Minggu, 21 Juni 2015

Dra Merdi Juretta Mursyam Apt, Plt Ketua TP PKK Kota Surabaya (2013-2015)



Sukses PKK, Keberhasilan Pemerintah

DARI sekian banyak Ketua TP PKK Kab/Kota di Jatim, mungkin hanya Kota Surabaya yang masih berstatus Pelaksana Tugas (Plt). Adalah Dra Merdi Juretta Mursyam Apt, mantan Wakil Ketua PKK Surabaya yang dalam kurun dua tahun terakhir didapuk sebagai Plt Ketua TP PKK Kota Surabaya. Bagaimana kiprah Juretta menahkodai PKK Surabaya dengan status Plt?

MUNDURNYA Wakil Walikota Surabaya, Bambang DH saat macung menjadi calon Gubernur Jatim pada Pilgub 2014 lalu, berdampak pada mundurnya sang istri, Dyah Katarina dari jabatan Ketua TP PKK Kota Surabaya. Sebagai gantinya, ditunjuklah Wakil Ketua PKK Surabaya Dra Merdi Juretta Mursyam Apt menjadi Plt yang akan melaksanakan tugas keseharian. Dan sejak 20 Juni 2013, Dra Merdi Juretta Mursyam Apt resmi menjabat menjadi Plt Ketua TP PKK Surabaya.
  Berkecimpung dalam kegiatan PKK memang bukan hal yang baru bagi Juretta. Sekitar 1987, ia mulai bersinggungan dengan organisasi ini di lingkup RT. Itu lantaran ayahnya ditunjuk sebagai Ketua RT di Kelurahan Ketabang, Genteng. Sedangkan suaminya, juga menjadi Ketua RW di tempat yang sama.
Setahun kemudian, ia mulai bergabung di TP PKK Kelurahan Ketabang. Disinilah peran Juretta sebagai kader PKK semakin diasah. Di tempat ini, secara fungsional  ia juga sempat ditunjuk untuk mengambil alih  tugas-tugas kegiatan PKK, lantaran ketua saat itu dinilai kurang berpengalaman. ‘’Tapi secara struktural, posisi ketua ya tetap istri lurah,’’ sergahnya saat ditemui di ruang kerjanya, medio Juni lalu.
Akhirnya, pada tahun 1997, Juretta beserta keluarga pindah ke Kelurahan Mojo Kec. Gubeng. Pada saat kepindahan inilah, ia mendapat instruksi dari Ketua TP PKK Kota Surabaya kala itu, Ny Sunarto Sumoprawiro untuk bergabung dalam TP PKK Kota Surabaya.
 “Waktu itu saya juga sempat bilang: lho PKK itu kan biasanya istri pejabat atau setidaknya mantan. Tapi saya siapa?’  Tapi beliau langsung jawab: justru itu..,  kebanyakan istri pejabat masuk PKK itu hanya karena suaminya menjabat, tapi jiwa mereka tidak ada di PKK,” kenang kader PKK yang telah mendapatkan penghargaan Adhi Bhakti Madya PKK pada tahun 2013 ini.
Maka, sejak itulah ia mulai berkecimpung di PKK Kota Surabaya, hingga saat ini.

Butuh Power
Kini, sudah dua tahun jabatan Plt diemban Juretta. Waktu yang lumayan panjang bagi jabatan Plt. Beruntungnya, selama kurun itu, Juretta mengaku tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam menjalankan tugas.
Satu-satunya kendala adalah ketika awal kali mengajukan sinergi program dengan SKPD atau instansi terkait.  Lantaran posisi ketua pengganti bukan istri pejabat (walikota atau wakil walikota), maka mereka tidak begitu memperhitungkan PKK. Ia pun kini bersyukur lantaran persoalan itu akhirnya terselesaikan.
“PKK itu organisasi kemasyarakatan, jadi masih butuh power. Itu bisa terjadi, jika ketua definitifnya adalah istri walikota atau yang ditunjuk dari kalangan birokrasi. Tanpa power, PKK tidak akan berjalan dengan baik.,” aku Juretta.
Yang perlu diapresiasi, kendati hingga saat ini belum ada figur ketua definitif, namun kegiatan TP PKK Kota Surabaya tetap bisa berjalan tanpa kendala yang berarti. Itu terbukti dari banyaknya capaian program  dan juga prestasi yang bisa diraih setiap tahun.
Lantaran keberhasilan itulah, posisi Juretta sebagai Plt Ketua TP PKK Kota Surabaya tetap dipertahankan, hingga kurun dua tahun ini.
“Lho, kenapa harus diganti? Kan nggak ada masalah. Kalau nggak ada masalah ya nggak perlu diganti. Ini kan justru terus berprestasi,” tutur Juretta menirukan pernyataan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.
Bagi Juretta, sebagai mitra pemerintah, peran PKK memang sangat vital dalam mensukseskan program pemerintah. Kuncinya, adanya saling pengertian dengan instansi pemerintah, bahwa kebijakan apapun yang diambil merupakan bagian dari tugas mereka.
Menurut Juretta, saat ini, ada dua hal yang menjadi perhatian serius TP PKK Kota Surabaya, yakni, bidang pendidikan dan kesehatan.  Di  bidang pendidikan, jauh sebelum PKK Jatim membentuk Taman Posyandu tahun 2012, PKK Surabaya telah membentuk sedikitnya 842 Pos PAUD Terpadu (PPT). PPT tersebut merupakan keterpaduan dari program posyandu, PAUD, dan BKB bagi anak usia 2-4 tahun. Setelah gerakan 10.000 Taman Posyandu digalakkan provinsi, maka dilakukan penyempurnaan bagi setiap PPT dengan menambah pendidikan bagi anak usia 0-2 tahun.
Masih di bidang pendidikan, PKK juga melakukan penguatan bagi tenaga pendidik. Bersama Pemkot Surabaya, PKK telah memprogramkan pemberian beasiswa bagi pengajar PAUD untuk meningkatkan kualifikasinya menjadi berijazah strata satu (S1). Program ini telah dilakukan sejak tahun 2014.
Dalam bidang kesehatan, seperti halnya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan dan balita (AKB) dan pendampingan ibu hamil. Upaya ini bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI). Dimana Juretta juga tercatat sebagai Ketua sejak tahun 2006 sampai sekarang.
“Kami sedikitnya tiga kali dalam seminggu melakukan pengecekan ibu hamil. Berapa banyak yang sudah bisa ditangani di tingkat kelurahan atau kecamatan. Selebihnya yang tidak tertangani kita ambil alih,” ujarnya. (ati,via)


Ladang Mencari Pahala

TIDAK ada istilah tua dalam kamus Juretta. Di usianya yang hampir menginjak 70 tahun, ia masih sangat aktif dan energik dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Tak jarang ia menyetir sendiri mobilnya untuk menghadiri berbagai kegiatan PKK, baik di dalam maupun luar kota. Termasuk berbagai kegiatan sosial yang diikutinya selain PKK.
    Bagi Juretta, kesempatan pengabdian ini ia niatkan sebagai ladang mencari pahala. Karena itu, ia selalu berupaya melakukan tugas dengan sebaik-baiknya dengan rasa tanggung jawab. Hal yang sama, juga selalu ia sampaikan dalam setiap kesempatan kepada kader PKK di Surabaya.
 “Saya selalu terkesan dengan soliditas dari teman-teman di TP PKK Kota yang notabenenya generasi sepuh, tapi semangat pengabdian mereka luar biasa,” pungkas apoteker berusia 68 tahun ini bangga.
Anak ketiga dari delapan bersaudara tersebut, selalu meyakini bahwa peran yang dijalaninya saat ini merupakan anugerah dari Tuhan. Salah satunya karena dirinya yang tidak memiliki latar belakang birokrasi tapi diberi kesempatan menjalani amanah sebagai Ketua TP PKK.
“Makanya saya sering diguyoni, Ketua TP PKK yang bukan istri bupati/walikota, dan bukan pejabat, tapi mantan anak bupati,” tutur Juretta diiringi tawa, sembari mengisahkan sang ayah yang pernah menjabat Bupati Tanjung Pinang,  Kepulauan Riau, tahun 1955-1959.  (ati,via)

BIODATA
Nama               : Dra Juretta Mursyam, Apt
TTL                 : Bukit Tinggi, 16 November 1947
Pendidikan      : S1 Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya
Suami              : Drs Mursyam, Apt
Anak               :
1.      DR ENG Febrikiyan Samopa, S.Kom,M.Kom
2.      Novry Brilian Hodda, SH, M.Km
3.      Era Brilian Ramadanti, S.Si, Apt
4.      Mardi Brilian Saleh, S.Kom
Pengalaman     :
1.      Ketua PKK RT tahun 1987
2.      Anggota TP PKK Kel Ketabang Kec Genteng tahun 1988
3.      Anggota Pokja IV TP PKK Kota Surabaya tahun 1998-2000
4.      Wakil Ketua Pokja IV TP PKK Kota Surabaya tahun 2000-2002
5.      Wakil Ketua II TP PKK Kota Surabaya tahun 2002-2010
6.      Wakil Ketua I TP PKK Kota Surabaya tahun 2010-2015
7.      Plt Ketua TP PKK Kota Surabaya 2013-2015
Organisasi       :
1.      Chartered President Organisasi Sosial Lions Club Surabaya Kencana tahun 1988
2.      Sekretaris  Gabungan Pengusaha Farmasi tahun 1996-2011
3.      Penasehat Gabungan Pengusaha Farmasi 2011-sekarang
4.      Ketua Ikatan Keluarga Sarjana Farmasi (Ikasfi) tahun 1996-1999
5.      Wakil Ketua Ikasfi 1999-sekarang
6.      Ketua Aliansi Pita Putih Indonesia Surabaya tahun 2006-sekarang

PRESTASI TP PKK KOTA SURABAYA
MASA BHAKTI 2010-2015

NO
TAHUN
PRESTASI
1.
2010
Terbaik II Pelaksana Posyandu Teladan Prov Jatim


Pelaksana Terbaik I Kesatuan Gerak PKK KB Kes Prov Jatim


Juara Pakarti Madya II Lomba Hatinya PKK Tingkat Nasional
2.
2011
Pakarti Madya II Tingkat Nasional Pemanfaatan Pekarangan HATINYA PKK


Pakarti Madya I Lomba Posyandu tingkat Nasional


Terbaik I Pelaksana terbaik Posyandu PKK KB Kes Prov Jatim


Juara III Lomba Pelaksana Terbaik 10 Program Pokok PKK tingkat Provinsi


Juara I Lomba Masak Ikan Prov Jatim Kategori Kudapan
3.
2012
Pakarti Madya I Tingkat Nasional  Pelaksana Terbaik Posyandu Kategori Kota


Pakarti Madya I Tingkat Nasional Lingkungan Bersih dan Sehat


Terbaik I Pelaksana Terbaik Lingkungan Bersih dan Sehat Prov Jatim Kategori Kota


Terbaik III Pelaksana 10 Program Pokok PPKK Prov Jatim


Juara III Kontes Kader Posyandu Peduli TAT Tingkat Nasional
4.
2013
Pakarti Utama I Tingkat Nasional Pelaksana Terbaik Lingkungan Bersih dan Sehat
5.
2014
Pakarti Utama II Tingkat Nasional Pelaksana Terbaik PHBS Kategori Kota
6.
2015
Terbaik Harapan I Pelaksana 10 Program Pokok PKK Prov Jatim

 Sumber: Data TP PKK Kota Surabaya, diolah

Selasa, 26 Mei 2015

Hj Lulis Irsyad Yusuf, Ketua TP PKK Kab Pasuruan (2013-2018)

SINERGI WUJUDKAN KABUPATEN PASURUAN MASLAHAT

     Bekerja sepenuh hati membantu tugas suami. Itulah motivasi utama Hj Lulis Irsyad Yusuf dalam menjalani peran sebagai Ketua TP PKK Kab Pasuruan. Berbagai prioritas program yang dijalankan pun memiliki muara yang sama dengan Visi, ‘Menuju Kabupaten Pasuruan yang Sejahtera dan Maslahat’. Seperti apakah?
           
            Menjalankan peran sebagai istri top figur dengan segudang aktifitas bukanlah hal yang baru bagi Hj Lulis Irsyad Yusuf, Ketua TP PKK Kab Pasuruan. Sebelumnya, sang suami, H Irsyad Yusuf yang kini menjabat sebagai Bupati Pasuruan merupakan Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan periode 2010-2014. Kendati ia juga mengakui bahwa tanggung jawabnya kini terasa jauh lebih menyita waktu dan tenaga.
“Yang paling berkesan ketika aktif di kegiatan PKK adalah saya menjadi lebih dekat dengan masyarakat. Ternyata ada banyak orang diluar sana yang membutuhkan perhatian kita,” katanya saat berbincang dengan Puspa.
Ditemui usai Puncak Peringatan hari Kesatuan Gerak PKK Prov Jatim 2015, yang digelar di Taman Candra Wilwatikta Prigen Pasuruan, 21 Mei 2015 lalu, perempuan yang akrab disapa Bunda Lulis ini bersyukur karena dipercaya menjadi tuan rumah perhelatan besar bagi kader PKK seluruh Jatim tersebut. Lulis juga dengan bangga memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki Kab Pasuruan, khususnya di bidang pariwisata dan sentra Usaha Kecil Menengah (UKM).
Terkait PKK, sejak menjabat pada 9 Juli 2013, Lulis memilih untuk mengaktifkan kembali gerakan PKK yang sempat vakum. Beberapa program kerja yang menjadi priotasnya seperti Keaksaraan Funsional (KF), Kesehatan kaitannya dengan Angka Kematian Ibu dan Balita (AKI, AKB), juga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hal itu merupakan berangkat dari berbagai kendala yang ditemukan Lulis selama dirinya terjun ke masyarakat.
“Dari setiap pemantauan, saya mendapati bahwa sasaran terbesar program KF adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa pengarusutamaan gender belum terwujud. Untuk itu PKK merasa ikut bertanggung jawab untuk menuntaskan masalah buta aksara ini,” terang Lulis.
Oleh karena itu, secara bertahap TP PKK Kab Pasuruan melakukan upaya-upaya pendampingan. Mulai dari pembelajaran, bimtek bagi para tutor, serta monitoring dan evaluasi. Dimana saat ini program tersebut setidaknya mentargetkan pemberantasan buta aksara di Kab Pasuruan yang masih mencapai 37.531 jiwa.
Disamping itu, TP PKK Kab Pasuruan juga berupaya menekan AKI dan AKB yang terbilang tinggi di Kab Pasuruan. Langkah sinergis TP PKK bersama Dinas Kesehatan Kab Pasuruan ini dengan menggalakkan kader asuh di semua kecamatan se-Kab Pasuruan. Kader asuh ini nantinya akan fokus pada pendampingan dan pemantauan terhadap sasaran kesehatan yang ditentukan dalam satu wilayah posyandu melalui pola surveillans KIA (kesehatan Ibu dan Anak) dan kondisi kesehatan masyarakat secara umum.
Selanjutnya, sebagaimana kapasitasnya selaku Bunda PAUD Kab Pasuruan, Lulis juga memberikan perhatian penuh terhadap pengembangan PAUD. Upaya ini dilakukan dengan menggelar pelatihan bagi guru PAUD dan TK se-Kab Pasuruan. Menurut Lulis, guru merupakan role model bagi setiap anak didiknya. Dimana setiap tindak tanduk maupun perkataannya akan dicontoh sekaligus berperan dalam membentuk karakter anak. Sehingga seorang guru harus dibekali dengan kurikulum dan ilmu pengetahuan yang tepat bagi perkembangan anak.
“Beberapa waktu yang lalu kami juga melaunching program ‘Satu Desa Satu Bunda Paud’. Melalui program-program tersebut kami harap setiap anak mendapatkan layanan pendidikan sedini mungkin dan juga kesempatan untuk bersekolah setinggi mungkin,” tutur Lulis penuh harap.

Menuju Pasuruan Maslahat

Selain tiga prioritas tersebut, TP PKK Kab Pasuruan dibawah kepemimpinan Lulis juga menargetkan pengembangan UKM di masing-masing kecamatan Se-Kab Pasuruan. Mengingat banyaknya potensi wilayah yang bisa dikembangkan menjadi sentra UKM. Hal ini sejalan dengan program baru Pemerintah Kab Pasuruan, ‘Program Pasuruan Maslahat’.
Program tersebut dimaksudkan untuk memaksimalkan potensi di desa tertinggal. Melalui program tersebut diharapkan dapat mempercepat pengentasan kemiskinan dan mengurangi jumlah pengangguran. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang ada harus dimaksimalkan untuk mengangkat derajat masyarakat pada jurang kemiskinan.
Kami bersama dengan pemerintah terus berupaya mewujudkan hal tersebut. Untuk PKK sendiri kita mulai dengan memaksimalkan peran dekranasda, UP2K PKK, Kopwan, dan tentunya semua kader di daerah,” ujar Lulis sembari menujukkan beberapa produk UKM yang tersedia di stand TP PKK Kab Pasuruan pada Peringatan HKG PKK Prov Jatim 2015.
Lulis sepenuhnya yakin bahwa melalui gerakan PKK yang memiliki kekuatan hingga dasawisma, akan mampu membawa perubahan bagi Kab Pasuruan. Baik dari segi pendidikan, kesehatan, maupun kemampuan ekonomi masyarakat.
“Dengan melalui kegiatan PKK, mudah-mudahan nanti kita bisa memenuhi apa yang menjadi keinginan, harapan, juga kebutuhan masyarakat. Sebagaimana visi Pemerintah Kabupaten, menjadikan Pasuruan kabupaten yang maslahat,” ujar perempuan bergelar Sarjana ekonomi tersebut. (nurhayati)


MEMBANTU TUGAS SUAMI
            Ketika ditanya kendala utama yang dihadapi selama menjalankan amanah sebagai Ketua TP PKK Kab Pasuruan, Lulis mengaku keluarga lah yag kerap menjadi bahan pikirannya. Ibu tiga anak ini mengaku pernah silih waktu harus menghadapi keluhan buah hatinya yang merasa intensitas pertemuan mereka terbatas.
Namun, baik dirinya maupun suami tidak kehabisan cara untuk memastikan anak-anak terpenuhi kebutuhan emosionalnya. Salah satu caranya adalah dengan memaksimalkan waktu pertemuan di malam hari. Usai sholat maghrib yang selalu diupayakan berjamaah di rumah, keduanya dengan antusias meluangkan waktu bersama dengan ketiga anaknya.
“Biasanya kita akan dampingi mereka untuk belajar, tanyakan kegiatan mereka seharian, atau sekedar ngobrol dan bercanda sambil nonton TV,” ucap ibu dari bungsu Adhila Maziya Afkarina tersebut.
Baginya, menjalani peran sebagai ibu rumah tangga sekaligus mendampingi suami memang tidak mudah. Tapi dengan keikhlasan dan semangat pengabdian, keduanya bisa dijalani dengan baik tanpa harus ada yang dikorbankan. “Ya, Alhamdulillah sih selama ini berat pun dirasa enteng, karena kan kita Lillahi Taala bantu suami,” pungkas perempuan kelahiran Surabaya, 23 Januari 1973 tersebut.
(ati,via,mik)



BIODATA
Nama Lengkap            : Hj Lulis Ratnawati Yudi , SE
Nama Panggilan         : Bunda Lulis
TTL                              : Surabaya, 23 Januari 1973
Nama Suami               : H Irsyad Yusuf
Nama Anak                 :
·         M Nauval Varozdaq R
·         M Virryan Dienal Haq
·         Adhila Maziya Afkarina
Pendidikan Terakhir    : S1 Ekonomi
Jabatan Organisasi     :
·         Ketua TP PKK Kab Pasuruan
·         Ketua Dekranasda Kab Pasuruan
·         Ketua Forikan Kab Pasuruan
·         Ketua Gabungan Organisasi Wanita Kab Pasuruan
·         Bunda PAUD Kab Pasuruan


Senin, 25 Mei 2015

Elok Rege Napio, Fashion Designer

Bertutur Lewat Desain



DARI hobi menjadi profesi. Itulah yang dijalani Elok Rege Napio, desainer kebaya asal Surabaya. Mengusung tema etnik kontemporer, ia mencoba menggabungkan ketertarikannya pada seni menggambar dengan kemilau pernak-pernik. Hasilnya, tak hanya kebaya yang anggun, tapi juga seni yang mengandung cerita.


BUAH jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Ungkapan itu memang ada benarnya.  Buktinya, Elok Rege Napio, Kecintaannya pada seni gambar yang diturun dari papanya telah membawanya bereksplorasi hingga ia mahir mendesain pakaian. Saat daya seni itu digabungkan dengan indahnya pernak-pernik pada kebaya, lahirnya sentuhan konsep detail yang unik dan berbeda.
“Sejak kecil saya suka gambar, komik, dan manga. Keahlian ini sepertinya menurun dari papa. Beliau sering menggambar sendiri untuk film-film yang dibuat di percetakannya,” kisah Elok,  yang kini tercatat sebagai anggota Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Timur ini.
Hanya saja, hobi turunan itu ternyata tidak dipupuk dan dikembangkan melalui jalur formal. Keinginannya tidak sejalan sang ayah. Ia pun mengikuti pendidikan umum hingga berlanjut ke Fakultas Ekonomi Jurusan akuntansi di Unika Widya Kusuma Surabaya.
Namun, lantaran kecintaannya terhadap dunia seni yang tidak bisa dihilangkan, memasuki semester dua di jurusan akuntansi, Elok memutuskan untuk mendaftar ke Lembaga Pendidikan Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo Surabaya. Meski sempat mengalami kerepotan mengatur jadwal kuliah, Elok akhirnya dapat lulus secara hampir bersamaan pada tahun 2001.
Apakah pendidikan tata busana memudahkan jalannya menjadi desainer? “Tidak juga. Setelah lulus saya masih nganggur. Karena jujur saya masih belum pede disebut desainer meskipun saya lulusan Susan Budiarjo. Jadi saya buka usaha konveksi dan baju anak dulu selama hampir dua tahun,” kisahnya kepada Puspa saat ditemui di rumah, sekaligus showroomnya di kawasan Rungkut Asri Barat Surabaya,  April lalu.
Usaha yang dirintisnya bersama sang tante itu pun terpaksa gulung tikar. Penyebab utamanya karena kurangnya modal. Elok yang juga lulusan terbaik LPTB Susan Budihardjo tahun  2001  ini pun sadar, untuk konsen di usaha garmen ia harus memiliki modal yang besar. Sebab, barang dikirim paling cepat baru akan cair tiga bulan berikutnya. Sementara gaji pegawai, perputaran modal tidak bisa menunggu. Dalam kondisi menjelang kolaps itulah titik awal Elok mulai merintis pembuatan baju kebaya.
Tahun 2003, Elok secara kebetulan mendapat permintaan dari temannya untuk membuatkan sebuah kebaya pengantin. Berbekal tekad dan kemampuan, Elok pun menciptakan desain kebaya pengantin lengkap dengan detai-detail hiasannya.
“Saya tidak menyangka, kebaya hasil rancangan saya  mendapat pujian banyak tamu yang hadir. Sejak itu, marketing  dari mulut ke mulut terus berjalan. Bulan berikutnya, satu per satu orang mulai berdatangan pesan baju hingga sampai saat ini,” ujar perempuan yang mengaku baru pede disebut desainer setelah masuk APPMI tahun 2009 ini.
Terhitung sejak tahun itu, Elok tercatat telah mengikuti sejumlah peragaan busana di kota Surabaya dan Jakarta. Sebut saja Indonesia Fashion Week, Surabaya Fashion Parade,  Surabaya Moslem Festival, East Java Batik Carnival, Fashion Tendance, serta berbagai roadshow yang rutin dilakukan hingga hampir lima kali dalam setahun.
Berdasar banyaknya jumlah even yang diikuti, puluhan koleksi telah berhasil dirancangnya. Ia menjelaskan, untuk satu koleksi kebaya yang terdiri 10-15 desain, ia membutuhkan setidaknya tiga bulan pengerjaan. Sedangkan untuk gaun, yang umumnya memiliki detail yang lebih sederhana dapat diselesaikannya dalam waktu satu bulan.
 Sementara untuk harga, satu desain kebaya dibandrol harga mulai Rp 6,5 juta untuk ukuran pesta. Kebaya pengantin Rp 15 juta untuk akad nikah atau pemberkatan, dan gaun mulai Rp 3,5 juta.

Seni dan Riset
Cita rasa tinggi dan eksklusivitas, diwujudkan Elok dalam berbagai desain pakaian yang dibuat. Mengusung brand “Dola Ap” untuk desain kebaya dan ‘Elok Re Napio’ untuk gaun, Elok selalu mengutamakan perpaduan warna yang tegas dan payet untuk memperkuat detail setiap sisi baju agar berkesan mewah dan elegan.
Mengenai ide, elok mengaku bisa mendapatkannya dari manapun. Seperti yang baru-baru ini ditampilkannya dalam kesempatan Indonesia Fashion Week (IFW) 2015. Elok menampilkan pesona keindahan alam Gunung Singgalang, Sumatera Barat.
“Saya belum pernah ke Gunung Singgalang. Jadi saya searching di internet. Nah, darisana saya tahu bahwa yang paling menarik itu adalah hutan lumutnya. Hiasan berupa lumut itu saya aplikasikan ke ornamen baju dan aksesorisnya,” tutur alumni S1 Akuntansi Unika Widya Mandala Surabaya tersebut.
Selain riset mengenai desain, mantan Finalis Lomba Concourse International Paris Majalah Dewi tahun 2000 ini juga memperhatikan detail siapa yang akan memakai gaun rancangannnya. Terutama jika gaun itu merupakan pesanan. Dalam menangani klien, mulai dari pertemuan pertama untuk konsultasi desain sampai pada fitting terakhir, Elok melakukannya secara personal.
Jika datang ke desainer, Anda pasti akan diarahkan. Tetapi kita juga tetap harus tahu jenis manakah yang nyaman kita pakai. Sebab jika kita sendiri saja bingung, maka orang lain juga akan bingung,” ujar Elok memberi saran. (ati, via)

Tak Lelah Belajar dan Berinovasi

SEBAGAI seorang desainer, selain wajib mengikuti  atau mengadakan show sebagai bentuk pertanggungjawaban profesi, Elok juga dituntut memiliki cerita dari masing-masing koleksi yang ditampilkan.
“Seorang desainer tidak hanya harus tahu cara membuat baju bagus, tapi dia juga harus paham konsep. Ketika kita buat koleksi harus nyambung, antara satu baju dengan lainnya itu harus punya cerita. Kalau tidak? habis kita dicaci maki sesama desainer,” tutur ibu satu anak tersebut.
Elok mengisahkan, pameran pertama yang ia ikuti saat dirinya telah masuk sebagai anggota APPMI. Pengagum Alexandre Mcqueen, desainer asal Inggris ini pun mengaku, pameran pertama yang ia ikuti gagal total. Itu karena jarak kelulusan dari sekolah mode di tahun 2001, kemudian masuk APPMI tahun 2009, Elok mengaku kelimpungan ketika harus menentukan desain untuk koleksinya.
Belajar dari pengalaman itulah, perempuan kelahiran 15 November 1978 itu terus berupaya menggali kemampuannya dalam hal desain. Salah satunya dengan kembali mengikuti kursus di Arva School Of Fashion Surabaya. Selain itu, ia juga tidak segan untuk belajar dari desain yang dibuat para desainer besar, seperti halnya Anne Avantie.
“Saya sering belajar dari desain orang. Bukan dalam arti menjiplak, tapi sedapat mungkin dengan melihat desain mereka, desain yang saya buat nantinya bisa hadir dengan nuansa yang berbeda,” jelas Elok.
Dalam hal desain kebaya, nama Anne Avantie bisa jadi merupakan magnet tersendiri. Sehingga ke depan, Elok berharap ada banyak desainer lain yang mencapai sukses serupa. Untuk itu, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan. Terutama untuk memberikan ruang bagi para desainer guna melebarkan sayapnya. (ati,via)
           
BIODATA
Nama               : Elok Rege Napio
Alamat             : Jl. Rungkut Asri Barat 9 no 12 Surabaya, Jawa Timur
TTL                 : Surabaya, 15 November 1978
Anak               : Nathania Caya Dewi
Pendidikan      : S1 Akuntansi Unika Widya Mandala Surabaya
Prestasi            :
·         Siswa terbaik LPTB Susan Budihardjo tahun  2001
·         Finalis Lomba Rancang gaun pengantin majalah Perkawinan tahun 2011

·         Finalis Lomba Concourse International Majalah Dewi tahun 2000                     

Moh Ainur Rahman AP MSi, Camat Teladan Prov Jatim 2015

MIMPI BERBUAH PRESTASI
 Mimpi yang dipendam selama sepuluh tahun tak hanya membawa dirinya mencapai visi yang diinginkan. Mimpi itu bahkan membuahkan prestasi sebagai Camat Teladan Prov Jatim 2015. Kecamatan Intranet adalah mimpi sekaligus visinya. Seperti apakah?


 Jika ada yang bilang meraih sebuah penghargaan semata karena keberuntungan, tidak demikian dengan Moh Ainur Rahman, Camat Sukodono Kab Sidoarjo. Prestasi sebagai Camat Teladan yang diterima pada Peringatan Hari Otonomi Daerah (Otoda) Prov Jatim April lalu adalah buah dari kerja kerasnya.  Istimewanya lagi, hal ini merupakan mimpinya sejak lama.
Sepuluh tahun lalu, tepatnya tahun 2004 ketika dirinya masih menjabat sebagai Sekretaris Camat (Sekcam) Sidoarjo, Ainur-panggilannya, merasa risau dengan pembukuan dan arsip pemerintahan yang cenderung rumit dan tidak tertata dengan baik. Akibatnya pelayanan administrasi birokrasi pun terhambat. Terpikir dalam benaknya, bagaimana seandainya bisa memanfaatkan teknologi yang tengah berkembang, internet.
Namun posisi sebagai sekcam tak memberinya kewenangan besar untuk merealisasikan mimpinya tersebut. Waktu berlalu hingga dirinya menjabat sebagai Camat Sukodono pada Februari 2012. Saat itulah kemudian tercetus ide mengenai ‘Kecamatan Intranet’.
Kecamatan Intranet merupakan program untuk memudahkan komunikasi di lingkungan kecamatan hingga desa. Sistemnya pun relatif mudah, karena semuanya dilakukan secara online menggunakan jaringan internet.
“Bayangkan saja jika kita harus mengirim surat ke masing-masing desa, berapa lama waktunya. Sementara dengan fasilitas internet, semua bisa dilakukan dengan cepat dan mudah,” tutur Ainur ditemui di ruang kerjanya medio Mei lalu.
Selain surat-menyurat, program ini juga memudahkan Ainur untuk memantau kegiatan di masing-masing desa melalui kamera cctv yang dipasang disetiap lobby pelayanan desa. Dampaknya sangat efektif dalam memperlancar birokrasi pemerintahan termasuk peningkatan kedisiplinan perangkat.
“Awalnya mungkin mereka terpaksa menjadi disiplin karena merasa diawasi. Tapi lama-kelamaan saya yakin itu akan menjadi kebiasaan,” tutur pria asal Sumenep tersebut.
Perlahan tapi pasti, sistem birokrasi dirubah menjadi lebih efektif dan efisien. Saat ini, Ainur bahkan tengah berupaya mengembangkan program Kecamatan Intranet tersebut untuk melayani kepengurusan berbagai dokumen secara online. Sehingga nantinya akan mempermudah masyarakat dalam pengurusan dokumen tanpa harus mengantri di kantor kecamatan.
Pelayanan berbasis IT memang bukan hal yang baru di dunia pemerintahan. Namun inovasi yang dilakukan Ainur menjadi salah satu upaya menangkap peluang masa depan. Mengingat, kondisi masyarakat yang heterogen dan kenyataan bahwa nantinya Sukodono akan mengalami perkembangan pesat sebagai kota barunya Kabupaten Sidoarjo.
“Seringkali kita itu terlambat menyikapi perubahan. Padahal kedepan permasalahan itu akan semakin kompleks. Tapi kalau kita sudah mempersiapkan pelayanan yang optimal, perangkat yang berkualitas, sarana dan prasarana sudah siap, semuanya akan jadi mudah,” tutur mantan  Kabid Bina Manfaat Pekerjaan Umum dan Pengairan Kab Sidoarjo tahun 2011-2012 tersebut
Optimalkan Sumber Daya
“Bangga hanya sebatas bangga karena saya manusia biasa. Tapi yang terpenting bagaimana kami meningkatkan kinerja, motivasi, inovasi, sehingga apa yang kami capai ini bisa bermanfaat untuk masyarakat,” ungkap Ainur ketika ditanya perasaannya mendapat penghargaan sebagi Camat teladan Prov Jatim 2015.
Ledih dari itu, ia menyadari bahwa apa yang dicapainya bukanlah pencapaian individu. Namun merupakan buah dari kerja keras teamwork-nya yang solid. Mulai dari perangkat pemerintahan  kecamatan hingga desa, masyarakat, bahkan pihak ketiga. Kuncinya, memberi kesempatan pada masing-masing orang untuk bisa terlibat aktif dalam kebijakan pemerintahan.
Dengan alasan yang sama pula, Ainur mengeluhkan sistem kebijakan yang cenderung masih sentralis. Beberapa permasalahan di masyarakat terlambat ditangani lantaran pemerintahan kecamatan tidak diberikan wewenang cukup untuk mengambil tindakan. Apalagi jika sudah menyangkut kewenangan pemerintah kabupaten ataupun provinsi.
Pria yang tengah menjalani studi S3 jurusan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) di Universitas Airlangga Surabaya ini berharap, kedepan pemerintahan kecamatan tidak hanya diposisikan sebagai pusat pelayanan administrasi. Pemerintahan kecamatan harus lebih diberdayakan. Apalagi jika itu berkaitan dengan kejadian di masyarakat yang notabene-nya kecamatan lebih tahu kondisi riilnya.
“Ada jalan rusak kita gak bisa bertindak karena itu wewenang kabupaten. Padahal kita yang ada di tengah-tengah mereka. Kenapa itu tidak dilimpahkan pada kita? Bukan berarti nanti akan ada namanya superioritas seorang camat. Ini murni untuk masyarakat kok. Semakin cepat ditangani kan semakin baik,” tutur camat yang mengaku kerap turba menggunakan motor untuk mengurangi disparitas dengan masyarakat tersebut.
 (nurhayati)
 BEKERJA SEBAGAI JALAN HIDUP
 Dalam segala hal, Ainur memang selalu ingin jadi yang terbaik. Sehingga apapun yang dilakukannnya akan diupayakan secara optimal. Apakah kemudian yang dilakukan itu mendapat apresiasi bukanlah prioritasnya. Meskipun ia tidak menampik bahwa tidak mudah menyandang status juara. Terutama konsekuensi mempertahankan yang  jauh lebih sulit daripada mendapatkan.
“Yang pasti ini akan semakin meningkatkan motivasi saya. Selanjutnya adalah apa yang harus kami benahi, dimana kekurangannya. Karena saya tidak ingin setelah prestasi ini kami raih lantas kemudian terbengkalai dan dilupakan” tutur pria yang menggenapkan usia pada 22 April tersebut.
Ainur menyadari, bahwa dirinya tidak selamanya akan memimpin Kecamatan Sukodono. Namun selagi memimpin, ia akan terus berupaya melakukan yang terbaik. Baginya, pemimpin yang baik adalah yang mampu menciptakan pemimpin-pemimpin baru, sekaligus memiliki hal positif yang bisa diwariskan.
Sebagai camat, Ainur bisa saja memilih menjalani rutinitas tanpa harus disibukkan dengan melakukan perubahan. Namun ia memilih untuk bekerja, menciptakan inovasi, dan melayani sebaik mungkin kebutuhan masyarakat.
“Saya selalu meyakini, lebih baik saya berbuat dan melakukan kesalahan daripada saya diam dan juga tidak memiliki kesalahan. Sulit, capek, tapi ya itulah jalan hidup yang saya pilih,” ujar suami dari Evi Anita ini ringan tanpa beban. (hay)
 BIODATA
 Nama                           : Moh Ainur Rahman, AP, M.Si
Panggilan                    : Ainur
Jabatan                                    : Camat Sukodono. Kab Sidoarjo
Menjabat Sejak           : Februari 2012
TTL                             : Sumenep, 22 April 1975
Istri                              : Evi Anita, SSos MT
Anak                           : Empat Orang
1.      Reyhan
2.      Rifat
3.      Rizal
4.      Raja
Pendidikan                  : S1 STPDN Bandung angktan ke-5 Tahun 1997
                                      S2 Administrasi Publik Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag)
  S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Universitas Airlangga Surabaya
Pengalaman Jabatan    :
1.      Sekretaris Camat Sidoarjo tahun 2004-2011

2.      Kabid Bina Manfaat Pekerjaan Umum dan Pengairan tahun 2011-2012