Sabtu, 28 September 2013

HATI SANG AYAH

Coba sejenak kau lihat raut keletihan di wajah ayahmu. lihatlah helai rambut yang memutih di kepalanya dan kau akan melihat betapa ayahmu telah bekerja membanting tulang dan menguras keringat demi membesarkan, merawat, menyayangi dan menjagamu. dan dibalik ketidaknyamananmu, ada sebuah cinta yang selalu menjadi pelindungmu. 
Coba kau katakan sekali saja, ”Aku sayang sama ayah” , maka kau akan melihat guratan senyum kebahagiaan dari raut bibirnya yang mungkin tidak pernah kau lihat sebelumnya. Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya, akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya. lalu bagaimana dengan ayah? 
Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata ayah-lah yang mengingatkan ibu untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang ayah bekerja dan dengan wajah lelah ayah selalu menanyakan pada ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil. ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. dan setelah ayah mengganggapmu bisa, ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu… kemudian ibu bilang : “ jangan dulu ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya ” , ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. tapi sadarkah kamu? bahwa ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya pasti bisa.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, ibu menatapmu iba. tetapi ayah akan mengatakan dengan tegas : “boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang” tahukah kamu, ayah melakukan itu karena ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. berbeda dengan ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. ketahuilah, saat itu ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja. kamu mulai menuntut pada ayah untuk dapat izin keluar malam, dan ayah bersikap tegas dan mengatakan: “ tidak boleh !”. tahukah kamu, bahwa ayah melakukan itu untuk menjagamu ? karena bagi ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga. setelah itu kamu marah pada ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah ibu.
Tahukah kamu, bahwa saat itu ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia harus menjagamu?
Ketika seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, ayah akan memasang wajah paling cool sedunia. ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. sadarkah kamu, kalau hati ayah merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. maka yang dilakukan ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir. dan setelah perasaan khawatir itu berlarut-larut. ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati ayah akan mengeras dan ayah memarahimu. sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti ayah akan segera datang? “bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan ayah.”
Setelah lulus sma, ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang dokter atau insinyur. ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan ayah itu semata-mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti. tapi toh ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan ayah.
Ketika kamu menjadi gadis dewasa. dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. ayah harus melepasmu di bandara. tahukah kamu bahwa badan ayah terasa kaku untuk memelukmu ? ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. padahal ayah ingin sekali menangis seperti ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. ayah melakukan itu semua agar kamu kuat…. kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah ayah. ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan. kata-kata yang keluar dari mulut ayah adalah : “Tidak…. Tidak bis !” padahal dalam batin ayah, ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti ayah belikan untukmu”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang.
Sampai saat seorang teman lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada ayah untuk mengambilmu darinya. ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin.. karena ayah tahu. bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya…. saat ayah melihatmu duduk di panggung pelaminan bersama seseorang lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, ayah pun tersenyum bahagia. apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis ? ayah menangis karena ayah sangat berbahagia, kemudian ayah berdoa.
Dalam lirih doanya kepada tuhan, ayah berkata : “ Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik…. putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik…. bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. dengan rambut yang telah dan semakin memutih. dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. ayah telah menyelesaikan tugasnya. “Ayah, ayah, bapak kita… adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis… dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. . dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa ‘kamu bisa’ dalam segala hal.. semoga semua ayah di dunia selalu berbahagia.

Jumat, 27 September 2013

MEMULAI DARI HAL KECIL

Setiap orang pasti memiliki mimpi atas hidupnya. Ada yang ingin menjadi presiden, pelaut, guru, dan masih banyak lagi. Yang jelas semua orang ingin mencapai kesuksesan dengan segala macam usaha yang dilakukan. Ada pepatah kuno yang mengatakan apa yang kita nikmati saat ini adalah buah dari usha kita dimasa yang lalu. So, jangan berharap mendulang kesuksesan jika enggan bekerja keras untuk mimpi kita.
Namun kerapkali kita atau sebagian besar orang menganggap jika ingin menjadi orang besar maka lakukanlah hal yang besar. Seperti itukah?
Janganlah memperumit hidup dengan segala standard dan mimpi yang jauh dari kemampuan. Karena bisa jadi hal kecil yang kita lakukan justru memiliki arti besar yang tidak kita sangkakan. Bukankah besar kecilnya sesuatu tergantung pada pembandingnya?
Sebuah cerita menarik tentang seorang anak pantai yang tengah terlihat sibuk memindahkan bintang laut yang terbawa air pasang. Bintang laut tersebut terdampar dengan jumlah ratusan di pantai, dan tak bisa kembali ke laut sampai air pasang berikutnya.
Sebentar-sebentar, anak tersebut berlari membawa seekor bintang laut. Dengan tangannya yang mungil, ia berhati-hati membawa bintang laut menuju ke air, kemudian memasukkannya ke sana. Usaha ini tentunya tidak mudah. Di saat air sedang surut, pantai menjadi hamparan pasir yang jaraknya bisa sangat luas dan jauh dari air.
Seorang kakek yang tadinya duduk diam dekat atas bukit penasaran. Apa sih yang dilakukan anak pantai tersebut? Akhirnya, ia turun dari bukit dan mendatangi anak tersebut.
"Hei, kamu. Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya kakek
"Aku sedang memindahkan bintang laut ini ke air, kek. Kasihan mereka terdampar," kata anak kecil tersebut polos.
Si kakek menggelengkan kepala. Kemudian terkekeh melihat usaha si anak tersebut. "Ah, kau. Sampai kapan kau akan memindahkan bintang laut tersebut. Jumlahnya sangat banyak, tak mungkin kau bisa menyelamatkan semuanya."
Si anak itu kemudian menjawab, "Kakek, mungkin aku tidak bisa menyelamatkan semua bintang laut itu. Tetapi dia, yang ada di tanganku, sedang berusaha kuselamatkan. Dan dia pasti selamat," katanya tetap bersemangat. Ia kemudian meneruskan usahanya. Sementara si kakek yang tadinya meremehkan usaha si anak kecil itu, akhirnya ikut membantu.

The power of future is a influence, not authorithy -noname

Kerapkali  orang berpikir, haruslah melakukan pekerjaan yang besar untuk mengubah dunia, untuk menciptakan sesuatu bagi dunia. Jika ternyata pekerjaan tersebut terlalu besar, akhirnya kebanyakan orang mundur, dan memilih tak berbuat apa-apa. Berpikir terlebih dahulu kalau usahanya bakal sia-sia, sekian banyak orang memilih acuh pada problem yang terjadi di sekitar kita.
Berbeda dengan kebanyakan orang, si anak pantai berpikir simple. Mungkin memang ia tak bisa mengubah dunia dengan melakukan pekerjaan besar. Tetapi, dengan kemampuan dan tenaga yang ia punya, ia bisa mengubah dunia dengan melakukan hal-hal kecil. Memindahkan bintang laut adalah contoh kecil, demikian juga dengan membuang sampah di tempatnya, mengantri, berbagi dengan sesama, memakai sit belt di dalam kendaraan, mematuhi rambu lalu lintas, tidak memakai ponsel saat berkendara, dan hal kecil lainnya, yang ternyata apabila dilakukan oleh semua orang, dapat mengubah dunia.
Tindakan kecil yang sederhana dapat membuat perbedaan besar kepada seseorang yang sedang membutuhkan. Kita sering mendambakan untuk melakukan sesuatu yang besar, namun sering kali kita lupa bahwa yang besar itu sering dimulai dengan sesuatu yang kecil. Mulailah berbuat kebajikan pada hal-hal kecil, maka engkau akan diberkati dalam hal-hal besar. Sadarilah pengaruh besarnya, sekecil apapun yang Anda lakukan, pada akhirnya hal tersebut akan mempengaruhi hidup Anda.

“Karena melakukan hal kecil yang sederhana itu lebih penting daripada tak melakukan apa-apa” ~ bee_is_cute

JIKA TANPAMU


Kau terus bertanya alasan dari kemarahan dan sinisku, meski tak satupun penjelasan kuberikan untukmu. Entahlah mungkin hatiku telah mati rasa atau kau yang tak pandai membaca celahnya. Kini, setelah kupahami semuanya kita seolah benar-benar tak bisa lagi berpikir bersama. Kembali atau pergilah, meski sejujurnya aku tak sekuat itu setelah kusadari . . .
Suatu pagi yang seharusnya indah,
Kenyataannya pagi ini memang indah. Matahari bersinar lamat, kendati jam di pergelangan kiriku telah menunjuk angka 7. Jajaran pohon pinus di sekelilingku membuatnya terhalang dariku. Udara pagi pun masih terasa sejuk dari tempat ini dan seharusnya mendamaikan jiwaku.
Mungkin aku terlelap sejenak. Hingga sebuah suara membuatku terjaga sekalipun tak lantas membuatku terperanjat. Suara siapa? Entahlah. Itu juga yang sedang kupikirkan. Satu dari orang-orang yang kini mengisi beberapa sudut taman, aku rasa tidak mungkin. Kami bahkan tak saling mengenal.
Sudahlah! Otakku menolak mencerna. Mungkin karena lelah.
***
“Pagi, ada kabar apa hari ini?” tanyaku masih dengan tas dan beberapa map yang kugamit. Mungkin karena aku tak menyebutkan nama, tiga sosok hidup didalam ruangan yang sama denganku tak bergeming. Mereka sibuk, atau pura-pura sibuk.
Kuletakkan tas dan map yang tadi kubawa dan duduk disamping perempuan berkacamata yang tengah sibuk dengan komik naruto favoritnya. Dewi, namanya. Kusenggol lengannya dan memberi isyarat menunjuk kedua rekanku yang lain. yang ditanya hanya mengernyitkan dahi dan menggeleng enggan.
“Waktu aku datang udah kayak gitu,” bisiknya seolah tak ingin keduanya mendengar yang kami bicarakan.
Meski nampak sibuk, tapi aku tahu keduanya tak sedang mengerjakan apapun. Imran dan Hasymi. Laptop Imran hanya menunjukkan beberapa gambar yang dilihat acak, tak seperti sedang dipilih. Hasymi lebih parah lagi laptopnya menyala tapi hanya terlihat foto avenged Savenfold yang menjadi desktop backgroundnya.
“Imran, aku rasa foto yang kemarin rencananya kita pasang di banner kurang pas deh, kenapa gak pakai foto kegiatan kita di Bromo dulu. Ohya Hasy, kamu udah ke percetakan? Undangan harus sudah kelar awal minggu depan. Kalau tidak pimpinan kita itu bisa berceramah seharian,” cerocosku lantas mengambil alih laptop yang dipegang Imran tanpa permisi. Keduanya bergeming sebatas saling pandang.
Belum sempat mereka merespon pertanyaanku, seorang lelaki jangkung berpakaian batik coklat melepas sepatu dan melemparnya serampangan di depan pintu dan sibuk dengan telepon genggamnya. Aku yang tadinya berpikir membuat kedua temanku ini bicara malah ikut-ikutan bergeming.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanyanya pada kami berempat. Aku melirik sepatunya yang tergeletak tak beraturan hingga masuk kedalam ruangan yang sengaja kami pasang karpet tanpa kursi supaya lebih santai. Harusnya dia sadar dengan tulisan “Alas Kaki dilepas” yang  kami tempel di pintu.
“Oh itu. Ya ya maaf,” dia sadar dengan yang kumaksud lantas merapikan sepatunya.
“Ehm . . iya! Soal foto aku juga emang udah rencana mau merubahnya. Foto itu terlalu gelap dan pastinya jelek begitu dicetak. Tadi aku udah sempat kumpulin beberapa foto, kamu bisa pilih yang menurut kamu pas entar biar aku sampaikan ke Pras untuk segera di desain,” ujar Imran mengalihkan perhatianku ke arahnya.
“Undangannya udah ada di percetakan, rencananya sore ini aku ambil. Kamu tinggal siapin list undangannya entar biar aku dan Dewi yang handle. Ya kan Dew?,”
Dewi mengacungkan jempol tanda sepakat.
“Darimana saja? Sudah dua hari ini gak ke basecamp?” tanya Maulana yang telah duduk disalah satu sudut ruangan didekat map dan tas yang tadinya kuletakkan.
“Aku bisa menghandle semua pekerjaanmu jika memang kamu terlalu sibuk. Sam mungkin memang lebih butuh bantuanmu ketimbang kami.”
“Sebentar, maksud kamu apa? Apa selama ini pekerjaanku disini terbengkalai?” jawabku dengan pertanyaan.
“Memang belum dan aku tidak akan mengambil resiko sampai semuanya kacau. Ini menyangkut acara tahunan kampus dan aku tidak mau semua berantakan,” balas Maulana nyaris tanpa ekspresi. Tangannya sibuk membolak-balik map milikku.
“Seperti yang kamu bilang ini acara kampus, menyangkut kepentingan banyak orang. Aku tidak mau egois, kuanggap kau bercanda, kan kuabaikan bahwa aku tersinggung dengan ucapanmu. Lain kali berpikirlah dua kali sebelum berbicara seperti itu,” ucapku tanpa menoleh ke arahnya. Jika boleh jujur rasanya ingin pergi saja meninggalkan ruangan yang tiba-tiba terasa sangat pengap ini.
Maulana beranjak dari tempatnya duduk berjalan mendekatiku, Imran dan Hasymi.
“Aku memberimu kesempatan untuk tidak memperumit keadaan. Tidak semua hal bisa dikompromikan. Aku harap kau mengerti, itu saja,” ucapnya sembari menepuk punggungku dan berjalan meninggalkan kami.
Sudah dua bulan ini aku memang membagi tenaga untuk dua kegiatan bisa dibilang cukup menyita waktu. Aku tim pelaksana dari Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang digelar setiap tahun di kampusku. Kegiatan ini menjadi sangat vital karena akan dihadiri oleh berbagai utusan dari universitas dan institut dari seluruh Indonesia. Juga beberapa utusan universitasluar negeri yang melakukan studi banding. Singkat kata semua harus berjalan lancar jika tidak, nama baik kampus ini yang menjadi taruhannya.
Di jurusan, aku dipercaya sebagai asisten editor jurnal fakultas. Sam, merupakan salah seorang senior yang juga ketua HMJ di jurusanku. Dari dialah aku mendapatkan kepercayaan untuk mendampingi penulisan tersebut. Entah dengan alasan apa, yang jelas Sam dan Maulana adalah musuh bebuyutan. Ya, meskipun mereka tidak pernah beradu tanding seperti dalam film-film aksi yang pernah kulihat. Mereka tetap saling menyapa jika kebetulan berpapasan di jalan. Sekedar untuk basa-basi kukira.
Maulana teman seangkatanku di beberapa kegiatan ekstra kampus. Teman baik jika boleh dikatakan begitu walaupun kami nyaris seperti anjing dan kucing yang tak pernah akur. Maulana anak dari salah seorang pejabat di kantor rektorat dan hal itu membuatnya sedikit banyak dikenal oleh beberapa orang penting di kampus ini.
Proyek LKTIN ini pun salah satunya karena kedekatan itu. Maulana diberikan wewenang untuk menggandeng beberapa lembaga intra dan ekstra kampus untuk pelaksanaannya. Aku menjadi satu dari orang yang dipilih untuk membantunya.
Yang jadi pertanyaan sekarang, aku termasuk yang paling paham dengan sikap dan tabiat Maulana. Marah, mengomel, intruksi, setelah itu tertawa konyol tanpa berdosa menjadi lagu hariannya. Tapi kali ini aku merasa dia jauh lebih menjengkelkan daripada yang pernah aku kompromikan.
“Kenapa begitu sulit membuatmu mengerti?!” umpat Maulana didepan pintu dan pergi dengan geram setelah menatap tajam ke arahku.
Aku yang tadinya beranjak untuk mengejar Maulana justru terduduk lemas hingga menimpa kaki Imran yang tadinya berselonjor kaki. Imran seperti mendapatiku hendak roboh menopang punggung dengan tangan kanannya. Tangannya yang lain menggenggam tanganku, memastikan aku duduk dalam posisi yang benar.
“Jangan bicara apa-apa?” potongku ketika Imran dan Hasymi hendak membuka mulut
“Mungkin dia benar, aku terlalu lelah dengan banyak kegiatan. Belum lagi, skripsiku yang sudah diujung tanduk. Rasanya aku memang butuh istirahat,” ucapku kemudian
“Maulana memang sedikit keterlaluan, tadi juga dia sempat marah-marah karena dua hari ini kamu tidak disini. Aku udah bilang bahwa pekerjaanmu tetap terkonsep dengan baik. Jadi aku harap jangan diambil hati ya. Kita semua kan tahu seperti apa dia, sebentar lagi juga dia baik,” ujar Hasymi.
“Kamu terlalu banyak bicara. Lain kali jangan pernah lagi berusaha membelaku di depan Maulana. Kesalahan kecil yang kalian lakukan akan jadi kiamat bagi Maulana jika itu aku,” aku beranjak menggamit tas dan map ku kembali.
“Aku balik dulu, kerjakan saja apa yang menjadi tugas kalian. Aku juga akan menyelesaikan tugasku,” lantas aku pergi dari ruangan itu mengacuhkan ketiga rekanku yang mungkin terpaku di tempatnya.
***
Aku baru sadar, aku terjaga dari tidur singkatku di bangku taman ini bukan oleh suara siapapun melainkan suaraku sendiri. Nadya, nama gadis bermata api itulah yang pertama kali muncul dari mulutku pagi ini dan seolah menyentakku.
Dimana dia sekarang? Bagaimana keadaannya? Sedang sibuk apa dia? Bersama siapa? Huuh…! Pertanyaan terakhir terasa mencekik. Aku menelan ludah melewati kerongkongan yang seolah menjadi semakin sempit ketika menuju dadaku.
“Maulana..!” suara serak yang sangat kukenal, Imran. Dia sudah ada dihadapanku ketika aku hendak menoleh.
“Kamu itu udah tuli, pikun atau bagaimana. Hanphone mana?” cercanya dengan nafas tersengal.
Dengan lugu kuulurkan handphone yang kuletakkan disampingku padanya.
“Lihat!” ucapnya menunjukkan layar hanphoneku.
Hanya nampak layar handphone bergambar logo kampus. Tapi sedetik kemudian aku tersadar saat melongok jam yang terpampang. Jam menunjukkan pukul 07.15. terperanjat dan segera berlari menuju motor yang terparkir di tepi taman. Imran menguntit di belakangku. Aku baru sadar ini hari wisudaku, jam 07.00 itu artinya aku terlambat 15 menit.
Mungkin benar, aturan ada untuk dilanggar. Nyatanya aku tetap bisa masuk ke ruang wisuda dengan sedikit lobying. Atau mungkin karena orang tuaku. Biarlah!
Aku menyisir barisan kedua dari barisan tempatku duduk, dari ujung depan hingga buncitan terakhir. Berharap menemukan sesuatu. Tapi nihil. Tak ada satupun wajah yang kucari.
***
Pagi sekali, terlalu pagi untuk memulai kuliah, terlalu pagi untuk juga memasuki basecamp kegiatan ekstrakampus yang kumuhnya tingkat langit ini. kukatakan kumuh bukan karena kotor, tapi justru karena banyaknya barang dengan segala fungsi dan coraknya berjubel menjadi satu. Ya, meskipun semua tertat dengan rapi. Tapi jangan coba mencari barang jika bukan kau sendiri yang meletakkannya. Dijamin takkan bisa ditemukan.
Aku berputar memandangi sekeliling tempat yang telah menjadi keseharianku selama berada di kampus. Seperti rumah kedua. Tiap sudutnya menyimpan kenangan, tertawa kecil ketika seberkas memori konyol melintas di otakku dan seketika menitikkan air mata tanpa sebab.
“Nadya, kenapa hanya berdiri? Kamu kelihatan asing dengan tempat ini,” sapa Imran yang baru saja selesai mandi. Celana kolor pendek dan kaos oblong membuat tubuh tambunnya nampak seperti boneka teddy bear.
Lucu, tapi aku tidak tertawa. Aku hanya tersenyum lantas membuka tas, menyodorkan beberapa map dan amplop coklat padanya. Dia menerimanya.
“Sejauh mana sekarang perkembangan acara kalian?” tanyaku kemudian sambil mengambil sebuah modul kuliah yang kuyakini milik Maulana. Aku tahu itu karena ada tanda tangan di halaman depannya.
“Acara kalian? Sejak kapan ada kata kalian, bukannya ini acara kita?” jawabnya dengan sedikit sinis kukira
“Sory, aku salah pakai istilah ya. Ya . . . maksudku LKTIN” kilahku
“Kamu bertanya seolah kamu tidak ikut mengerjakannya, seperti yang kamu tahu persiapan sudah bisa dikatakan finishing, Cuma tinggal memastikan kesiapan pengisi acara inti, rundown acara darimu sudah dibawa ke rektorat, tinggal menyesuaikan dengan jadwal para penggede aja!” Imran bicara tanpa menghentikan aktifitasnya, ganti baju di bilik ruangan lain di samping tempatku berdiri sejak tadi. Hanya terpisah oleh selembar kayu triplek setinggi 2 meter. Rasanya seperti berbicara dengan angin.
Beberapa waktu kemudian kudengar hp Imran yang tergeletak di dekatku berdiri, berdering. Kulihat nama Maulana yang muncul. Aku memanggil Imran agar mengangkat hp miliknya. Belum sempat diangkat si penelepon sudah muncul dari pintu depan. Raut mukanya nampak lusuh. Mungkin lelah.
“Eh, Nadya. Apa kabar?” sapanya datar lantas membongkar beberapa file di laci meja komputer yang biasa kupakai.
“Baik!” dengan sedikit senyuman ramah.
“Imran, file proposal dan MoU yang . . .” aku menjulurkan beberapa map yang tadi kuserahkan pada Imran.
“Semuanya yang dibutuhkan untuk penanda tanganan kontrak kerja sudah ada di map itu. Tinggal dicek jika ada yang perlu disesuaikan aku bisa ganti secepatnya,” terangku tanpa menunggu Maulana bertanya.
Maulana meletakkan map-map itu diatas meja. Membolak-balik halaman tanpa dibaca kukira. Beberapa saat kemudian Imran muncul dengan sisir di tangan kanannya. Ransel abu-abu kesayangannya terselempang di bahu kanannya.
“Eh, aku ada kuliah jam kedua, mungkin jam 9an aku baru bisa nemenin kamu, Lan. Atau kalau buru-buru ajak Nadya aja!” lantas memasang sepatu didepan pintu.
“Imran, kita teman tapi aku gak suka kalau kamu gak profesional. Bukannya aku minta kamu yang siapkan semua surat-surat ini.” ucap Maulana dengan kemarahan yang dipendam kukira.
Imran menoleh ke arahku dengan penuh tanda tanya. Aku beri isyarat agar dia jangan menjawab.
“Maulana, aku minta maaf jika aku sudah bekerja dengan tidak profesional. Tapi tolong jangan limpahkan kemarahan atas kesalahanku pada Imran,”
“Apa aku terlihat marah? aku pimpinan disini, aku berhak kasih komando pada timku. Dan sebagai pimpinan aku juga berhak menetukan siapa yang kuijinkan bekerja bersamaku atau tidak. Aku harap kalian menghargai itu,” jawabnya lantas menyulut rokok.
Takkan kujelaskan bagaimana rasanya. Selain aku sendiri bingung. Siapa yang bisa tebak Maulana akan berbicara seperti itu. Tapi aku cukup pandai menangkap maksudnya. Selama ini aku tetap bertahan dalam tim ini meskipun Maulana nyaris menganggapku seperti tiada
Kali ini mungkin sudah cukup. Semua persiapan telah kubereskan, selanjutnya biar mereka yang tuntaskan. Aku yakin mereka mampu. Tak perlu ada aku. Ya, tak perlu.
Aku pergi tanpa berpamitan pada Maulana, hanya segurat senyum untuk Imran yang terpaku di depan pintu dengan sepatu yang terpasang sebelah. Kutepuk punggungnya sebagai isyarat bahwa aku baik-baik saja. Mungkin juga bermakna selamat tinggal.
***
“Lan, seperti yang kamu bilang, kita teman. Apapun yang terjadi selamanya akan seperti itu. Tapi jujur, aku tidak suka caramu memperlakukan Nadya,” ucap Imran lemah, tapi tak mengurangi aura kekecewaan di dalamnya. Kemudian kembali memasang sepatunya yang ternyata baru terpasang sebelah ketika Nadya pergi.
“Aku juga tidak bersikap seperti itu. Aku juga muak dengan semua kekonyolan ini,”  kusandarkan kepalaku pada meja komputer yang sehari-hari dipakai Nadya. Pening.
“Lalu apa maksud semua ini? Lan ingat kita butuh dia,” nyaris hampir membentak.
“Aku juga ingin dia tetap ada disini. Bukan cuma untuk acara ini, tapi . . .” pening di kepalaku semakin berat. Rasanya aku harus istirahat. Kurebahkan tubuhku di karpet.
“Aku mungkin yang paling tahu siapa kamu, jika kamu mencintai Nadya harusnya pertahankan dia disisimu, Bukan malah menyingkirkan dia,” bisik Imran padaku.
“Ada Sam diantara kami. Cukup satu kali aku berurusan dengannya,”
Imran menghela nafas panjang. Seolah melepas sesuatu yang mengganjal. Beranjak pergi meninggalkan aku yag meringkuk di basecamp.
“Mungkin karena Nadya temanku, jadi aku yakin dia bukan Gladis yang meninggalkanmu demi Sam, atau siapapun perempuan yang pernah melukai hatimu” ucapnya sebelum menghilang dari pandanganku.
Langit-langit putih diatasku seperti hendak runtuh. Tulangku terasa tak bertenaga. Secepatnya kupaksa diriku terlelap. Benar, aku butuh istirahat.
***
Kupandang langit-langit gedung megah tempat wisuda ini. putih bersih, semburatnya perlahan nampak seperti langit. cahaya matahari yang menerobos dari celah jendela kaca sedikit menyilaukan. Tiba-tiba teringat kenangan setahun yang lalu, saat kami, aku, Nadya, Imran, Hasymi, Dewi dan beberapa teman memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan dengan berkemah. Bumi Perkemahan Cuban Rondo menjanjikan suasana yang cukup alami untuk mengusir penat.
Aku juga masih ingat, bagaimana aku membuat Nadya marah karena kejahilanku. Aku memasang cabe bubuk teramat banyak di makanannya dan itu membuatnya muntah seketika. Itu rencana Imran meski dia menyarankan untuk memasang garam. Tapi justru kuganti dengan cabai bubuk.
Warna merah dari caos sarden yang kami bawa sebagai bekal tentu saja menyamarkan warna bubuk cabainya. Malam harinya, sebagai hukuman aku terpaksa begadang menjaga Nadya yang tiba-tiba mengalami demam. Ringkih sekali gadis ini, pikirku.
Ukh . . . kenapa aku jadi ikut-ikutan mual. Keplaku semakin pening ketika berjalan mengikuti rombongan untuk merampungkan prosesi wisuda. Menerima ijasah dan sang rektor memindahkan benang toga yang nangkring di kepalaku. Berbagai wangi dari parfum yang berjubel di ruangan ini membuatku pun mual. Kutahan sepenuhnya karena tak mungkin aku muntah disini dalam kondisi seperti ini.
Kakiku semakin lemas ketika menunggu giliran MC memanggil namaku. Keringat dingin dan sakit di kepalaku makin tak tertahan. Hingga akupun terhuyung tepat di depan salah seorang dosen yang ditugaskan untuk mengatur barisan.
Aku sempat mendengar sebuah suara memanggilku. Terdengar keras, semakin lambat dan akhirnya hilang. Sempat aku melihat gadis bermata api itu, sebelum akhirnya semua menjadi gelap, lantas  aku tak melihat atau mendengar apapun.
***
Mungkin aku hanya takut, jika kau terlalu indah untuk kumiliki. Sehingga kuciptakan tameng untuk membentengi diriku darimu. Padahal, senyum perahu naga dan binar mata apimu itu yang selalu kurindukan. Kini, aku hanya bisa berharap kau bahagia dengan jalan yang kau pilih. Dan aku menjadi kuat meski tanpamu.
Hanya saja, jika waktu bisa diulang meski itu tidak mungkin. Satu hal yang aku ingin kau tahu, aku rasa aku mencintaimu. Aku tidak yakin apa besok akan tetap seperti itu, Seperti halnya aku tidak yakin apa aku masih bisa bertemu denganmu.

Rabu, 24 Juli 2013

Bahagia itu ternyata milikku . . .

Pagi itu . . .
My Beloved Nazriel,
Maaf . . . maaf untuk semua kekacauan yang telah terjadi.Jauh di lubuk hatiku aku hanya ingin melakukan yang menurutku terbaik, denganstandart yang kupunya. Tapi aku lupa bahwa kau pun punya standart yang juga kaupunya dan aku hampir-hampir tak mau tahu itu. saat aku mencoba untukmemperbaiki semuanya, aku telah kalah. Kalah untuk peperangan yang tak pernah kupahami.
Yang kita alami adalah kisah yang aneh. Dimanakah dimulaidan dimanakah akan berakhir?
Apa yang ditakdirkan untuk kita? Baik aku ataupun kaujuga tidak tahu.
Tapi aku ucapkan Selamat. Kau telah memiliki seseorangyang kau cintai dan kuharap juga mencintaimu, dengan lebih baik daripadaku.Meskipun untuk itu, aku harus merelakan kau menjauh dariku.
Semoga ada masa dimana kita akan dipertemukan dalamkeadaan yang jauh lebih baik lagi, tanpa luka di hati
Fahmi
 “Hey . .!!”
“Kenapadisembunyikan? Kau pikir aku tidak tahu kalau surat itu hampir tak terbaca lagitintanya karena tak terhitung lagi berapa kali air mata membasahinya, kendatikau selalu membuka dan seolah membacanya. Padahal kau pasti telah menghafalnyadiluar kepala,”
Aku mencoba untuktak memperdulikannya dan beralih memainkan beberapa file di laptop yangsejatinya tak bermasalah. Mas Candra memutar kursiku menghadapnya menatapkulekat, pandangannya terlihat lebih tajam dari yang pernah kutahu.
“Mas kenapa sih?”tanyaku dengan sedikit salah tingkah dan merapikan posisi dudukku.
“Cobalah untuklebih lunak pada hatimu. Kau pikir siapa yang sedang kau bohongi?”
Aku menutup telingaberharap omelannya ini tak membuat kepalaku semakin berdenyut. Seperti biasa,saat merasa cemas tubuhku akan gemetar dengan keringat dingin yang berkejaran.Tapi aku senang, karena selalu dengan cara ini, Mas Candra akan menghentikanceramahnya.
“Cukup Mas, kauakan membuat seisi otakku mencuat jika terus menceramahiku,”
“Aku baru akanberhenti menjadi sangat menjengkelkan bagimu jika kau pun berhenti menjadisangat menyebalkan. Mengakui cinta tidak akan membuatmu turun derajat putri ..”
“Kan udah ada MasCandra, yang jadi pacarku . . .” ucapku sedikit meledek sembari meninggalkanruangan. Aku tahu dia tengah mengeram jengkel. Huh! Lagi-lagi kepalaku pening.
Mas, maaf membuatmu terlibat dalam pilihan bodohku ini.Tapi, hanya ini pilihan logis yang bisa kujalani. Kelak kau akan tahu, cintaini tak seindah yang kita bayangkan kendati tidak seburuk yang aku takutkan!
***
Bak peri kahyangan,awan lembut itu terasa membalutku. Gumaman sang bayu laksana melodi darinirwana yang memberi keteduhan. Urat di tubuhku tercekat tatkala pasirbercampur air laut itu menyentuh kaki telanjangku.
“Yuhuu . . .pasirnya lembut banget, ih ada kerang,” aku heboh sendiri berlari di tengahpasir.
“Oyy . . sini mainpasir!” ajakku pada yang lain, sayang semua menggeleng enggan. Kecewa.
Aku lihat mata itu, mata yangdalam diam selalu mengawasiku. Ingin rasanya tersesat dan hilang dalampandangan itu, tanpa pernah ada jalan pulang. Karena pulang berarti pergi jauhtanpa ada jalan kembali.
“Kenapa?” tanya MasCandra menepuk punggungku. Aku menggeleng dan tersenyum sekenanya.
“Mau main pasir??Ayo aku temenin. Ehm . . bikin apa ya? Nah aku tahu, aku bikinin istana pasirya!” Mas Candra berbicara sendiri seolah aku mengiyakan semua yangditanyakannya.
 “Ya sudah . . kapan-kapan kita buat lagi. Masihada banyak waktu untuk bermain. Sekarang kita gabung dengan yang lain yuk!”ajaknya sembari membawaku pada rombongan yang tengah sibuk membakar ikan ketika istana pasir yang susah payah kubangundihempas ombak. Rata dan tanpa bekas.
“Hey . . udah mainnya??Kalian ini heboh sendiri, mainan pasir lagi kayak adek aku yang masih umur 7 tahun demen tuh main pasir, hehe” ledek salah seorang teman.
Lagi-lagi aku hanyatersenyum manyun. Buat apa mengelak tidak ada buruknya menjadi anak kecilketimbang menjadi dewasa dengan segala kebohongan yang kami buat sendiri.Mungkin dengan cara ini, aku bisa lupa bahwa aku tak pernah sepenuhnya jadidewasa.
“Ssshhtt . . . kokdiem aja, jelek ah manyun gitu!” bisik Mas Candra di telingaku. Kugamit lengannya dan bersandar di bahunya. Semua hanyut dalam keriangan yang coba kucicipi meski hambar.
***
Pagi ini harusnya menjadi pagi yang indah. Matahari berwarna emas dengan taburan kapas awan putih membuat teriknya terasa hangat. Di tepi pantai, pasir basah pun terasa hangat. Aku menjadi manusia pertama di pantai ini yang datang menyambut mentari pagi.
Tiiit . . tiit . .
Sebuah sms mengetuk ponselku.
Candra
Putri tidur . . tumben pagi-pagi udah gak ada di rumah, ngumpet dimana ya???
Aku tersenyum gelimeski kurasakan sendiri teramat kupaksakan.
Sampai hari ini, cuma kau yang tahu dimana aku selalu menghilang dari keramaian
Balasku kemudian. Kurebahkan tubuhku di atas pasir hangat itu. hangatnya terasa hingga tulangmeski tak sampai ke hatiku. Tetap beku. Terpejam, metatap jauh pada kekosonganyang sangat kusadari.
Tak berapa lama, sipengganggu itu pun datang. Aku tak beranjak ataupun bereaksi kendati menyadarikehadirannya. Hingga aku sadar dia mencoba mengambil amplop yang tadinyakugenggam.
“Jangan!” cegahku.
“Dari siapa?”kujawab dengan tarikan nafas panjang untuk membuang lelah yang tak kupahami dibagian mana.
Mas Candra merebutsurat itu dan membawanya menjauhiku. Aku mencoba mengejarnya tapi pening dikepalaku mencegahnya.
“Kau lihat! Inibuah dari kebohongan yang kau buat!” ucapnya dengan suara yang berat nyaris seperti hendak membentakku.
“Aku tidak merasa pernah membohongi siapapun. Aku hanya tidak mengatakan apa yang dia mauketahui,” balasku membela diri sembari memijat-mijat kepalakuu yang masih diderapening.
“Kau pikir ituberbeda . . .”
“Sama atau tidak,semuanya memang tidak pernah diawali. Jadi biarlah dia pergi dan menjalani hidupnya sendiri,”
Mas Candra menengok jam tangan jill co yang kuhadiahkan di hari ulang tahunnya sebulan yang lalu.Lantas menarik lenganku. Kucoba mengelak karena kutahu maksudnya. Tapi dengankondisiku sekarang, tubuhku terasa ringkih untuk sekedar melepas genggamannya.
“Mas . . kumohonberhenti mencoba menjadi pahlawan untukku . . aku gak butuh ini,” paksaku didalam mobil.
“Aku memang bukanpahlawan dan tidak akan pernah mencoba menjadi pahlawan. Tapi aku sudah bersumpah menjadi kakakmu di depan orang tuamu, seorang kakak tidak akan pernah rela melihat adiknya terjerumus dalam kebodohan yang dibuatnya sendiri.”
Aku hanya bisa menangis tersedu. Aku sadar dia hanya menginginkan aku mendapat apa yang bisamenjadi alasan kebahagiaanku. Dia, anak lelaki dari pekerja di kebun almarhumpapa, yang kemudian diberi tempat sebagai anak laki-laki di rumahku. Dan sejaksaat itu dia menjadi malaikat pelindung bagiku.
***
Puluhan nyawamemadati bandara terbesar di pulau jawa itu. kepalaku semakin tak tertahan namun terpaksa saja kuikuti Mas Candra yang menarik tanganku. Seperti ibu yang mendapati putrinya yang bandel. Hingga kakiku bagai tak lagi berurat, pun tak bertulang sekedar menopang tubuhku yang ringkih. Aku tersungkur dan menimpa Mas Candra, membuat kami berdua terjerembab ke lantai.
“Mas, cukup! Aku lelah,” selepas itu aku tak lagi melihat apapun.
***
“Candra, maafkan Om! Harusnya kau tahu lebih awal. Kau benar, rasa sakit yang dialaminya setiap kali merasa cemas memang bukan pusing biasa. Semua itu karena, Kanker! Sebagai dokter, Om hanya bisa menyarankan agar dia menjalani pengobatan sekecil apapun kemungkinannya untuk sembuh. Tapi Om kenal betul Nazriela, dia tidak akan mau menghabiskan sisa waktunya di ranjang rumah sakit. Buat dia bahagia di sisa hidupnya,”
Huuh . . . ucapan Om Hendro bagaikan badai yang tak henti-hentinya mendentum di telingaku tapi sakitnya menggema tepat di ulu hatiku. Dengan langkah gontai kumasuki kamar rumah sakit tempat Nazriel dirawat. Aku baru sadar tubuhnya sangat ringkih dibanding yang kusadari selama ini. Ceruk matanya terlihat jelas saat terpejam. Nafasnya, aku nyaris tak mendengarnya, kendati aku tahu peri kecilku ini masih bernyawa.
Kugenggam tangannya erat mendekap jantungku, berharap sakit di tempat itu berkurang meski justru semakin sakit. Ia terbangun. Apa aku mengganggunya?
“Riel . . .apa-apaan ini? Apa kau ingin membuat semua orang yang menyayangimu merasakan penyesalan seumur hidupnya? Membuat orang yang mencintaimu kehilangan haknya untuk . . .” suaraku terpotong oleh bekapan tangannya di mulutku.
“Aku bahkan belum sadar aku dimana, kau sudah mencercaku dengan berbagai tuduhan. Benar-benar tidak berperasaan,” ucapnya tanpa berdosa. Seolah kebohongan yang dilakukannya ini adalah hal yang paling berperasaan. Tapi aku sadar, bukan saatnya mendebat Nazriel. Jika tidak boleh dianggap terlambat, mungkin aku hanya sedang berbaik hati membiarkannya menang.
***
Menyadari akhir dari sebuah perjalanan ternyata tak terlalu buruk. Pagi itu masih keemasan,siang yang memutih, sore dengan merah saganya, malam dengan hitamnya yang menawan, bahkan senja yang keabuan nan damai. Aku suka semua kecantikan ini Tuhan!.Secantik dia. Dia yang kini hanya bisa kusimpan di beranda hatiku. Save her Soul, God!
“Save His Soul, too God!” doaku dalam hati. Status Fahmi di akun pribadinya. Aku tidak menangis,sungguh. Kenapa pula aku harus menangis jika kutahu dia dalam keadaan yang baik. Sakit di hatinya akan sembuh. Kuyakin. Meski tidak tahu kapan.
***
Entah sudah berapa pagi kulewati dengan melihatnya meringkuk di kursidan bersandar di ranjang tempatku terbaring. Seolah memiliki alarm otomatis, ia akan bangun tak lama setelah aku membuka mata atau barangkali ia tak pernah benar-benar tertidur. Lalu dengan tanpa kuminta dan mengomel sepanjang pagi memintaku meminum berbagai macam pil yang akan membuatku muntah untuk beberapa waktu.
“Mas, bisa tidak jangan menjejaliku obat-obatan ini terus? Saat muntah rasanya seluruh isi perutku mau keluar. Bisa-bisa aku justru akan mati lebih awal karena kecapekan muntah,” rajukku. Kupasang senyum sebisaku berharap ia menuruti kemauanku.
Dia terdiam cukup lama, lalu pergi tanpa menoleh.
“Terserah kau saja!” ucapnya sebelum akhirnya menarik gagang pintu kamarku dan menghilang dibaliknya.
Apa aku melakukan kesalahan? Apa dia marah?
“Mas . . .” aku menghampiri Mas Candra yang berdiri mematung di jendela ruang tamu menghadap taman kecil didepan rumah.
Aku mungkin bukan yang paling tahu siapa dia, tapi aku tahu kali ini hatinya tengah terluka. Luka yang sangat dalam. Karena apa? Jangan Tanya aku, karena aku pun mempertanyakan itu.
Dia berpaling ke arahku dengan ekspresi wajah datar. Aku tak banyak bicara, kutarik tangan kanannya dan mengulurkan pil yang tadinya kugenggam kemudian menunjuk ke mulutku yang menganga.
Dia tertawa kecil, sepertinya sangat dipaksakan. Kusimpulkan itu karena aku lihat matanya berkaca. Sekilas nampak ia mengusap matanya saat membelakangiku untuk mengambil segelas air.Kubiarkan saja. Biarlah itu menjadi rahasianya.
***
Jika bisa merencanakan hidup, mungkin aku akan memilih untuk tak pernah mengenal kalian. Dengan begitu aku tak perlu merasa memiliki segenap bahagia yang justru membuatku tercekat menyadari itu tak selamanya milikku. Jika aku harus pergi untuk sebuah takdir yang lain.
Aku benci menjadi sangat bahagia, melihatnya mencurahkan seluruh kasihnya yang kini justru kubaca sebagai sebuah salam perpisahan. Aku benci melihatnya berusaha tersenyum diatas luka yang ia buat sendiri. Aku benci karena aku hanya bisa diam melihatnya membohongiku dan bisa jadi mendustai dirinya sendiri.
“Ariel berjanjilah padaku, ini terakhir kalinya kau melakukan hal yang payah. Sekali saja, ijinkan hatimu untuk bahagia,” di sebuah taman tanpa sebuah maksud yang bisa kucerna. Tapi makhluk kecil di kepalaku tak membuat kecerdasanku menurun drastis.
Segera aku mengerti, ketika sesosok pria yang tidak bisa dibilang tambun meski juga tak terlalu jangkung. Mungkin kekar kata yang tepat meski tak atletis. Kacamata minusnya semakin tebal jika aku tak salah tebak muncul dari dalam Toyota Yaris bercat hitam yang belum semenit yang lalu terparkir di jalan depan taman tempatku duduk.
Fahmi. Apa masih perlu aku bertanya kenapa dia disini? Semua pasti ulah malaikat bodoh di sampingku ini. malaikat yang tak melepas genggaman tangannya sejak setengah jam yang lalu. Seolah aku ini layang-layang yang hampir putus.
“Apa aku harus bilang lagi bahwa jangan pernah berusaha jadi malaikat untukku, aku tidak butuh ini,” ucapku setengah berbisik berharap pria didepan kami tak mendengarnya.
“Ariel, cukup! Cukup kau mengambil hak kami. Berikan Fahmi haknya, haknya untuk mencintaimu,. Seperti telah kau berikan hakku sebagai kakak yang ingin sekali saja menjadi berguna untuk adik kecilnya” kali ini ia melepaskan genggamannya lalu memberikan tempatnya pada pria berkacamata minus yang mematung di depanku.
Tuhan, aku harus bagaimana? Aku ingin dia ada disampingku tapi tidak dengan cara ini. kenapa menambah satu lagi orang untuk menangisiku?
***
Aku kembali ketempat ini. Tepi pantai dengan pasirnya yang selembut sutra. Ombaknya yang berbusa seperti soda. Batuan karang yang tak pernah menjadi terlalu dingin ataupun panas. Seperti aku. Aku yang mungkin takkan pernah lagi seperti dulu kendati aku tak sepenuhnya berubah menjadi orang lain. Aku masih tetaplah Fahmi, pria lugu yang hampir-hampir kehilangan cinta karena kebodohannya.
Kini ketika aku mungkin telah kehilangan raganya, bisa saja aku berdalih hidupku telah berakhir tapi toh aku masih disini. Menjalani kehidupan dengan segenap cinta yang ia tinggalkan. Tak seperti raganya, ia tak pernah benar-benar menghilang. Aku tahudia masih disini.
“Ayah . . .” lengkingan kecil dari tepi pantai menjagakanku dari lamunan. Ya, dia tak pernah benar-benar meninggalkan kami. Dia masih disini dalam jiwa kecil buah hati kami.
“Ayah, tahu tidak tadi paman ceritain tentang bunda,” cerocosnya tanpa menghentikan kesibukannya bermain pasir. Kemudian tanpa menungguku menjawab ucapannya ditariknya aku membelakangi laut dan memaksaku bersimpuh. tadinya aku pikir dia tidak ingin aku mengernyit karena silau oleh sinar matahari. Ternyata tidak, dia menjadikanku tameng untuk melindungi istana pasirnya dari terjangan ombak.
“horee . . . istanaku selamat, punya paman hancur . .” teriaknya kegirangan. Tertawa lepas.
“Iya . . tapi kamu bikin Ayah basah semua,” ucapku memasang muka marah yang kubuat-buat.
“Kan aku cuma gak mau istanaku hancur kayak punya bunda,” keluguannya sungguh menyentakku. Aku dan Candra saling berpandangan, tersenyum kecut seolah menertawakan kebodohan kami sendiri.
“Ya sudah. Ini sudah sore, sebentar lagi gelap, waktunya kita pulang,”ajak Candra mengalihkan suasana. Membersihkan putriku yang belepotan pasir.
“Ayah, sekarang aku tahu, kenapa ayah sering salah panggil aku Ariel,juga kenapa ayah kasih aku nama Nazria Putri,” lagi-lagi bibir mungilnya tak berhenti berceramah, sembari bergelayut di punggungku.
“Kenapa?”
“Karena Bunda, Nazriel Arya Safitri, Nazrya Putri. Namaku singkatan dari nama Bunda kan? Ayah kangen sama Bunda. Ya kan?”
Bukankah semuanya sudah seperti yang kalian mau? Sekarang giliranku, jadilah seperti yang aku mau. Menangislah jika kalian ingin menangis tapi setelah itu tersenyumlah untukku. Ingatlah, bahwa aku bahagia cinta kalian akan terus menyanderaku disini.
Dan hatiku tercekat oleh perih dan juga bahagia yang akan selalu menjadi alasanku untuk menangis, tersenyum bergantian. Tapi takkan pernah menyerah.
“Ayah . . . , ayo jawab tebakan Rya benar kan?” rajuknya
“Iya, anak Ayah ini memang cerdas. Ayah memang kangen sama Bunda, Rya juga kan? Paman juga pasti kangen, kita semua kangen Bunda. Tapi Rya harus ingat, Bunda tak pernah meninggalkan kita. Bunda ada disini, di hati kita.” Aku harap dia mengerti.

Selasa, 23 Juli 2013

BERDAMAI DENGAN TUHAN

‘Nduk.... kapan kamu akan mulai belajar sholat lagi?’
suara parau nenek sheeva kala melihat cucu semata wayangnya itu sibuk dengan pekerjaannya. Dan melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dan seperti biasa sheeva hanya membalasnya dengan senyuman.
            ‘nanti nek. ...Kalo waktunya sudah tiba ya!
Rayunya pada sang nenek sekedar memberinya harapan bahwa mungkin kelak ia akan kembali pada hidayah. Mungkin....hanya mungkin. Jika sudah begitu, sang nenek hanya bisa pasrah sembari terus berdoa agar sudi kiranya Tuhan membagi hidayah pada cucunya tersebut. Tak jarang sheeva mendapati neneknya menangis dalam doanya. Doa untuknya.
            Sebenarnya Sheeva bukan tak bisa sholat. Ia terlahir dalam lingkungan keluarga yang agamis. Ayahnya adalah seorang dosen filsafat di sebuah universitas islam negeri, yang juga masih memiliki hubungan darah dengan kasultanan Demak. Ibunya meski bukan dari kalangan priyayi namun memiliki dasar pengetahuan agama yang cukup matang, yang didapatnya dari kuliah di Al Azhar Cairo, Mesir. Ibunya adalah lulusan terbaik di kampusnya yang mendapatkan beasiswa S2 ke luar Negeri. Sheeva pun adalah lulusan perancis di jurusan perbandingan agama. Sebuah dasar agama yang cukup kuat sebenarnya.
           
Awalnya sheeva tumbuh sebagai gadis yang taat beragama dan tekun. Namun semua berubah semenjak kepergian kedua orang tuanya yang secara tiba-tiba, tepat dihari dimana dia di wisuda. Kedua orang tuanya meninggal dalam penerbangan pesawat menuju perancis ketika hendak menghadiri acara wisudanya.
            Tragedi naas tersebut sontak mengubah jalan hidup Sheeva secara drastis. Kini ia tak lebih sekedar seorang gadis tanpa akidah. Dia memilih menyibukkan diri meniti karir sebagai sekretaris direksi sebuah perusahaan otomotif. Semua itu dijalaninya sebagai bentuk pemberontakannya pada takdir. Ia tengah berseteru dengan Tuhan. Tuhan yang telah merenggut kedua orang tua dari sisinya.
            “Jika benar kata nenek, Tuhan itu ada. Maka lihatlah Tuhan, aku campakkan semua symbol nama-Mu. Akan kusempurnakan pemberontakan ini padaMu”.
            Sheeva benar-benar kalap oleh ambisinya sendiri. Hanya neneknya lah yang masih dengan setia mendampingi Sheeva dan terus berusaha memotivasinya untuk berubah. Walaupun sang nenek sadar hal itu bukanlah sesuatu yang mudah.
            Suatu ketika kejadian aneh dialami Sheeva. Berkali-kali dia bermimpi dalam tidurnya melihat seorang perempuan tua, mati setelah terjatuh ke dalam sebuah sumur. Awalnya diabaikannya mimpi itu. Namun ia mulai dihinggapi perasaan was-was ketika mimpinya semakin jelas menunjukkan bahwa perempuan tua dalam mimpinya tersebut adalah neneknya sendiri. 
            Sheeva yang kehilangan akal sehat mulai melakukan hal-hal yang tidak masuk akal . Akibat ketakutannya kehilangan orang yang paling disayangi untuk yang kedua kalinya. Ia melarang neneknya untuk mendekati sumur, bahkan ia pun menutup sumur yang ada dirumahnya. Ia berusaha mencegah mimpinya menjadi kenyataan.
            “aku kan udah bilang nek, jangan dekati sumur itu lagi. Nenek tahu kan, aku gak mau kehilangang nenek. Apa nenek mau aku semakin marah pada Tuhan nenek itu, karena telah mencoba untuk mengambil nenek dariku?
            Nduk, semua orang pada akhirnya akan mati. Tidak ada yang harus kau sesali”.
            Cukup nek cukup! Dulu aku juga pernah mencoba untuk percaya hal itu. Tapi kenyataannya, aku gak kuat sewaktu ayah, ibu, juga adik direnggut secara tiba-tiba dariku. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi nek, aku gak sanggup... tangisnya tumpah dalam pangkuan sang nenek.
            Sang nenek tak lagi mendebat, karena ia sadar sheeva bukannya tak tahu tentang taqdir. Ia hanya tengah mencari, surganya. Biarlah Allah yang membuka pintu hatinya.
            Namun manusia hanya bisa berkehendak tapi kuasa tetap Allah yang menentukan. Nenek Sheeva meninggal ketika tengah mengambil air wudlu di kamar mandi. Ia jatuh terpeleset dan kepalanya membentur dinding bak mandi. Karena darah yang keluar tak kunjung berhenti akhirnya merenggut nyawa neneknya. Kembali Sheeva dihadapkan pada goncangan batin yang menguji keimanannya.
            Hidayah datang pada siapa yang dikehendaki-NYA. Kematian neneknya membawa Sheeva pada babak baru tentang arti sebuah perjalanan hidup dan keharusan memasrahkan diri pada taqdir yang telah digariskan. Pilihannya hanyalah apakah kita akan menjalani semua dengan baik sebelum ajal menjemput. Atau memilih menantang taqdir dan mempertanyakannya.
            ‘Sheeva manusia memang diberi kemampuan untuk berkehendak sejauh yang bisa ia tempuh. Namun ia tetap berada dalam suatu dimensi dimana Tuhanlah yang berkuasa penuh. Segala apa yang terjadi dalam hidup kita bukannya tanpa arti. Semua itu adalah roda kehidupan yang telah dirancang oleh Tuhan agar dapat menjadi pelajaran bagi manusia. Lalu, masih pantaskah kita mempertanyakannya??‘, 
***
                        Sampai detik ini, aku tidak pernah tahu masih pantaskah aku menyebut diriku muslimah. Aku hanya berharap bahwa Islam seperti yang dikatakan nenek. Penuh ampunan, yang menjanjikan keselamatan dan perlindungan bagi yang beriman pada-NYA. Kini akan kukabarkan pada semesta bahwa Islam tlah mengkhitbahku dengan sebait kata syahadat sebagai bukti kepasrahanku pada-MU. Dalam hati yang penuh harap akan Ridlo-Mu kupasrahkan jiwa dan raga ini menjadi budak di langit-langit surga-MU.

KARENA AKU SAYANG IBU

Aku sayang ibu bukan karena Nabi menyebutnya hingga tiga kali. Juga bukan karena Tuhan menjanjikan surga di telapak kakinya. Aku sayang ibu karena ia adalah ibuku. Keringatnya yang mengalir  kini menjadi darah yang memompa denyut jantungku. Tangisnya yang telah membuatku hidup hingga saat ini.
Karena aku sayang ibu, aku tak pernah takut mengghadapi apapun. Sekalipun itu adalah rasa sakit. Karena bagiku tak ada yang bisa menyakitiku melebihi ibu. Orang yang paling kusayang. Sungguh, karena aku sayang ibu.
Aku sayang ibu, jauh sebelum aku sendiri tahu apa itu kasih sayang. Aku mencintainya melebihi yang bisa dipikirkan oleh orang lain. Sejenak saja ibu berlalu dari pandanganku, aku pasti akan merengek menangis. Seketika aku akan tersenyum puas ketika ibu menggendong dan mengayunku. Aku akan betah meski seharian berada dalam dekapannya. Sebuah tempat  yang terasa begitu sejuk dan damai.
Namun aku bukanlah gadis kecil yang terus merengek dalam dekapannya, kini aku adalah gadis remaja yang kata orang siap melangkah mengejar mentari. Aku kini adalah mahasiswi fakultas ilmu komunikasi. Sebuah dunia penuh tantangan yang menyentil jiwa adventurirku. Hal itu tentu saja sedikit tabu bagi gadis sepertiku, yang terlahir dari kalangan keluarga pesantren salaf.
 Meski dengan sedikit keraguan abi dan umi, begitulah aku memanggil ayah dan ibuku. Mereka mengijinkan aku untuk kuliah. Karena mereka sangat yakin telah mendidikku dengan sempurna. Sepenuh hati aku berusaha menjaga kepercayaan yang mereka berikan. Karena aku tak ingin mengecewakan orang tuaku. Tentu saja ibu, orang yang paling kusayang.
Kehidupan yang selama ini aku tahu adalah kehidupan yang tenang tanpa gejolak. Kalupun ada itu hanyalah masalah normatif yang bahkan sudah sangat kuhafal penyelesaiannya. Abi lah pusatnya, pendiri sekaligus pengasuh pesantren Nurul Athfal, rumahku. Namun  Lain halnya dengan kehidupan kampus, aku merasakan begitu banyak gejolak yang gantung mengantung berbuah menjadi konflik atau sekedar berlalu seperti angin. Dan satu hal lagi yang membuatku tertegun, tidak ada pusat yang pasti disini karena pusatnya adalah aku, diriku sendiri.
Seperti ketika sebuah pesan aneh menyapaku. Dan untuk kesekian kalinya membuatku tertegun. Sebuah pesan yang teman-temanku bilang bernama ‘cinta’. Cinta yang kutahu selama ini hanyalah cintaku pada ibu, sedikit besar untuk keluargaku yang lain. Seperti untuk Abi dan kak Fandi, saudara laki-lakiku. Cinta itu hadir dari seorang yang menyebut dirinya ‘ mozaik kecil’.

Tak kusangka begini jadinya.....
Aku mulai terpesona akan kilaumu
Mulai mengagumimu......mengkhawatirkanmu
Begitu..... dan terus saja begitu
Andai aku punya lebih banyak waktu untuk mengenalmu...... sejarah kan mencatatku sebagai penjaga hatimu
Namun sejenak pun tak apa,
Karena untuk itulah kau menjadi istimewa.....berharga
Dear GOD,
Save her soul, wherever she’s stay
‘Mozaik kecil’

Dari dialah aku belajar makna cinta yang lain. Sebuah cinta yang mungkin telah menyatukan Adam dan Hawa dalam sebuah ikatan suci. Ah..... rasanya terlalu tinggi contoh yang kupakai. Tapi sungguh seperti itulah cinta yang ditawarkannya untukku. Sungguh bukan cinta fulgar seperti kebanyakan. Bukan cinta yang membuat Rose merelakan mahkotanya pada Jack dalam drama TITANIC.  Juga bukan cintamatic ala drama teenlit yang menjamur belakangan ini. cinta ini mengajakku melihat hidup sebagai sebuah perjuangan di padang perang kehidupan.
Namun hidupku yang tanpa gejolak, menolak untuk diusik. Mereka enggan berkompromi dengan cinta yang baru saja kukenal. Pertahananku pun rapuh ketika ibu, makhluk Tuhan yang paling kusayang untuk pertama kalinya mengajukan syarat untukku.
“Nisa, selama ini umi dan abi mendidikmu dengan sebaik mungkin dengan harapan kau akan tumbuh menjadi anak yang berbakti. Namun jika kini kau memilih untuk menjadi durhaka maka umi tak lagi bertanggung jawab atasmu. Begitupun juga kau tak lagi bertanggung jawab atas umi”.
Sebuah sambaran kilat tanpa suara menerjang jantungku. Sakit dan sesak rasanya. Sehingga tanpa kusadari ibu tlah beranjak meninggalkanku tanpa menoleh. Setitik air mata jatuh disusul titik berikutnya yang tak sempat kuhitung berapa banyak. Aku menangis.
Cinta itu kalah. Ibu lebih menyilaukanku. Karena surgaku ada pada restunya.  Dengan langkah gontai kutemui abi dan umi di ruang keluarga. Kak Fandi pun ada disana. Aku bersimpuh di depan Abi dan Umi.
 “ Abi, Umi, sebelumnya Nisa minta maaf telah mengecewakan kalian. Ada begitu banyak hal diluar sana yang sejenak menarik perhatianku. Mungkin bagi Umi dan Abi ini sebuah kedurhakaan. Tapi percayalah aku masih Nisa putri kalian, jika memang dengan cara ini aku dapat menjalani tugasku sebagai putri kalian. Maka tak ada lagi alasan untuk mempertanyakannya. Aku akan menjalaninya”.
Tak jelas seperti apa ekspresi mereka mendengar ucapanku. Aku terlalu sibuk mencerna kalimat yang muncul dari mulutku sendiri. Kalimat yang bahkan tak sempat kususun. Yang aku ingat, aku hanya tak ingin kehilangan ibu. Kehilangan restunya. Yang selama ini menjadi alasanku berlari. Saat aku tersadar, aku tengah berada dalam pelukan ibu.

“Nisa, kau telah membuktikan bahwa kau adalah putri umi. Umi bangga padamu”.
Ibu menangis. Aku menghapus air mata ibu. 
 “maaf, aku tidak kuat umi. Tidak kuat jika harus kehilangan cinta umi. Aku tak akan punya tempat dimanapun”.
Tangisku tumpah di hadapan umi.
 “tempatmu disini. Dihati umi”.
Umi kemudian memelukku. Abi tersenyum dan mengelus  kepalaku. Hanya ekspresi Kak fandi yang tak kumengerti.  Ia tak tersenyum tapi juga tak menangis.
“Nisa maafkan kakak, yang tidak bisa berbuat banyak. Kakak tahu betul bagaimana kalian. Dan juga hidup kita selama ini. Tapi pilihan kita hanyalah menjalani pengabdian ini. karena hanya disinilah surga kita. Semoga kau mendapatkan surgamu”.
 Ucap kakak dikamar usai pembicaraanku  dengan umi dan abi.  Untuk pertama kalinya aku melihat kakak menitikkan air mata dan itu untukku. Tuhan... sungguh berdosa aku yang tak pernah menyadari ada kasih sayang yang tak kalah agung dari kasih ibu. Kakakku.

Teruntuk mozaik kecil yang sejenak telah melengkapi puzzle hidupku.
Betapa rumit perjalanan ini. kalaupun kukatakan aku telah mempercayaimu sepenuhnya. Tradisi ini takkan pernah mau berkrompomi. Aku telah mencobanya tapi aku tidak kuat ketika harus dihadapkan pada cintaku yang lain, ibu.
Karena itu dengan tanpa mengurangi ketulusanku selama ini, aku beralih meminta restumu untuk meninggalkanmu. Bebaskanlah keinginan untuk saling memiliki. Biarkanlah ketulusan yang kadang keras kepala ini menjadi ketulusan yang besar hati.
Salam cinta dan maafku,
Umi  Chilyatun Nisa’ 



Untuk Ning
Pengabdian ini kadang memang menyakitkan. Tapi Tuhan selalu punya rencana tak terduga dibalik luka yang diberikan-NYA. Tetaplah tersenyum meski itu perih. Karena Tuhan tersenyum untukmu.