Kamis, 10 April 2014

VIOLET YANG AMBISIUS by Kahlil Gibran


Dahulu kala, hiduplah setangkai bunga violet yang indah serta harum dengan tenang di antara teman-temannya di sebuah kebun. Suatu pagi, ketika mahkotanya dihiasi bintik-bintik embun, ia mengangkat kepalanya dan melihat ke sekelilingnya. Ia melihat setangkai bunga mawar yang jangkung dan indah, berdiri bangga serta menjulur ke tempat yang tinggi, seperti obor yang menyala-nyala di atas pelita emerald.
Sang violet membuka bibirnya yang biru dan berkata, "Betapa malangnya aku di antara bunga-bunga ini, dan betapa rendahnya posisiku dihadapan mereka! Alam telah merancangku pendek dan miskin...Aku hidup sangat dekat dengan tanah dan aku tak dapat menaikkan kepalaku ke langit biru, atau memalingkan wajahku ke matahari, seperti bunga-bunga mawar itu".
Dan bunga mawar itu mendengar kata-kata sesamanya itu; ia tertawa dan berkomentar , "Betapa aneh perkataanmu itu! Engkau beruntung, tetapi engkau tidak memahami keberuntunganmu. Alam telah menganugerahimu keharuman serta keindahan yang tidak dianugerahkannya kepada yang lain... Buanglah pikiran-pikiranmu itu dan cukupkanlah dirimu, dan ingatlah bahwa dia yang merendahkan dirinya akan ditinggikan, dan dia yang meninggikan dirinya akan dihancurkan".
Sang violet menjawab,"Engkau menghiburku sebab memiliki apa yang kudambakan... Engkau ingin membuatku sakit hati dengan makna bahwa engkau hebat... Betapa menyakitkan khotbah yang beruntung kepada hati yang nelangsa! Dan betapa kejam yang kuat ketika menjadi penasihat diantara yang lemah!"

Alam mendengar percakapan antara violet dengan mawar. Ia mendekat dan berkata, "Apakah yang terjadi padamu, anakku violet? Selama ini engkau rendah hati dan manis dalam segala perbuatan dan kata-katamu. Apakah ketamakan telah merasuk hatimu dan mengebaskan inderamu?"
Dengan suara memelas, sang violet menjawab, "Oh ibu yang agung serta penuh belas kasih, penuh kasih dan simpati, kumohon kepadamu, dengan segenap hati dan jiwaku, agar menganuhgerahkan permohonanku dan membiarkan aku menjadi bunga mawar suatu hari nanti".
Alam menjawab, "Engkau tidak tahu apa yang engkau minta; engkau tidak sadar akan rencana tersembunyi di balik ambisi butamu itu. Seandainya engkau menjadi bunga mawar, engkau akan menyesal, dan pertobatanmu akan sia-sia".
Sang violet bersikeras, "Ubahlah aku menjadi bunga mawar yang tinggi, sebab aku ingin mengangkat kepalaku tinggi-tinggi dengan bangga; dan terlepas bagaimana nanti nasibku, itu adalah risikoku".
Alampun mengalah, dan mengatakan, " Baiklah violet yang tidak tahu dan pemberontak, akan kupenuhi permintaanmu. Tetapi kalau bencana menimpamu, mengeluhlah kepada dirimu sendiri".
Alampun mengulurkan jari-jemarinya yang misterius dan ajaib dan menyentuh akar-akar bunga violet itu, yang seketika itu juga berubah menjadi mawar yang jangkung, tinggi di atas bunga-bunga lainnya di kebun itu.
Menjelang malam langit menjadi tebal dengan awan-awan hitam, dan unsur-unsur yang mengamuk mengganggu keheningan keberadaan dengan gunturnya, dan mulai menyerang kebun itu, mengirimkan hujan lebat dan angin kencang.
Badai itu mencabik dahan-dahan dan mencabut akar-akarnya serta mematahkan akar bunga-bunga yang tinggi, membiarkan hanya bunga-bunga kecil yang tumbuh dekat bumi yang ramah. Kebun itupun sangat menderita dari langit yang mengamuk.
Ketika badai menjadi tenang dan langit cerah kembali, semua bunga rebah dan tak ada satupun yang terluput dari murka alam selain violet-violet yang kecil, yang bersembunyi dekat dinding kebun itu.
Setelah mengangkat kepalanya dan menyaksikan tragedi yang dialami bunga-bunga serta pepohonan di sana, salah satu gadis violet itu tersenyum senang dan berseru kepada teman-temannya, "lihatlah apa yang telah diperbuat badai terhadap bunga-bunga yang sombong!" Setangkai violet lainnya berkata, " Kita kecil dan hidup dekat dengan tanah, tetapi kita aman dari murka langit". Dan yang ketiga menambahkan,"Sebab kita tidak jangkung, badai tak dapat menaklukkan kita".
Ketika itu ratu violet melihat di sebelahnya violet yang telah diubah, rebah ke rumput yang basah oleh badai seperti prajurit yang lunglai di medan pertempuran. Sang ratu violet mengangkat kepalanya dan berseru kepada keluarganya, " Lihatlah, anak-anakku, dan renungkanlah apa yang telah diperbuat ketamakan terhadap violet yang telah menjadi mawar yang sombong selama satu jam. Biarlah kenangan pemandangan ini menjadi pengingat akan keberuntungan kalian yang baik."
Mawar yang sekarat itu mengerahkan sisa-sisa kekuatannya dan berkata, " Dasar kalian bunga-bunga penurut yang bodoh; aku tidak pernah takut terhadap badai. Kemarinpun aku pasrah dan mencukupkan diri dengan Kehidupan, tetapi kecukupan diri telah menjadi penghalang di antara keberadaanku dengan badai kehidupan, mengurungku dalam kedamaian serta ketenteraman pikiran yang pesakitan serta malas.”
“Aku bisa saja hidup seperti kalian sekarang ini dengan berpegang ketakutan kepada bumi... Aku bisa saja menantikan musim dingin menutupiku dengan salju dan mengirimkanku kepada maut, yang tentu akan memangsa semua violet... Aku bahagia sekarang sebab aku telah keluar dari duniaku yang kecil, ke dalam misteri alam semesta ... sesuatu yang belum pernah kalian lakukan.”
“Aku bisa saja melupakan ketamakan, yang sifatnya lebih tinggi daripadaku, tetapi ketika kudengarkan keheningan malam, aku dengar dunia sorgawi berbicara kepada dunia bumi ini, Ambisi di luar keberadaan itu merupakan maksud penting dari keberadaan kita. Ketika itulah rohku memberontak dan hatiku merindukan posisi yang lebih tinggi daripada keberadaanku yang terbatas.”
“Aku sadar bahwa jurang tak berdasar tak dapat mendengar nyanyian bintang-bintang, dan ketika itulah aku mulai melawan kekerdilanku dan mendambakan apa yang bukan kepunyaanku, hingga pemberontakanku berubah menjadi kekuatan besar, dan dambaanku menjadi kehendak yang tercipta... Alam, yang adalah objek besar dari mimpi-mimpi  kita yang lebih mendalam, menganugerahi permintaanku dan mengubahku menjadi bunga mawar dengan jari-jemarinya yang ajaib".
Bunga mawar itu terdiam sejenak, dan dengan suara yang semakin lemah, berbaur dengan kebanggan serta prestasi, ia berkata, " Aku telah hidup satu jam sebagai bunga mawar yang bangga; aku sempat menjadi ratu; aku telah melihat Alam Semesta dari balik mata setangkai mawar; aku telah medengar bisikan langit lewat telinga mawar dan menyentuh lipatan-lipatan pakaian terang dengan daun-daun bunga mawar. Adakah disini yang dapat mengklaim kehormatan seperti itu?"
Setelah berkata demikian, ia tundukkan kepalanya, dan dengan suara tercekik ia melanjutkan, " Sekarang aku akan mati, sebab jiwaku telah mencapai sasarannya. Akhirnya aku telah memperluas pengetahuanku ke dunia di luar goa kelahiranku yang sempit. Inilah rancangan Kehidupan... Inilah rahasia Keberadaan".
Lalu bunga mawar ini gemetar, perlahan-lahan melipat daun-daun bunganya, dan menghembuskan nafasnya yang terakhir  dengan senyum sorgawi di bibirnya... senyum kepenuhan pengharapan serta maksud dalam kehidupan... senyum kemenangan... senyum Ilahi.

Jumat, 22 November 2013

Desa Batokaban, Kec Konang, Kab Bangkalan


DATA DESA
Nama Desa                 : Desa Batokaban, Kec Konang, Kab Bangkalan
Nama Kades               : Muhammad Hajar
Ketua BPD                 : Darwis
Sekdes                         : Liman Carik
Pamong Desa              : Liman Pettong
Jumlah Penduduk       : 6000 Jiwa
Jumlah KK                  : 2000 KK
Batas Desa                 
·                     Barat               : Desa Debung, Kec Geger
·                     Timur               : Desa Durin Timur Kec Konang
·                     Utara               : Desa Durin Barat, Desa Kanegarah Kec Konang
·                     Selatan             : Desa Lembung, Desa Ampara’an Kec Kokop
Jumlah Dusun 4
·                     Dusun Paser                : Kasun Muhammad Ramli
·                     Dusun Manggala         : Kasun Syaru’din
·                     Dusun Sok-Sok           : Kasun Muhammad Fahri
·                     Dusun Prenduan         : Kasun Farid
Potensi Lahan
Pertanian         : Padi, jagung, ubi-ubian dan beberapa buah tropis seperti kelapa, mangga, jambu biji, dan pisang. Setahun terakhir tengah diuji cobakan perkebunan tebu.
Perkebunan     : Mayoritas jati, mahoni, trembesi, dan bambu. Tapi masih sebatas tanaman liar yang ditanam untuk mengisi lahan kosong.

Desa Batokaban, Kec Konang, Kab Bangkalan
TERTINGGAL, DESA NOL PEMBANGUNAN
“Jika di kota setiap Bulan Agustus mengibarkan bendera merah putih dan melakukan upacara. Disini tidak perlu mengibarkan merah putih, karena kami belum merdeka,” Itulah satu dari keluhan yang terdengar ketika mengunjungi salah satu desa di Kabupaten ujung paling barat pulau Madura yang berbatasan langsung dengan ibukota Jatim, Kota Surabaya. Tepatnya Desa Batokaban, Kec Konang, Kab Bangkalan. Seperti apakah kondisinya?
Desa Batokaban bisa ditempuh dengan satu jam perjalanan motor dari arah timur (belok kanan) perempatan Jembatan Suramadu.  Melintasi tiga kecamatan yakni Kecamatan Tanah Merah, Kecamatan Geger, dan Kecamatan Blega.
Di siang hari, terik matahari yang serasa membakar ubun-ubun bukan lagi hal baru. Ditambah kemudian jalanan aspal yang sudah mulai mencuat disana-sini seolah memberi peringatan bagi para pengguna jalan agar jangan sekalipun bermain kebut-kebutan di jalan ini. Beruntung jika hanya terperosok ke sawah atau ladang milik warga. Jalan berkelok yang terjal bisa jadi ancaman tersendiri jika harus beradu badan dengan kendaraan lain.
.
Memasuki Desa Batokaban atmosfer yang berbeda mulai tercium sepanjang perjalanan. Meskipun Batokaban seperti pada umumnya desa-desa di Kecamatan Konang. Dominasi lahan pertanian dan perkebunan, pemukiman dengan jarak yang masih jarang, wilayah lembah, perbukitan, dan beberapa jalan berbatu yang akan sangat licin jika musim hujan (kontur tanah liat).
Desa Batokaban di sebelah timur berbatasan langsung dengan Desa Durin Timur yang masih merupakan daerah Kec Konang. Di sebelah barat   terdapat Desa Debung, Kec Geger. Sebelah utara merupakan Desa Durin Barat, Desa Kanegarah yang juga wilayah Kec Konang. Sedangkan di sebelah Selatan terdapat Desa Lembung dan Desa Ampara’an, Kec Kokop
Hal yang paling dominan yang akan terasa bagi pendatang adalah sulitnya akses keluar masuk bagi kendaraan. Satu-satunya alat transportasi yang kerap dipakai warga adalah sepeda motor. Mengingat jalan utama desa yang kecil, sangat sulit untuk dilalui oleh kendaraan besar. Jika pun terpaksa menggunakan kendaraan besar, harus memutar dulu dari arah barat Kec Tanah Merah yang sebagian telah beraspal dan beberapa titik telah di makadam secara manual.
“Kalau untuk jalan sebenarnya kita dapat bantuan dari PNPM Mandiri, tapi itu tidak maksimal. Sebatas satu sampai satu setengah kilometer. Sementara Batokaban ini luas,” ungkap Liman, Sekretaris Desa Batokaban.
Sejauh ini, titik pengaspalan jalan di Desa Batokaban memang masih jauh dari cukup. Dari empat dusun yang dimiliki, baru sebagian kecil dari Dusun Sok-Sok yang memiliki jalan beraspal. Ini tidak lain karena di dusun ini terdapat beberapa pusat pendidikan seperti SDN Batokaban 2, RA Al Aziziyah, MI dan MTS Al Ikhlas, dan beberapa tempat pendidikan lain. Beberapa ruas jalan di Dusun Manggala yang berjajar dengan Dusun Sok-Sok baru nampak sisa makadam yang juga mulai rusak.
Terkendala SDM
Desa Batokaban, yang berdasarkan penuturan Sekdes memiliki penduduk sebanyak kurang lebih 6000 jiwa dengan sekitar 2000 Kepala Keluarga. Jumlah yang besar, tapi suasana di desa ini nampak lengang. Hal ini disebabkan sebagian besar penduduk memilih menjadi perantauan ke luar kota bahkan keluar negeri. Jumlahnya mencengangkan, yakni sekitar 70 persen.
Penghasilan dari hasil pertanian yang tidak bisa diharapkan, menjadi salah satu alasan kuat bagi para muda-mudi untuk menghadapi realitas tersebut secara pragmatis. Para pemudanya akan lebih memilih merantau. Begitupun dengan para gadis yang telah beranjak dewasa akan memilih bekerja atau menikah muda.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan juga masih sangat minim. Bisa menemukan lulusan sekolah menengah merupakah hal yang luar biasa disini. Keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas paling tinggi akan mengirim putra-putrinya ke pesantren selepas lulus dari Sekolah dasar atau Sekolah Menengah Pertama. Beruntung jika saat berada di Pesantren mereka dapat mengenyam pendidikan Menengah Atas. Selepas itu, secara tidak langsung para muda-mudi ini dituntut oleh keadaan untuk segera memiliki penghasilan (bekerja).
Salah seorang Ustadz (Panggilan khusus bagi pemuda yang mengajar ngaji) mengiyakan keadaan tersebut. Menurutnya, semakin tahun dirasakannya Batokaban semakin sepi. Kader-kader muda yang diharapkannya bisa menemaninya melakukan perubahan justru pergi dan tidak bisa lagi diharapkan kedatangannya. Terlebih ketika para tetua yang semakin hari juga dirasakannya semakin berkurang.
“Kalau bicara mengenai perubahan, ya sulit. Lha wong yang mau diajak berubah aklarkaran kaloar kabbih, (Bertebaran pergi, red)” ujar Ustadz bernama Ma’ruf ini.
Pemuda berumur 27 tahun ini bisa dikatakan satu dari kalangan yang beruntung. Pasalnya, terlahir dari keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan (Keturunan Kyai Sepuh Desa Batokaban), Ma’ruf juga berkesempatan mengenyam pendidikan S1 melalui beasiswa guru madin yang digulirkan oleh Pemerintah Provinsi beberapa waktu lalu. (hay)


TERTINGGAL DI SEMUA LINI
Dalam berbagai kesempatan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini menyatakan bahwa Pulau Madura akan bebas dari status daerah tertinggal pada tahun 2014. Di Indonesia, ada 183 kabupaten yang masuk kategori daerah tertinggal dengan tiga diantaranya berada di Madura  yakni Pamekasan, Sampang dan Kabupaten Bangkalan.
Beberapa ketentuan sebuah daerah masuk dalam kategori tertinggal, seperti tingginya angka buta huruf dan anak putus sekolah, pendapatan perkapita masih rendah, ketersediaan air bersih kurang, serta aliran listrik yang belum merata.
Merujuk pada berbagai kategori tersebut maka bukan hal yang berlebihan jika dikatakan Desa Batokaban, satu diantara desa-desa tertinggal tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Liman, bahwa berbicara mengenai pembangunan Desa Batokaban ibarat membenahi gubuk reyot. Bukan dengan menambal di sana-sini, melainkan merombak total.

Namun jika harus memilih skala prioritas, Liman mengutamakan untuk perbaikan akses jalan dan jembatan penghubung per dusun. Akses jalan menjadi prioritas karena menurutnya hal itu sedikit banyak mempengaruhi sebagian besar kegiatan sehari-hari warga. Jika akses jalan memadai, bukan tidak mungkin pembangunan desa akan semakin mudah pula begitu harapnya.
Jembatan penghubung antar dusun menurutnya menjadi sangat penting ketika menghadapi musim penghujan dimana sebagian besar sungai mulai terisi air. Sedangkan hampir setiap dusun di Batokaban terpisah oleh aliran sungai, yang akan dengan otomatis menjadi jalan lapang saat musim hujan karena airnya mengering.
“Selama ini kan bukan tidak ada pembangunan tapi ya itu, sulitnya akses jalan menjadikan pembangunan itu terhenti. Misal mau bangun rumah atau jalan. Untuk mengangkut material saja kita harus menunggu musim kemarau karena kalau musim hujan jalan tidak akan bisa dilewati oleh kendaraan karena becek dan rawan longsor,” ungkap Sekdes yang telah menjabat selama 13 tahun ini.
Namun di musim kemarau masalah lain yang juga mengganjal adalah keterbatasan sumber air. Hal ini juga kemudian menjadikan aktifitas pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat terhenti. Di musin kemarau hampir dipastikan seluruh sungai yang ada di Desa Batokaban pun ikut mengering. Kalau pun ada yang masih bisa digunakan, itupun dengan kodisi yang memprihatinkan. Debit air yang sedikit, jauh, kurang bersih, dan masih harus berantrian dengan banyak orang.
Pada musim ini hanya nampak beberapa tanaman tropis yang tidak membutuhkan perawatan khusus yang masih nampak tertanam di ladang-ladang warga. Beberapa jenis umbi-umbian seperti ketela pohon, kacang, talas.
Tanaman utama seperti Padi dan jagung hanya bisa ditanam pada musim hujan. Kendatipun begitu, Liman menuturkan bahwa masyarakat menyiasatinya dengan menanam secara bersusun. Artinya setelah selesai dipanen langsung ditanami lagi jika dilihat cuaca masih memungkinkan. Jika terpaksa tidak ada hujan, jalan satu-satunya adalah mendesel atau memikul air dari sisa air di sungai. Sehingga pada musim hujan yang maksimal hanya enam bulan itu petani tetap bisa memanen padi atau jagung sebanyak dua kali.
Kalau bisa lagi urusan air sebenarnya pengeboran. Kami juga tengah mengusahakan pembangunan waduk, tapi belum bisa dipakai karena waduknya terlanjur kering,” jelas Carik yang memiliki nama yang sama dengan pamong desa yang juga masih kerabatnya tersebut.
Minim Pemberdayaan
 Kalau semisal ingin mengajukan dana bantuan ke Provinsi bagaimana caranya?” pertanyaan yang cukup menggelitik dari Sekdes paruh baya tersebut. Bersama dengan rokok kreteknya yang tak berhenti mengepul. Pria berkulit gelap itu menuturkan keluh kesahnya.
Sebagai putra daerah yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Desa Batokaban, dirinya sangat ingin melihat tempat kelahirannya ini menjadi lebih maju. Sebagai Sekdes yang telah diberikan kepercayaan penuh oleh masyarakat dan juga kepala desa untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak perihal upaya pembangunan desa, dirinya mengaku nyaris putus asa.
Karena kalau di Bangkalan (Pemerintah Kabupaten, red) sendiri selama ini sangat sulit, entah karena terlalu banyak antrian atau bagaimana, sehingga lama sekali untuk proses acc. Bahkan kadang pengajuan kita tak pernah mendapatkan respon. Seandainya ada jalan, mungkin akan lebih cepat jika bisa langsung mengajukan ke Provinsi,” ujarnya dengan raut muka penuh harap.
Bantuan alat pertanian semacam traktor, menjadi salah satu mimpinya agar pertanian di Batokaban dengan kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi menjadi lebih optimal. Baik dari segi efisiensi waktu dan tenaga, yang selanjutnya akan memaksimalkan hasil.
Pertanian disini masih menggunakan sistem tradisional. Membajak menggunakan sapi, sapinya masih harus menyewa sekaligus tenaga pembajaknya dan harus bergantian. Jadi dana yang dikeluarkan juga lebih banyak. Hasilnya juga belum tentu menutup semua biaya itu,” jelas Sekdes yang menggenapkan umurnya pada 28 November tersebut.
Kondisi ini dipertegas dengan banyaknya warga yang menjadi perantauan sehingga dalam kondisi sibuk seperti masa panen, atau hajatan sulit mengajak orang untuk gotong royong. Pilihan terakhir adalah membayar kuli, yang otomatis merogoh kocek lebih dalam.
Terkait fasilitas untuk sarana kesehatan, Desa yang dikatakan paling luas dibanding desa-desa lain disekitarnya itu hanya memiliki satu bidan desa dan mantri yang berada di sebelahnya, yakni Desa Debung, Kec Geger. Beberapa kali dirinya mengajukan penambahan tenaga kesehatan tapi terkendala kondisi yang menyebabkan para bidan tersebut tidak betah dan akhirnya meminta untuk dipindahkan.
Kendatipun dengan segala kekurangan tersebut, ada beberapa hal yang tak luput disyukurinya adalah sudah masuknya aliran listrik ke Desa Batokaban. Meskipun masih menggunakan tiang pancang manual seperti bambu atau kayu, Kedepan telah ada rencana untuk membangun tiang yang lebih permanen.
Kalau untuk listrik sudah mulai masuk tiang pancangnya dari Desa Durin Timur (batas timur desa). Ke Batokaban tinggal tunggu gilirannya aja, Insyaallah akan segera dipasang,” harapnya.
Pokok’en mon bede program bantuan dari pemerintah mesti nemmu lebbun ke tokaban. Jek lakar pas tadek sekabbinnah, (Yang jelas, jika ada program bantuan apapun dari pemerintah pasti akan bisa dijalankan di Batokaban. Karena memang disini segalanya masih minim, red)” imbuhnya setengah berkelakar. (hay)

BIODATA SEKDES
Nama                     : Liman
TTL                       : 28 November 1973
Alamat                    : Dusun Manggala, Desa Batokaban Konang Bangkalan
Istri                         : Nima
Anak                       : Muharrom
Jabatan                    : Sekretaris Desa Batokaban
Menjabat Sejak       : Tahun 2000 Pengangkatan PNS tahun 2007, aktif mulai tahun 2009.
Lebih Pamor dari Kades
Menjadi Sekdes di Desa terpencil seperti Batokaban bukanlah sesuatu yang membanggakan. Setidaknya itu yang tersirat dari raut wajah Liman, kala menceritakan kondisi desa tumpah darahnya ini. namun berbekal kepercayaan masyarakat dirinya tetap memilih bertahan menjadi carik.
Liman menyadari minimnya sumber daya yang dimiliki oleh Batokaban menjadi salah satu alasan kenapa hingga saat ini Batokaban masih saja menjadi desa tertinggal. Keterbatasan itu berimbas pada tidak berjalannya birokrasi pemerintahan desa. Struktur pemerintahan desa tidak dijalankan sebagaimana tupoksinya.
 Dirinya juga mengibaratkan bahwa pemerintahan desa masih seperti kerajaan kecil. Kuasa penuh ada di tangan kepala desa. Sehingga kerapkali aparatur desa hanya sekedar perlengkapan yang tidak memiliki fungsinya.
Sebagai putra daerah dirinya paham betul dengan segala seluk beluk mengenai Desa Batokaban. Bahkan bisa dibilang dirinya yang lebih dikenal luas oleh masyarakat dibanding Kepala Desa (Kades) sendiri. Sehingga kendatipun secara struktural dirinya berada dibawah Kades, dalam keadaan genting dan penting justru dirinya yang menjadi tameng, dan pusat penyelesaian.
Selama ini kalau untuk ke masyarakat sebenarnya tidak mengalami kesulitan karena mereka kan noro’ buntek, (Menurut saja, red). Masyarakat permintaannya itu sederhana, asalkan desa aman, tidak ada maling. Kesulitan justru jika harus menyatukan kemauan dengan kepala desa,” ujar Sekdes yang juga menyayangkan belum adanya kantor desa yang bisa dipakai utuk menjalankan administrasi desa, sebagaimana wewenangnya.

Sampai saat ini Batokaban tidak memiliki balai desa. Balai desa ya mengikuti rumah kades. Kades ke barat ya ikut ke barat. Ke timur ya ke timur,” imbuhnya menganalogikan. (hay)

Kamis, 21 November 2013

Desa Tritunggal Kec Babat Kab Lamongan

DATA DESA
Nama Desa                              :  Desa Tritunggal Kec Babat Kab Lamongan.
Kades                                      : Yacub Sibi
Sekdes                                     : Hilmi Arif Mahyudi
Kaur Umum                            : Sami’un
Kaur Keuangan                       : A. Choliq
Kaur Pemerintahan                 : Anbiya’
Kasi  Pemb. Perempuan          : Ma’arif
Kasi  Transtib                          : Muntari
Kasi Kesra                               : Syuhada’
Desa Tritunggal dibagi  menjadi tiga dusun
·                     Dusun Tesan Kasun Kuswadi.
·                     Dusun  Beton Kasun Sutiono
·                     Dusun Grogol Kasun Hilmi
Batas admimnistrasi  Desa meliputi:
·                     Sebelah Utara              : Desa Rawabulu Kec Sekaran
·                     Sebelah Selatan           : Desa Kebonagung Kec Babat
·                     Sebelah Barat              : Desa Pucuk Kec Pucuk
·                     Sebelah Timur             : Desa Moropelang  Kec Babat
Luas wilayah                           : 3.683 Ha
Jumlah KK                              : 1800 KK
Jumlah Penduduk                   : 5000 Jiwa

 Desa Tritunggal Kec Babat Kabupaten Lamongan
LEBIH BERDAYA, ANDALKAN INDUSTRI KONVEKSI
Kendati Kecamatan Babat dijuluki sebagai ‘Kota Wingko’ tak berarti semua penduduknya bekerja sebagai pengusaha makanan olahan beras ketan dan kelapa ini. Desa Tritunggal misalnya yang merupakan sentra industri konveksi. Bahkan industri rumah tangga ini telah mengusai pangsa pasar nasional. Seperti apakah keberadaan desa yang terletak di jalan raya Surabaya - Babat tersebut?
 ‘Selamat datang di desa wisata konveksi Babat Lamongan’. Sebuah spanduk ucapan selamat datang terpampang di depan gapura masuk Desa Tritunggal Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan. Nampak gambar Bupati Lamongan Fadeli beserta istri menjadi background utamanya.
Saat memasuki wilayah desa yang merupakan bagian dari Kecamatan Babat ini akan nampak lampu dropbox berbentuk baju ada di hampir setiap rumah. Jika di awal tahun 2013 Menakertrans Muhaimin Iskandar mencanangkan Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember sebagai desa Produktif dengan julukan desa tanpa pengangguran, maka bisa jadi Desa Tritunggal layak dijuluki desa tak pernah mati.
Bagaimana tidak, disepanjang jalan yang dilewati nyaris tak pernah sepi dari suara berbagai macam mesin pembuat kaos yang bekerja. Mesin jahit, mesin obras, mesin pengering, hingga mesin sablon saling sahut-menyahut meramaikan suasana. Kejadian serupa adamdi hampir setiap rumah.
Tak hanya itu, puluhan pekerja pun lalu lalang membuat suasana selalu nampak sangat sibuk. Ada yang sibuk mengobras baju, menyablon kaos dengan berbagai warna dan gambar, menjemur kaos hingga para tenaga borongan yang tengah sibuk melipat kaos dan baju yang telah selesai diproses.
Usaha kecil menengah (UKM) dan Industri Rumah Tangga (IRT) memang menjadi sentra andalan mata pencaharian masyarakat Desa Tritunggal. Tiga dusun yang ada di Desa Tritunggal yaitu Dusun Tesan, Dusun Grogol, dan Dusun Beton, memiliki khas UKM yang berbeda. Prioritas UKM dan IRT tersebut dalam rangka pengembangan usaha perekonomian pedesaan dan optimalisasi tenaga kerja.
Dusun Tesan yang dipimpin oleh Kepala Dusun Kuswadi mayoritas merupakan pengusaha potong ayam. Desa Grogol pimpinan Sutiono sendiri merupakan sentra usaha besi tua. Terakhir sentra industri konveksi di Dusun Beton yang dipimpin oleh Hilmi. Desa yang juga tempat tinggal Kades Tritunggal Yacub Sibi ini terbilang yang paling menonjol. Ribuan hasil konveksi pesanan dari berbagai daerah di Indonesia dihasilkan oleh tangan-tangan terampil Desa Tritunggal.
 “Akses pemasaran kita rata-rata sudah mencapai se-antero Indonesia. Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Sumatera sampai Irian Jaya. Seragam, topi, Job kaos untuk pilgub, semuanya rata-rata hampir se-Indonesia ini dikuasai oleh industri kaos di Tritunggal ini,” ungkap Yacub Sibi.
Industri kaos dan sablon Desa Tritunggal ini merangkul sedikitnya 143 home industri dan terbagi dalam tiga kluster. Kluster tersebut dibagi berdasarkan banyaknya pekerja dalam industri tersebut. Kluster besar berkapasitaskan pekerja sebanyak 20 – 30 orang, kluster menengah 10-15 orang, sedangkan kluster kecil hanya sekitar 5–10 orang.
Sebagaimana diungkapkan oleh Yacub saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu, pria yang juga Ketua Lembaga Takmir Masjid Indonesia  (LTMI) Desa Tritunggal ini menjelaskan bahwa usaha yang memiliki omzet ratusan juta tersebut sedikitnya bisa menghasilkan laba lima juta perbulannya. Nilai itu relatif kecil dan akan berlipat di masa-masa pemilu. Baik pemilukada, pileg hingga pilpres.
Besarnya peluang usaha yang telah digeluti oleh Desa Trirunggal ini pun memunculkan inisiatif untuk menciptakan trademark atas konveksi hasil produksi masyarakat Desa Tritunggal. Keinginan tersebut pun ditindaklanjuti oleh Yacub Sibi dengan intens mengadakan pelatihan untuk semakin meningkatkan kualitas kaos buatan masyarakat Desa Tritunggal.
Seperti Dagadu atau Jogger Bali. Kedepan kita ingin seperti itu,” terang Suami dari Nurhayati ini.
Hindari Persaingan tak sehat
Dikisahkan Yacub Sibi, perjalanan industri konveksi di Desa Tritunggal berawal pada kisaran tahun 1985. Diawali oleh satu dua home industri, lambat laun industri tersebut banyak ditiru dan akhirnya berkembang menjadi usaha berskala besar, yakni sebagai sentra industri.
Karena industri kaos di Tritunggal itu sifatnya otodidak, sehingga bisa ditiru oleh tetangga-tetangganya. Sehingga saat ini menjadi sebuah home  industri yang seperti ini dan akhirnya sentra industri,” ujarnya
Perkembangan demi perkembangan berbuah manis dengan semakin meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Namun banyaknya pelaku usaha yang merintis industri dibidang konveksi tak pelak melahirkan sistem persaingan diantara pengrajin. Mulai dari persaingan pelanggan, pekerja, pemasaran hingga sistem harga.
Mengantisipasi hal tersebut pemerintah desa dalam hal ini merasa perlu membentuk suatu lembaga yang bisa menaungi para pelaku dalam sebuah wadah yang sama dan menghindari persaingan tidak sehat yang berujung pada upaya saling menjatuhkan. Karena pada akhirnya hal tersebut akan memberikan kerugian di pihak pengrajin sendiri.
APIK (Asosiasi Pengrajin Industri Konveksi Desa Tritunggal) namanya, sebuah lembaga yang mempersatukan para pengrajin konveksi di Desa Tritunggal. Keberadaan APIK dalam rangka untuk meningkatkan kebersamaan dan menekan agar jangan sampai terjadi persaingan-persaingan yang tidak sehat. Sekaligus melalui APIK akan diatur sistem harga yang menjadi kesepakatan bersama.
Karena itu nama Desa Tritunggal sebagai desa sentra industri konveksi sudah sangat tidak asing bagi peminat seragam, baik itu seragam sekolah (formal) maupun seragam non formal. Bahkan Bupati Lamongan Fadeli pun dengan bangga menjuluki Desa Tritunggal sebagai ‘Desa Wisata Konveksi’.
Dalam upaya untuk lebih meningkatkan kapasitas dan pelayanan produksi, maka di Desa Tritunggal juga didirikan ruang pamer (show room) desa wisata konveksi Tritunggal Babat yang juga telah diresmikan Bupati Lamongan Fadeli, pada tanggal 10 Desember 2012. Gedung ini sengaja dibangun di Desa Tritunggal karena selama ini Tritunggal dikenal sebagai pusat konveksi di Lamongan, tepatnya di jalan raya Surabaya - Babat.
“Selama ini dukungan dari Pemkab Lamongan sangat besar. Tak hanya fasilitas seperti gedung pamer, dalam hal permodalan kami juga dibantu dengan adanya sertifikasi untuk pinjaman lunak. Semoga kedepan dari Provinsi ini mungkin kita diberikan bantuan tambahan mesin,” ujar Yacub setengah berharap lantas tertawa lepas. (hay,uul,eru,yus)
Ogah Jadi Pegawai Negeri

            Jika banyak orang yang berlomba-lomba ingin menjadi pegawai negeri (PNS), fenomena ini tidak akan ditemukan di Desa Tritunggal, atau lebih tepatnya di Dusun Beton. Bukan tanpa sebab, keberhasilan masyarakat Dusun Beton dalam usaha konveksi dan sablon, membuat mereka tidak tertarik untuk menjadi PNS.
            “Kalau kata Pak Kades, sudah bukan maqom-nya, dan memang tidak ada yang mau,” ujar Aris, salah satu pengusaha konveksi di Dusun Beton berkelakar. “Jadi kades saja gak ada yang mau,” sahut Yacub.
            Di Dusun Beton, tercatat sekitar 143 home industry yang bergerak dalam bidang usaha konveksi kaos dan sablon. Dari jumlah tersebut digolongkan menjadi tiga klaster, klaster kecil, menengah, dan besar.
Salah satunya Aris, pemilik usaha konveksi Star Nine ini baru memulai usahanya sekitar 10 tahun. Mengaku belajar konveksi secara otodidak, kini pria bernama lengkap Aris Fianto ini telah mendulang sukses besar.
            Di tempat usahanya, dia telah memiliki 40 karyawan yang bekerja di gudang, dan 10 karyawan freelance. Dalam sehari, tempat usaha milik Aris bisa memproduksi 2000-4000 buah kaos. Untuk pemasaran, dirinya sudah tidak menemukan kesulitan. Jika di awal usahanya dia ‘menjemput bola’, kini hanya by phone, orderan sudah mengalir deras kepadanya. Berbagai wilayah di Indonesia pun sudah dirambahnya. Sebut saja Makassar, Jayapura, Atambua, dan banyak daerah lagi di dalam atau di luar Pulau Jawa. Omset puluhan juta pun berhasil dia raih.
Tidak jauh berbeda dengan Star Nine, CV. Yudeva, salah satu usaha konveksi kluster besar di Tritunggal ini mengaku bisa meraih keuntungan kotor hingga Rp300 juta. Bahkan, pendapatan ini bisa melonjak jika musim pemilihan legislatif atau kepala daerah.
            Nur Faizal, pemilik CV. Yudeva mengungkapkan, dengan 30 karyawannya, kini kaos produksinya telah merambah ke berbagai daerah di dalam dan di luar Jawa, di antaranya Makassar, Manado, Kalimantan, Ambon, dan Flores. Harga yang dipatok pun bervariatif, mulai Rp 6.000 hingga Rp 50.000, tergantung model dan kainnya. Jika pesanan sedang banyak, maka Nur Faizal menggunakan tenaga dari desa tetangga.
            Ternyata, kesuksesan tidak hanya milik usaha konveksi kluster besar saja. Salah satu pemilik usaha konveksi kluster sedang, Nazar mengungkapkan bahwa hingga kini pihaknya telah banyak melayani pesanan dari luar Jawa, khususnya Sulawesi dan Kalimantan. Dengan empat orang karyawannya, dalam sehari Nazar bisa memproduksi 200-300 buah kaos.

Diprioritaskan Bank
            Kesulitan modal yang banyak membelit pengusaha kecil seringkali menjadi batu sandungan pengusaha untuk berkembang. Namun, hal ini tidak dialami oleh pengusaha di Desa Tritunggal. Potensi Desa Tritunggal yang dikembangkan menjadi kawasan sentra industri konveksi yang prospektif membuat bank memprioritaskan pengusaha di desa ini, hal ini diungkapkan Nazar.
            “Kalau modal, tidak ada masalah. Karena Tritunggal itu selalu diprioritaskan oleh bank,” ujar Nazar.
            Hal ini lah yang mungkin menjadi sebab menjamurnya usaha konveksi di desa yang terletak di tepi jalan raya Surabaya-Babat ini. Meski begitu, iklim persaingan usaha di desa ini terbilang sehat. Kemunculan APIK lah yang mengendalikan laju persaingan antar usaha di desa ini.  
Keberadaan APIK di Tritunggal juga banyak disyukuri oleh Nur Faizal, pemilik CV. Yudeva. Dengan adanya APIK, persaingan di antara banyaknya pemilik usaha konveksi menjadi sehat dan lebih terkoordinasi.
            “Harga pun juga lebih terjaga, tidak ada yang banting harga untuk menggaet pelanggan. Di sini memang banyak UKM, tapi sudah punya pangsa pasar sendiri-sendiri,” ujar istri dari Teguh Wahyudi ini. (uul,hay,eru,yus)


Biodata Kades:

Nama                           : Yacub Sibi
TTL                             : Lamongan, 21 April 1969
Jabatan                                    : Kades Tritunggal, Babat, Lamongan
Nama istri                    : Nur Hayati
Nama anak                  : 1. Alisa Tri Musyafa’ah
                                      2. Inayah
                                      3. Utari
Pendidikan Terakhir    : S1 Hukum Unisda Lamongan

Harapkan Tritunggal Punya Brand
           
            Berbincang tentang Desa Tritunggal, takkan bisa lepas dari sosok satu ini. Dialah Yacub Sibi, Sang Kepala Desa yang telah memimpin Desa Tritunggal selama empat tahun belakangan ini. Mengabdi di desa yang menjadi sentra industri bukanlah tugas yang mudah. Namun Yacub mau mengemban tugas tersebut demi kemajuan warga desanya. Ditemui usai shalat Jum’at di kediamannya, bapak tiga anak ini menceritakan perihal industri konveksi yang menjadi potensi unggulan di desanya.
            Bahkan, untuk melihat lebih dekat usaha yang digeluti mayoritas warganya, dengan sigap dia juga mengantar wartawan Derap Desa (DD) berkeliling ke rumah-rumah warganya. Di tengah perbincangan dia sempat mengatakan harapannya ke depan untuk membuat brand desanya.
            “Kalau selama ini produksi masih di lembaga pendidikan dan pemerintahan, ke depan rencananya Tritunggal punya merk sendiri yang dipatenkan ke pasar bebas. Ya contohnya seperti Joger di Bali, Dagadu di Yogyakarta,” terang ayah Alisa Tri Musyafa’ah ini.
            Terkait hal itu, kini pihaknya masih melakukan persiapan, yaitu dengan mengadakan pelatihan-pelatihan yang bekerja sama dengan BLK (Balai Latihan Kerja) kabupaten. 
            Sebelum jadi kepala desa, mantan Ketua GP Ansor Kecamatan Babat ini juga menekuni usaha konveksi di rumahnya sejak tahun 1989, namun karena kesibukan sebagai kepala desa yang menggunung dia menghentikan sementara usaha tersebut.
Menjadi orang nomor satu di Tritunggal, diakui pria yang juga menjadi Badan Advokasi GP Ansor Kab. Lamongan ini ada suka dan dukanya. Di antaranya adalah kebanggaan dan kebahagiannya karena desa yang dipimpinnya telah dicanangkan Pemerintah Kabupaten Lamongan menjadi desa wisata belanja desa.
Namun, di sisi lain Yacub merasa malu ketika ada pejabat baik legislatif dan eksekutif yang berkunjung ke desanya, mengingat kondisi balai desa yang masih semrawut serta infrastruktur jalan dan selokan yang rusak.
           
37 tahun Buyut Jadi Kades
            Di Tritunggal, bisa dikatakan jarang ada yang mau menjabat sebagai kepala desa. Hal ini dikarenakan mereka lebih memilih fokus kepada bisnis dan usaha konveksi, ataupun bisnis lainnya.
            Akan tetapi, pimpinan tetaplah dibutuhkan dalam suatu masyarakat. Dengan berbekal keinginan mengabdi kepada tanah kelahiran dan warga desanya, Yacub memberanikan diri macung menjadi kepala desa. Usut punya usut, ternyata dirinya mempunyai buyut yang pernah menjadi kepala desa.
            “Buyut saya dulu pernah jadi kades selama 37 tahun. Tapi juga bukan karena itu saya menjadi kades, hanya kebetulan saja, ” ungkap pria yang berulang tahun tiap 21 April ini. (uul,hay,eru,yus)