Rabu, 24 Desember 2014

Desa Sidorejo, Kec Krian, Kab Sidoarjo


HIJAUKAN DESA DENGAN TOGA

            Lahan kosong, kering kerontang? Sudah bukan jamannya. Saat ini lahan kosong bisa dimanfaatkan menjadi lahan Toga. Kaya manfaat sekaligus asri. Hal itu pula yang tengah diupayakan masyarakat Desa Sidorejo di sepanjang jalan desanya yang gersang. Seperti apakah?
           


Berada di sepanjang jalur jalan raya Surabaya-Krian, meski bertitle desa, Sidorejo tak ubahnya bagian dari kota besar. Berbagai kendaraan bermuatan besar berkali-kali melintas. Bisingnya suasana kota menjadi hal yang lumrah di desa di Kecamatan Krian ini.
Desa seluas 204 ha ini terbagi menjadi tujuh dusun dan lima perumahan. Dusun-dusun tersebut yakni Bendomungal, Bareng, Sidorame, Sidorejo, Semampir, Madubronto, dan Sidorenggo. Sedangkan perumahan yang ada di Desa Sidorejo diantaranya Perum Taman Sidorejo, Graha Permata Sidorejo Indah, Alam Pesona I, Alam Pesona II, dan Kav Madubronto.
Lokasi strategis dari dan menuju ke pusat kota, pun menjadi nilai plus bagi masyarakat. Namun Beberapa kegiatan kemasyarakatan menunjukkan bahwa suasana guyub rukun layaknya pedesaan masih menjadi nilai yang dijalankan di Desa yang dipimpin oleh Kades Hery Sucipto Ahmadi, ST tersebut..
Diantara kegiatan tersebut seperti bersih desa, kegiatan kepemudaan, hingga agenda istighosah rutin setiap Sabtu Pahing (perhitungan hari dalam penanggalan jawa, red). Kegiatan ini dilakukan secara bergilir di setiap dusun/musholla dan masjid desa.
“Istighosah Sabtu Paing ini sudah sejak awal terjadinya Krisis Moneter (Krismon) tahun 1998. Waktu itu saya masih menjabat sebagai BPD, akibat terjadinya krismon yang sangat membebani sehingga kami memunculkan wacana istighosah itu. Diprakarsai oleh para tokoh masyarakat Desa Sidorejo,” terang Hery sucipto kala ditemui di ruang kerjanya medio Agustus lalu.
Sabtu Paing diambil sebagai hari yang dianggap baik karena hari sebelumnya yakni Jumat legi, dianggap sakral dalam penanggalan jawa. Hari Sabtu pun dianggap paling fleksible bagi mereka yang bekerja. Karena merupakan akhir pekan sehingga tidak akan berbenturan dengan jam kerja dan seluruh masyarakat bisa berpartisipasi.
Selain itu, salah satu desa dari 12 desa di kecamatan Krian ini pun kerap menjadi jujugan beberapa mahasiswa perguruan tinggi untuk melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Terakhir, rombongan mahasiswa dari STKIP PGRI Sidoarjo pun ‘berpindah kampus’ ke Desa Sidorejo.
Sebanyak 52 orang yang dibagi menjadi enam kelompok. Kegiatan yang diagendakan mulai tanggal 13-28 Agustus 2014 itu mengambil tema “Membentuk, Membina, dan Mengisi KKN Tematik Posdaya untuk Pemberdayaan Keluarga menjadi Keluarga Sejahtera”.

Program Penghijauan
Sinergi antara dunia pendidikan dan kehidupan sosial barangkali memang sudah selayaknya dilakukan. Ilmu tanpa aplikasi bagai pohon tanpa buah. Sedang aplikasi tanpa ilmu bisa jadi kesesatan. Disinilah tugas para insan pendidikan untuk mengambil peran. Dedikasi dan pengalaman pun diuji agar keilmuan yang dipelajari tidak hanya mengisi catatan kosong perkuliahan.
Seperti halnya yang dilakukan mahasiswa STKIP PGRI Sidoarjo. Keinginan Hery Sucipto untuk menggalakkan penghijauan, dijawab dengan penyuluhan pengolahan sampah organik takakura. Tak hanya itu agenda menanam Toga di sepanjang jalan desa pun dilaksanakan.
Kenapa Toga?
Untuk hal ini, Hery Sucipto beralasan Toga akan jauh lebih bermanfaat, khususnya sebagai lumbung obat tradisional masyarakat. Selain itu dengan adanya tumbuhan-tumbuhan tersebut suasana jalan desa yang tadinya gersang akan terlihat semakin asri dan sejuk.
  “Karena lebih baik toga daripada rumput. Apalagi ‘rumput tetangga’ kan gak boleh. Jadi mungkin satu bermanfaat, dua pemandangannya kan lain. Selain itu ini juga terkait program desa yang memang mengagendakan penanaman toga,” ujar Hery Sucipto setengah berkelakar.
Para mahasiswa tersebut pun tak segan turun tangan langsung melakukan penanaman toga. Tentu saja bersama seluruh masyarakat dan segenap pengurus desa. Sebagai awal, penanaman akan dimulai dari sepanjang areal disekitar Balai Desa Sidorejo. Untuk selanjutnya secara bertahap akan dilakukan di sepanjang jalan desa.
“Dalam pelaksanaan Insyaallah sudah menyentuh di masyarakat. Ada yang menangani langsung ke masyarakat, pendidikan, Posyandu dan lain-lain. Alhamdulillah respon dari masyarakat juga positif,” jelas hery Sucipto ketika ditanya komentar terkait kegiatan KKN yang digelar STKIP PGRI Sidoarjo tersebut.
Ditanya kendala yang dihadapi selama menjamu tamu akademisnya tersebut, Hery Sucipto mengaku tidak mengalami kendala yang berarti. Pasalnya, setiap program yang diajukan oleh mahasiswa sebagai syarat tugas akhir tersebut pun telah disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Kegiatan penanaman Toga pun merupakan hasil perundingan dengan mahasiswa, yang awalnya mengagendakan penyuluhan kesehatan. Penanaman Toga dianggap lebih menyentuh langsung pada masyarakat. (ati,via)


DATA DESA
Kepala Desa               : Hery Sucipto Ahmadi, ST
Sekdes                                    : Abdul Khoiron, S.Sos
Kasi pemerintahan    : Masrukhin
Kasi Kesra                  : Muhammad Yahya
Kasi Pel. Umum          : Imron Rosyadi
Kasi Pembangunan   : Moch. Rejo
Kasi Trantib               : Zanuri
Luas Desa                  : 204 Ha
Dusun                         : Tujuh
1.      Dusun Bendomungal, M. Ismail
2.      Dusun Bareng, a/n Kasie Pemerintahan dan Kesra
3.      Dusun Sidorame, Muhammad Rejo
4.      Dusun Sidorejo, Maskur
5.      Dusun Semampir, Sugito
6.      Dusun Madubronto, Rianing
7.      Dusun Sidorenggo, Yudi Pramono
Perumahan                : Lima
1.      Perum Taman Sidorejo
2.      Perum Graha Permata Sidorejo Indah
3.      Perum Alam Pesona I
4.      Perum Alam Pesona II
5.      Kav Madubronto
  




BERHARAP JADI DESA INSPIRASI
            Tak banyak perangkat desa yang dengan tangan terbuka bersedia memfasilitasi penuh kegiatan KKN mahasiswa. Desa Sidorejo dibawah kepemimpinan Hery Sucipto barangkali satu dari yang sedikit itu. Kendati hanya akan ditempati selama dua minggu, namun keakraban antara perangkat desa dan mahasiswa dari STKIP PGRI Sidoarjo tersebut amat kentara.
            Hubungannya bukan lagi seperti tamu dan tuan rumah, tapi sudah layaknya keluarga besar. Setidaknya itu yang nampak dari berbagai kegiatan yang diprakarsai para mahasiswa. Tak hanya masyarakat, perangkat desa pun turut berbaur dengan keriuhan pelatihan dan penyuluhan yang digelar mahasiswa.
“Sejauh ini kedatangan adik-adik mahasiswa ini sangat positif. Karena kan pada dasarnya, hormatilah orang sebelum kau ingin dihormati. Ada kegitan apapun, di desa, posyandu, sekolah dan lain-lain yang terpenting kulonuwun (meminta ijin, red) dulu. Saya yakin responnya pasti baik,” ujar Kades yang menjabat sejak tahun 2010 ini.
Tak hanya rasa kekeluargaan yang dibangunnya bersama mahasiswa KKN, Hery Sucipto juga tak segan memberikan arahan dalam setiap kegiatan Mahasiswa. Setiap program yang diajukan oleh mahasiswa selalu diterimanya dengan tangan terbuka.
Pada prinsipnya adalah bagaimana setiap kegiatan yang dilakukan memiliki dampak positif bagi masyarakat. Berbagai bidang seperti pendidikan, keterampilan, kesenian, penyuluhan, keagamaan, kesehatan hingga kegiatan sosial kemasyarakatan dijadwalkan sebagai kegiatan pokok mahasiswa.
“Bidang-bidang garapan tersebut sudah ditentukan dari kampus yang kemudian diajukan pada kepala desa. Pada dasarnya program yang  kita ajukan disetujui semuanya, akan tetapi khusus kesehatan memang sengaja diganti dengan pertanian. Yakni penanaman Toga di sepanjang jalan desa,” ujar salah seorang koordiantor mahasiswa ditemui terpisah.
Hery Sucipto sendiri pun mengakui bahwa kehadiran mahasiswa KKN sangat berdampak positif. Tidak hanya terbantu dalam berbagai event, bermacam penyuluhan dan pelatihan yang digelar juga menambah pengetahuan masyarakat. Hery Sucipto juga berharap silaturahim antara Desa Sidorejo dengan mahasiswa KKN tetap terjalin hingga diluar kegiatan tugas akhir tersebut.
“Harapan saya andaikata sudah mempunyai pekerjaan setidaknya Desa Sidorejo ini tetap terkenang. Meskipun kelak sudah berumah tangga, sudah bekerja mampir-mampirlah. Pokoknya, Harapan saya Sidorejo bisa menjadi desa inspirasi,” ujar Hery diiringi tawa lepas.
(ati,via)
 

BIODATA
Nama              : Hery Sucipto Ahmadi
TTL                 : Sidoarjo, 13 September 1975
Istri                 : Sulis Styorini
TTL                 : Sidoarjo, 1 Februari 1974
Alamat            : Dusun Sidorame Desa Sidorejo RT 13 RW 3 Kec Krian Kab Sidoajo
Anak               : 4 (3 putri, 1 putra)
1.      Lailatul Fitriyah
2.      Nur Khofifah
3.      Ahmad Akbar Setiyawan
4.      Zaskiya Ayusita Ahmadi
Jabatan           : Kades Sidorejo, Kec Krian, Kab Sidoarjo (2010-2014)

Putu Sulistiani Prabowo, Owner and Designer Brand Batik Dewi Saraswati Surabaya




BIODATA
Nama               : Dra Putu Sulistiani Prabowo, Apt
Alamat                        : Jl Jemursari Utara II/19, Surabaya Indonesia
Suami              :Drs H Edi Budi Prabowo, Apt
Anak               :1. Pranaya Yudha Mahardika, SP MIB
                         2. Anindita Saraswati, SH
Pendidikan      : S2 Apotekker
TTL                 : Singaraja, 5 Agustus 1957


JAGA EKSKLUSIFITAS BATIK

Namanya Putu Sulistiani. Dalam dunia usaha dan kerajinan batik barangkali namanya sudah tidak asing lagi. Terutama setelah dirinya dikukuhkan menjadi Ketua Asosiasi perajin Batik Jatim. Siapa sangka, perajin yang mulai menggaet pasar luar negeri ini adalah seorang apotekker. Tak ada warisan keahlian ataupun basic pendidikan seni, yang ada hanya bakat terpendam. Seperti apakah?


            Senja mulai beranjak dari singgasananya ketika Puspa memasuki halaman rumah dengan pintu pagar kayu berukir khas perumahan ala Jawa. Berbagai aksesori di gazebo depan rumah pun tebuat dari kayu berpelitur menambah kesan etnik suasana. Di sudut sebelah barat rumah, sekumpulan perempuan paruh baya tengah sibuk memainkan canting di atas kain putih. Disisi lain ada pula yang tengah menjemur kain batik yang nampak basah selepas dilakukan pewarnaan.
Kesibukan itulah yang terjadi hampir setiap harinya di rumah Putu Sulistiani. Saat ditemui, perempuan berdarah Bali itu pun tengah sibuk menjelaskan dan mengantar berkeliling buyer yang diketahui berasal dari Jepang melihat proses membatik.
“Beginilah kesibukannya, saya galeri sekaligus gerai disini saja. Karena kami ingin mereka bisa sekalian lihat prosesnya. Sekaligus mengeducate pembeli mengenai bagaimana prosesnya dan kenapa batik tulis itu tergolong mahal. Karena memang prosesnya susah. Sehingga mereka bisa lebih menghargai sebuah karya batik,” ujar Putu Sulistiani membuka pembicaraan mengenai kiprahnya di dunia seni dan usaha batik.
Jika umumnya perajin batik mengawali usaha dari pewarnaan alami, lalu beralih pada pewarnaan sintetis dengan pertimbangan menekan biaya produksi. Tidak demikian dengan Putu Sulistiani. Perajin bergelar sarjana farmasi ini justru mengawali kiprah batiknya dari pewarnaan sintetis. Kemudian merambah pada pewarnaan alami untuk memenuhi keinginan dan menggaet pasar yang lebih luas.
Terkait kualitas, Putu Sulistiani denga tegas menyatakan bahwa batik dengan pewarna sintetis maupun alami keduanya dibuat dengan kualitas yang sama. Sehingga tidak ada perbandingan mencolok dari kedua jenis batik yang dibuatnya.
“Jangan salah lho, ada juga yang tidak suka dengan pewarna alami. Kesannya burek (pudar, red) dan tidak cerah di wajah katanya. Sehingga pilihannya batik sintetis tapi dengan kualitas yang sebanding dengan batik pewarna alam,” terang Putu Sulistiani.
Sementara itu mengenai prospek usaha batik, Putu Sulistiani menyatakan bahwa saat ini cenderung mengalami trend penurunan. Diantaranya disebabkan banyaknya event pameran hasil kerajinan sejenis batik. Kendati bermanfaat secara promotif, namun juga menyebabkan semakin mudahnya batik dalam berbagai jenis ditemukan di pasaran. Sehingga batik tidak lagi menjadi barang eksklusif yang banyak diburu.
Meski begitu sebagai pengusaha yang telah memasuki usia satu dasawarsa, Putu Sulistiani punya trik sendiri untuk mengendalikan minat pasar. Tak hanya berinovasi dalam setiap desain motif batik, Putu Sulistiani juga berkreasi dalam desain baju yang lebih casual dan berkelas dari kain batik miliknya.
            Perajin yang mengawali kiprahnya di dunia batik sejak 13 september 2004 ini mengaku belum memiliki pakem khusus dalam motif batik yang dibuatnya. Mengambil ide dasar batik khas Jatim dengan desain utama bunga teratai dan ayam bekisar, Putu Sulistiani mengkreasikan dua maskot batik Jatim tersebut. Salah satu jenis desain batik yang diberinya nama Surya Majapahit, menggambarkan bunga teratai dengan delapan penjuru mata angin terpajang rapi di rumah sekaligus galeri miliknya.

Waspadai Kompetitor
            Memasuki usia satu dasawarsa, usaha batik yang dirintisnya terus berkembang. Bukan saja pasar lokal, pasar mancanegara pun mulai melirik usaha berbasis kerajinan tersebut. Hal itu perlu diwaspadai mengingat Indonesia hingga saat ini cenderung kalah dalam hal SDM yang profesional di bidangnya.
            Menghadapi era pasar global tahun 2015, para pelaku usaha kecil menengah (UKM) dituntut untuk terus berinovasi guna memastikan usahanya tetap berjaya ditengah gempuran produk-produk asing yang mulai menjarah pasar lokal. Dalam hal batik misalnya, tak hanya sesama kerajinan batik yang menjadi kompetitor bagi pengembangan usaha. Saat ini mulai banyak diproduksi tekstil bermotif batik dengan harga yang sangat terjangkau. Jika sudah begitu, satu-satunya langkah yang diambil adalah bagaimana kerajinan batik bisa bersaing namun dengan tetap menjaga mutu dan ciri khas dari batik itu sendiri.
            Putu Sulistiani juga sempat mengaku was-was pada buyer asing yang terlampau protektif ketika berkunjung ke galerinya. Kerap kali mereka tak hanya bertanya seputar pengerjaan batik. Tapi perihal gaji, jam kerja pegawai, merek bahan, hingga pasar yang menyediakan bahan baku tak luput dari pengamatan mereka.
“Kadang kita itu bangga kalau mau mengajarkan pada orang lain, tapi hati-hati dibalik itu. Nantinya mereka kan mempelajari dengan lebih canggih, jadilah mereka bikin batik juga. Karena saya tahu, daya dukung mereka terutama SDM itu lebih ekspert ketimbang yang kita miliki,” jelas Putu Sulistiani serius.
            Kalau harus berbagi ilmu, jelas Putu Sulistiani, dirinya lebih memilih untuk mengkader generasi lokal muda berbakat. Kendati sebagai pengusaha yang tidak lepas dari perhitungan laba dan modal, ibu dari dua orang putri ini mengaku pengusaha seyogyanya tidak hanya memikirkan keuntungan diri pribadi. Baginya batik bukanlah sekedar karya seni bernilai jual tinggi, batik juga warisan budaya yang kelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.
Putu juga menyesalkan semakin sedikitnya generasi muda yang tertarik menekuni batik. Mereka cenderung memilih bekerja sebagai buruh pabrik, lantaran dianggap lebih menguntungkan. Sedangkan  membatik, umumnya didominasi kalangan perempuan paruh baya hanya karena tidak memiliki keahlian khusus.
            “Kedepan kalau ingin melestarikan batik, sementara pendapatan masih kecil mereka tidak akan mau membatik lagi. Terutama generasi muda, makanya untuk pembatik  harus ada reward yang bagus, sehingga batik ini bisa lestari,” ujar Putu Sulistiani  menyarankan. (ati,tin)

BAKAT, KREATRIFITAS, DAN KESEJAHTERAAN BERSAMA
Menggeluti dunia batik sejatinya bukanlah basicnya sejak awal. Betapa tidak, dengan title apotekker di belakang namanya sudah membuktikan, bahwa ibu dari dua putri sejatinya adalah sarjana farmasi. Namun, bakat tak pernah memilih pada profesi apa dia melekat. Itulah gambaran apa yang dijalani Putu Sulistyani. Seorang aptekker yang akhirnya memilih mejadi pengrajin sekaligus pengusaha batik.
“Sejak kecil saya memang menyukai hal yang berbau seni. Saya ingat dulu ketika masih di SMP ada pelajaran menggambar dan saya gambar motif batik. Sejak saat itu saya mulai tertarik. Saya juga tidak tahu apa itu yang dinamakan bakat,” kenang Putu Sulistiani.
Kalaulah apa yang dipilih Putu Sulistiani bagian dari bakat terpendam yang dimiliki, bukan berarti uasah berjalan dengan mulus. Jatuh bangun mengembangkan usaha menjadi cerita yang mengiringi perjalanannya hingga kini. Istri dari Edi Budi Prabowo ini menceritakan bahwa dirinya pernah nyaris bangkrut lantaran pesanan yang dibuat tidak sesuai dengan permintaan dan dikembalikan. Malangnya, pesanan itu pun tidak dilengkapi dengan perjanjian jual beli di awal. Sehingga Putu Sulistiani pun pasrah barang dikembalikan tanpa kompensasi.
Namun kejadian ini justru menjadi nomenklatur pembuktian kreatifitasnya sebagai perajin. Pesanan yang dikembalikan itu kemudian dimodifikasi ulang. Hasilnya, semua pesanan gagal tersebut justru terjual dengan harga lebih mahal dari penawaran sebelumnya.
“Itu hikmahnya ditolak tapi bisa kita jual lebih tinggi. Seorang perajin memang harus pinter-pnter menyiasati hal semacam itu,” jelas perempuan yang mengaku sebelumnya bekerja sebagai research and developer sebuah pabrik kosmetik di Surabaya sejak tahun 1987-2002 ini.
Ditanya mengenai alasan ‘banting stir’ dari sarjana farmasi menjadi perajin batik, Putu Sulistiani hanya menggeleng sembari melempar senyum renyah. Perempuan yang baru saja dikukuhkan sebagai Ketua Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur ini, mengatakan dengan diplomatis bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama seseorang memiliki kemauan. Hal terpenting adalah adanya niat tulus dan demi kesejahteraan bersama.
“Usaha apapun itu, tidak bisa hanya untuk kepentingan diri. Kita juga harus punya komitmen. Seperti halnya usaha batik, disini banyak sekali yang terlibat yang itu juga harus kita fikirkan kesejahteraanya. Bukan hanya memperkaya diri,” ujar perempuan kelahiran Singaraja, 5 Agustus 1957 tersebut memungkasi pembicaraan.
(ati,tin)

Dusun Warurejo, Desa Kejapanan, Gempol, Pasuruan.

Impikan Ikon ‘Kampung Pia’ Jatim
            Kue pia atau bakpia identik dengan makanan khas Jogjakarta. Orang yang berwisata ke sana kerap membawa oleh-oleh tersebut. Namun di Jawa Timur pun ada kue pia yang tak kalah nikmatnya dibandingkan bakpia Jogjakarta. Tepatnya di Dusun Warurejo, Desa Kejapanan, Kecamatan Gembol, Kabupaten Pasuruan, yang menjadi kampung pia. Bakpia Warurejo tak hanya hadir dengan varian baru, tetapi mereka bertekad menyaingi ketenaran bakpia Jogjakarta.
            Sebuah plang yang cukup besar dengan tulisan ‘Kampung Pia’, terpampang jelas, di sebuah kawasan di wilayah Kecamatan Gempol. Tepatnya di sisi kiri jalan masuk arteri Porong dari arah Pandaan, atau tol Gempol-Pandaan. Dikatakan kampung pia, karena hampir setiap rumah memiliki usaha pembuatan pia (bakpia).
            Dusun Warurejo terbilang baru dalam usaha pia. Yakni sekitar awal tahun 2012, ketika warga sepakat untuk memasang plang kampung pia di hampir setiap jalan masuk dusun. Yana Andayani, salah satu produsen kue pia, menuturkan, usaha pembuatan pia merupakan salah satu sentra usaha yang digeluti mayoritas warga Warurejo.
            Selain itu, melalui usaha pia taraf perekonomian masyarakat Dusun Warurejo terangkat. “Kalau dulu ibu-ibu menganggur, sekarang sudah tidak lagi. Karena semua orang memiliki kesibukan. Ada yang buka usaha pia sendiri atau sekadar jadi pekerja melipat kardus, mencetak adonan, dan lain-lain,” kata Yana.
            Saat ini jumlah pengusaha pia di Warurejo mencapai 35 unit. Jumlah tersebut belum termasuk para pengusaha pia di luar Warurejo. Mereka umumnya adalah eks pekerja yang kemudian merintis usaha sendiri. Jumlah pekerja yang membantu setiap unit usaha bervariasi. Mulai dari yang hanya dikerjakan dengan anggota keluarga hingga usaha maju yang mempekerjakan hampir 30 orang.
            Dengan banyaknya tenaga kerja yang terserap, dusun yang dulu diakui sangat tertinggal mulai menunjukkan perbaikan. Kendati belum sepenuhnya optimal, akses jalan desa mulai diperbaiki melalui swadaya masyarakat. Hal yang paling menonjol, menurut Yana, adalah rumah-rumah warga yang mulai mentereng. Rumah dibangun menunjukkan penghasilan mereka mengalami peningkatan.
            “Ke depan saya ingin kampung ini dikenal sebagai sentra kuliner pia menyaingi bakpia pathok Jogjakarta. Karena pada akhirnya akan berimbas pada kesejahteraan masyarakat desa juga,” ujar Yana. Dia ingin Warurejo menjadi kampung pia yang bisa menjadi salah satu ikon kue di Jawa Timur.
            Sedangkan Yana sendiri, mengawali usaha dari hobi, namun dia terbilang sukses mengelola usaha yang dipelajarinya secara otodidak. Bahkan kebiasaan tersebut berlanjut setelah dirinya berkeluarga dan memiliki anak. Bisa dibilang Yana Andayanilah pelopor usaha pia di Dusun Warurejo.

Raup Laba Rp 30 Juta
            Kini, dengan dibantu 22 orang pekerja, dalam sehari Yana melayani pesanan hingga 20.000 biji kue pia. Dari jumlah tersebut sedikitnya Yana mengantongi pemasukan hingga Rp 300 juta setiap bulan. Dengan keuntungan sekitar 10% dari laba yakni sebesar Rp 30 juta perbulan.
            “Dulu waktu awal merintis usaha, seminggu hanya 20 kotak isi 10 biji. Kalau bisa dapat pesanan 50 kotak seminggu saja, itu sudah bagus banget,” ujar Yana. Sebelumnya, Yana menjajakan dagangannya ke toko-toko di sekitar rumahnya. Namun kesibukan setelah melahirkan anak kedua, membuatnya sempat menghentikan aktivitas tersebut. Baru tahun 1999, dia bersama suami berinisiatif membuka kembali usaha pia itu.
            Mengenai kompetitor usaha, Yana berpikir cukup lama. Menurutnya, sejauh ini usaha pia cukup stabil. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan masih dalam masa jaya. Hal itu selain karena rasa, pia juga menjadi pilihan yang pas sebagai oleh-oleh maupun hidangan. Terutama pada musim hajatan atau liburan panjang. Bahkan di saat sepi hajatan, Yana masih kerap menerima pesanan sedikitnya 2.000 biji perhari.
            Meski begitu, Yana juga tidak menampik jika suatu ketika pia juga akan mengalami kemunduran peminat di pasaran. Oleh karena itu, dirinya mendorong teman sesama pengusaha aktif melakukan inovasi. Seperti saat ini, jika umumnya kue pia berisi kacang hijau, dia mencoba varian baru dengan isi pisang, coklat, keju, stroberi dan lain-lain.
            Tak hanya berinovasi pada produk, Yana melalui Paguyuban Pengusaha Pia juga kerap mengikuti pelatihan usaha dari berbagai instansi. Tujuannya jika kemudian hari usaha pia mengalami kelesuan, para pengusaha tidak patah arang. Karena telah dibekali dengan berbagai keterampilan usaha.
            Soal promosi, Yana berpegang penuh pada desain kotak makanan dan rasa dari pia buatannya. Bahkan pemasangan plang kampung pia pun diakuinya tidak berpengaruh secara signifikan. Sebab, para pengusaha umumnya memiliki area pemasaran sendiri. Seperti Mojokerto, Surabaya Jombang, Pasuruan, hingga Trenggalek.
            “Kalau untuk pengembangan usaha, kita sih inginnya di sini ada koperasi. Entah nanti untuk bantuan tambahan modal, atau suplai bahan pokok kue pia. Barangkali kalau ada koperasi bisa lebih murah,” ujar Yana. (hay, uul)

BIODATA     
Nama             : Yana Andayani, SPd
Jabatan         : Ketua Paguyuban Kembang Waru
TTL                  : Malang, 19 September 1973
Pendidikan   : S1 IKIP Malang
Suami                        : Hariyanto
Anak              : 1. Afif Irfan Ahmad
                          2. Ahmad Fauzan Arif
                          3. Muhammad Alfaridzi
                          4. Mutia Ramadhani
Alamat           : Pia Karomah, Dusun Warurejo Gg Anggrek, Kejapanan, Gempol, Kab Pasuruan.




INFRASTRUKTUR BELUM OPTIMAL
            Tak hanya Yana, perubahan besar juga dirasakan Sutiyan Istiyanto, Kepala Dusun Warurejo. Pria kelahiran Sidoarjo yang berpindah domisili ke wilayah Kabupaten Pasuruan pada 1998, mengaku, saat itu Dusun Warurejo bisa dikatakan masih tertinggal. Contoh ironis adalah tidak adanya sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang memadai bagi masyarakat.
            “Dulu sebelum ada usaha pia, beli tanah saja kesulitan. Sekarang banyak ‘bos-bos pia’ (pengusaha kue pia, red) dan status sosial masyarakat sudah naik. Pembelian tanah baik untuk tempat usaha maupun rumah juga meningkat,” ujar Sutiyan.
            Perubahan terbesar yang terjadi tentu saja di bidang perekonomian. Jika dulu banyak pengangguran, kini Sutiyan justru kerepotan memenuhi permintaan warga mencarikan tambahan pekerja. Tenaga dari dalam dusun sudah semakin jarang, sehingga pilihannya adalah mencari di luar dusun hingga dari luar kota. “Kalau dulu ya kita utamakan masyarakat sekitar. Sekarang sudah nggak mencukupi, ya akhirnya mendatangkan tenaga dari luar,” tutur Sutiyan.
            Tak hanya terserap sebagai pekerja di usaha pia, beberapa orang yang memiliki kelebihan modal pun membuka usaha peracangan. Menjadi pemasok bahan baku bagi para pengusaha pia.
            Perihal posisinya sebagai Kasun, Sutiyan mengaku terus berupaya memberikan dukungan terhadap pengembangan usaha pia di Dusun Warurejo. Di antaranya dengan memberikan akses bagi para pengusaha yang tergabung dalam paguyuban. Seperti pengajuan bantuan pada pemerintah daerah Kabupaten Pasuruan, atau instansi terkait.
            Namun, Sutiyan juga masih mengeluhkan akses jalan yang kurang optimal dari dan menuju Dusun Warurejo. Di beberapa sudut jalan dusun masih kerap mengalami genangan air dan becek pada musim hujan. Padahal, letak Dusun Warurejo yang berada tepat di sisi tol Gempol-Pandaan, kerap menjadi rute alternatif kendaraan guna menghindari kemacetan. 
            “Bagaimana pun, masyarakat sudah berusaha meningkatkan taraf hidupnya dengan membuka lapangan pekerjaan. Jadi untuk akses jalan itu yang kami harapkan bisa diperbaiki,” ujar Sutiyan menyampaikan harapannya pada pemerintahan daerah. (hay, uul)

DATA DUSUN
Kepala Dusun          : Sutiyan Istiyanto
Jumlah Penduduk  : 1200 jiwa (250 KK, penduduk tambahan eks Lapindo 50 KK)
Luas Dusun              : 250 ha
Batas Wilayah         :
            -Barat                        : Dsn Raos, Desa Carat
            -Timur           : Dsn Ngasem, Desa Kejapanan
            -Selatan         : Dsn Bandulan, Desa Kejapanan
            -Utara            : Dsn Kauman Baru, Desa Gempol

BIODATA
Nama             : Sutiyan Istiyanto
TTL                  : Sidoarjo, 1 Februari 1969
Istri                 : Ny Nur Hanik
Anak              : 1. M. Setiawan Nur Masriadi
                          2. Maseha Ahmad Firmansyah
Jabatan         : Kasun Warurejo


Maria Novita Sechan, Perajin dan Tutor Hand Painting Surabaya


Seni itu Terapi Emosi dan Kontrol Diri                   

Siapa bilang jadi seniman harus punya bakat atau keturunan seniman? Lihat saja Maria Novita Sechan, berawal dari iseng dirinya kini dikenal sebagai satu dari sedikit seniman sekaligus tutor seni lukis hand painting. Baginya, melukis bukan sekedar seni tapi juga sarana terapi dan kontrol diri. Keuntungan lain, seni juga mampu mendulang pundi-pundi rupiah. Seperti apakah?

           Mengenakan baju dan celana berwarna senada biru tua dipadu blazer jeans tanpa lengan warna coklat, Maria Novita Sechan lebih nampak seperti model. Apalagi didukung dengan sandal wedges serta kalung manik-manik menambah kesan anggun perempuan berkerudung yang akrab disapa Ita tersebut.
            Orang yang baru mengenalnya mungkin takkan menyangka jika ia adalah seorang seniman. Maklum, umumnya orang berpikir seniman itu selalu tampil apa adanya dan cenderung ‘amburadul’. Berbeda dengan Ita yang  melanggar kebiasaan  melalui tampilan modis dan rapi.
            “Perempuan itu memang harus hemat, tapi bukan berarti tidak bisa tampil cantik. Dan lagi cantik itu tidak harus mahal,” ujarnya kala ditemui Puspa beberapa waktu yang lalu.
            Cantik tidak harus mahal. Kalimat ini hampir seperti mantra ampuh yang digunakannya untuk membakar semangat orang-orang, kala ia menjadi tutor pelatihan. Ita mencontohkan, bahwa untuk tampil modis seseorang tidak harus selalu menggunakan baju baru dan mahal. Tapi dengan sedikit sentuhan seni, baju lama pun bisa nampak baru dan berkelas. Salah satunya melalui seni lukis hand painting.
Selain kerap menerima pesanan lukisan untuk baju, kerudung, tas, dan lain-lain Ita juga merupakan salah satu tutor tetap seni lukis hand painting di UPT Pelatihan dan Pengembangan Pendidikan Kejuruan (PPPK) Dinas Pendidikan Provinsi Jatim. Di sela kesibukannya, Ita pun masih meluangkan waktu dalam berbagai event yang digelar Dewan Kesenian Jatim.
Ditanya mengenai passion-nya pada dunia seni khususnya melukis, Ita menampik kalau itu diwarisinya dari keluarga. Pasalnya, tak ada satupun anggota keluarga Ita yang berprofesi seperti dirinya. Ita juga menggaris bawahi, bahwa untuk menjadi seniman tidak harus memiliki bakat seni. Ataupun terlahir dari keluarga seniman.
“Jaman sekarang semua itu bisa dipelajari. Buka saja google, semua informasi yang kita inginkan ada disana. Mulai dari teknik melukis, aliran naturalis dan sebagainya. Jadi tidak perlu sekolah sampai empat tahun kayak aku,” tutur Ita setengah berkelakar.
Oleh karena itu, Ita juga selalu menekankan pada  setiap pelatihan bahwa yang terpenting adalah seberapa kuat kemauan kita untuk mengasah kemampuan. Karena mereka yang ditakdirkan memiliki bakat seni pun tidak akan berguna ketika itu tidak diasah.
Bagi bungsu dari 11 bersaudara ini, seni memiliki banyak manfaat. Di antaranya terapi emosi sekaligus kontrol diri. Dengan melukis, seseorang akan telaten dan bersabar dalam mencampurkan warna dan menggoreskan kuas di atas suatu media. Aktivitas melukis juga bisa menjadi terapi ketika emosi sedang buruk.Ita mencontohkan ketika menghadap psikolog, hal pertama yang pasti diminta adalah menulis, menggambar, atau sekedar membuat coretan.
“Seni itu kompleks. Bukan sekedar teori, tapi juga sarana refreshing dan terapi. Dan akhirnya seni juga bisa menjadi industri dan tambahan pendapatan,” ujar ibu dari Zahwa Nayla Shakira ini.
            Meski menekuni dunia seni rupa sejak SMK, Ita mengaku tak menyangka dirinya akan menggelutinya sebagai sebuah bisnis. Sebelumnya, beberapa karya hand painting dibuat semata karena hobi. Tapi ternyata, banyak yang meminati hasil karyanya. Sehingga muncullah keinginan untuk menjadikan peluang bisnis dan mengajarkannya pada orang lain.
Meski begitu, jika kebanyakan perajin berburu trademark untuk hasil karyanya. Ita mengaku bahkan belum sempat terpikirkan untuk membuat brand bagi hasil karyanya. Karena menurutnya, goresan tangan tidak akan pernah bisa ditipu. Orang boleh mengklaim karya miliknya dengan menempel merek tertentu, tapi bukan keahliannya.
“Suatu saat, ketika pembeli menginginkan kualitas yang sama dengan yang aku buat. Mau tidak mau penjual akan kembali pada aku. Jadi aku tidak pernah ambil pusing. Karena  rejeki tidak akan kemana,” jelas Ita ringan.
Ditanya mengenai prospek usaha, Ita mengaku usaha seperti yang digelutinya terbilang sangat prospektif. Selain banyaknya peminat, adanya kluster tertentu untuk setiap hasil karya menjadikan usaha hand painting bisa dinikmati semua kalangan. Kluster tersebut didasarkan pada pemilihan bahan, teknik pewarnaan, dan tingkat kerumitan desain.
 Hobi jadi Profesi

Berawal dari mengikuti les melukis yang diadakan salah seorang yang tinggal di rumah kos milik ibunya, Ita mulai belajar seni secara gratis. Keisengan itu berlanjut ketika dirinya memutuskan masuk pendidikan kejuruan di Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri (Sekarang SMKN 12) Surabaya. Menariknya, disana Ita menjadi satu-satunya yang diterima di jurusan seni rupa dari 13 anak perempuan yang mendaftar. Dunia melukis pun semakin ditekuni dengan melanjutkan pendidikan strata satu jurusan seni rupa di Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
            Beberapa komunitas seperti perkumpulan pelukis perempuan ‘Seronce Melati’ yang kerap disebutnya ‘geng ibu-ibu’, Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI), Adecipta Art Community, semakin meneguhkan posisinya sebagai pelukis perempuan. Bagi Ita, berbagai komunitas tersebut tidak hanya menjadi ajang kumpul-kumpul. Namun banyak hal yang bisa dilakukan bersama, melukis, mempelajari pembuatan kerajinan baru, hingga kegiatan sosial.
Tak ketinggalan, melalui komunitas Ita memiliki banyak teman yang bisa diajaknya berbagi job kala pesanan membludak dan tidak bisa ditanganinya sendiri. “Sampai sekarang aku tidak punya pekerja dirumah. Semua aku handle sendiri. Dan kalau pesanan banyak, aku kan punya geng ibu-ibu. Mereka bisa aku berdayakan sekaligus bagi-bagi rejeki,” ujarnya dengan gaya centil dan riang khasnya.
(ati, via)
           
Riang dan Penuh Kepedulian
Aku selalu happy. Jadi bingung kalau ditanya pengalaman apa yang paling berkesan. Semuanya berkesan,” tutur Ita yang juga akrab dipanggil Novi. Pembawaannya yang low profile menjadikannya sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol.Tak jarang, Puspa yang kala itu menemuinya di Kantor Dewan Kesenian Jatim dibuat tertawa riang dengan cerita yang disampaikan.
Penampilan yang tomboy dan cekatan tak menutupi keanggunan perempuan yang menggenapkan usia pada 16 Oktober ini. Disela-sela perbincangan, Ita juga sempat menunjukkan beberapa foto dirinya berpose bak model catwalk menggunakan hasil karyanya.
“Ya beginilah, kalau gak kuat mbayar model. Dadi dimodeli dewe (kalau tidak sanggup membayar model. Sehingga jadi model sendiri, red)” tuturnya diringi tawa renyah.
Selain riang dan ramah pada siapapun, Ita ternyata juga memiliki kepedulian yang tinggi. Kendati keahlian maupun usaha seni lukis hand painting dikatakannya bisa dipelajari siapapun. Namun tingginya harga bahan baku di pasaran bisa menjadi hambatan bagi mereka yang ingin memulai usaha.
Berawal dari pemikiran tersebut, Ita bersama komunitasnya bereksperimen menciptakan cat hand painting yang murah tapi dengan kualitas yang tidak kalah. Cat tersebut pula yang kerap digunakan dalam setiap mengisi pelatihan. Meski Ita juga tidak pernah luput untuk menjelaskan berbagai jenis cat serupa yang dijual di pasaran.
 “Kita bicara tentang membantu masyarakat untuk bisa berdaya dan berproduksi. Tapi kalau secara produksi saja sudah tinggi bagaimana bisa?” ungkap Ita dengan ketulusan yang tidak bisa disembunyikan.
(ati, via)


Biodata
Nama                 : Maria Novita Sechan, S.Pd
Panggilan           : Novi, Ita
Lahir                  : Sidoarjo, 16 Oktober 1979
Putri                   : Zahwa Nayla Shakira (10th)
Pendidikan         :
1.      Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri (SMSR N) Surabaya (Sekarang SMKN 12 Surabaya) angkatan 1996
2.      S1 Seni Rupa Unesa Angkatan 1999
Pengalaman      :
1.      Pameran di berbagaikota di Indonesia sejak 1996
2.      Komunitas Seronce Melati
3.      Pengurus Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) Jatim
4.      Anggota Adecipta Art Community sejak 2006
5.      Sekretaris Komunitas Surabaya Membara