Senin, 07 Juli 2014

Desa Pucangan Kec Palang Kab Tuban




BERNAFAS DARI KAPUR

Familiar dengan istilah tanah berbatu? Desa Pucangan punya istilah sebaliknya, batu bertanah. Di tempat inilah puluhan orang menggantungkan hidup sebagai pekerja batu kumbung, apalagi jika bukan demi sesuap nasi.



Senja mulai temaram ketika segerombolan pria berpakaian lusuh itu nampak berselonjor kaki di halaman sebuah rumah. Kulit gelap sawo matang aksen khas penduduk pesisir, seolah gambaran keseharian mereka memanggang diri di bawah terik matahari.
Kalau dulu pekerjaan pembuatan batu kumbung ini baru menyerap kurang lebih 5-10% tenaga kerja dari masyarakat. Kebanyakan berada pada sektor pertanian dan lain-lain. Cuma setelah hampir 20 tahun ini ada perkembangan. Sektor usaha batu kumbung ini semakin besar dari segi penyerapan tenaga kerjanya terutama pekerja laki-laki,” ujar Moh Syafi’i, Kepala Desa Pucangan mengawali cerita.
 Wilayah Gunung Singget yang berada di Dusun Singget lah yang kini menjadi lahan penghidupan baru bagi umumnya masyarakat Desa Pucangan. Terlepas sebagai pemilik lahan maupun hanya sebagai buruh potong batu.
Kendati berbentuk pertambahan, namun pengelolaan lahan batu kumbung tak ubahnya seperti tanah pertanian atau rumah yang bisa disertifikatkan (menjadi hak milik, red). Kepemilikan tanaha diakui telah ada sejak tahun 50an yang kemudian berpindah kepemilikan melalui warisan atau pembelian.
Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan batu kumbung ini telah banyak merubah kondisi masyarakat. Terutama dari segi perekonomian. Dalam lima tahun terakhir misalnya, terdapat penambahan jumlah pemilik mobil yang besar di Desa Pucangan. Para pengusaha batu kumbung yang mayoritas adalah penduduk lokal bergantian menambah armada untuk memperlancar usaha mereka di sentra batu kumbung.
Hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahkan oleh Syafi’i sendiri, yang kini tercatat sebagai salah seorang pemilik lahan dan pengusaha batu kumbung skala besar di Desa Pucangan. Dibantu 25 pekerja dengan empat mesin serkel (mesin pemotong batu kumbung, red) Syafi’i mampu menghasilkan sedikitnya 6000 biji batu kumbung perhari dengan keuntungan minimal 600 ribu rupiah setiap harinya.
Lebih lanjut Syafi’i menjelaskan, perubahan besar makin terasa dalam tiga tahun terakhir setelah adanya mesin pemotong batu kumbung. Sebelumnya para penambang batu kumbung harus memilah-milah lahan yang mudah dijangkau. Pasalnya, para penambang yang awalnya menggunakan gergaji tangan harus mengambil batu dengan cara membuat gorong-gorong di area gunung batu kapur. Selain tidak efektif dan efisien, penambangan dengan cara seperti itu memiliki resiko kecelakaan yang tinggi.
Dengan adanya mesin serkel, perkerjaan para penambang batu kumbung buikan saja dimudahkan, resiko kecelakaan kerja pun bisa diminimalisir. Kini, para penambang batu tidak perlu lagi membuat gorong-gorong yang menyerupai gua. Akan tetapi memotongnya langsung dari atas gunung.
Intinya dengan adanya sentra kumbung, contohya saya yang dulunya tidak punya apa-apa, sekarang Alhamdulillah mampu mengubah status. Terlepas dari hutangnya berapa? Kalau dulu rasanya tidak mungkin Pucangan bisa jadi seperti sekarang,” ujar Syafi’i setengah berkelakar.

Batu Bertanah

            Tidak terlalu sulit mencari alamat Desa Pucangan. Bukan saja situasi pedesaan yang kental dengan suasana guyub rukun. Tim DD yang terbilang awam dengan wilayah Tuban pun cukup dimudahkan dengan masyarakat yang ramah dan paham betul ketika ditanyai alamat orang nomor satu di Desa Pucangan tersebut.
            Ke arah timur dari alun-alun Kota Tuban sejauh 110 m terdapat belokan pertama sebelah kiri menuju Jl Panglima Sudirman. Masih di Jl Panglima Sudirman sejuh 200 m menuju arah Jl Raya Tuban-Gresik sekitar tujuh km kemudian sampailah tujuan di Desa Pucangan, Kec Palang, Kab Tuban. Disinilah Tim DD mulai melacak kediaman sang kepala desa medio April lalu.
            Tak ada yang istimewa dari kondisi wilayah Desa Pucangan. Seperti umumnya suasana desa, beberapa areal perkebunan dan pertanian masih nampak mendominasi sebagian wilayah Desa Pucangan. Sebagian besar tanaman palawija seperti padi, jagung, kacang tanah, kacang panjang dan beberapa jenis sayuran menghijaukan suasana.
            Tak seberapa jauh dari pandangan mata tepatnya dari arah kediaman Moh Syafi’I di Dusun Pucangan terlihat puncak gunung kapur yang belakangan diketahui berada di Dusun Singget.

            “Kalau mau dibilang sentranya batu kumbung Kecamatan Palang ya di desa Pucangan. Wong Desa Leran Kulon, Leran Wetan, Sendoro gak punya gunung. Gunungnya cuma satu itu di Dusun Singget, Desa Pucangan,” jelas Kades Syafi’I menunjuk ke arah gunung yang mulai terlihat koyak di beberapa sisinya.
Meskipun menjadi satu-satunya desa di Kecamatan Palang yang memiliki potensi gunung kapur, namun hingga saat ini tidak ada peraturan khusus berkaitan dengan aktifitas penambangan batu kapur oleh warga pemilik lahan. Bahkan Syafi’I menuturkan, Desa Pucangan justru terkenal dengan hasil pertanian khususnya kacang tanah kualitas super.
Keraguan bahwa wilayah pegunungan kapur tentunya sulit untuk ditanami nyatanya tidak terbukti di Desa Pucangan.         40 persen wilayah Desa Pucangan merupakan sawah irigasi yang bisa dipanen hingga dua kali setahun. Selebihnya merupakan lahan tadah hujan dan termasuk pula wilayah pegunungan.
Menariknya, di area pegunungan aktifitas yang ada bukan saja pertambangan batu kumbung, beberapa wilayah juga tetap ditanami beberapa macam tanaman khususnya jagung dan kacang tanah.
Dari segi pertanian tidak ada masalah, cuma dari segi ekonomisnya yang membuat ini menjadi beralih status. Meskipun umumnya wilayah batu kapur tapi nyatanya tetap bisa ditanami dan terbukti subur. Karena gak ketang sak senti limang senti yo onok lemahe (sekalipun hanya satu hingga lima centi tetap ada tanahnya, red). Tapi kan kemudian dibawahnya itu yang mengandung kapur,” terang Kades yang baru menjabat enam bulan saat ditemui ini.
(hay,uul)




INVESTASI EKONOMI MASA DEPAN

Insyaallah untuk sentra batu kumbung memang lebih menguntungkan. Karena disini kita kan harian. Setiap waktu kita bisa bekerja disini. Berbeda dengan di pertanian yang ada tahapan-tahapan. Habis tanam seminggu lagi baru ada pekerjaan, banyak masa kosongnya.  Dan pilihannya adalah lari ke pekerjaan ini,” tutur Syafi’I menjelaskan kenapa sentra batu kumbung menjadi pilihan utama di tengah kosongnya masa pertanian.

Dari segi ekonomi, usaha pembuatan batu kumbung memang menjanjikan income yang tidak sedikit. Ada dua system kerja yang ummnya dilakukan di Desa Pucangan, pekerja harian dan borongan. Bagi pekerja yang baru belajar biasa digaji antara lima puluh hingga enam puluh ribu rupiah. Sedangkan bagi mereka yang telah berpengalaman, pekerja harian mendapat gaji antara delapan puluh hingga seratua ribu rupiah perhari. Jam kerja rata-rata sama, antara jam delapan hingga empat sore.
Sedangkan bagi pekerja borongan umumnya mereka mendapatkan bagian 200 rupiah dari setiap batu kumbung yang dihasilkan. Nilai ini kecil, tapi coba dikalikan dengan jumlah batu kumbung yang bisa dihasilkan setiap harinya. Dengan asumsi minimal 1500 biji per hari permesin yang umumnya dikelola oleh lima orang, sedikitnya setiap orang bisa mengantongi gaji enam puluh ribu perhari. Jumlah ini akan semakin banyak seiring dengan banyaknya batu kumbung yang bisa dihasilkan.
Dibanding menjadi perantauan hasilnya lumayan. Makanya sekarang banyak perantauan yang pulang dan memulai bekerja di sektor batu kumbung ini,” terang Syafi’i dengan nada mengiming-ngimingi.
Pemasaran batu kumbung pun relatif normal sepanjang tahun. Didukung dengan kualitas yang jelas jauh jika dibandingkan dengan batu bata merah. Batu kumbung karena berasal dari batu gunung asli memiliki ketahanan yang kuat. Hal ini pula yang menjadikan batu kumbung lebih banyak digunakan pada proyek-proyek besar.
Masih terkait pemasaran, Syafi’i mengaku saat ini cakupannya tidak hanya lokal Tuban. Tapi telah merambah Bojonegoro, Lamongan, Gresik, dan Surabaya. Cara pemesanannya pun sangat fleksibel. Pembeli bisa datang langsung ke tempat pemotongan batu kumbung dan mengangkutnya. Atau bisa pula membeli batu kumbung yang telah diangkut empunya ke tepi jalan atau rumah.
Mengenai harga, Syafi’i mengatakan bahwa batu kumbung ukuran 10cm x 25cm umumnya dijual dengan harga 700-750 rupiah per biji. Sedangkan untuk ukuran 28cm x 28cm harganya yang umumnya disebut batu umpak, dijual dengan harga 4500-5500 rupiah per biji.
Bisa diambil atau diantar tergantug kesepakatan. Harga juga bisa bervariasi,  tergantung situasi. Semisal kalau di tempat kita biasa jual ke tetangga 500 rupiah, jika orang luar yang ambil kami bisa kasih harga 550 rupiah perbiji. Paling ndak kan kita juga pengen bati gak ketang 25 repes (paling tidak kita juga menginginkan keuntungan sekalipun 25 rupiah). Sedangkan kalau sudah diluar tempat kisaran 700-750rp,” ujar Syafi’I merincikan.
Usaha batu kumbung memang menguntungkan. Terutama bagi mereka yang telah bisa dikatakan stabil dalam hal pola kerja. Indikasinya, memiliki pekerja tetap, mesin lebih dari dua, armada atau mobil pengangkut, dan relasi dengan distributor. Maka bukan berlebihan jika dikatakan, cukup dengan ongkang-ongkang kaki, uang mengalir dengan sendirinya.
Namun, seperti pada umumnya pertambangan setelah barang habis maka berhenti pula sumur uang tersebut. Bahkan tanpa ragu, Syafi’i mengatakan bahwa usaha ini hanya akan bertahan paling lama 10 tahun. Karena dalam kurun waktu tersebut bisa dipastikan, gunung yang kini masih nampak menjulang itu akan menjadi dataran.
Menanggapi hal ini, sarjana ilmu pemerintahan Unibraw Malang ini justru berkelakar penuh filosofis.
Harapan saya masyarakat desa pucangan sudah kaya semua dan sudah mampu menciptakan pekerjaan yang lain. Menggantikan pekerjaan itu,” jawabnya. Nyaris tanpa ekspresi kekhawatiran. (hay,uul)




DATA DESA

Nama Desa                                                     : Pucangan
Kades                                                              : Muh Syafi’i SiP
BPD                                                                 : Heri Utomo, SE MM
Sekdes                                                                        : Lasmari SH
Kaur Umum dan pemerintahan                   : Sanadji
Kaur Ekonomi dan Keuangan                      : Sunar
Kaur Pemberdayaan dan pembangunan   : Karnadi
Kasi Pertanian dan Pengairan                     : Sudjoko
Kasi Kesejahteraan Masyarakat                  : M. Sunan Nur
Kasi Keamanan dan Ketertiban                   : Sukikah Al Darman
Penduduk                                                       : +- 5100jiwa, Pr 2600, Lk 2500
Luas Desa                                                      : 44.577 Ha
Dusun                                                             : Pomahan,  1 rw 3 rt Mukhohar
                                                                 Singget, 2 rw, 8 rt Prayitno
                                                                 Pucanganom, 2 rw, 8 rt
                                                                 Pucangan, 1 rw, 8 rt Shohib
Batas-batas                                                    :
Utara   : Gesikharjo, Glodog, Palang
Selatan: Ngimbang
Barat   : Cendoro
Timur : Leran Kulon


Muh Syafi’i, SiP, Kades Pucangan Kec Palang Kab Tuban

Pengen Sugih, Yo Adol Watu

Sebagai kades, pengalamannya barangkali belum teruji waktu. Lain halnya sebagai pengusaha batu kumbung. Berbekal empat mesin dan 25 pekerja, Syafi’i bisa dibilang adalah salah satu pengusaha besar batu kumbung di Desa Pucangan.
Saya ingat dulu itu ada guyonan (kelakar, red) orang tua ‘nek pengen sugih yo adolen watu iku’ (kalau ingin kaya, juallah batu itu, red). Dan sekarang pepatah itu sudah dibuktikan, memang sentra batu lebih menguntungkan secara ekonomis,” ujar Syafi’i.
Sebelumnya, pria kelahiran Tuban 12 Juli 1981 ini pun mengalami jatuh bangun merintis usaha batu kumbung tersebut. Mengawali usaha dengan satu mesin berkapasitas 1500 biji perhari, Syafi’i mengaku pernah berkeliling Bojonegoro, Lamongan, dan Gresik untuk mengenalkan batu kumbung. Kini Syafi’i pun bisa menikmati jerih payahnya. Pasalnya, hampir seluruh toko bangunan di tiga wilayah tersebut mengenal dan menjadi rekanan bisnisnya.
 Soal keuntungan, Syafi’i menyatakan pemilik mesin dengan empat mesin sedikitnya bisa mengantongi 400 ribu perhari. Jumlah itu merupakan keuntungan bersih setelah dikurangi berbagai biaya operasional, ongkos pekerja, hingga biaya penyusutan barang.
Dijelaskan Syafi’i, di lahan miliknya ia menjalankan system borongan bagi para pekerjanya dengan upah 200 rupiah per biji. Dengan harga jual paling murah 500 rupiah perbiji, dikurangi 200 rupiah upah pekerja, 100 rupiah pemilik lahan, 100 rupiah pemilik mesin, dan 100 rupiah biaya operasional dan penyusutan barang. Dengan asumsi setiap mesin menghasilkan 1500 biji, empat mesin menjadi 6000 biji per hari. Maka baik pemilik mesin maupun pemilik lahan bisa meraup untung kisaran 600 ribu rupiah perhari.

Keuntungan lain dari pemilik lahan adalah bahwa nilai tersebut bisa didapatnya hanya dengan menginvestasikan sekitar tiga puluh juta rupiah untuk harga satu mesin serkel. Bisa dibayangkan, bagi pengusaha dengan empat mesin speeti Syafi’I maka total investasi untuk mesin sekitar 120 juta rupiah. Jumlah ini akan tertebus hanya dalam waktu sedikitnya 7 bulan kerja dengan perhitungan keuntungan per hari 600 ribu rupiah. Sedang mesinnya sama sekali tidak berkurang.
            Bagaimana jika lahan batu kumbungnya sudah habis?
Masih dengan gaya santai tanpa beban, Pria kelahiran Tuban, 12 juli 1981 ini merencanakan untuk menginvestasikan keuntungannya dengan membuka toko bahan bangunan. Jika kelak lahan miliknya sudah tidak lagi menghasilkan.
Siapa tahu nanti bisa beralih ke property. Atau bisa buka lahan baru di Rengel, Paciran dan lain-lain. Yang penting semangat kerjanya tetap tinggi,” ujarnya mantap memungkasi pembicaraan yang tak terasa telah melewati waktu maghrib. (hay,uul)

BIODATA
Nama              : Muh Syafi’i, SiP
TTL                 : Tuban, 12 juli 1981
Jabatan           : Kades Pucangan Kec Palang Kab Tuban
Istri                 : Sumining
Anak               : Amelia Maharani (7 tahun)
                          Haidar Daffa Dean (2 tahun)

Sutaputra, Ksatria yang tak dianggap


Sekali lagi, kau membuatku terbelalak kagum. Dan tanpa sadar, membenci para ksatria cengeng yang menistakan hadirmu.



Hastinapura tengah menggelar adu kehebatan antar pangeran untuk menunjukan hasil pendidikan bertahun-tahun oleh Guru Drona. Setelah melaui berbagai tahap pertandingan, Drona akhirnya mengumumkan bahwa Arjuna adalah murid terbaiknya, terutama dalam hal ilmu memanah, setelah mengalahkan pangeran terkuat Kurawa, Duryodana.
Tiba-tiba Karna muncul menantang Arjuna. Resi Krepa selaku pendeta istana meminta Karna memperkenalkan diri terlebih dahulu karena untuk bisa menghadapi Arjuna haruslah dari golongan yang sederajat.
Karna memberontak, Ia menilai semua orang berhak untuk menunjukan kekuatanya tanpa melihat asal-usulnya.
“Sungai tak pernah bertanya air siapa yang memasukinya? Yang dia tau hanyalah kekuatannya. Dewa Siwa tak pernah mempertanyakan bunga teratai darimana yang menjadi persembahannya. Karena yang terpenting adalah keindahannya. Mengapa manusia harus mempertanyakan darimana asal-usulnya?!”
Di hadapan khalayak ramai yang sedang menyaksikan perang tanding itu, Ia menyatakan pemberontakanya atas sistem kasta yang diskriminatif itu. Ia sangat menentang kasta yang memenjarakanya sejak kecil. Kasta yang sudah menghalanginya untuk menunjukan kekuatanya. Menurutnya, manusia semua sama. Ksatria, brahmana, suta boleh diakui bukan karena statusnya tetapi karena kekuatan, kerja kerasnya. Karna adalah pengagum kekuatan sejak kecil. Ia bersumpah untuk menjadi ’sesuatu’ dan diakui dengan kekuatan yang ada dalam dirinya.
Oleh karena itu, Karna bersikeras menantang Arjuna untuk membuktikan siapa pemanah terbaik di muka bumi. Arjuna pun menyanggupinya. Ia tak gentar dengan tantangan Karna dan yakin dengan didikan Resi Drona. Namun, sebelum busur tertarik, Adirata turun ke gelanggang. Ia meminta maaf dan memaksa Karna, yang dinilainya tak tahu sopan santun dan mempermalukan keluarga, untuk pulang. Ibunya juga bercucuran air mata melihat anaknya mempermalukan diri dan keluarganya. Karna akhirnya luluh.
Ia pun dengan berat hati meninggalkan gelanggang. Sampai, Duryodana yang baru saja di kalahkan Arjuna berteriak. “Tunggu dulu pemanah,” katanya.
Duryodana lantas meminta ayahnya Destrarata, mengangkat Karna menjadi raja dan agar diizinkan bertanding melawan Arjuna. Maka, perang tanding antara Arjuna dan Karna pun dimulai. Perang tanding yang bukan sekedar adu ilmu keprajuritan tetapi juga sebuah perjuangan Karna untuk mendapatkan pengakuan. Perjuangan emansipasi seorang Karna menentang sistem kasta yang diskriminatif.
Dan, adu kekuatan dua pemanah terhebat di dunia pun dimulai. Perang tanding antara Arjuna dan Karna yang sesungguhnya adalah kakaknya.
Suatu saat, panah Arjuna berhasil mengenai tubuh Karna. Ajaib, tubuhnya langsung bersinar dan ada sebuah perisai berkilauan yang melindunginya. Itulah perisai anugerah dari Sang Dewa Surya, ayahnya.
Di tribun kehormatan, Kunti terbelalak dan kaget bukan kepalang. Ia melihat perisai ditubuh karna dan langsung mengenali pemuda gagah itu sebagai putra sulung yang pernah dibuangnya. Kunti pun jatuh pingsan dan di papah oleh Priyamwada, sahabatnya sejak kecil.
Sementara, perang tanding antara Karna dan Arjuna pun usai karena matahari sudah terbenam. Tak ada pemenang antar kedua pemanah hebat yang sebenarnya memiliki ibu yang sama itu.  Sementara, keduanya sama kuat.
Di dalam bilik kamarnya, Kunti yang baru siuman lalu menangis sesenggukan ditemani Priyambada. Ia sedih melihat kemunculan anaknya, Karna. Sebagai ibu hatinya teriris melihat anak yang telah diterlantarkanya.
“Aku harus menyentuh rambutnya, aku harus mengganti kasih sayang yang selama ini tidak pernah didapatkanya sebagai anak. Aku harus menemui Karna,” begitu ratapan Kunti dengan bercucuran air mata.
Priyamwada mengingatkan. Kunti harus memahami perasaan anak-anaknya dan juga kehormatannya. “Tuan putri dan anak-anak tidak akan dihormati lagi jika semua tahu bahwa tuan putri melahirkan sebelum menikah. Semua orang tahu bahwa tuan putri hanya memiliki lima anak, yaitu pandawa,” kata Priyamwada mengingatkan Kunti dan ia pun bungkam.
Karna adalah simbol sebuah perjuangan. Ia adalah pemberontak yang menentang diskriminasi. Karna menantang arus dan penindasan dengan bingkai kasta. Hidupnya dibaktikan untuk membuktikan bahwa semua orang berhak untuk diakui karena kemampuan dan kerja kerasnya, bukan karena kasta dan garis keturunannya.
Karna, si anak yang terbuang juga memiliki sifat-sifat kompleks. Ia sangat yakin akan kemampuanya sehingga cenderung over pede, angkuh. Namun, Karna terkenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Karna juga selalu menepati janjinya, meski bertentangan dengan hati kecilnya. 

Radheya dan Kutukan Kelahiran


Semakin aku mengenalmu, semakin aku terobsesi padamu

Radheya (nama lain Karna. Yang berarti Putra Radha) baru saja selesai melakukan Surya Sewana (pemujaan terhadap Dewa Matahari) ditepi sungai Gangga. Telah terkenal bahwa setiap selesai melakukan Puja tersebut Radheya akan memberikan anugerah kepada siapapun yang datang dan meminta kepadanya.
Saat berbalik Radheya melihat Seorang wanita duduk berteduh dibawah pohon, diapun menghampiri lalu membungkuk hormat. Dia adalah Dewi Kunti, Ibu para Pandawa.
“Salam Ibu.. apa yang ibu minta? Radheya menunggu perintahmu”
Kunti hanya memandangnya dengan tatapan sedih, terkenang kembali saat dia membuang Radheya begitu lahir dengan menghanyutkannya di sungai Gangga.
“Aku kesini bukan untuk meminta anugerahmu, aku hanya ingin bertanya tidakkah kau mengenal siapa aku?”
Radheya menatap wanita didepannya, mencoba mengingat ingat lalu sesuatu pun terlintas dalam pikirannya. Dadanya pun berdebar.
“Ini aneh, aku tidak tahu siapa dirimu, tapi aku merasa telah lama mengenalmu. Engkau seperti wanita yang selalu hadir dalam mimpiku”
“Maukah kau duduk disampingku, dan menceritakannya padaku?”
Radheya mendekat dan duduk disamping Kunti.
“Ini aneh, selama ini aku tidak pernah menceritakan tentang mimpiku ini kepada siapapun bahkan kepada ibuku Radha. Tapi kenapa sekarang aku ingin menceritakan kepadamu”
Aku adalah Radheya, putra Radha. Ayahku Adhirata, kusir sang raja. Tapi aku bukanlah anak ibuku. Ayahku memungutku dari Sungai Gangga dalam kotak kayu waktu aku kecil.
Semasa kecil aku selalu bermimpi, seorang wanita cantik yang berpakaian layaknya Putri Raja datang padaku. Dia selalu menangis dan sedih.
Dalam mimpi aku bertanya “Siapa engkau? Mengapa kau menangis?”
Wanita itu selalu menjawab ”Aku menangis dan sedih karena aku melakukan ketidakadilan ini padamu”
Ketika aku bertanya ”Mengapa Ibu, mengapa kau lakukan ini padaku ?
Dia diam membisu. Hanya air mata yang menjawab semua pertanyaanku. Lalu wanita itu akan menghilang dari pandanganku seberapa keras pun aku memanggilnya.
Mimpi yang sama selalu terulang berkali-kali. Sampai aku remaja mimpi itu mulai berkurang. Wanita itu semakin jarang menemuiku dalam mimpi, dan sampai sekarang dia tak pernah lagi muncul. Mungkin karena dia mulai lupa denganku atau karena dia sudah punya anak yang lain
“Kau salah anakku, wanita itu tidak pernah dan tidak akan bisa melupakanmu. Meski dia sudah punya anak yang lain.”
“Mengapa kau begitu yakin Ibu, seolah kau tahu dan mengenal wanita dalam mimpiku?”
Dada Radheya semakin berdebar. Semakin lama dia memandang wanita itu, semakin dia yakin kalau wanita dihadapannya adalah wanita yang hadir dalam mimpinya.
Kunti pun menangis.
“Aku tahu siapa wanita dalam mimpimu, karena akulah wanita itu. Aku adalah Kunti wanita yang melahirkanmu.”
Kunti mencurahkan air matanya, perasaan yang dipendam selama puluhan tahun seakan ingin dia tumpahkan semua saat ini. Radheya diam mematung.

………….

“Aku sudah tahu bahwa kau adalah ibuku. Bahwa Radheya sebenarnya Putra Kunti dan Surya (Dewa Matahari). Tapi mengapa baru sekarang kau datang padaku?”
“Bagaimana kau tahu aku adalah ibumu dan Surya adalah ayahmu?”
“Kemarin Khrisna dating dan memberitahu jati diriku yang sebenarnya. Tapi sudahlah Ibu janganlah kita membicarakan hal yang berlalu. Hari ini aku begitu bahagia karena Ibu telah datang menemui aku. Jadi jangan berkata apa-apa lagi,”
Keduanya berpelukan dan menangis bersama, melepas kerinduan mereka selama ini. Radheya merebahkan kepalanya di pangkuan Kunti, dengan lembut Kunti membelai rambut putranya yang ”Hilang”, mereka larut untuk sesaat dalam hening.
Beberapa saat berlalu, Radheya pun bangkit
“Terima kasih, Ibu telah memberikan saat-saat yang paling suci dalam hidupku. Kini perintahlah Radheya,”
“Tidak anakku, Ibu tidak memberimu perintah tapi Ibu akan memintamu melakukan sesuatu,”
“Katakanlah Ibu apa yang harus aku lakukan?”
“Ikutlah bersama Ibu ke Pandawa. Mereka adalah saudaramu, ibu akan memberi tahu Yudhistira bahwa kau adalah Putra tertuaku. Hilangkan kebencianmu selama ini kepada Arjuna, berperanglah di pihak Pandawa. Dunia akan melihat engkau bersatu kembali dengan saudara saudaramu. mereka akan melihat dirimu bersatu dengan Arjuna. Didunia ini siapa yang bisa mengalahkan Kalian berdua? Kalian akan Jaya seperti Khrisna-Balarama. Menangkan perang ini, lalu perintahlah seluruh dunia. Karena kaulah Pewaris Tahta Kerajaan. Yudhisthira akan menjadi Yuvaraja (Putra mahkota) dan memegang payung kebesaranmu, Arjuna akan menjadi kusirmu, Bhima akan menjadi kepala Pengawal, sedangkan si kembar akan selalu setia melayanimu.”

…………..

“Ibu, ibu telah merenggut segala hak kelahiranku sebagai ksatria dengan melemparkan aku, bayi yang tidak berdaya ke sungai. Mengapa sekarang engkau bicara tentang tugasku sebagai ksatria? Engkau tidak pernah mencintaiku dengan cinta ibu yang merupakan hak setiap anak yang terlahir di dunia. Induk binatang saja tak pernah membuang anaknya, mengapa engkau membuangku ?”
“Sekarang, ketika engkau mencemaskan nasib anak-anakmu yang lain, kau ceritakan semua ini kepadaku. Apabila sekarang aku menghindari kewajibanku, berarti aku akan menyakiti diriku lebih parah dari apa yang dapat dilakukan musuhku terhadap diriku. Seandainya sekarang aku menggabungkan diri dengan Pandawa, bukankah dunia akan mengutukku sebagai pengecut ?”
“Dunia mengenalku sebagai Sutaputra, nama ini menodai kelahiranku yang sebenarnya. Saat menginjak remaja kau tahu aku bertanya pada Ibuku Radha, Ibu mengapa aku ingin sekali menjadi seorang pemanah bukan menjadi kusir kereta seperti ayah ?”
Saat itu lah aku tahu bahwa Ibuku Radha bukanlah ibuku, namun cinta kasihnya melebihi cinta kasih seorang ibu kepadaku. Karena itu aku bangga dengan nama Radheya, nama yang akan aku bawa sampai mati. Lalu aku pun berkelana, untuk menuntut ilmu memanah. Kau tahu pa yang aku alami? Tidak ada seorangpun yang mau mengajariku karena ketidakjelasan kelahiranku.
Drona menolakku karena aku adalah seorang ’Sutaputra’, nama yang melekat dan menyakiti hatiku. Ini semua karena ketidakadilan mu padaku ”
Kemudian aku menghadap Bhargawa (Parasurama) beliau mau mengajariku karena aku mengaku sebagai Brahmana. Tetapi ketika Beliau tahu aku bukan seorang Brahmana beliau mengutukku bahwa aku akan melupakan Mantra dari ilmuku disaat paling genting.
Disamping itu seorang Brahmana mengutukku bahwa roda keretaku akan terbenam dan aku akan terbunuh pada saat aku tidak siap, seperti hal nya sapi Brahmana itu yang aku bunuh.
Lalu aku kembali ke Hastina, saat itu adalah waktu Perlombaan ketangkasan Para Pangeran Hastina. Jiwa Pemanahku bergolak melihat kesombongan Arjuna yang bangga akan keahliannya. Akupun menantangnya lalu semua orang tahu bahwa aku hanyalah seorang putra kusir, mereka menghina dan mencemoohkan aku terutama Bhima mu yang tersayang. Mereka menilai aku bukanlah lawan yang pantas bagi Arjuna.

Saat itulah Duryodhana datang padaku, mengakui aku sebagai sahabatnya dan mengangkatku sebagai Raja Angga. Duryodhana lah orang yang mengangkat derajatku saat semua orang merendahkan ku. Dia hanya meminta hatiku sebagai balasannya, dan mulai saat itu hatiku milik sang Raja, Majikan sekaligus sahabatku Pangeran Duryodhana. Ibu Tidakkah kau mengenalku saat itu? aku yakin kau pasti mengenalku dari Kavaca (Baju Pelindung) dan kundala (anting-anting) yang kukenakan. Namun dengan alasan yang kau ketahui sendiri saat itu Ibu diam membisu. Namun mengapa sekarang kau datang padaku.
“Selama ini aku dihidupi oleh anak-anak Drestarastra. Aku dipercaya oleh mereka sebagai sekutu yang setia. Aku berhutang budi pada mereka. Semua harta dan kehormatan yang kumiliki kuperoleh dari mereka. Sekarang, ketika perang akan meletus dan aku harus membela Kurawa, engkau menghendaki agar aku mengkhianati Kurawa, menyeberang ke pihak Pandawa. Ibu, mengapa kau minta aku mengkhianati garam yang telah kumakan?”
“Anak-anak Drestarastra memandang aku sebagai jaminan kemenangan mereka dalam peperangan yang akan datang. Katakan, adakah yang lebih hina daripada mengkhianati orang yang telah menolong kita? Katakan, adakah yang lebih hina daripada orang yang tak tahu membalas budi? Ibuku tercinta, aku harus membayar hutangku, bila perlu dengan nyawaku.
Kalau tidak, aku ini ibarat perampok yang hidup dari hasil curian dan rampasan selama bertahun-tahun. Tentu aku akan menggunakan segala kekuatanku untuk melawan anak-anakmu dalam perang nanti. Aku tidak akan mengkhianati siapapun. Aku tidak akan menipu engkau dan diriku sendiri. Ampunilah aku”, kata Karna dengan lembut tetapi tegas.
Di Dunia ini hanya ada dua cinta terpenting bagi Radheya, cintaku kepada Ibuku Radha dan cintaku kepada sahabat sejatiku Duryodhana.
Aku tidak pernah dan tidak berani berpikir akan ada cinta yang lebih agung datang dalam kehidupanku.
Aku tidak bisa meninggalkan Duryodhana untuk bergabung dengan saudara saudaraku yang baru aku temukan sesuai dengan permintaanmu ibu”
“Mengapa anakku?”
“Ibu ,Aku terikat jalinan jutaan untai benang dengan Sahabatku Duryodhana, satu satunya orang di dunia ini yang menjadikan aku sahabatnya tanpa peduli aku seorang Sutaputra. Bergantung padaku, dia telah memulai perang ini. Dunia mengenalku sebagai sahabat sang raja. Duryodhana malah ingin berbagi singgasana yang sama denganku, aku tidak bisa memungkiri kebahagiaanku melewati hari-hari bersama sang pangeran.
Namun kini Ibu datang padaku dengan cinta yang membuat temaram cinta yang aku tahu selama ini.”
“Aku akan tetap berada disamping Duryodhana untuk melunasi hutangku, hutang cinta dan terima kasih adalah hutang yang sangat sulit untuk dibayar. Katakanlah ibu, begitu agungkah cinta seorang Ibu hingga membuat aku begitu bimbang, tapi Radheya tidak akan merubah pendiriannya? Sekarang janganlah berkata apa-apa lagi aku tidak ingin menyakitimu dengan kata-kataku ”
Radheya menutup kedua matanya dan menangis. Kunti tertunduk lemas air matanya bercucuran tak terhingga. Mereka kembali berpelukan dalam tangis.
Sesaat kemudian Radheya melepaskan pelukannya
“Ibu tangisan ini tidak baik untukku. Seorang Ibu hanya boleh menangisi anaknya yang sudah mati. Aku akan tetap bersama sahabatku dan aku tahu akhir hidupku. Aku tahu bahwa kami semua yang berpihak pada Duryodhana akan dikirim ke alam Yama (kematian) kami akan kalah, aku tahu itu Ibu.”
“Ibu Restuilah aku berikan aku anugerah :
Bahwa namaku akan di ingat sepanjang manusia masih hidup di dunia ini, kemahsyuran ku akan abadi sepanjang sejarah”
Dengan Hati yang hancur lebur Kunti merestui permintaan putranya.
“Terimakasih ibu, namun ini tidaklah benar, biasanya akulah yang memberikan anugerah kepada orang-orang yang datang padaku setelah aku selesai memuja Ayahku. Kini aku akan memberimu anugerah yang setara dengan permintaanmu sesuai dengan kemampuanku. Engkau menginginkan hatiku, tapi hatiku bukan miliku, hatiku milik sahabatku Duryodhana.”
”Engkau akan tetap memiliki lima Putera, Yudhistira, Bhima, Nakula dan Sahadeva tidak akan aku bunuh dalam perang. Mereka tidak akan mati ditanganku. Sedangkan Arjuna, pertarungan diantara kami harus terjadi. Itulah satu-satunya caraku untuk melunasi hutang kepada sahabatku Duryodhana. Namun bagaimana pun hasilnya kau akan tetap punya lima Putera. Dengan Aku tanpa Arjuna, ataupun Arjuna tanpa Radheya, itulah anugerahku ”
Radheya menghela nafas panjang, dengan tatapan sedih Kunti memandangnya.
“Tapi ibu aku tahu, Arjuna akan tetap bersamamu, dibawah lindungan Khrisna, Pandawa akan aman seperti bayi dalam rahim ibunya. Mereka akan selamat melewati perang besar ini.”
“Tapi ibu aku tahu, Arjuna akan tetap bersamamu. Dibawah lindungan Khrisna, Pandawa akan aman seperti bayi dalam rahim ibunya. Dengan kutukan dari Bhargawa Parasurama, Brahmana, dan Dewa Indra yang telah meminta Kavaca (Baju pelindung) dan Kundala (anting-anting) yang akan melindungiku dari kematian, bagaimana aku bisa selamat dari perang?”
Kini mata Radheya terang tanpa airmata,
“Ibu janganlah sedih, apa yang sudah digariskan oleh Para Dewa tidak ada yang bisa merubahnya, tidak juga cintamu yang agung. Aku harus bertarung dengan Arjuna dan aku akan mati ditangannya.”
“Sekarang pulanglah Ibuku sayang, jangan sampai ada orang yang melihat kau datang menemui aku. Biarlah dunia tetap menganggapku ”Sutaputra”, tapi dirimu dan aku tahu bahwa Radheya adalah putera Kunti dan Surya. Biarlah rahasia kelahiranku lenyap bersama kematianku ”
Tubuh Kunti begitu lemas, Radheya berkali-kali harus memapahnya, Dia telah kehilangan puteranya selama ini dan setelah menemui Radheya dia semakin kehilangan.

Karna, Permata Yang Dibuang


Aku membaca kisahmu, dan aku mulai mengagumimu.

Ia dilahirkan karena keisengan Kunti, mencoba mantra Adityahredaya saat menatap matahari pagi. Betara Surya datang dan memberinya bayi laki-laki berbaju besi menyilaukan dan sepasang anting dan kalung. Ia tak bisa menolak anugerah itu, pun tak bisa mempertahankannya.
Bagian paling tragis dari kelahiran Karna adalah karena tak ada yang mempertahankan kehadirannya. Tidak juga Kunti, yang demi harga diri dan kehormatan, menjadi ibu yang tega melarung anak laki-laki pertamanya di sungai.
Karna seumur hidup menyebut diri Radheya. Ia yang dipungut pasangan sais kereta Adirata dan Radha selamanya merasa berutang budi pada pasangan yang menyelamatkan hidupnya itu. Bahkan ketika Kunti mendatanginya bertahun-tahun kemudian. Ia menolak cap Kunteya, meski itu adalah kenyataan darah.
Tapi bakti tetap ia bagi pada sang ibu kandung. Karna berjanji tak akan membunuh para Pandawa, kecuali Arjuna. Karena perang antara keduanya harus terjadi. Bagi Karna, Kunti dapat tetap memiliki 5 anak. Dimana anak ke-5 ini adalah salah satu diantara ia atau Arjuna. Yang tersembunyi dari sumpah ini adalah bahwa sesungguhnya Karna sendiri yakin dirinya akan mati dalam perang baratayudha.
Kisah Karna yang tragis adalah hasil dari pertemuan maupun persimpangan antara berbagai sifat buruk, kesialan, tipu muslihat, waktu dan tempat yang tak tepat. Karna adalah ksatria yang hidup sebagai sudra, brahmana, namun tak pernah sepenuhnya menjadi bagian kaum yang ia perankan.

Seumur hidupnya, Karna adalah sosok yang lain dan terus dipersalahkan. Ia adalah ksatria yang sudra, ksatria yang brahmana, kakak Pandawa yang Kurawa, ia putra Kunti yang Radheya.
Seolah belum cukup, Karna mendapatkan tiga kutukan dalam hidupnya, yang ia peroleh pada waktu yang berbeda-beda. Namun kutukan itu menjadi kenyataan pada saat yang bersamaan. Ketika ia harus berhadapan dengan Arjuna.
Bahkan alam semesta pun seolah menghukumnya pada saat yang bersamaan. Terlahir dan dibuang, ditolak Drona atas alasan darah, mengalami penghinaan demi penghinaan oleh Drupadi, Arjuna serta Bimasena karena berasal dari kasta sudra.
Kemarahan yang membara atas kutukan kelahirannya sungguh berlawanan dengan kedermawanannya yang tanpa pamrih. Bahkan ketika Batara Indra menyamar menjadi brahmana tua, meminta baju besi yang melekat di badannya, ia pun memberikannya, meskipun tahu ini hanya sebuah muslihat.
Dikisahkan, Karna bergabung dengan para Pandawa di Swargaloka setelah Bharatayudha di Kurusetra. Apakah itu sebanding dengan nista yang telah dihadiahkan, justru oleh orang-orang terdekatnya?