Senin, 11 Mei 2015

Hj Chairani Juliati A Sukardi, S.Sos, Ketua Dharma Wanita Persatuan Prov Jatim (2014-2019)

JALANKAN AMANAH SEPENUH HATI

Sempat menjabat sebagai Ketua antar waktu, Rabu, 4 Maret 2015, Hj. Chairani Juliati A Sukardi, S.Sos resmi menjabat kembali sebagai Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Prov Jatim. Sebelumnya, di akhir masa kepemimpinan periode pertamanya, DWP Prov Jatim berhasil meraih peringkat 10 besar Laporan Pelaksanaan Program Kerja (LPPK) DWP seluruh Indonesia. Lantas, apakah yang akan menjadi prioritasnya kedepan?

15 tahun berkecimpung dalam organisasi DWP tentu membuat Hj Chairani Juliati A Sukardi, S.Sos, kaya akan pengalaman di organisasi istri pejabat tersebut. Terhitung sejak tahun 2000, Chairani-sapaanya- memulai keterlibatannya saat menjabat sebagai Ketua DWP Biro Keuangan Sekretariat Daerah Prov Jatim. Sehingga tidak heran, jika dirinya mengaku tidak banyak mengalami kesulitan menyesuaikan diri di awal kepemimpinannya.
Kepemimpinan periode pertamanya memang hanya berumur satu tahun. Setelah secara resmi menjabat sebagai Ketua antar Waktu DWP Provinsi pada Februari 2014 menggantikan Dra Hj Purmiasih Rasiyo,MM yang memasuki masa purna tugas. Seiring dilantiknya, Drs A Sukardi sebagai Sekdaprov Jatim, menggantikan Dr H Rasiyo, MSi, Desember 2013 lalu.
“Mendapatkan tanggung jawab baru yang besar karena memimpin sebuah organisasi adalah hal yang harus benar-benar dipikirkan. Saya harus dapat melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab,” tutur Chairani menggambarkan perasaan atas jabatan barunya.
Mengaku tidak memiliki motivasi khusus, Chairani hanya berusaha menjalankan tugas yang diembannya dengan sabar dan sepenuh hati. Karena sebagai organisasi istri pegawai negeri, DWP merupakan  salah satu sendi penguat dalam roda pemerintahan, lewat dukungan terhadap kebijakan pemerintah.
Dalam menjalankan kepemimpinannya selama satu tahun terakhir, Chairani mengaku sangat terbantu adanya dukungan dari sesama pengurus DWP yang sebagian besar dikenalnya dengan baik. Juga kesadaran seluruh pengurus akan tugas dan kewajibannya, sehingga dapat melaksanakan seluruh kegiatan yang telah direncanakan.
Dukungan sekaligus kerjasama tim yang solid itulah yang akan terus dijaganya. Salah satunya dengan tidak banyak melakukan pergantian struktur kepengurusan DWP Prov Jatim. Perubahan hanya dilakukan pada pergeseran bidang-bidang tertentu.
“Pergeseran tersebut saya lakukan karena saya ingin semua pengurus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang merata dalam semua bidang. Tidak hanya berdasarkan latar belakang, tetapi siap dan sanggup melaksanakan tugas lain yang mungkin belum pernah diterima,” terangnya.
Terkait prioritas, perempuan kelahiran Pamekasan ini mengaku memiliki program yang beragam. Disesuaikan dengan masing-masing bidang dalam kepengurusan. Diantara yang saat ini tengah menjadi perhatiannya adalah pengembangan ekonomi kreatif bagi perempuan. Kegiatan tersebut, selain menjadi ajang edukasi bagi anggota, juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan keluarga serta masyarakat. Terutama menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di tahun 2015 ini.
Sedangkan mengacu pada program prioritas Dharma Wanita yang ditentukan secara terpusat berdasarkan hasil Munas untuk lima tahun kedepan, yaitu melalui Rencana Strategi tahun 2014-2019. Pada tahun 2015 ini, diutamakan pada penajaman program kerja meliputi Capacity Building, Pelaksanaan Program Unggulan (Sekretariat, Bidang Pendidikan, Bidang Ekonomi dan Bidang Sosial Budaya), Kerjasama Multipihak, dan Sistem Informasi Manajemen (SIM) DWP.
Selain berupaya sebaik mungkin merealisasikan kegiatan yang tercantum dalam Program Kerja DWP Prov Jatim, Chairani juga memberi perhatian penuh pada pengelolaan  tertib administrasi. Terutama administrasi keuangan, baik dilingkungan DWP Prov Jatim maupun di DWP Sekretariat Daerah. Hal ini sejalan adanya transparansi keuangan di pemerintahan.
“Jika menanyakan tentang perkembangan suatu organisasi, maka jangan ditanyakan pada ketuanya, karena tentu saja saya akan menyampaikan kalau organisasi ini selalu berkembang kearah yang lebih baik. Karena saya mengupayakannya begitu,” ujar perempuan yang juga kerap dipanggil Bu Kardi ini diselingi tawa renyah.
Upaya tersebut terbukti dengan terlaksananya seluruh program kerja DWP Prov Jatim tahun 2014. Bangganya lagi, laporan Pelaksanaan Program Kerja (LPPK) DWP Prov Jatim mendapatkan peringkat sepuluh besar ditingkat Nasional dan diumumkan dalam Munas tahunan DWP, Desember lalu di Jakarta.
“Alhamdulillah dengan dukungan dan kerjasama tim DWP serta seluruh pihak terkait. Dalam merealisasikan program tidak ada kendala besar yang kami hadapi. Sehingga semua program berjalan lancar sesuai yang diharapkan,” ujarnya mengucap syukur.

Sinergi PKK dan DWP

Selain mengakui kontribusi banyak pihak dalam setiap keberhasilan yang dicapai DWP, Chairani juga tidak bisa melepas katerikatannya dengan organisasi sosial yang lain, PKK. Pengalaman menjabat sebagai Bendahara TP PKK Prov Jatim, membuatnya cukup dikenal di kalangan organisasi berjuluk green angel tersebut.
Bahkan, Chairani dengan tegas menepis anggapan, PKK dan DWP berjalan sendiri-sendiri dalam programnya. Alasannya, baik PKK maupun DWP memiliki kesamaan visi dan misi yakni memberdayakan masyarakat dan keluarganya. Dengan tujuan yang sejalan tersebut, maka bisa dipastikan sinergi antara PKK dan DWP selalu dapat dilaksanakan.
“Dalam menjalankan program kegiatan masing-masing, sebisa mungkin baik dari DWP maupun PKK akan saling melibatkan dan membantu. Ketika PKK melaksanakan kegiatan, DWP sering diundang untuk ikut serta menjadi peserta dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Ini adalah salah satu bentuk dukungan DWP,” tandasnya.
Selain itu, lanjut Chairani, ada banyak kegiatan yang melibatkan kedua organisasi ini secara bersamaan. seperti Peringatan Hari Anak Nasional dan Kegiatan Menanam 1000 Pohon. Dalam kesempatan tersebut, DWP dan PKK saling bersinergi untuk dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Tidak pernah ada kesan berjalan sendiri-sendiri, seperti saya yang masih terlibat aktif dalam Tim Penggerak PKK sebagai Wakil Ketua II dan juga tanggung jawab rangkap sebagai Ketua DWP,” tegas perempuan yang menggenapkan usia pada 21 Juli tersebut. (nurhayati,ulviatun)


UTAMAKAN KUALITAS PERTEMUAN
Pandai membagi waktu selalu menjadi andalan bagi seseorang dengan segudang aktifitas. Menjadi istri orang nomor satu dalam jajaran birokrasi pemerintahan, tak pelak menuntut Chairani menjalani hal serupa. Namun dirinya merasa beruntung, karena keluarga yang selalu mendukung dan mengerti kesibukannya.
“Jika tidak ada dukungan dari keluarga bagaimana mungkin saya bisa menjalankan sekaligus fokus pada amanah yang saya jalani sekarang,” jawabnya ibu dua anak ini dengan nada bertanya.
Jadwal padat tak hanya dialaminya, suaminya yang juga Sekdaprov Jatim memiliki tanggung jawab besar yang kerap menyita sebagian besar waktu dan tenaganya. Ditambah putra-putrinya yang sudah beranjak dewasa, bahkan yang pertama sudah berkeluarga, menyebabkan berkurangnya intensitas berkumpul bersama keluarga.
Karena itu, ketika ada momen berkumpul dengan keluarga, Chairani dan keluarga berupaya memanfaatkannya sebaik mungkin. Seperti Membicarakan hal-hal yang penting dan menyenangkan. Baginya, yang terpenting adalah kualitas mengingat intensitas pertemuan yang memang terbatas.
Keluarga bagi Chairani adalah hal yang paling utama dalam hidupnya. Bahkan ditengah kepadatan aktifitas yang dijalani, Chairani masih menyempatkan diri merawat mertuanya yang telah lanjut usia. Hal ini juga yang kerap memaksanya harus bolak-balik Surabaya-Pamekasan.
“Namanya juga orang tua, bagaimanapun kami tetap ingin berbakti pada beliau selama masih diberikan kesempatan,” ujar perempuan dengan pembawaan kalem dan murah senyum ini.
Terlepas dari semua pencapaian dan kesibukannya, ibu dari Yudi Kurniawan Akbar ini mengaku tidak pernah membayangkan hal yang muluk-muluk untuk hidupnya. Ia hanya berusaha untuk menjalankan amanah yang diterima sekaligus tetap bertanggung jawab pada keluarganya.
“Yang jelas intinya saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk mendampingi suami dan mengurus keluarga,” pungkas putri pasangan Mas Moch. Mochtar dan Koesijah tersebut. (ati,via)




BIODATA
·         Nama Lengkap                      : Hj. Chairani Juliati A. Sukardi, S.Sos
·         Tempat, Tanggal Lahir         : Pamekasan, 21 Juli 1958
·         Nama Suami                           : Dr. H. Akhmad Sukardi, MM
·         Nama Putra/Putri                 : 1. Yudi Kurniawan Akbar
                                               2. Aulia Dita Karlina
·         Nama Orang Tua                   : Ayah : Mas Moch. Mochtar
                                                 Ibu    : Koesijah
·         Riwayat Pendidikan              :
o   SD Negeri Manten Pamekasan Tahun 1970
o   SMP Negeri 2 Pamekasan Tahun 1973
o   SMEA Negeri Pamekasan Tahun 1976
o   Fisip Universitas Bayangkara tahun 2009
·         Pengalaman Organisasi        :
o   Ketua DWP Biro Keuangan Sekretariat Daerah Prov Jatim (2000–2003)
o   Ketua DWP Dinas Pendapatan Prov Jatim (2003–2008)
o   Bendahara II DWP Provinsi Jawa Timur (2004-2009)
o   Ketua Bidang Ekonomi DWP Sekretariat Prov Jatim (2008–2013)
o   Bendahara Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur (2009–2013)
o   Ketua DWP Provinsi Jawa Timur (2013–sekarang )
o   Ketua DWP Sekretariat Daerah Prov Jatim (2013–sekarang)
o   Ketua DPD GOPTKI Provinsi Jawa Timur (2013–sekarang)

o   Wakil Ketua II Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur (2014–sekarang ) 

Rabu, 11 Maret 2015

Hai Katha Sangram Ki

 Hai katha sangram ki
(Ini adalah kisah tentang peperangan)
vishwa ke kalyan ki
(dan kesejahteraan dunia)
dharm adharm adi anant
(kebaikan dan keburukan, tidak akan pernah berakhir)
satya asatya kalesh kalank
(kebenaran dan kebohongan, kesalahan dan menyalahkan)
swarth ki katha paramarth ki
(keserakahan dan cerita tentang Dewa)
shakti hai bhakti hai
(kekuasaan dan pengabdian)
janmo ki mukti hai
(kebebasan dan keselamatan)
jeevan ka ye sampoorn saar hai
(dan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup)
Krishna ki mahima hai
(kemuliaan Krisna)
Gita ki garima hai
(Gita adalah kebanggan)
grantho ka granth yeh mahaan hai
(Ini adalah yang terbesar dari semua cerita)
Mahabharat… Mahabharat


Inn Aankho Mein Tum

 Inn aankhon mein tum jab se ho gaye ghoom
Semenjak kulihat kamu
Saara jahaan tera chehara

Kuterus terbayang wajahmu selalu
Preet ye rang ab to tere sang

Kau mewarnai hatiku dengan warna-warni cinta
Aur bhi ho gaya gehara

Cintaku bertambah setiap harinya
Ishq hai vo ehsaas

Cinta adalah perasaan luar biasa indah
Ishq hain woh jazbaat

Cinta adalah perasaan kuat
Badal de ye duniya

Cinta mampu mengubah dunia
Badal de ye halaat

Cinta mampu mengubah keadaan
Inn aankhon mein tum jab se ho gaye ghoom

Semenjak kulihat kamu
Saara jahaan tera chehara

Kuterus terbayang wajahmu selalu
Preet ye rang ab to tere sang

Kau mewarnai hatiku dengan warna-warni cinta
Aur bhi ho gaya gehara

Cintaku bertambah setiap harinya

Jumat, 06 Maret 2015

SLOKA OF ABHIMANYU



Dhaal thi talwaar
Pedangnya adalah perisai
Thi veer ki lalkaar thi
Yang dilakukanya adalah gagah berani

Jwala thi tripat rakt ki
Ada kobaran darah pada tripat-nya
Hunkaar thi yeh shashtra ki
Itu adalah sebuah teriakan jiwa
Maha shkti veer wo banke veero se lada
Dia berjuang seperti pemberani 
yang kuat dan gagah
Haar ke bhi jeet gaya aisa tha wo yodhaa  Dia juga menang dan kalah 
sebagai seorang pejuang

Abhimanyu..Abhimanyu..





Jumat, 06 Februari 2015

Belajar nulis or ngedit Its same, Angel!

Tulisan dibawah adalah tulisan versi asli milikmu, tanpa perubahan. Warna merah menunjukkan kata ataupun kalimat yang menurutku tidak tepat pemakaiannya. Sebelum lebih jauh, penting kiranya kita samakan persepsi dulu. Pertama, aku tidak menilai isi tulisan (ilmune gak nyandak nek ngurusi iku). Kedua, sebagaimana kapasitasku penilaian estetika kepenulisan akan cenderung mengarah pada estetika kepenulisan secara jurnalistik. Dimana lebih mengandalkan, efektifitas pemakaian bahasa. Intinya, bagaimana pembaca itu bisa memahami maksud tulisan tanpa harus menguras banyak energi (umumnya tulisan akademis kayak begitu). Ketiga, kalaupun nati ada perubahan dalam versiku, itu juga mengabaikan kesinambungan antar paragraph.
Sedikit refreshing pegetahuan jaman sekolah dasar dulu.
1.    Satu kalimat itu terdiri dari satu pokok pikiran.
2.    Satu paragraf berisi satu induk dengan beberapa anak kalimat, yang masih dalam satu tema pembahasan..
3.    Baik secara akademis ataupun jurnalistik, pemborosan kalimat itu tidak dibenarkan.
4.    Penggunaan tanda baca secara tepat, penting untuk membuat tulisan itu nyaman dibaca.
5.    Dalam sebuah tulisan setiap paragraf satu dengan yang lainnya harus saling terkait dalam sebuah grand tema. (artinya, jangan sampai paragraf pertama bahas telo, paragraf kedua bahas harga cabe, gak nyambung!)
Sepakat? Mari kita mulai!





Pendidikan karakter anak bisa di mulai dari kamar

Saya mendapati seorang ibu muda dan seorang (kata ini seharusnya tidak perlu lagi. Itu pemborosan kata.) putra kecilnya yang nampak seperti kelas 3 SD berada di dalam warung, (ini seharusnya titik bukan koma. Karena kalimat selanjutnya memiliki pokok pikiran sendiri. Ingat satu kalimat satu pokok pikiran. Jangan buat pembaca menguras energi dengan kalimat yang terlalu panjang.) mereka bercengkrama dengan sangat akrab dan hangat. Pada saat si ibu ingin membayar makan, ibu ini (ini juga pemborosan.) memberikan sebuah tanggung jawab kepada putranya dengan menitipkan tasnya kepada anaknya (pemborosan). Dengan bangga si anak menerima tanggung jawab yang di berikan oleh (bukan pemborosan, tapi kata yang tidak perlu. Kurangi penggunaan kata yang jika tidak dipakai pun arti kalimat tidak terganggu) ibunya, (seharusnya titik.) terlihat sangat jelas bahwa anak tersebut mendekap erat tas itu (‘anak tersebut’ ‘tas itu’ kombinasi kata yang menjemukan. Serasa tengah didikte.) dengan menggunakan kedua tanggannya (aku sarankan menggunaan titik disini. Kalimatmu lagi-lagi beranak cucu kalimat, kepanjangan.) seakan-akan anak ini tidak ingin membuat tas kesayang ibunya hilang dan akhirnya membuat si ibu kecewa (pada kalimat ini banyak sekali partikel ‘nya’ yang dipakai.). Inilah sebuah bentuk sederhana dari rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh anak itu.
Keberhasilan anak yang terlihat dan dirasakan para orang tua saat ini tidak terlepas dari pola asuh yang berkarakter dari orang tuanya. Anak-anak adalah rezeki atau anugrah yang paling dahsyat yang di berikan oleh Allah swt kepada para pasangan yang baru saja menikah atau pun yang pasangan yang sudah lama menikah. (kepanjangan.) Sebagai rasa syukur kepada sang pencipta, sudah semestinya jika orang tua sangat memperhatikan pendidikan anak, memilihkan lingkungan yang baik, pola asuh yang benar, asupan gizi yang cukup dan lain sebagainya.
Membangun rasa tanggung jawab pada anak merupakan hal sederhana yang bisa di lakukan oleh keluarga. Anak pada umur 6 tahun sampai 10 tahun merupakan masa-masa penting bagi orang tua dalam pembentukan karakter. Kegiatan sederhana yang dapat membangun rasa tanggung jawab terhadap anak yaitu dengan mengajak anak untuk merapikan dan membersihkan kamar sendiri. Kenapa harus dimulai dengan kamar? Kamar anak adalah teritori tanggung jawabnya secara langsung. Mungkin orang tua beranggapan dia masih terlalu muda untuk membersihkan kamarnya sendiri. Tapi ini tidak berarti, orang tua atau pembantu mengambil alih tanggung jawab atas kamar anak. Secara bertahap, anak bisa di ajak untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap ruangannya sendiri. Kewajiban orang tua adalah mengenalkan dan mendampingi buah hatinya untuk mengerti dan memahami pentingnya memiliki sifat tanggung jawab.(kurangi penggunaaan partikel ‘nya’ yang tidak perlu.) Langkah paling mudah bagi orang tua untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada anak, bisa dimulai dengan mengajak anak bersama-sama mengganti seprai dan sarung bantal/guling. Mulai usia 6 tahun, anak semestinya sudah bisa mengganti sarung bantal dan guling. Ajak anak bersama-sama mengganti seprai dan sarung bantal/guling. Mulai usia 6 tahun, anak semestinya sudah bisa mengganti sarung bantal dan guling. Ketika mengganti seprai, minta anak untuk membantu memegang satu sisi seprai. Ajari anak untuk melipat pinggiran seprai ke bawah kasur. Pada usia 10-12 tahun anak juga bisa belajar menyapu kamarnya sendiri agar Anda sekeluarga tidak terlalu bergantung pada pembantu atau orang tua. (paragraf ini kepanjangan. Ada lebih dari satu tema tulisan didalamnya. )
Jika kita melihat sebuah sumber cahaya ataupun lampu jika dalam rumah. (dalam kaidah jurnalis diperbolehkan memakai dan di awal kalimat. Tapi kali ini peletakan ini tidak sesuai. Dua Kalimat ini seharusnya bisa disederhanakan.) Dan pada saat itu kita berdiri tepat dibawah sumber cahaya, maka secara otomatis bayangan kita berada di bawah tepat kita berdiri. Apabila kita bergeser menjauhi dari sumber cahaya, maka bayangan juga akan menyesuaikan pada letak, posisi, dan ukuran mengikuti kondisi kita. Jika bayangan tidak sesuai dengan keinginan kita, tidak mungkin kita akan memarahi bayangan tersebut. Pastilah kita yang akan menyesuaikan diri dengan sumber cahaya (titik) agar letak bayangan sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Begitu juga dengan anak, anak merupakan hasil dari citra dan bayangan para orang tua masing. Baik dan menawannya tindakan anak merupakan hasil dari pola pendidikan karakter dan pola asuh orang tua. Kepribadian para orang tua dalam mendidikan anak juga akan berpengaruh besar dalam pembentukan karakter. Mulailah memiliki rasa tanggung jawab dari para orang tua terlebih dahulu.



Kalau saja aku bertindak sebagai editor, maka kurang lebih tulisanmu akan jadi seperti ini. (tanpa melihat apakah setiap paragraf saling terkait atau tidak. Karena aku hanya menata struktur kalimat yang kau pakai.)



Pendidikan Karakter Anak Bisa Di Mulai Dari Kamar

Saya mendapati seorang ibu muda dan putra kecilnya yang nampak seperti kelas 3 SD, berada di dalam warung. Mereka bercengkrama dengan sangat akrab dan hangat. Pada saat si ibu ingin membayar makan, ia memberikan sebuah tanggung jawab dengan menitipkan tas kepada anaknya. Dengan bangga si anak menerima tanggung jawab yang di berikan ibunya. Terlihat sangat jelas bahwa anak tersebut mendekap erat tas dengan menggunakan kedua tanggannya. Seakan-akan tidak ingin membuat tas kesayangan sang ibu hilang dan membuatnya kecewa. Inilah sebuah bentuk sederhana dari rasa tanggung jawab yang dimiliki anak itu.
Keberhasilan anak yang terlihat dan dirasakan para orang tua saat ini, tidak terlepas dari pola asuh yang berkarakter dari orang tuanya. Anak-anak adalah rezeki atau anugrah paling dahsyat yang di berikan oleh Allah swt kepada para pasangan. Baik yang baru saja menikah atau pun yang pasangan yang sudah lama menikah. Sebagai rasa syukur kepada Sang Pencipta, sudah semestinya jika orang tua sangat memperhatikan pendidikan anak, memilihkan lingkungan yang baik, pola asuh yang benar, asupan gizi yang cukup, dan lain sebagainya.
Membangun rasa tanggung jawab pada anak merupakan hal sederhana yang bisa di lakukan keluarga. Anak pada umur 6 sampai 10 tahun merupakan masa-masa penting bagi orang tua dalam pembentukan karakter. Kegiatan sederhana yang dapat membangun rasa tanggung jawab terhadap anak yaitu dengan mengajak anak untuk merapikan dan membersihkan kamar sendiri. 
Kenapa harus dimulai dengan kamar? Kamar anak adalah teritori tanggung jawabnya secara langsung. Mungkin orang tua beranggapan dia masih terlalu muda untuk membersihkan kamarnya sendiri. Tapi ini tidak berarti, orang tua atau pembantu mengambil alih tanggung jawab atas kamar anak. Secara bertahap, anak bisa di ajak untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap ruangannya sendiri. Kewajiban orang tua adalah mengenalkan dan mendampingi buah hatinya untuk mengerti dan memahami pentingnya memiliki sifat tanggung jawab.
Langkah paling mudah bagi orang tua untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada anak, bisa dimulai dengan mengajak anak bersama-sama mengganti seprai dan sarung bantal/guling. Mulai usia 6 tahun, anak semestinya sudah bisa mengganti sarung bantal dan guling. Ajak anak bersama-sama mengganti seprai dan sarung bantal/guling. Ketika mengganti seprai, minta anak untuk membantu memegang satu sisi seprai. Ajari anak untuk melipat pinggiran seprai ke bawah kasur. Pada usia 10-12 tahun anak juga bisa belajar menyapu kamarnya sendiri. Sehingga Anda sekeluarga tidak terlalu bergantung pada pembantu atau orang tua.
Jika kita melihat sebuah sumber cahaya ataupun lampu dan berdiri tepat dibawahnya, maka secara otomatis bayangan kita berada tepat di bawah kita berdiri. Apabila kita bergeser menjauhi dari sumber cahaya, maka bayangan juga akan menyesuaikan pada letak, posisi, dan ukuran mengikuti kondisi kita. Jika bayangan tidak sesuai dengan keinginan kita, tidak mungkin kita akan memarahi bayangan tersebut. Pastilah kita yang akan menyesuaikan diri dengan sumber cahaya. Agar letak bayangan sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Begitu juga dengan anak. Anak merupakan hasil dari citra dan bayangan para orang tua. Baik dan menawannya tindakan anak merupakan hasil dari pola pendidikan karakter dan pola asuh orang tua. Kepribadian para orang tua dalam mendidikan anak juga akan berpengaruh besar dalam pembentukan karakter. Mulailah memiliki rasa tanggung jawab dari para orang tua terlebih dahulu.




SATU LAGI YANG HAMPIR KETINGGALAN. PENGGUNAAN EYD JUGA PENTING DIPELAJARI KETIKA INGIN MENULIS!!! ^_^