Rabu, 24 Desember 2014

Putu Sulistiani Prabowo, Owner and Designer Brand Batik Dewi Saraswati Surabaya




BIODATA
Nama               : Dra Putu Sulistiani Prabowo, Apt
Alamat                        : Jl Jemursari Utara II/19, Surabaya Indonesia
Suami              :Drs H Edi Budi Prabowo, Apt
Anak               :1. Pranaya Yudha Mahardika, SP MIB
                         2. Anindita Saraswati, SH
Pendidikan      : S2 Apotekker
TTL                 : Singaraja, 5 Agustus 1957


JAGA EKSKLUSIFITAS BATIK

Namanya Putu Sulistiani. Dalam dunia usaha dan kerajinan batik barangkali namanya sudah tidak asing lagi. Terutama setelah dirinya dikukuhkan menjadi Ketua Asosiasi perajin Batik Jatim. Siapa sangka, perajin yang mulai menggaet pasar luar negeri ini adalah seorang apotekker. Tak ada warisan keahlian ataupun basic pendidikan seni, yang ada hanya bakat terpendam. Seperti apakah?


            Senja mulai beranjak dari singgasananya ketika Puspa memasuki halaman rumah dengan pintu pagar kayu berukir khas perumahan ala Jawa. Berbagai aksesori di gazebo depan rumah pun tebuat dari kayu berpelitur menambah kesan etnik suasana. Di sudut sebelah barat rumah, sekumpulan perempuan paruh baya tengah sibuk memainkan canting di atas kain putih. Disisi lain ada pula yang tengah menjemur kain batik yang nampak basah selepas dilakukan pewarnaan.
Kesibukan itulah yang terjadi hampir setiap harinya di rumah Putu Sulistiani. Saat ditemui, perempuan berdarah Bali itu pun tengah sibuk menjelaskan dan mengantar berkeliling buyer yang diketahui berasal dari Jepang melihat proses membatik.
“Beginilah kesibukannya, saya galeri sekaligus gerai disini saja. Karena kami ingin mereka bisa sekalian lihat prosesnya. Sekaligus mengeducate pembeli mengenai bagaimana prosesnya dan kenapa batik tulis itu tergolong mahal. Karena memang prosesnya susah. Sehingga mereka bisa lebih menghargai sebuah karya batik,” ujar Putu Sulistiani membuka pembicaraan mengenai kiprahnya di dunia seni dan usaha batik.
Jika umumnya perajin batik mengawali usaha dari pewarnaan alami, lalu beralih pada pewarnaan sintetis dengan pertimbangan menekan biaya produksi. Tidak demikian dengan Putu Sulistiani. Perajin bergelar sarjana farmasi ini justru mengawali kiprah batiknya dari pewarnaan sintetis. Kemudian merambah pada pewarnaan alami untuk memenuhi keinginan dan menggaet pasar yang lebih luas.
Terkait kualitas, Putu Sulistiani denga tegas menyatakan bahwa batik dengan pewarna sintetis maupun alami keduanya dibuat dengan kualitas yang sama. Sehingga tidak ada perbandingan mencolok dari kedua jenis batik yang dibuatnya.
“Jangan salah lho, ada juga yang tidak suka dengan pewarna alami. Kesannya burek (pudar, red) dan tidak cerah di wajah katanya. Sehingga pilihannya batik sintetis tapi dengan kualitas yang sebanding dengan batik pewarna alam,” terang Putu Sulistiani.
Sementara itu mengenai prospek usaha batik, Putu Sulistiani menyatakan bahwa saat ini cenderung mengalami trend penurunan. Diantaranya disebabkan banyaknya event pameran hasil kerajinan sejenis batik. Kendati bermanfaat secara promotif, namun juga menyebabkan semakin mudahnya batik dalam berbagai jenis ditemukan di pasaran. Sehingga batik tidak lagi menjadi barang eksklusif yang banyak diburu.
Meski begitu sebagai pengusaha yang telah memasuki usia satu dasawarsa, Putu Sulistiani punya trik sendiri untuk mengendalikan minat pasar. Tak hanya berinovasi dalam setiap desain motif batik, Putu Sulistiani juga berkreasi dalam desain baju yang lebih casual dan berkelas dari kain batik miliknya.
            Perajin yang mengawali kiprahnya di dunia batik sejak 13 september 2004 ini mengaku belum memiliki pakem khusus dalam motif batik yang dibuatnya. Mengambil ide dasar batik khas Jatim dengan desain utama bunga teratai dan ayam bekisar, Putu Sulistiani mengkreasikan dua maskot batik Jatim tersebut. Salah satu jenis desain batik yang diberinya nama Surya Majapahit, menggambarkan bunga teratai dengan delapan penjuru mata angin terpajang rapi di rumah sekaligus galeri miliknya.

Waspadai Kompetitor
            Memasuki usia satu dasawarsa, usaha batik yang dirintisnya terus berkembang. Bukan saja pasar lokal, pasar mancanegara pun mulai melirik usaha berbasis kerajinan tersebut. Hal itu perlu diwaspadai mengingat Indonesia hingga saat ini cenderung kalah dalam hal SDM yang profesional di bidangnya.
            Menghadapi era pasar global tahun 2015, para pelaku usaha kecil menengah (UKM) dituntut untuk terus berinovasi guna memastikan usahanya tetap berjaya ditengah gempuran produk-produk asing yang mulai menjarah pasar lokal. Dalam hal batik misalnya, tak hanya sesama kerajinan batik yang menjadi kompetitor bagi pengembangan usaha. Saat ini mulai banyak diproduksi tekstil bermotif batik dengan harga yang sangat terjangkau. Jika sudah begitu, satu-satunya langkah yang diambil adalah bagaimana kerajinan batik bisa bersaing namun dengan tetap menjaga mutu dan ciri khas dari batik itu sendiri.
            Putu Sulistiani juga sempat mengaku was-was pada buyer asing yang terlampau protektif ketika berkunjung ke galerinya. Kerap kali mereka tak hanya bertanya seputar pengerjaan batik. Tapi perihal gaji, jam kerja pegawai, merek bahan, hingga pasar yang menyediakan bahan baku tak luput dari pengamatan mereka.
“Kadang kita itu bangga kalau mau mengajarkan pada orang lain, tapi hati-hati dibalik itu. Nantinya mereka kan mempelajari dengan lebih canggih, jadilah mereka bikin batik juga. Karena saya tahu, daya dukung mereka terutama SDM itu lebih ekspert ketimbang yang kita miliki,” jelas Putu Sulistiani serius.
            Kalau harus berbagi ilmu, jelas Putu Sulistiani, dirinya lebih memilih untuk mengkader generasi lokal muda berbakat. Kendati sebagai pengusaha yang tidak lepas dari perhitungan laba dan modal, ibu dari dua orang putri ini mengaku pengusaha seyogyanya tidak hanya memikirkan keuntungan diri pribadi. Baginya batik bukanlah sekedar karya seni bernilai jual tinggi, batik juga warisan budaya yang kelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.
Putu juga menyesalkan semakin sedikitnya generasi muda yang tertarik menekuni batik. Mereka cenderung memilih bekerja sebagai buruh pabrik, lantaran dianggap lebih menguntungkan. Sedangkan  membatik, umumnya didominasi kalangan perempuan paruh baya hanya karena tidak memiliki keahlian khusus.
            “Kedepan kalau ingin melestarikan batik, sementara pendapatan masih kecil mereka tidak akan mau membatik lagi. Terutama generasi muda, makanya untuk pembatik  harus ada reward yang bagus, sehingga batik ini bisa lestari,” ujar Putu Sulistiani  menyarankan. (ati,tin)

BAKAT, KREATRIFITAS, DAN KESEJAHTERAAN BERSAMA
Menggeluti dunia batik sejatinya bukanlah basicnya sejak awal. Betapa tidak, dengan title apotekker di belakang namanya sudah membuktikan, bahwa ibu dari dua putri sejatinya adalah sarjana farmasi. Namun, bakat tak pernah memilih pada profesi apa dia melekat. Itulah gambaran apa yang dijalani Putu Sulistyani. Seorang aptekker yang akhirnya memilih mejadi pengrajin sekaligus pengusaha batik.
“Sejak kecil saya memang menyukai hal yang berbau seni. Saya ingat dulu ketika masih di SMP ada pelajaran menggambar dan saya gambar motif batik. Sejak saat itu saya mulai tertarik. Saya juga tidak tahu apa itu yang dinamakan bakat,” kenang Putu Sulistiani.
Kalaulah apa yang dipilih Putu Sulistiani bagian dari bakat terpendam yang dimiliki, bukan berarti uasah berjalan dengan mulus. Jatuh bangun mengembangkan usaha menjadi cerita yang mengiringi perjalanannya hingga kini. Istri dari Edi Budi Prabowo ini menceritakan bahwa dirinya pernah nyaris bangkrut lantaran pesanan yang dibuat tidak sesuai dengan permintaan dan dikembalikan. Malangnya, pesanan itu pun tidak dilengkapi dengan perjanjian jual beli di awal. Sehingga Putu Sulistiani pun pasrah barang dikembalikan tanpa kompensasi.
Namun kejadian ini justru menjadi nomenklatur pembuktian kreatifitasnya sebagai perajin. Pesanan yang dikembalikan itu kemudian dimodifikasi ulang. Hasilnya, semua pesanan gagal tersebut justru terjual dengan harga lebih mahal dari penawaran sebelumnya.
“Itu hikmahnya ditolak tapi bisa kita jual lebih tinggi. Seorang perajin memang harus pinter-pnter menyiasati hal semacam itu,” jelas perempuan yang mengaku sebelumnya bekerja sebagai research and developer sebuah pabrik kosmetik di Surabaya sejak tahun 1987-2002 ini.
Ditanya mengenai alasan ‘banting stir’ dari sarjana farmasi menjadi perajin batik, Putu Sulistiani hanya menggeleng sembari melempar senyum renyah. Perempuan yang baru saja dikukuhkan sebagai Ketua Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur ini, mengatakan dengan diplomatis bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama seseorang memiliki kemauan. Hal terpenting adalah adanya niat tulus dan demi kesejahteraan bersama.
“Usaha apapun itu, tidak bisa hanya untuk kepentingan diri. Kita juga harus punya komitmen. Seperti halnya usaha batik, disini banyak sekali yang terlibat yang itu juga harus kita fikirkan kesejahteraanya. Bukan hanya memperkaya diri,” ujar perempuan kelahiran Singaraja, 5 Agustus 1957 tersebut memungkasi pembicaraan.
(ati,tin)

Dusun Warurejo, Desa Kejapanan, Gempol, Pasuruan.

Impikan Ikon ‘Kampung Pia’ Jatim
            Kue pia atau bakpia identik dengan makanan khas Jogjakarta. Orang yang berwisata ke sana kerap membawa oleh-oleh tersebut. Namun di Jawa Timur pun ada kue pia yang tak kalah nikmatnya dibandingkan bakpia Jogjakarta. Tepatnya di Dusun Warurejo, Desa Kejapanan, Kecamatan Gembol, Kabupaten Pasuruan, yang menjadi kampung pia. Bakpia Warurejo tak hanya hadir dengan varian baru, tetapi mereka bertekad menyaingi ketenaran bakpia Jogjakarta.
            Sebuah plang yang cukup besar dengan tulisan ‘Kampung Pia’, terpampang jelas, di sebuah kawasan di wilayah Kecamatan Gempol. Tepatnya di sisi kiri jalan masuk arteri Porong dari arah Pandaan, atau tol Gempol-Pandaan. Dikatakan kampung pia, karena hampir setiap rumah memiliki usaha pembuatan pia (bakpia).
            Dusun Warurejo terbilang baru dalam usaha pia. Yakni sekitar awal tahun 2012, ketika warga sepakat untuk memasang plang kampung pia di hampir setiap jalan masuk dusun. Yana Andayani, salah satu produsen kue pia, menuturkan, usaha pembuatan pia merupakan salah satu sentra usaha yang digeluti mayoritas warga Warurejo.
            Selain itu, melalui usaha pia taraf perekonomian masyarakat Dusun Warurejo terangkat. “Kalau dulu ibu-ibu menganggur, sekarang sudah tidak lagi. Karena semua orang memiliki kesibukan. Ada yang buka usaha pia sendiri atau sekadar jadi pekerja melipat kardus, mencetak adonan, dan lain-lain,” kata Yana.
            Saat ini jumlah pengusaha pia di Warurejo mencapai 35 unit. Jumlah tersebut belum termasuk para pengusaha pia di luar Warurejo. Mereka umumnya adalah eks pekerja yang kemudian merintis usaha sendiri. Jumlah pekerja yang membantu setiap unit usaha bervariasi. Mulai dari yang hanya dikerjakan dengan anggota keluarga hingga usaha maju yang mempekerjakan hampir 30 orang.
            Dengan banyaknya tenaga kerja yang terserap, dusun yang dulu diakui sangat tertinggal mulai menunjukkan perbaikan. Kendati belum sepenuhnya optimal, akses jalan desa mulai diperbaiki melalui swadaya masyarakat. Hal yang paling menonjol, menurut Yana, adalah rumah-rumah warga yang mulai mentereng. Rumah dibangun menunjukkan penghasilan mereka mengalami peningkatan.
            “Ke depan saya ingin kampung ini dikenal sebagai sentra kuliner pia menyaingi bakpia pathok Jogjakarta. Karena pada akhirnya akan berimbas pada kesejahteraan masyarakat desa juga,” ujar Yana. Dia ingin Warurejo menjadi kampung pia yang bisa menjadi salah satu ikon kue di Jawa Timur.
            Sedangkan Yana sendiri, mengawali usaha dari hobi, namun dia terbilang sukses mengelola usaha yang dipelajarinya secara otodidak. Bahkan kebiasaan tersebut berlanjut setelah dirinya berkeluarga dan memiliki anak. Bisa dibilang Yana Andayanilah pelopor usaha pia di Dusun Warurejo.

Raup Laba Rp 30 Juta
            Kini, dengan dibantu 22 orang pekerja, dalam sehari Yana melayani pesanan hingga 20.000 biji kue pia. Dari jumlah tersebut sedikitnya Yana mengantongi pemasukan hingga Rp 300 juta setiap bulan. Dengan keuntungan sekitar 10% dari laba yakni sebesar Rp 30 juta perbulan.
            “Dulu waktu awal merintis usaha, seminggu hanya 20 kotak isi 10 biji. Kalau bisa dapat pesanan 50 kotak seminggu saja, itu sudah bagus banget,” ujar Yana. Sebelumnya, Yana menjajakan dagangannya ke toko-toko di sekitar rumahnya. Namun kesibukan setelah melahirkan anak kedua, membuatnya sempat menghentikan aktivitas tersebut. Baru tahun 1999, dia bersama suami berinisiatif membuka kembali usaha pia itu.
            Mengenai kompetitor usaha, Yana berpikir cukup lama. Menurutnya, sejauh ini usaha pia cukup stabil. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan masih dalam masa jaya. Hal itu selain karena rasa, pia juga menjadi pilihan yang pas sebagai oleh-oleh maupun hidangan. Terutama pada musim hajatan atau liburan panjang. Bahkan di saat sepi hajatan, Yana masih kerap menerima pesanan sedikitnya 2.000 biji perhari.
            Meski begitu, Yana juga tidak menampik jika suatu ketika pia juga akan mengalami kemunduran peminat di pasaran. Oleh karena itu, dirinya mendorong teman sesama pengusaha aktif melakukan inovasi. Seperti saat ini, jika umumnya kue pia berisi kacang hijau, dia mencoba varian baru dengan isi pisang, coklat, keju, stroberi dan lain-lain.
            Tak hanya berinovasi pada produk, Yana melalui Paguyuban Pengusaha Pia juga kerap mengikuti pelatihan usaha dari berbagai instansi. Tujuannya jika kemudian hari usaha pia mengalami kelesuan, para pengusaha tidak patah arang. Karena telah dibekali dengan berbagai keterampilan usaha.
            Soal promosi, Yana berpegang penuh pada desain kotak makanan dan rasa dari pia buatannya. Bahkan pemasangan plang kampung pia pun diakuinya tidak berpengaruh secara signifikan. Sebab, para pengusaha umumnya memiliki area pemasaran sendiri. Seperti Mojokerto, Surabaya Jombang, Pasuruan, hingga Trenggalek.
            “Kalau untuk pengembangan usaha, kita sih inginnya di sini ada koperasi. Entah nanti untuk bantuan tambahan modal, atau suplai bahan pokok kue pia. Barangkali kalau ada koperasi bisa lebih murah,” ujar Yana. (hay, uul)

BIODATA     
Nama             : Yana Andayani, SPd
Jabatan         : Ketua Paguyuban Kembang Waru
TTL                  : Malang, 19 September 1973
Pendidikan   : S1 IKIP Malang
Suami                        : Hariyanto
Anak              : 1. Afif Irfan Ahmad
                          2. Ahmad Fauzan Arif
                          3. Muhammad Alfaridzi
                          4. Mutia Ramadhani
Alamat           : Pia Karomah, Dusun Warurejo Gg Anggrek, Kejapanan, Gempol, Kab Pasuruan.




INFRASTRUKTUR BELUM OPTIMAL
            Tak hanya Yana, perubahan besar juga dirasakan Sutiyan Istiyanto, Kepala Dusun Warurejo. Pria kelahiran Sidoarjo yang berpindah domisili ke wilayah Kabupaten Pasuruan pada 1998, mengaku, saat itu Dusun Warurejo bisa dikatakan masih tertinggal. Contoh ironis adalah tidak adanya sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang memadai bagi masyarakat.
            “Dulu sebelum ada usaha pia, beli tanah saja kesulitan. Sekarang banyak ‘bos-bos pia’ (pengusaha kue pia, red) dan status sosial masyarakat sudah naik. Pembelian tanah baik untuk tempat usaha maupun rumah juga meningkat,” ujar Sutiyan.
            Perubahan terbesar yang terjadi tentu saja di bidang perekonomian. Jika dulu banyak pengangguran, kini Sutiyan justru kerepotan memenuhi permintaan warga mencarikan tambahan pekerja. Tenaga dari dalam dusun sudah semakin jarang, sehingga pilihannya adalah mencari di luar dusun hingga dari luar kota. “Kalau dulu ya kita utamakan masyarakat sekitar. Sekarang sudah nggak mencukupi, ya akhirnya mendatangkan tenaga dari luar,” tutur Sutiyan.
            Tak hanya terserap sebagai pekerja di usaha pia, beberapa orang yang memiliki kelebihan modal pun membuka usaha peracangan. Menjadi pemasok bahan baku bagi para pengusaha pia.
            Perihal posisinya sebagai Kasun, Sutiyan mengaku terus berupaya memberikan dukungan terhadap pengembangan usaha pia di Dusun Warurejo. Di antaranya dengan memberikan akses bagi para pengusaha yang tergabung dalam paguyuban. Seperti pengajuan bantuan pada pemerintah daerah Kabupaten Pasuruan, atau instansi terkait.
            Namun, Sutiyan juga masih mengeluhkan akses jalan yang kurang optimal dari dan menuju Dusun Warurejo. Di beberapa sudut jalan dusun masih kerap mengalami genangan air dan becek pada musim hujan. Padahal, letak Dusun Warurejo yang berada tepat di sisi tol Gempol-Pandaan, kerap menjadi rute alternatif kendaraan guna menghindari kemacetan. 
            “Bagaimana pun, masyarakat sudah berusaha meningkatkan taraf hidupnya dengan membuka lapangan pekerjaan. Jadi untuk akses jalan itu yang kami harapkan bisa diperbaiki,” ujar Sutiyan menyampaikan harapannya pada pemerintahan daerah. (hay, uul)

DATA DUSUN
Kepala Dusun          : Sutiyan Istiyanto
Jumlah Penduduk  : 1200 jiwa (250 KK, penduduk tambahan eks Lapindo 50 KK)
Luas Dusun              : 250 ha
Batas Wilayah         :
            -Barat                        : Dsn Raos, Desa Carat
            -Timur           : Dsn Ngasem, Desa Kejapanan
            -Selatan         : Dsn Bandulan, Desa Kejapanan
            -Utara            : Dsn Kauman Baru, Desa Gempol

BIODATA
Nama             : Sutiyan Istiyanto
TTL                  : Sidoarjo, 1 Februari 1969
Istri                 : Ny Nur Hanik
Anak              : 1. M. Setiawan Nur Masriadi
                          2. Maseha Ahmad Firmansyah
Jabatan         : Kasun Warurejo


Maria Novita Sechan, Perajin dan Tutor Hand Painting Surabaya


Seni itu Terapi Emosi dan Kontrol Diri                   

Siapa bilang jadi seniman harus punya bakat atau keturunan seniman? Lihat saja Maria Novita Sechan, berawal dari iseng dirinya kini dikenal sebagai satu dari sedikit seniman sekaligus tutor seni lukis hand painting. Baginya, melukis bukan sekedar seni tapi juga sarana terapi dan kontrol diri. Keuntungan lain, seni juga mampu mendulang pundi-pundi rupiah. Seperti apakah?

           Mengenakan baju dan celana berwarna senada biru tua dipadu blazer jeans tanpa lengan warna coklat, Maria Novita Sechan lebih nampak seperti model. Apalagi didukung dengan sandal wedges serta kalung manik-manik menambah kesan anggun perempuan berkerudung yang akrab disapa Ita tersebut.
            Orang yang baru mengenalnya mungkin takkan menyangka jika ia adalah seorang seniman. Maklum, umumnya orang berpikir seniman itu selalu tampil apa adanya dan cenderung ‘amburadul’. Berbeda dengan Ita yang  melanggar kebiasaan  melalui tampilan modis dan rapi.
            “Perempuan itu memang harus hemat, tapi bukan berarti tidak bisa tampil cantik. Dan lagi cantik itu tidak harus mahal,” ujarnya kala ditemui Puspa beberapa waktu yang lalu.
            Cantik tidak harus mahal. Kalimat ini hampir seperti mantra ampuh yang digunakannya untuk membakar semangat orang-orang, kala ia menjadi tutor pelatihan. Ita mencontohkan, bahwa untuk tampil modis seseorang tidak harus selalu menggunakan baju baru dan mahal. Tapi dengan sedikit sentuhan seni, baju lama pun bisa nampak baru dan berkelas. Salah satunya melalui seni lukis hand painting.
Selain kerap menerima pesanan lukisan untuk baju, kerudung, tas, dan lain-lain Ita juga merupakan salah satu tutor tetap seni lukis hand painting di UPT Pelatihan dan Pengembangan Pendidikan Kejuruan (PPPK) Dinas Pendidikan Provinsi Jatim. Di sela kesibukannya, Ita pun masih meluangkan waktu dalam berbagai event yang digelar Dewan Kesenian Jatim.
Ditanya mengenai passion-nya pada dunia seni khususnya melukis, Ita menampik kalau itu diwarisinya dari keluarga. Pasalnya, tak ada satupun anggota keluarga Ita yang berprofesi seperti dirinya. Ita juga menggaris bawahi, bahwa untuk menjadi seniman tidak harus memiliki bakat seni. Ataupun terlahir dari keluarga seniman.
“Jaman sekarang semua itu bisa dipelajari. Buka saja google, semua informasi yang kita inginkan ada disana. Mulai dari teknik melukis, aliran naturalis dan sebagainya. Jadi tidak perlu sekolah sampai empat tahun kayak aku,” tutur Ita setengah berkelakar.
Oleh karena itu, Ita juga selalu menekankan pada  setiap pelatihan bahwa yang terpenting adalah seberapa kuat kemauan kita untuk mengasah kemampuan. Karena mereka yang ditakdirkan memiliki bakat seni pun tidak akan berguna ketika itu tidak diasah.
Bagi bungsu dari 11 bersaudara ini, seni memiliki banyak manfaat. Di antaranya terapi emosi sekaligus kontrol diri. Dengan melukis, seseorang akan telaten dan bersabar dalam mencampurkan warna dan menggoreskan kuas di atas suatu media. Aktivitas melukis juga bisa menjadi terapi ketika emosi sedang buruk.Ita mencontohkan ketika menghadap psikolog, hal pertama yang pasti diminta adalah menulis, menggambar, atau sekedar membuat coretan.
“Seni itu kompleks. Bukan sekedar teori, tapi juga sarana refreshing dan terapi. Dan akhirnya seni juga bisa menjadi industri dan tambahan pendapatan,” ujar ibu dari Zahwa Nayla Shakira ini.
            Meski menekuni dunia seni rupa sejak SMK, Ita mengaku tak menyangka dirinya akan menggelutinya sebagai sebuah bisnis. Sebelumnya, beberapa karya hand painting dibuat semata karena hobi. Tapi ternyata, banyak yang meminati hasil karyanya. Sehingga muncullah keinginan untuk menjadikan peluang bisnis dan mengajarkannya pada orang lain.
Meski begitu, jika kebanyakan perajin berburu trademark untuk hasil karyanya. Ita mengaku bahkan belum sempat terpikirkan untuk membuat brand bagi hasil karyanya. Karena menurutnya, goresan tangan tidak akan pernah bisa ditipu. Orang boleh mengklaim karya miliknya dengan menempel merek tertentu, tapi bukan keahliannya.
“Suatu saat, ketika pembeli menginginkan kualitas yang sama dengan yang aku buat. Mau tidak mau penjual akan kembali pada aku. Jadi aku tidak pernah ambil pusing. Karena  rejeki tidak akan kemana,” jelas Ita ringan.
Ditanya mengenai prospek usaha, Ita mengaku usaha seperti yang digelutinya terbilang sangat prospektif. Selain banyaknya peminat, adanya kluster tertentu untuk setiap hasil karya menjadikan usaha hand painting bisa dinikmati semua kalangan. Kluster tersebut didasarkan pada pemilihan bahan, teknik pewarnaan, dan tingkat kerumitan desain.
 Hobi jadi Profesi

Berawal dari mengikuti les melukis yang diadakan salah seorang yang tinggal di rumah kos milik ibunya, Ita mulai belajar seni secara gratis. Keisengan itu berlanjut ketika dirinya memutuskan masuk pendidikan kejuruan di Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri (Sekarang SMKN 12) Surabaya. Menariknya, disana Ita menjadi satu-satunya yang diterima di jurusan seni rupa dari 13 anak perempuan yang mendaftar. Dunia melukis pun semakin ditekuni dengan melanjutkan pendidikan strata satu jurusan seni rupa di Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
            Beberapa komunitas seperti perkumpulan pelukis perempuan ‘Seronce Melati’ yang kerap disebutnya ‘geng ibu-ibu’, Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI), Adecipta Art Community, semakin meneguhkan posisinya sebagai pelukis perempuan. Bagi Ita, berbagai komunitas tersebut tidak hanya menjadi ajang kumpul-kumpul. Namun banyak hal yang bisa dilakukan bersama, melukis, mempelajari pembuatan kerajinan baru, hingga kegiatan sosial.
Tak ketinggalan, melalui komunitas Ita memiliki banyak teman yang bisa diajaknya berbagi job kala pesanan membludak dan tidak bisa ditanganinya sendiri. “Sampai sekarang aku tidak punya pekerja dirumah. Semua aku handle sendiri. Dan kalau pesanan banyak, aku kan punya geng ibu-ibu. Mereka bisa aku berdayakan sekaligus bagi-bagi rejeki,” ujarnya dengan gaya centil dan riang khasnya.
(ati, via)
           
Riang dan Penuh Kepedulian
“Aku selalu happy. Jadi bingung kalau ditanya pengalaman apa yang paling berkesan. Semuanya berkesan,” tutur Ita yang juga akrab dipanggil Novi. Pembawaannya yang low profile menjadikannya sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol.Tak jarang, Puspa yang kala itu menemuinya di Kantor Dewan Kesenian Jatim dibuat tertawa riang dengan cerita yang disampaikan.
Penampilan yang tomboy dan cekatan tak menutupi keanggunan perempuan yang menggenapkan usia pada 16 Oktober ini. Disela-sela perbincangan, Ita juga sempat menunjukkan beberapa foto dirinya berpose bak model catwalk menggunakan hasil karyanya.
“Ya beginilah, kalau gak kuat mbayar model. Dadi dimodeli dewe (kalau tidak sanggup membayar model. Sehingga jadi model sendiri, red)” tuturnya diringi tawa renyah.
Selain riang dan ramah pada siapapun, Ita ternyata juga memiliki kepedulian yang tinggi. Kendati keahlian maupun usaha seni lukis hand painting dikatakannya bisa dipelajari siapapun. Namun tingginya harga bahan baku di pasaran bisa menjadi hambatan bagi mereka yang ingin memulai usaha.
Berawal dari pemikiran tersebut, Ita bersama komunitasnya bereksperimen menciptakan cat hand painting yang murah tapi dengan kualitas yang tidak kalah. Cat tersebut pula yang kerap digunakan dalam setiap mengisi pelatihan. Meski Ita juga tidak pernah luput untuk menjelaskan berbagai jenis cat serupa yang dijual di pasaran.
 “Kita bicara tentang membantu masyarakat untuk bisa berdaya dan berproduksi. Tapi kalau secara produksi saja sudah tinggi bagaimana bisa?” ungkap Ita dengan ketulusan yang tidak bisa disembunyikan.
(ati, via)


Biodata
Nama                 : Maria Novita Sechan, S.Pd
Panggilan           : Novi, Ita
Lahir                  : Sidoarjo, 16 Oktober 1979
Putri                   : Zahwa Nayla Shakira (10th)
Pendidikan         :
1.      Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri (SMSR N) Surabaya (Sekarang SMKN 12 Surabaya) angkatan 1996
2.      S1 Seni Rupa Unesa Angkatan 1999
Pengalaman      :
1.      Pameran di berbagaikota di Indonesia sejak 1996
2.      Komunitas Seronce Melati
3.      Pengurus Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) Jatim
4.      Anggota Adecipta Art Community sejak 2006
5.      Sekretaris Komunitas Surabaya Membara

Hj Rosyidah Masykuri BA, Ketua TP PKK Kab. Kediri


Fokus Tangani Masalah Sosial

DARI sekian banyak Ketua TP PKK kabupaten/kota di Jatim, mungkin Hj Rosyidah Masykuri BA merupakan satu-satunya yang berangkat dari jenjang karier PKK dilevel kecamatan. Sebelum memimpin tampuk TP PKK di Kabupaten Kediri, ibu dua anak ini ternyata juga pernah menjabat sebagai Ketua TP PKK di tiga kecamatan: Kepung, Purwoasri dan Gampeng. Apa saja obsesinya?


PERNAH menjadi Ketua TP PKK di tiga kecamatan tentu membuat Hj Rosyidah BA, kaya akan pengalaman diorganisasi berjuluk green angel ini. Kendati demikian, diawal masa kepemimpinannya, isteri Wakil Bupati Kediri, Drs H Masykuri MM ini tetap saja mengaku sempat canggung, khususnya saat penyesuaian diri dengan lingkungan barunya.
“Hari-hari pertama menjabat, saat harus memberikan sambutan, saya masih sempat grogi lho, sampek-sampek kemringet (sampai berkeringat, red),” kisah perempuan yang menjabat sejak 19 Agustus 2010 ini diselingi tawa renyah ketika berbincang dengan Puspa.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Pengalaman aktif di PKK dan berbagai organisasi kala masih mahasiswa membuatnya terlatih untuk menghadapi orang lain. Berbagai program kemasyarakatan pun mulai menyibukkan kesehariannya, salahs atunya, menjaga dan meningkatkan kualitas program yang telah dicapai sebelumnya, dan mengupayakan program baru sebagai penguatan.
Capaian program yang cukup baik pada periode sebelumnya, diantaranya revitalisasi taman posyandu, pemberian bantuan UKM, dan pemberdayaan perempuan.
“Seringkali kalau kita bicara capaian program, kita selalu bicara mengenai angka. Padahal angka itu sifatnya fluktuatif. Saya selalu tekankan untuk kejar kualitas, bukan kuantitas,” tegasnya.
Lantaran itulah, saat ini ia lebih menekankan program-program integratif, yakni, dengan mengadakan kesepakatan bersama dengan sektor terkait, salah satunya dalam upaya penurunan AKI (AngkaKematianIbu) dan AKB (AngkaKematianBalita).
Menurutnya, upaya revitalisasi taman posyandu sebagai sarana pemenuhan kebutuhan kesehatan akan semakin kuat jika didukung lintas sektor. Karena masalah AKI dan AKB bukan hanya tanggung jawab pemerintah melalui dinas terkait, tapi juga organisasi kemasyarakatan dan masyarakat itu sendiri.
Selain soal posyandu, dibawah kepemimpinan Rosyidah, TP PKK Kab Kediri juga berperan aktif dalam pemberian bantuan bagi UMKM. Tentu, hal ini dilakukan bersinergi dengan Pemkab Kediri selaku pembina. Dalam hal ini, PKK berperan melakukan survey bagi UMKM yang mengajukan bantuan. Hasil survey itulah yang nanti akan menjadi acuan kelayakan UMKM untuk tidak diberi bantuan atau tidak.
“Kita berupaya memberikan fasilitas tapi bukan untuk dimiliki. Kita tidak memanjakan dengan pure memberi, tapi melatih mereka untuk berusaha sendiri,” terang lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

HarusDiberdayakan
Selain dua program tersebut, Rosyidah juga memprioritaskan program PKK pada pemberdayaan perempuan, khususnya perempuan miskin berusia produktif yang terpaksa menjadi single parent akibat perceraian, ataupun miskin karena himpitan ekonomi.
‘’Sejak menjadi Ketua TP PKK kecamatan sekitar 10 tahun yang lalu, saya sebetulnya telah memilik iangan-angan bagaimana memberdayakan ibu-ibu muda yang menjadi single parent. Sebab selama ini, anak yatim cenderung hanya diberi santunan saja. Padahal jika ibunya yang diberi sarana untuk usaha agar bisa memiliki income esendiri, tentu itu lebih bermanfaat,’’ tandasnya
Akhirnya, angan-anggan itu kini terjawab melalui peluncuran Program JalinMatra Penanggulangan Feminisasi Kemiskinan (PFK) Pemprov Jatim yang dilaunching Gubernur Jatim, 16 Desember 2014 lalu di Grahadi.
“Program seperti inilah yang harus ditenani (ditindaklanjuti).  Bagaimana caranya perempuan bisa diberdayakan agar memiliki income. Coro jawane ben gak jagakne wek-wekane wong, (Dalam istilah Jawa, agar tidak mengandalkan pemberian dari orang lain, red)” jelas perempuan kelahiran Tuban tersebutd engan aksen Jawa yang kental. (nurhayati)


BIODATA

Nama               : Hj Rosyidah BA
TTL                 : Tuban, 22 Mei 1963
Pendidikan      : IAIN Sunan Ampel Surabaya
Suami              : Drs H Masykuri MM
Putra/I             : 1. H Faradiba Zuhro, SE
2.      Syafiqul Umam
Cucu                : Dua Orang
Jabatan                        :
1.      Ketua TP PKK Kab Kediri Tahun 2010-Sekarang
2.      Ketua Dekranasda Kab KediriTahun 2010-Sekarang
3.      Ketua Forikan Kab KediriTahun 2011-Sekarang

Saatnya Jalankan Amanah


            Hal yang selalu menjadi pertanyaan bagi perempuan dengan segudang aktivitas adalah, bagaimana mereka membagi waktu untuk keluarga. Bagi Rosyidah, hal itu sebetulnya masalah yang sederhana saja. Sebab dirinya bersama suami telah sepakat jika saat ini merupakan momentum untuk bekerja demi masyarakat.
Apalagi dua anaknya kini telah beranjak dewasa. Anak pertama telah menikah dengan dikaruniai dua orang anak, dan si bungsu kini sedang melanjutkan kuliah diluar kota.
“Tapi, meskipun kini tinggal berdua, bukan berarti saya sudah tidak punya tanggung jawab lagi. Saya sudah komitmen dengan bapak (suami, red), saat ini waktunya kita jalankan amanah yang diberikan masyarakat. Susah senang kita hadapi berdua,” tutur nenek dua cucu yang kini menunggu kelahiran cucu ketiga ini.
Selain mengaku tidak terlalu terbebani dengan kewajiban rumah tangga, sebagai Ketua TP PKK, menurut Rosyidah bukan berarti harus mengerjakan semua tugas sendirian. Di TP PKK, dirinya memiliki teamwork yang mampu bekerja bersama dan saling bersinergi sesuai tupoksi.
Dengan mengoptimalkan kerja dimasing-masing Pokja, Rosyidah meyakini tugas-tugas tidak akan lagi menjadi beban. Sebab semua orang tahu apa yang harus dikerjakan. Sehingga program dapat terealisasi dengan baik, tapi masing-masing orang juga tetap memiliki waktu untuk menjalankan aktivitas yang lain.
            “Dalam sebuah organisasi apapun, kendala itu relatif dan pasti ada. Tetapi bagi saya, selama hal itu bisa dibicarakan, dikompromikan, dan dicari jalan keluarnya, itu sudah bukan lagi menjadi kendala,” pungkas perempuan yang menggenapkan usia pada 22 Mei tersebut. (ati)



Senin, 15 Desember 2014

REDUPNYA CAHAYA SURYAPUTRA


Seorang ibu adalah kekuatan bagi putranya. Keberanian yang akan membawanya menuju kemenangan, atau setidaknya kebanggaan menuju nirwana. Tapi sekali lagi aku tidak memiliki keduanya untuk hidupku, adikku Arjuna. Aku seperti melihat kematianku dimatanya.

            Pagi hari menjelang  perang dihari ke17, Ibu Kunti datang menemuiku. Disaat yang sama, airmata menetes dari mataku tanpa kutahu alasannya. Kali ini pun sama, dia datang karena kekhawatiran akan keselamatanmu. Dia tahu bahwa hanya aku satu-satunya orang yang mampu mengalahkan kesatria tangguh sepertimu. Dia hanya tidak tahu bahwa aku telah kehilangan kebencianku kepadamu. Dan setiap senjata yang kuarahkan padamu adalah ketidakberdayaanku. Ketidakberdayaan sebagai seorang kakak yang seharusnya mengangkat tangan untuk merestui adiknya. Bukannya busur untuk membunuhnya.
            Aku melihat jelas duka di matanya, saat tangan agungnya memegang belati. Dia datang meminta kemurahanku untuk mengakhiri hidupnya. Hidup yang seperti kematian ketika harus melihat kedua putranya berduel. Coba katakan padaku, Adikku! Jika kau berada dalam posisiku, ibumu datang dan meminta kematiannya, apa yang akan kau lakukan? Itu seperti doa untuk kematianku sendiri, Adikku.
Ibu Kunti: Anakku, Karna!
Karna: Ibu Ratu, kau kesini untuk mendoakanku atau meminta kehidupanku sebagai amal? Aku telah mengecualikan nyawa keempat anakmu sebagai amal sebelumnya.
Ibu Kunti: Jika satu bagian tubuh terpotong maka penderitaan akan dirasakan oleh seluruh anggota tubuhnya, Anakku. Sama halnya jiika kehidupan salah satu anakku dalam bahaya, maka kehidupan ibunya juga dalam bahaya. Aku punya satu permintaan, lakukanlah! Bermurah hatilah pada ibumu. Aku  tahu kau terikat oleh sumpahmu, itu sebabnya aku tidak memintamu untuk melanggar sumpahmu. Tapi daripada merasakan kematian setiap saat, jika aku mati saat ini, hari ini ketika kau menghadapi adikmu sendiri, Arjuna. Aku akan merasakan kematianku sendiri. Itulah sebabnya aku memintamu untuk mengakhiri hidupku saat ini juga.
Karna: Apa maksudmu, Ibu? Mengucapkan kata-kata itu tidak akan ada gunanya. Kau ibu dari kesatria. Di medan pertempuaran ini anak-anak dari ibu lain tidak terhitung yang telah dikorbankan. Cobalah untuk mengingat ratapan mereka. Kau adalah seorang ibu ratu. Kau figur seorang ibu diseluruh kerajaan. Kau memiliki anak-anak yang tangguh. Jika mereka sampai tahu bahwa demi melindungi mereka kau sampai ingin mengakhiri hidupmu, maka kemampuan mereka akan ternoda.
Ibu Kunti: Tapi Anakku,,,
Karna: Seorang ibu adalah kekuatan anak-anaknya. Dia adalah keyakinannya. Aku meminta padamu, agar mengijinkan anak-anakmu melaksanakan kewajibannya.
Ibu Kunti: Tapi Anakku aku,,,
Karna: Anakmu, pasti akan mengingat janjinya. Seluruh dunia mengakui, Ibu Kunti adalah ibu dari lima anak yang tangguh. Bahkan sampai perang ini berakhir ,itu akan tetap berlaku.
Ibu Kunti: Aku hanya punya satu permintaan, diseluruh kehidupanku ini aku telah menyimpan kisah kelahiranmu sebagai rahasia. Dan beban ini selalu menjadi beban dihatiku. Pertama keberanianku telah terkalahkan. Kemudian rasa percaya dirimu telah terkalahkan. Dan sekarang di medan pertempuran ini kasih sayang seorang ibu akan pula dikalahkan. Itulah kenapa aku memintamu, aku memintamu anakku, setelah perang ini usai, aku akan meminta ijinmu untuk mengungkap kisah dari kelahiranmu dihadapan semua orang.
Karna: Jika aku melihat kata-katamu Ibu Ratu, maka kau telah memutuskan akulah yang akan mati dalam perang besar ini.
Ibu Kunti: Tidak nak,,,
Karna: Sebab jika Arjuna yang mati, maka aku terikat sumpah untuk menyatakan diriku sendiri sebagai anakmu yang kelima. Tetapi jika Arjuna memiliki kemampuan untuk membunuhku maka aku akan memberikanmu ijin. Bahwa setelah kematianku, anak-anakmu dapat melakukan upacara terakhirku bukan sebagai musuh tapi sebagai seorang saudara.
Iya adikku, bahkan dalam ketidaksadarannya IbuKunti lupa menyalakan obor kehidupanku. Aku yang terlahir dari kesalahannya, selamanya hanya akan hidup untuk berjuang. Dan mati sebelum perjuangan itu mencapai hasilnya. Tapi mungkin aku harus bangga, karena kematianku terjadi ditanganmu. Tangan yang juga akan membawa kendi pemujaan di upacara terakhirku, atas namaku, dengan cinta dan penghormatan. Sungguh, ini indah pada akhirnya.