkat tanganmu padaku. Jika kesalahanku masih bisa kuperbaiki, bisakah kau tidak menaikkan oktaf suaramu padaku. Bisakah kau memelukku dan mengatakan kau tidak suka dengan yang kulakukan atau kuucapkan, setelah itu mintalah aku berubah. Aku bersumpah, selama kau memintanya dengan cinta dimatamu bahkan hidupku pun akan kupersembahkan di kakimu.


Atau jika itu tidak bisa kau lakukan, bisakah kau tetap ada dalam jarak pandangku. Tetaplah tidur disampingku bahkan sekalipun dengan cara memunggungiku. Jangan pernah meminta pergi atau menjauh dariku. Karena aku tidak akan bisa mengerti apapun tanpa kau ada disampingku. Biarkan aku belajar dari kesalahanku tapi jangan meninggalkanku.

Kau mungkin akan begitu sibuk dengan dunia atau karirmu. Aku tidak akan protes akan hal itu. Karena kutahu dibalik semuanya terselip sumpahmu untuk membahagiakanku. Tapi bisakah kau tidak bosan dan marah saat aku terlampau sering bertanya? Sungguh itu bukan kecemburuan, hanya kekhawatiran dan kerinduan yang mungkin akan sulit kubahasakan. Jika tidak mungkin bagimu bahkan untuk memelukku di malam hari karena kesibukanmu, sisakan sedetik saja dari waktumu untuk tersenyum padaku. Dengan begitu aku akan tahu bahwa kau baik-baik saja.

Lalu anak-anak kita. Kita mungkin akan berselisih tentang bagaimana seharusnya kita mendidik mereka. Aku mungkin juga akan melakukan kesalahan, karena aku tidak bisa menjamin akulah sosok ibu terbaik, tapi percayalah bahwa aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian. Jika kelak aku terpaksa harus memarahi anak-anak kita karena kesalahannya, bisakah kita tidak memperdebatkan itu didepan anak kita. Bicaralah padaku saat kita hanya berdua. Karena kuharap anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan penuh tanggung jawab. Bukannya cengeng dan manja karena merasa selalu memiliki seseorang yang akan menyelamatkannya ketika melakukan kesalahan.

Dan jika aku tidak ingin kau mengangkat tangan padaku, itu berlaku juga untuk anak-anak kita. Kita akan mendidik mereka dengan kasih sayang dan ketegasan, tapi bukan dengan teriakan dan pukulan. Itu tidak akan mendidik mereka, kau tahu.

Dan jika kau tidak keberatan, bisakah aku mengkafling senyummu setiap kali aku membuka dan menutup mata? Hanya untukku.